
"Terluka? Tidak seperti itu. Sejak awal kau sudah menegaskan arti pernikahan kita. Dan sejak awal juga aku-lah yang memaksamu untuk menikahiku. Jika ada yang patut disalahkan atas ini semua itu adalah aku." Queen merendahkan dirinya. Bagaimana pun ia sadar diri jika rasa berharapnya-lah yang membuatnya sakit hati sedalam ini. Bahkan sejak awal Kevin sudah menegaskan padanya untuk tidak menaruh perasaan satu sama lain di antara mereka karena tidak ada yang bisa ia berikan selain tanggung jawab pada anak mereka. "Sejak awal aku sudah salah masuk ke dalam kehidupanmu dan membuat pernikahanmu dan Melody tertunda. Bukan hanya dirimu, Melody juga ikut terluka karena kesalahanku." Ucap Queen.
"Jangan lagi membahas tentangnya. Asal kau tahu aku justru bersyukur dengan hadirnya dirimu di dalam hidupku." Kevin berusaha mengeluarkan isi hatinya selama ini.
Queen tertegun mendengarnya. Namun ia berupaya menormalkan kondisi hatinya kembali agar tidak larut dalam suana di antara mereka saat ini. "Aku rasa kau sudah salah berbicara." Ucapnya menolak apa yang Kevin katakan.
"Aku tidak salah berbicara, Queenara." Ucap Kevin tegas.
Queen kembali menggelengkan kepalanya. Ia hendak menjawab kembali ucapan Kevin namun suara rengekan Boy menghentikan niatnya.
"Daddy... Boy ingin main." Rengek Boy sambil menunjuk ke arah permainan yang tadi ingin ia tuju.
Kevin menatap ke arah yang Boy tunjuk. "Baiklah, ayo kita bermain." Ucap Kevin sambil mengusap kepala Boy. Ia pun bangkit dari duduknya lalu menatap pada Queen. "Ayo kita ajak anak kita bermain." Ajak Kevin.
Queen menganggukkan kepalanya. "Baiklah." Ucapnya. Kevin pun berjalan lebih dulu diikuti Queen di belakangnya. Queen menghela nafasnya sejenak untuk mengusir rasa takutnya jika Kevin berniat membawa kabur putranya. Ia juga berusaha menurunkan egonya agar tidak bertindak gegabah seolah menjauhkan Boy dari ayah kandungnya.
"Naik itu!" Tunjuk Boy pada permainan seluncuran yang kini sedang dinaiki anak-anak.
"Baiklah, ayo." Balas Kevin dan berjalan ke arah seluncuran. Ia pun membantu memegang tubuh Boy setelah mendudukkan Boy di atas seluncuran.
"Ehe..." Boy tertawa-tawa saat tubuhnya meluncur begitu saja ke bawah. "Lagi... lagi." Pintanya.
Kevin menurutinya dan kembali mendudukkan Boy di atas seluncuran. Setelah meras puas bermain seluncuran, Boy pun meminta bermain ayunan yang berada tak jauh dari mereka.
"Apa kau ingin memangku Boy naik ayunan?" Tanya Kevin.
Queen nampak ragu. Namun melihat banyaknya ibu-ibu yang sedang memangku anaknya sambil bermain ayunan membuatnya akhirnya mengangguk setuju dengan ucapan Kevin.
Kevin pun menyerahkan Boy pada Queen lalu meminta Queen untuk duduk di atas ayunan.
"Kau ingin apa?" Tanya Queen melihat Kevin memegang tali ayunan.
"Tapi..." ucapan Queen terputus karena Boy sudah mengayun ayunannya dengan pelan.
"Ehe..." Boy kembali tertawa-tawa merasa senang dengan aktivitas mereka saat ini. Pun dengan Kevin yang tersenyum tipis karena bisa merasakan mengajak anaknya bermain untuk pertama kalinya. Sementara Queen masih berupaya menahan degub jantungnya yang berdetak begitu cepat karena berada sangat dekat dengan Kevin saat ini.
Setelah meresa bosan bermain ayunan, Boy pun meminta diturunkan lalu berlari tak tentu arah.
"Oh astaga Boy..." Queen menggelengkan kepalanya melihat Boy yang tidak merasa jera karena tadi sempat terjatuh.
"Boy..." Kevin pun turut berlari mengejar langkah Boy yang semakin menjauh darinya. "Jangan berlari, Boy." Ucap Kevin berupaya menghentikan Boy. Namun bukannya berhenti, Boy justru semakin cepat berlari agar Kevin tak dapat menangkapnya. Ia pun tertawa-tawa sambil berlari menjauhi Kevin.
Aksi kejar-kejaran Kevin dan Boy pun berhasil menarik perhatian banyak wanita yang sedang menemani anak-anaknya bermain.
"Lihatlah pria itu. Selain tampan dia juga sangat penyayang. Sungguh suami idaman." Beberapa pujian yang keluar dari mulut wanita itu pun berhasil terdengar di telinga Queen. Queen menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah wanita yang sedang memuji mantan suaminya itu. Entah mengapa ia merasa tidak suka mendengar kalimat pujian dari mulut wanita lain untuk Kevin walau apa yang mereka katakan itu adalah benar.
"Kau benar. Benar-benar suami idaman." Timpal wanita yang lainnya tanpa memperdulikan tatapan Queen kepada mereka.
Queen menggelengkan kepalanya mengusir rasa aneh yang kini mengusik hatinya lalu kembali berjalan ke arah Boy berlari.
"Hap. Akhirnya Daddy mendapatkanmu." Kevin mengangkat tubuh Boy ke udara lalu mencium gemas pipi bulat Boy yang membuat Boy tertawa-tawa.
"Mereka benar. Kau memang suami idaman, Kevin. Namun sayang hatimu tercipta bukan untukku." Gumam Queen.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.