
"Sudahlah jangan banyak bertanya. Lebih baik sekarang kita turun." Ajak Dio.
Marvel menurutinya dengan segera turun dari dalam mobil. Dio pun ikut turun dari dalam mobil setelah melepas sabuk pengamannya.
"Lihatlah, dia semakin menjauh." Ucap Marvel.
Dio mengangguk paham lalu segera berjalan mengikuti Windi. Tak lupa ia memakai kaca mata hitamnya agar wajahnya tak mudah dikenali oleh orang sekitar rumah sakit. Ternyata inilah salah satu alasan yang membuat Dio memakai kaca mata hitam agar mereka tak mudah dikenali.
Marvel dan Dio jalan mengendap-ngendap mengikuti Windi yang terus berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Tibalah Windi tepat berada di depan pintu lift. Marvel dan Dio mencari tempat persembunyian namun tak melepas pandangannya dari Windi. Mereka memperhatikan Windi yang tengah menunggu lift terbuka hingga akhirnya tertutup dan mengantarkannya ke lantai sepuluh rumah sakit.
"Ayo masuk ke dalam lift satu lagi." Ajak Dio lalu menarik tangan Marvel keluar dari dalam persembunyiannya. Marvel menurut saja dan segera menunggu pintu lift terbuka. Setelahnya mereka pun masuk ke dalam lift dan menekan tombol sepuluh yang akan mengantarkan mereka ke lantai sepuluh.
Ting
Pintu lift pun terbuka. Marvel dan Dio keluar dari dalam lift lalu mengedarkan pandangan mencari keberadaan Windi. Dilihat mereka Windi telah masuk ke dalam ruangan sebelah kanan dari mereka berdiri.
"Ruangan perawatan?" Ucap Marvel membaca ruangan yang tengah Windi masuki.
Dio hanya diam namun tangannya bekerja menarik tangan Marvel masuk ke dalam area ruangan perawatan.
"Ruangan bunga melati 455." Ucap Dio setelah berada tepat di depan ruangan perawatan.
Dio pun melihat ke dalam ruangan dari kaca yang ada di pintu ruangan. "Apa kau ingin melihatnya?" Tanya Dio.
Marvel mengangguk lalu menggeser tubuh Dio dari hadapan kaca. Setelah melihat ke dalam ruangan, Marvel dibuat tertegun saat melihat Windi tengah memegang sebelah tangan pria yang terlihat lemah dan tua sedang berbaring di atas ranjang perawatan.
"Siapa pria itu?" Tanyanya pada Dio.
"Perhatikan saja." Ucap Dio.
"Pri itu—" ucapan Marvel terputus saat Dio angkat bicara.
"Dia adalah ayah kandung, Windi." Ucap Dio.
Marvel tertegun mendengarnya. "Sakit apa dia?" Tanya Marvel.
"Aku tidak bisa memastikannya. Namun dari informasi yang aku dapat Ayah Windi mengalami kecelakaan tiga bulan lalu dan baru sadar dari komanya." Jawab Dio.
Marvel kembali menatap ke dalam ruangan dimana Windi kini tengah meletakkan tangan ayahnya ke pipinya. Bibir pria tua itu nampak bergetar saat ingin berbicara dengan Windi.
"Ja-jangan bersedih." Kata-kita itu terlihat jelas keluar dari dalam mulut pria itu walau Marvel tak dapat mendengarnya.
Wajah tampan Marvel berubah sayu saat melihat air mata mulai berjatuhan membasahi pipi Windi. Wanita yang ia lihat mudah tersenyum itu ternyata menyimpan luka yang begitu dalam di hidupnya saat ini.
"Dia pasti sedang menangis." Ucap Dio seolah tahu apa yang terjadi di dalam ruangan. Marvel hanya diam sambil menatap ke arah ruangan. Hatinya merasa terenyuh saat melihat Windi mencium kedua pipi Ayahnya secara bergantian.
"Kasihan sekali dia." Komentar Marvel setelah cukup lama menatap pergerakan Windi di dalam ruangan.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.