
"Aku tahu itu." Jawab Marvel. Lagi pula dia adalah pria sejati yang akan terus maju walau banyak rintangan yang akan menghadangnya di depan nanti.
"Bagus." Jawab Dio.
Marvel tersenyum tipis membalas ucapan Dio. Setelah percakapan serius di antara mereka selesai, Marvel pun berpamitan pada Dio untuk kembali ke perusahaannya.
"Marvel... Marvel. Aku tahu kalau kau sudah mulai menaruh rasa ketertarikan pada wanita itu. Jika tidak, tidak mungkin kau seyakin itu untuk menjadikannya istrimu walau dengan alasan kasihan padanya." Ucap Dio.
*
Malam hari pun tiba. Marvel dan Dio kini sudah berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menemui Windi. Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, Dio tak henti memberikan wejangan pada Marvel agar tak mundur dari keputusannya. Marvel yang terus mendengarkan ucapan Dio pun hanya mengangguk karena ia juga tidak berniat untuk mundur.
"Kita akan menunggunya dimana?" Tanya Dio setelah mobil milik Marvel tiba di perkarangan rumah sakit.
"Di sini saja. Aku rasa sebentar lagi dia akan keluar dari rumah sakit." Ucap Marvel sambil menatap ke arah pintu masuk rumah sakit.
Dio menganggukkan kepalanya. Dari tempat mereka berada, terlihat jelas siapa saja orang yang berlalu-lalang keluar masuk ke dalam pintu rumah sakit.
Cukup lama mereka menunggu di depan rumah sakit namun tak kunjung melihat keberadaan Windi. Marvel dan Dio terus sabar menanti Windi keluar dari dalam rumah sakit. Mereka yakin Windi pasti akan keluar mengingat di waktu seperti ini adalah waktu dimana Windi keluar mencari makan malam untuknya.
"Nah, itu dia." Ucap Dio sambil menunjuk ke arah Windi yang baru saja keluar dari rumah sakit.
Marvel mengikuti arah yang Dio tunjuk. Terlihat di sana Windi baru saja keluar dari dalam rumah sakit. Tapi tunggu dulu. Marvel melihat ada yang berbeda pada wanita itu. Windi terlihat tertunduk sambil beberapa kali mengusap sudut matanya.
"Apa dia menangis?" Tanya Marvel.
"Sepertinya begitu." Ucap Dio yang juga melihat pergerakan tangan Windi.
"Ayo kita keluar." Ajak Marvel cepat.
"Jangan terburu-buru. Dia bisa curiga." Ucap Marvel pada Dio yang berjalan tergesa-gesa.
Dio menganggukkan kepalanya. Mereka pun mengikuti langkah Windi dengan menjaga jarak aman. Windi terus berjalan tanpa sadar jika ada dua sosok yang tengah mengikutinya saat ini.
"Kemana dia akan pergi?" Tanya Marvel melihat Windi yang berjalan semakin menjauh dari rumah sakit.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Jawab Dio.
Marvel dibuat bingung melihat Windi yang berjalan semakin menjauh. Mereka terus mengikutinya hingga akhirnya langkah Windi terhenti di sebuah taman kecil yang berada di pinggir jalan.
"Mau apa dia di sini?" Gumam Marvel. Ia dan Dio pun memilih duduk di kursi yang tidak terlalu jauh dari Windi berada hingga mereka masih dapat melihat dengan jelas pergerakan Windi.
"Hiks." Suara tangisan Windi mulai tertangkap jelas di pendengaran mereka.
"Dia menangis?" Gumam Marvel. Entah mengapa Marvel merasa tak suka mendengar suara tangisan yang keluar dari bibir wanita itu.
"Tuhan... bagaimana ini? Bagaimana caranya agar aku bisa mewujudkan keinginan Ayah yang memintaku untuk segera menikah?" Ucap Windi di sela tangisannya.
"Menikah?" Ucap Dio mengulang apa yang Windi katakan.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.