Queenara

Queenara
Mereka tidak pulang?



"Marvel, apa kau dengar itu?" Tanya Windi sambil menatap ke arah jendela kamarnya.


"Ya. Aku mendengar suara petir dan gemuruh dari luar." Jawab Marvel.


Windi segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela. Dibukanya gorden jendela lalu menatap ke arah luar. "Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan." Ucap Windi setelah melihat keadaan langit yang gelap terlihat terang oleh pantulan cahaya kilat. Windi pun menutup gorden kamarnya dan mendekat ke arah ranjang.


"Bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja." Ajak Windi.


"Jangan." Marvel menggelengkan kepalanya. "Akan bahaya jika kita melakukan perjalanan di saat cuaca sedang buruk seperti ini." Jawab Marvel.


Byur...


Baru saja Marvel menjawab ajakan Windi, suara hujan sudah terdengar turun sangat deras dari luar.


"Hujan." Ucap Windi menatap pada Marvel.


Marvel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Ya. Apa kau yakin kita akan tetap berangkat sekarang?" Tanya Marvel menyerahkan keputusan pada Windi.


Windi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia juga tidak ingin mengambil risiko dengan mengajak Marvel pergi sekarang karena ia tahu jelas bagaimana keadaan jalan di sekitar rumahnya yang pasti terendam banjir jika hujan turun sangat deras seperti saat ini.


"Lalu bagaiamana ini?" Tanya Windi dengan kesepuluh jemarinya yang saling bertaut.


"Bagaimana apanya?" Tanya Marvel.


"Bagaimana kita berangkat ke rumah Mama dan Papa?" Tanya Windi kembali.


Marvel menghela nafas panjang. "Kenapa kau harus memikirkan hal itu. Kita bisa menginap di sini saja jika hujan tidak kunjung reda." Jawab Marvel santai.


"Apa?" Windi dibuat terkejut mendengarnya. "Tidak, tidak. Kau pasti tidak akan nyaman tidur di rumahku." Jawabnya pelan.


"Kau benar tidak masalah tidur di rumah ini bersamaku?" Tanya Windi tanpa mejawab pertanyaan Marvel.


"Ya. Tentu saja tidak masalah. Lagi pula aku tidak ingin mengambil resiko jika kita pulang ke rumah kedua orang tuaku dengan cuaca buruk seperti ini. Untuk masalah Mama dan Papa aku akan mengirimkan pesan pada mereka jika kita menginap di sini malam ini." Ucap Marvel.


"Baiklah kalau begitu." Jawab Windi pelan dan mencoba untuk tersenyum.


*


"Marvel dan Windi belum datang juga?" Papa Bagas terlihat menghampiri istrinya yang sedang berdiri di depan jendela kamar mereka menatap ke arah luar dimana saat ini hujan turun sangat deras diikuti suara gemuruh yang terdengar sangat keras.


"Belum. Mama jadi khawatir dengan mereka." Jawab Mama Belinda dengan wajah cemas. Bagaimana tidak, satu minggu yang lalu ia melihat berita jika hujan deras seperti saat ini diikuti angin yang berhembus cukup kencang menyebabkan banyak pohon tumbang di sekitar jalan bahkan ada yang menimpa mobil yang sedang lewat.


"Apa mereka tidak jadi menginap di sini malam ini? Bisa saja mereka menginap di apartemen Marvel karena hujan deras seperti ini." Ucap Papa Bagas.


"Apa itu mungkin?" Tanya Mama Belinda.


"Mungkin saja." Jawab Papa Bagas. "Apa Mama sudah ada menghubungi mereka?" Tanya Papa Bagas dan Mama Belinda menggeleng sebagai jawaban.


"Tunggu sebentar. Mama akan melihat ponsel lebih dulu." Ucap Mama Belinda lalu meninggalkan Papa Bagas berjalan ke arah ponselnya berada.


***


Hai teman-teman semua. Karena banyak yang merasa tidak nyaman dengan cerita Marvel berada di buku Queenara, maka shy memutuskan untuk membuat buku baru untuk cerita Marvel dan Windi dan akan ditamatkan di sana ya.


Bagaimana, apa sudah setuju?