Queenara

Queenara
Rencana akan dimulai



"Andai Kakak tahu, jika di dalam pengalaman hidupku akulah yang menjadi pria yang disia-siakan. Kesetiaan pria tampan seperti diriku disia-siakan dengan sebuah pengkhianatan. Sungguh sangat menyedihkan." Ucap Marvel namun hanya dalam hati.


"Jadi apa niatmu selanjutnya?" Tanya Dara.


"Aku akan mengatur waktu untuk bertemu lagi dengannya." Jawab Marvel.


"Apa kau sudah memikirkan cara untuk itu?" Tanya Dara.


Marvel menggelengkan kepalanya. "Aku akan memikirkannya nanti bersama Dio, Kak." Jawab Marvel.


"Kenapa harus bersama Dio? Kau bisa memikirkannya seorang diri bukan?" Tanya Dara.


"Akan lebih baik jika berpikir bersama Dio, Kak." Jawab Marvel.


"Baiklah, baiklah." Jawab Dara.


Tak berselang lama, seorang OB nampak masuk ke dalam ruangan Dara dan menghidangkan minuman di depan Dara dan Marvel.


"Minumlah." Ucap Dara.


Marvel mengiyakannya lalu meminum minuman untuknya. Setelah cukup berbincang singkat dengan Dara, akhirnya Marvel pun berpamitan untuk pergi dari ruangan Dara.


*


Saat ini, Marvel sudah berada di dalam ruangan kerjanya. Sejak sampai di perusahaannya, pemikiran Marvel terus tertuju pada ucapan Dara yang mengatakan jika Ayah Windi meminta Windi untuk menikah sama seperti dirinya yang juga diminta untuk segera menikah.


Dilihatnya kalender yang sudah menunjukkan tanggal delapan. Masih ada waktu kurang dari tiga minggu lagi untuk dirinya memenuhi syarat dari Tuan Morgan untuk mendapatkan tender itu. Marvel pun berpikir apakah waktu tiga minggu kurang itu dapat ia pergunakan untuk menikah atau tidak. Jika ia berhasil menikah, bukan hanya sebuah keuntungan yang ia dapatkan. Melainkan juga kebahagiaan untuk kedua orang tuanya dapat ia berikan.


Marvel memijat pangkal hidungnya yang terasa tiba-tiba sakit  hanya karena memikirkannya. Jika ia ingin mewujudkan itu semua, maka ia harus bergerak cepat mulai saat ini. "Apa niatku sudah benar untuk menikahinya?" Gumam Marvel. Ingatan tentang pengkhianatan mantan kekasihnya masih teringat jelas di benaknya. Marvel masih saja merasa awas jika hal yang sama kembali terulang padanya. Ia masih saja menyimpan rasa trauma dengan kejadian di masa lalunya.


*


"Menurutku nanti malam kita bisa menemuinya lagi dan menyampaikan ajakan kita." Saran Dio saat mereka bertemu di cafe milik Dio.


"Apa menurutmu ini tidak terlalu terburu-buru?" Tanya Marvel.


Dio menggeleng. "Tentu saja tidak. Jika kau ingin segera menikah maka kau harus segera menyampaikannya. Lagi pula ini adalah kesempatan bagus untukmu agar kalian bisa menikah." Ucap Dio.


Marvel diam dan berpikir keras. Dio benar, jika kesempatan kali ini adalah kesempatan yang bagus untuknya. Tapi apakah nanti Windi mau menerima tawarannya atau justru sebaliknya? Marvel masih meragu untuk itu.


"Jika kau yakin maka kau jangan ragu-ragu." Tekan Dio.


Marvel menghela nafas panjang. "Baiklah, nanti malam aku akan menemuinya." Putus Marvel.


Dio menepuk pundah Marvel. "Bagus. Kali ini kau baru sahabatku." Ucap Dio tersenyum senang.


Marvel hanya tersenyum tipis menjawabnya. Di dalam hatinya saat ini ia berharap jika ini adalah keputusan yang tepat dan tidak akan menjerumuskannya ke dalam kesalahan yang sama.


"Tapi satu yang harus kau ingat, jika kau sudah memutuskan untuk memulai, maka kau jangan pernah berniat untuk mundur." Tekan Dio.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.