
Setelah membayar semua belanjaannya, Marvel pun segera keluar dari dalam supermarket dengan wajah coolnya.
"Windi, bukankah pria itu pria yang kemarin?" Tanya Alisa pada Windi. Matanya nampak berbinar-binar menatap punggung kokoh Marvel yang semakin menjauh darinya.
Windi mengangguk lalu mengatupkan tangannya pada pengunjung baru yang ingin membayar barang belanjannya.
"Ck. Aku merasa baru saja melihat pangeram yang baru saja turun dari kayangan." Ucapnya kagum.
Windi menggelengkan kepalanya. "Kau terlalu berlebihhan, Al." Komentarnya.
Alisa menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku berkata apa adanya. Dia memang benar-benar tampan." Sahut Alisa.
Windi hanya bisa menghela nafasnya mendengar Alisa yang memuji ketampanan seorang Marvel.
"Nona itu benar, Tuan yang tadi benar-benar tampan. Selain tampan, dia juga mapan. Sungguh sangat sempurna. Good looking dan good rekening." Timpal wanita yang sedang membayar barang belanjaannya pada Windi.
"Uhuk." Windi hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar pujian wanita di depannya pada pria yang tidak ia ketahui namanya itu.
"Sudahlah, Bu. Teman saya memang tidak asik jika dalam pembahasan seperti ini." Jawab Alisa.
Wanita itu pun tertawa mendengar jawaban Alisa. Setelah membayar barang belanjaannya, wanita itu pun pergi dari hadapan Windi dan Alisa.
"Windi, apa kau mengetahui siapa nama pria tadi? Aku merasa tidak asing dengan wajahnya." Ucap Alisa ketika mengingat sesuatu.
Windi mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak mengetahuinya, Al. Lagi pula untuk apa aku mengenalnya." Windi menggeleng merasa tak habis pikir dengan ucapan Alisa.
"Ya, mana tau saja kau sudah mengetahuinya karena tadi aku sempat melihat kau berbincang dengannya." Ucap Alisa.
"Aku tidak berbincang dengannya, aku hanya memberitahukannya dimana letak snack yang diinginkannya." Pungkas Windi.
"Ya, ya, terserah kau saja." Jawab Alisa tak ingin berdebat dengan Windi.
*
"Ini benar-benar tidak waras." Komentarnya lalu memukul stir mobilnya pelan. Karena rasa kesalnya pada Windi yang tidak menghiraukannya, Marvel pun memilih singgah ke apartemen Dio lebih dulu untuk melampiaskan kekesalannya pada sahabatnya itu. Dan sebelum masuk ke apartemen Dio, Marvel menyempatkan lebih dulu mengabari Mama Belinda bahwa ia mampir ke apartemen Dio lebih dulu sebelum pulang ke rumahnya.
Brak
Dio dibuat terlonjak dari pembaringannya saat mendengar sesuatu yang keras terjatuh di sebelah ranjangnya yang kosong.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Cecar Dio menatap banyaknya makanan yang berserakan di atas ranjangnya. Untung saja makanan yang berserakan di ranjangnya masih terbungkus hingga ia tak harus memendam kekesalan karenanya.
"Meletakkan makanan di ranjangmu." Jawab Marvel santai lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
Dio pun segera turun dari atas ranjang. "Apa kau gila membeli makanan sebanyak ini?" Tanya Dio sambil mengumpulkan makanan yang berada di atas ranjangnya dan memasukkannya kembali ke dalam plastik.
"Tidak, aku tidak gila." Jawab Marvel acuh. "Saat ini aku sedang kesal." Ucapnya kemudian lalu mendecakkan lidahnya.
"Apa yang membuatmu kesal?" Tanya Dio.
"Wanita itu. Wanita itu berani menjatuhkan harga diriku sebagai seorang pria tampan." Ucap Marvel kesal.
Kening Dio dibuat mengkerut mendengarnya. "Maksudmu?" Tanya Dio namun Marvel tak menjawabnya. "Hei..." Dio meninju lengan Marvel karena tak kunjung menjawab pertanyaan darinya.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.