
"Windi tidak bersedih, Ayah." Ucap Windi mencoba tersenyum sambil mengusap tangan ayahnya.
"Ayah tahu kau sedang berbohong, nak." Ucap Amri.
"Ayah..." lirih Windi lalu menjatuhkan bokongnya di kursi yang tersedia di samping ranjang.
Amri mengusap rambut Windi dengan tangannya yang bebas. "Jangan terlalu memikirkan keadaan Ayah, nak. Kau juga harus memikirkan hidupmu sendiri. Ayah tidak ingin karena keadaan Ayah membuatmu menjadi bersedih sepanjang hari." Ucap Amri.
Windi menggelengkan kepalanya. "Itu tidak seperti yang ayah pikirkan. Windi juga memikirkan hidup Windi. Namun yang terpenting saat ini adalah memikirkan keadaan Ayah. Agar kembali sehat seperti sedia kala." Ucap Windi.
Amri tersenyum mendengarnya. Ia tahu putrinya itu sangatlah menyayanginya. Sama seperti dirinya yang sangat menyayangi Windi.
"Windi... semakin hari Ayah merasa semakin tua dan tidak memiliki waktu untuk menjagamu jika kau berada jauh dari Ayah. Tenaga Ayah tidak seperti dulu lagi yang bisa mengikutimu kemana pun kau pergi. Ayah tidak bisa lagi membimbingmu jika kau kesulitan menemukan arah." Ucap Amri.
"Ayah jangan berbicara seperti itu. Ayah masih bisa mendoakan Windi agar baik-baik saja dari sini." Ucap Windi dengan wajah yang sudah berubah sendu.
"Tapi tetap saja Ayah tidak bisa menjagamu seperti dulu, Windi. Nak... Ayah masih berharap jika kau segera menikah agar ada sosok pria yang bisa menggantikan Ayah untuk menjagamu di saat Ayah terbaring di rumah sakit seperti ini." Ucap Amri dengan lembut.
Windi terdiam. Untuk yang kesekian kalinya Ayahnya meminta hal sama padanya. Hari ini sudah kedua kalinya ayahnya itu membicarakan perihal jodoh untuknya. Windi dibuat bingung sekaligus bimbang.
"Ayah... apa dengan melihat Windi menikah Ayah akan bahagia?" Tanya Windi kemudian.
Amri mengangguk dengan yakin. "Ayah akan bahagia karena akan ada pria yang bisa menjagamu dan melindungi di saat Ayah tak bisa melakukan itu semua, Nak." Ucap Amri lirih.
"Jika itu bisa membuat Ayah bahagia, Windi akan mengusahakannya, Yah." Ucap Windi pada akhirnya.
Senyuman lebar nampak terbit di wajah tua Amri. Entah mengapa ia begitu bahagia mendengar putrinya mau mengikuti permintaannya. Selama ini Windi terlalu memikirkan dirinya hingga lupa dengan dirinya sendiri yang juga sudah membutuhkan sosok pendamping di dalam hidupnya.
Malam semakin larut. Ayah Amri nampak sudah terlelap namun Windi masih nampak terjaga sambil menatap langit-langit ruangan inap Ayahnya. Wanita itu nampak terbaring di atas sofa dengan pemikiran yang terus tertuju pada sebuah permintaan sederhana dari ayahnya.
"Menikah..." lirih Windi. Ingatannya pun langsung tertuju pada sosok Marvel yang tiba-tiba saja datang menawarkan sebuah pernikahan padanya.
"Kenapa semuanya terasa kebetulan sekali. Di saat Ayah memintaku untuk menikah, tiba-tiba saja datang sosok pria yang menawarkan sebuah pernikahan padaku." Lirih Windi.
Windi mengingat-ingat dengan jelas wajah Marvel. Tidak ia pungkiri jika Marvel adalah sosok pria tampan yang ia yakini berasal dari kalangan berada. Windi pun kembali mengingat dengan pertemuannya dan Marvel di supermarket tempat ia bekerja. Dan terakhir kali pria itu terlihat membawa keponakannya berbelanja di supermarket.
"Dia sepertinya pria yang baik." Ucap Windi mengingat bagaimana perlakuan Marvel pada Boy saat tidak sengaja menabrak tubuhnya.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.