
"Tunggu dulu." Marvel menahan pergelangan tangan Windi. "Maaf." Ucapnya lalu melepas tangannya dari lengan Windi. "Saya hanya memberi tawaran yang bisa membuat anda keluar dari dalam permasalahan anda saat ini. Jika anda menerima tawaran saya, maka saya bisa membawa ayah anda berobat ke rumah sakit yang lebih baik dari saat ini. Ayah anda akan mendapatkan penangannan yang lebih baik di rumah sakit lain yang ada di luar negeri." Ucap Marvel.
Windi menatap Marvel dengan datar. "Saya rasa anda sedang bercanda, Tuan. Bagaimana bisa anda tiba-tiba datang menemui saya dan menawarkan sebuah pernikahan pada saya? Kita bahkan baru kenal dan anda sudah berani menawarkan sebuah tawaran yang tidak masuk akal." Ucap Windi.
"Saya berani menawarkannya karena saya telah mengetahui banyak tentang hidup anda termasuk permasalahan anda saat ini. Sekali lagi saya tegaskan jika saya tidak pernah bercanda dalam keadaan seperti ini. Jika anda bertanya kenapa saya dengan berani menawarkan sebuah pernikahan pada anda, maka itulah yang menjadi alasannya. Saya sedang membutuhkan anda saat ini begitu pun sebaliknya." Ucap Marvel.
"Maaf, tapi saya tidak berminat." Ucap Windi dan berminat untuk beranjak.
"Tunggu." Marvel kembali menahan lengan Windi. Tanpa banyak kata ia menyerahkan sebuah kartu nama pada Windi. "Jika anda berubah pikiran anda bisa segera menghubungi saya. Dan ingat, saya tidak main-main untuk berniat membantu ayah anda berobat ke rumah sakit yang lebih baik lagi." Ucap Marvel tegas.
Windi menggenggam kartu nama yang Marvel berikan. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban lalu memilih pergi dari hadapan Marvel. Marvel pun membiarkan Windi pergi begitu saja.
"Kenapa kau membiarkannya pergi?" Tanya Dio yang sudah berada di belakang tubuh Marvel.
"Biarkan saja dia pergi. Aku yakin dalam waktu beberapa hari lagi dia akan segera menghubungiku." Ucap Marvel.
Dio tersenyum tipis mendengarnya. "Kau terlalu percaya namun aku juga percaya pada ucapanmu. Semoga saja dia mau menerima tawaran darimu." Ucap Dio.
Marvel menganggukkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan taman. Dio pun turut mengikuti langkahnya.
"Kemana kita akan pergi?" Tanya Dio.
"Pulang." Jawab Marvel singkat. Lagi pula urusannya malam ini sudah selesai dan ia hanya memerlukan waktu beberapa hari lagi untuk mendapatkan jawaban dari Windi.
"Baiklah." Ucap Dio menurut.
"Terima kasih atas bantuanmu malam ini. Besok aku akan memanggilmu kembali jika dibutuhkan." Ucap Marvel setelah masuk ke dalam mobilnya.
Marvel tersenyum tipis lalu menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankan mobil meninggalkan perkarangan rumah sakit.
Sementara Windi yang sudah berada di dalam ruangan inap ayahnya nampak menatap sendu sosok ayahnya yang sedang terbaring di atas ranjang.
"Ayah..." lirih Windi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Melihat wajah pucat ayahnya saat ini selalu membuatnya tak berdaya dan rapuh.
"Windi..." ucap Amri yang sudah membuka kedua kelopak matanya saat menyadari kedatangan Windi. "Apa kau sudah jadi makan, nak?" Tanya Amri.
Windi terdiam dan mengangguk sesaat kemudian. Ia terpaksa berbohong menjawab pertanyaan ayahnya karena tadi ia melupakan niat awalnya yang ingin membeli makan di luar setelah bertemu dengan Marvel.
"Kemarilah, nak." Ucap Amri pada Windi.
Windi menurutinya dan melangkah mendekat pada Ayahnya.
"Jangan bersedih lagi. Ayah pasti akan baik-baik saja." Ucap Amri yang dapat melihat kesedihan di wajah putrinya saat ini.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.