Queenara

Queenara
Apa ini mimpi?



Marvel dan Windi keluar dari dalam kamar dengan memasang wajah canggung satu sama lain. Bagaimana tidak canggung, kejadian beberapa saat yang lalu dimana Marvel membantu Windi membuka kebayanya hingga memperlihatkan punggung Windi yang putih bersih membuat darah Marvel terasa berdesir begitu pun sesuatu yang sejak lama sudah sering tertidur.


Pun dengan Windi yang merasa canggung karena untuk pertama kalinya ada seorang pria selain ayahnya melihat punggungnya yang tidak tertutupi pakaian.


Mama Belinda yang terlihat baru saja keluar dari dalam kamarnya berjalan menghampiri Marvel dan Windi. "Windi, Marvel, kalian sudah siap?" Tanyanya.


"Ya. Kami sudah siap untuk pergi." Jawab Marvel. "Oh ya, dimana Papa, Ma, kenapa Mama hanya keluar sendiri?" Tanya Marvel.


"Papa masih berada di dalam kamar." Jawab Mama Belinda.


Marvel mengangguk paham sedangkan Windi hanya tersenyum menanggapi ucapan Mama Belinda.


"Kalian turunlah lebih dulu. Biar Mama yang menunggu Papa di sini." Ucap Mama Belinda.


"Baiklah, kalau begitu Marvel dan Windi turun dulu." Jawab Marvel yang diangguki Mama Belinda sebagai jawaban.


"Ayo kita turun." Ajak Marvel pada Windi.


"Ayo." Balas Windi lalu mengikuti Marvel menuruni anak tangga setelah berpamitan pada Mama Belinda.


*


Satu jam kemudian, Marvel, Windi dan kedua orang tua Marvel telah berada di ruang perawatan Ayah Amri. Setelah cukup lama berbincang dengan Ayah Amri, akhirnya Marvel membuka suara jika besok ia berniat membawa Ayah Amri berobat ke negara S. Pernyataan Marvel pun berhasil membuat Ayah Amri terkejut mendengarnya.


"Marvel... maaf, untuk kali ini Ayah tidak bisa menerima kebaikan darimu. Ayah tidak ingin terlalu jauh merepotkanmu dan keluarga." Ucap Ayah Amri sedikit lirih.


Marvel menggeleng. Ia meraih sebelah tangan Ayah Amri lalu menggenggamnya. "Saya tidak pernah merasa direpotkan oleh Ayah. Untuk kali ini izinkan saya menunjukkan bakti saya kepada Ayah dengan memberikan perawatan terbaik untuk Ayah. Bagaimana pun juga saat ini Ayah adalah bagian dari keluarga saya. Saya dan Windi dan yang lainnya tidak ingin terlalu lama melihat Ayah terbaring seperti ini. Kami ingin Ayah segera sehat dan dapat beraktivitas seperti biasanya." Jelas Marvel panjang lebar berharap Amri dapat menerima tawarannya.


Ayah Amri dibuat berkaca-kaca mendengar ucapan tulus dari menantunya. Ia tidak pernah menyangka jika ia akan mendapatkan menantu seperti Marvel yang dapat dikategorikan sebagai pria yang cukup sempurna. Selain baik, pria itu juga sangat menyayanginya. Hal itu dapat Ayah Amri rasakan dengan perlakuan dan sikap Marvel beberapa waktu belakangan ini kepadanya.


"Amri... terimalah tawaran dari Marvel, semoga dengan mendapatkan perawatan dari sana kau dapat segera sembuh dan dapat berkumpul dalam keadaan yang lebih baik bersama kami." Ucap Papa Bagas.


Ayah Amri menatap Papa Bagas dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Apa saat ini ia sedang tidak bermimpi mendapatkan menantu sekaligus besan yang baik hati seperti ini.


"Ayah..." Windi berucap dengan bibir bergetar. Amri dapat melihat wajah penuh harap putrinya yang tengah menatapnya saat ini.


"Baiklah, saya menerimanya." Putus Amri kemudian yang membuat Windi tersenyum bahagia hingga tanpa sadar meneteskan air matanya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.