Queenara

Queenara
Kenapa gugup begini?



Pagi itu Windi sudah terlihat rapi dengan baju kemeja bewarna dusty dan rok payung bewarna mocca yang membuat dirinya terlihat lebih anggun dari biasanya. Dari atas ranjang, Amri melihat penampilan anaknya itu dengan senyuman manis tersemat di wajah pucatnya.


"Jam berapa keluarga Marvel akan datang?" Tanya Amri saat Windi berjalan menghampirinya.


Windi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Pukul delapan. Masih ada waktu lima belas menit lagi untuk Marvel dan keluarganya akan datang, Yah." Jawab Windi.


"Windi, bukankah kau bilang jika pagi ini kau mendapatk shift pagi? Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu jika kau ada di sini?" Tanya Amri yang baru teringat dengan jadwal kerja putrinya.


Windi tersenyum lalu mengusap lengan ayahnya. "Ayah tenang saja, Windi sudah meminta ganti jadwal dan hari ini Windi dijadwalkan masuk shift sore." Jawabnya.


Hembusan nafas Amri terdengar lega. Ia tidak ingin putrinya itu mendapat masalah di tempat kerjanya karena tidak masuk sesuai jadwal seperti saat ini. Amri memang cukup mencemaskan Windi bermasalahan dalam pekerjaannya karena Amri sadar hanya tempat pekerjaan Windi saat inilah yang menjadi tempat mata pencahariaan anaknya untuk kelangsungan hidupnya dan Windi.


"Ayah jangan terlalu mencemaskannya. Windi tidak akan membuat pekerjaan Windi menjadi terganggu karena pertemuan ini." Ucap Windi yang seolah mengerti apa yang ada dalam pemikiran ayahnya saat ini.


Amri tersenyum mendengarnya. Ia balas mengusap tangan anaknya yang tadi mengusap lengannya. Sungguh, sebagai seorang ayah ia merasa sangat beruntung memiliki anak seperti Windi yang begitu menyayanginya dan tidak ingin membuatnya merasa terbebani dengan hidup mereka saat ini.


Tring


Suara deringan dari ponsel Windi mengalihkan perhatian Windi ke sumber suara. Dilihatnya layar ponselnya yang menyala dan berdering cukup keras.


"Tunggu sebentar, Ayah." Ucap Windi lalu segera bangkit dari duduknya. Windi pun melangkah ke arah ponselnya berada.


"Marvel?" Gumamnya melihat nama pemanggil telefon. Windi segera mengusap ikon hijau di ponselnya dan meletakkan ponsel di daun telinganya.


"Hallo Windi, aku sudah hampir sampai di rumah sakit." Ucap Marvel memberitahu.


"Owh, ya. Aku akan menunggu kedatanganmu di depan rumah sakit." Jawab Windi.


"Tidak perlu repot. Cukup menungguku di dalam ruangan ayahmu saja." Ucap Marvel.


"Hem, baiklah." Jawab Windi.


"Baiklah." Jawab Windi lalu sambungan pun terputus oleh Marvel.


"Siapa, nak?" Tanya Amri.


Windi melangkah kembali ke arah ranjang ayahnya. "Marvel, Yah. Dia mengabarkan jika sudah hampir sampai di rumah sakit." Jawab Windi.


"Lalu kenapa kau masih di sini? Ayo tunggu dia dan keluarganya di depan rumah sakit, Nak." Ucap Amri.


Windi menggelengkan kepalanya. "Marvel meminta Windi menunggu di sini saja, Yah." Jawab Windi.


"Oh... kalau begitu kau menunggu di depan ruangan Ayah saja." Pinta Amri.


"Baiklah, Ayah." Jawab Windi menurutinya. "Kalau begitu Windi keluar dulu, Yah."


Amri menganggukkan kepalanya.


Windi pun beranjak dari duduknya lalu melangkah ke arah pintu. Setelah berada di luar ruangan rawat ayahnya, Windi memilih menunggu kedatangan Marvel di kursi tunggu yang berada di depan ruangan rawat.


"Emh, kenapa aku merasa gugup begini." Gumam Windi saat merasakan tangannya yang mulai terasa dingin dan jantungnya yang mulai berdebar-debar. Windi pun mencoba mengatur nafas untuk menghilangkan rasa gugupnya saat ini. Namun baru saja ia berhasil mengontrol dirinya, jantung Windi sudah kembali dibuat berdetak begitu cepat saat melihat Marvel yang tengah berjalan ke arahnya dengan gagah ya.


Deg


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.