
"Ya, ya, aku kan tidak sengaja." Jawab Fahri mengerti maksud ucapan Farhan.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kita masuk ke ruangan Nutrizel." Ajak Farhan.
Fahri mengangguk menyetujuinya. Sebelum masuk ke dalam ruangan mereka menyempatkan untuk berdiskusi singkat lebih dulu tentang cara meminta maaf pada Zeline saat sudah berada dalam ruangan rawat nanti. Setelah cukup berdiskusi, Farhan dan Fahri pun masuk ke dalam ruangan perawatan Zeline.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka dari luar menghentikan pembicaraan keempat orang dewasa di dalam ruangan perawatan Zeline.
"Farhan, Fahri?" Ucap Amara.
"Hai Anty." Sapa Farhan dan Fahri berbarengan.
Farhan dan Fahri pun mendekat pada Amara lalu menyalaminya. Setelahnya mereka pun menyalami Naina.
"Farhan, kau tidak ingin menyalami Om Daniel?" Bisik Fahri di telinga Farhan.
"Sepertinya aku belum berminat." Balas Farhan pelan.
Daniel menggelengkan kepalanya mendengar percakapan kedua keponakannya.
"Dari mana saja kalian?" Tanya Mama Dara pada kedua putranya.
"Eh, Mama?" Farhan dan Fahri pura-pura memasang wajah terkejutnya melihat keberadaan Mama Dara.
"Mama ada di sini juga?" Farhan tersenyum kaku pada Mama Dara.
"Agh, ya, Mama ada di sini juga." Timpal Fahri.
"Dari mana saja kalian? Bukannya Mama meminta kalian untuk meminta maaf pada adik-adik kalian?" Tanya Dara tanpa memperdulikan sikap pura-pura bodoh kedua putranya.
"Tentu saja kami baru siap melakukan tugas negara dari Mama. Kami baru saja dari ruangan rawat Boy." Jawab Farhan.
"Benarkah begitu?" Mama Dara menatap kedua putranya dengan tatapan menyelidik.
"Tentu saja benar." Jawab Farhan dan Fahri hampir berbarengan.
Mama Dara diam sambil menatap kedua putranya.
"Kau benar, sepertinya Mama sudah tidak sayang lagi pada kita." Jawab Farhan tertunduk.
Dara menghela nafasnya melihat sandiwara kedua putranya. "Sekarang lihat adik kalian, apa kalian tidak sedih melihat adik kalian terbaring seperti saat ini?" Tanya Dara.
Farhan dan Fahri sontak menatap pada Zeline yang sedang terbaring di atas ranjang dengan wajah sedikit pucat.
"Nutrizel... eh!" Farhan segera membelap mulut Fahri karena sudah sembarangan menyebut nama Zeline.
"Lepaskan." Fahri membula kedua telapak tangan Farhan yang menempel di mulutnya. "Emh, maaf, maksud Fahri, Zeline." Koreksi Fahri kemudian karena kini semua orang tengah menatap padanya dengan tatapan berbeda-beda.
"Sudahlah, ayo minta maaf pada Zel." Ajak Farhan pelan.
Fahri mengangguk lalu mendekat pada ranjang Zeline.
"Kakak..." Zeline berusaha tetap tersenyum pada kedua pria yang acap kali menjahilinya itu.
"Jel... kasihan sekali dirimu." Farhan memasang wajah sedihnya. Ia pun berjinjit agar dapat menjangkau kening Zeline. "Ternyata benar, kau juga demam." Ucap Farhan.
Karena merasa penasaran dengan ucapan Farhan, Fahri pun meminta untuk bergantian memegang kening Zel. "Awh, panas sekali." Ucapnya sedikit berteriak.
Zeline hanya membalas ucapan kedua kakak sepupunya dengan wajah sendunya.
"Maaf karena tidak melarangmu memakan banyak es krim hingga membuatmu sakit seperti ini." Sesal Farhan.
"Ya, maafkan kami, Jel." Timpal Fahri.
"Tidak, tidak, Kakak tidak bersalah. Zel yang bersalah karena tidak mau mendengar perkataan Kak Farhan dan Kak Fahri." Balas Zeline. Ia tidak ingin kedua kakak sepupunya itu menjadi tumbal kemarahan Mama Dara karena kesalahannya sendiri. Walau sering menjahilinya, namun Zel tetap menaruh rasa sayang pada kedua kakak sepupunya itu.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.