
"Bekerja di supermarket?" Tanya Papa Bagas kemudian.
Windi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Senyuman tipis nampak tersemat di kedua sudut bibirnya menunngu jawaban dari Papa Bagas. Windi tak memperdulikan jika setelah ini Papa Bagas atau Mama Belinda menolaknya mentah-mentah karena perbedaan status di antara mereka.
"Saya dengar jika saat ini ayahmu sedang dirawat di rumah sakit. Lalu bagaimana kau mengatur waktu untuk bekerja di supermarket dan merawat ayahmu yang sedang sakit?" Tanya Papa Bagas kemudian.
"Saat sedang bekerja di supermarket saya akan menitipkan ayah pada perawat dan setelah pulang bekerja saya akan kembali ke rumah sakit." Jawab Windi seadanya.
"Apa hari-harimu kau lewati hanya dengan bekerja dan merawat ayahmu yang sedang sakit?" Tanya Papa Bagas.
Windi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Tidak ada hal lain yang saya lakukan selain bekerja dan merawat ayah saya yang sedang sakit." Jawabnya.
"Termasuk bermain dengan temanmu?" Tanya Papa Bagas lagi.
Windi mengangguk tanpa beban. "Ya, Tuan." Jawab Windi.
Papa Bagas menghela nafas sesaat. "Kau wanita yang hebat." Pujinya.
Windi menatap Papa Bagas dengan wajah bingung termasuk Marvel yang turut menatap Papanya dengan wajah bingung.
"Di saat teman sebayamu sedang sibuk bermain dan menikmati masa muda mereka bersama teman-teman mereka kau justru mengabaikan itu semua dan memilih menghabiskan waktu dengan bekerja dan merawat ayahmu yang sedang sakit." Ucap Papa Bagas.
Windi terdiam tak dapat berkata-kata. Kenapa Papa Bagas justru memujinya bukan menghinanya karena perbedaan status di antara mereka sangatlah jauh bahkan ia sangat tidak pantas menjadi calon menantu di keluarga atmajaya.
"Papa benar, Windi adalah wanita yang hebat." Ucap Mama Belinda karena Windi hanya diam saja.
"Wanita hebat seperti dirimu memang pantas menjadi pendamping untuk putra kami yang belum paham dengan makna hidup yang sebenarnya." Ucap Papa Bagas dengan sedikit menyindir Marvel.
"Papah, kenapa Papah justru menjelekkanku?" Protes Marvel.
"Papa tidak menjelekkanmu. Papa hanya ingin kau sadar jika kau selama ini selalu bermain-main dalam hidupmu tanpa sadar jika ada orang lain yang tidak mendapatkan kesempatan seperti dirimu." Balas Papa Bagas.
"Sudahlah, Papah, jangan berbicara seperti itu pada Marvel. Sekarang anak kita sudah berubah. Papa lihat saja sekarang dia sudah berubah menjadi sosok yang lebih dewasa bahkan sudah berniat meminang Windi menjadi istrinya." Ucap Mama Belinda membela putra semata wayangnya.
Marvel membusungkan dadanya mendengar pujian dari Mama Belinda untuknya.
"Papa dengar itu bukan?" Tanya Marvel.
"Ya, ya. Papa tahu kau sudah sedikit lebih dewasa saat ini." Jawab Papa Bagas.
Marvel kembali mendengus mendengar kata sedikit dari papanya untuknya. Mama Belinda pun hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya pada putranya.
"Oh ya, Windi, besok pagi Om dan Tante berniat menjenguk ayahmu di rumah sakit." Ucap Mama Belinda.
"Besok? Tapi kebetulan sekali besok saya bekerja shift pagi, Tante." Jawab Windi.
"Tak masalah, Om dan Tante bisa bertemu dengan Ayahmu saja." Jawab Mama Belinda.
"Aku akan menemani Mama dan Papa bertemu dengan calon mertuaku besok." Timpal Marvel.
"Ya, kau memang harus ikut karena besok kita akan membahas jadwal pernikahanmu dan Windi bersama ayah Windi." Ucap Mama Belinda.
"Jadwal pernikahan?" Windi dibuat terkejut mendengarkan ucapan Mama Belinda.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.