
"Bagaimana apa?" Tanya Marvel kembali.
Papa Bagas menghela nafas sesaat. "Bagaimana dengan keadaan perusahaan ini setelah berpindah tangan kepadamu?" Tanya Papa Bagas.
"Seperti yang Papa lihat. Saham semakin naik dan produk baru semakin laris di pasaran." Jawab Marvel bangga dengan pencapaiannya.
Papa Bagas bertepuk tangan mendengarnya. "Papa tahu kau bisa diandalkan." Jawab Papa Adam.
Marvel membusungkan dadanya. "Itu sudah pasti." Jawabnya. Ia harus terlihat keren di depan mata Papanya saat ini.
"Mama juga bangga padamu, nak." Ucap Mama Belinda seraya tersenyum pada Marvel.
Marvel turut tersenyum membalas senyuman Mama Belinda. "Terima kasih, Mama." Jawab Marvel.
"Emh, ya, sama-sama." Balas Mama Belinda.
Tak lama, pintu ruangan kembali diketuk dari luar. Marvel kembali mempersilahkan untuk masuk. Seorang OB nampak masuk ke dalam ruangan dengan membawa nampan berisi minuman. Ia berjalan ke arah Marvel lalu meletakkan minuman di hadapan Papa Bagas, Mama Belinda dan Marvel.
"Silahkan diminum, Tuan, Nyonya." Ucapnya ramah.
"Terima kasih." Jawab Mama Belinda tak kalah ramah.
OB tersenyum lalu keluar dari dalam ruangan kerja Marvel bersamaan dengan Jhoni yang kembali masuk ke dalam ruangan.
"Ayo duduk di sini, Jhon." Ajak Mama Belinda pada Jhoni.
Jhoni mengangguk mengiyakan lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Marvel.
"Jadi?" Papa Bagas kembali bertanya.
"Jadi apa lagi, Pah?" Tanya Marvel.
"Jadi bagaimana dengan tender itu?" Tanya Papa Bagas sambil menaikkan sebelah alis matanya.
Marvel menghembuskan nafas bebas di udara. Ia sudah yakin jika Papanya pasti datang ke perusahaannya untuk menanyakan keberhasilan tender yang ditawarkan untuknya itu.
"Aku masih mengusakan untuk mendapatkannya, Pah." Jawab Marvel.
Mama Belinda tersenyum mendengar pertanyaan dari suaminya itu. Ia pun menatap Marvel dengan tatapan menuntut jawaban dari Marvel.
"Aku mengusahakan tidak untuk itu." Jawab Marvel.
Wajah Mama Belinda lesu seketika. Karena bayang-bayangannya yang ingin memiliki cucu harus sirna begitu saja.
"Jadi dengan cara apa kau mengusakannya jika tidak untuk itu, hem?" Tanya Papa Bagas tak habis pikir. "Kau tahu jelas jika hanya itulah syarat yang membuatmu mendapatkan tender itu. Mereka hanya meminta syarat agar kau menikah." Lanjut Papa Bagas kemudian.
"Tapi aku tidak menginginkan sebuah pernikahan." Jawab Marvel acuh.
"Marvel..." suara Mama Belinda terdengar lirih. "Tapi Mama menginginkanmu untuk itu." Ucap Mama Belinda kemudian.
Marvel menghela nafas panjang. "Mamah... apa Mama akan senang jika Marvel mendapatkan tender itu?" Tanya Marvel.
"Bukan itu, Mama akan lebih senang jika kau juga menikah." Jawab Mama Belinda.
"Tapi Marvel tidak bisa, Mah." Jawab Marvel.
Mama Belinda memasang wajah sedihnya. "Apa kau lupa jika semakin hari Mama dan Pap sudah semakin tua? Umur Mama dan Papa sudah memasuki setengah abad, Marvel. Mama dan Papa sudah menginginkan seorang cucu darimu." Ucap Mama Belinda.
"Tapi Marvel belum bisa memberikannya, Mah. Marvel tidak bisa memberikan cucu untuk Mama sedangkan Marvel belum menikah." Jawab Marvel.
"Maka dari itu cepatlah untuk menikah. Apa yang kau tunggu lagi? Umurmu sudah mau menginjak tiga puluh tahun, sudah sewajarnya kau untuk menikah dan memberikan cucu untuk kami." Tekan Papa Bagas.
"Umurku baru mau menginjak dua puluh sembilan tahun, Pah." Koreksi Marvel dengan malas.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.