
"Aku turut senang melakukannya." Jawab Queen seadanya.
Kevin menarik salah satu sudut bibirnya ke samping melihat wajah Queen yang terlihat gugup saat ini.
"Selain membawa Boy untuk bertemu denganmu, aku juga memiliki tujuan untuk datang ke sini." Ucap Queen.
Kevin diam menunggu Queen melanjutkan ucapannya.
"Aku datang untuk meminta maaf kepadamu atas kesalahpahaman yang terjadi di antara kita selama ini." Ucap Queen lalu menundukkan pandangannya saat mata Kevin menatap kedua bola matanya dengan intens.
"Kenapa harus meminta maaf? Kau bahkan tidak memiliki kesalahan atas apa yang terjadi selama ini." Ucap Kevin yang seolah sudah mengerti arah pembicaraan Queen saat ini.
"Boy mau Daddy." Ucap Boy meminta diturunkan dari pangkuan Queen.
Queen segera menurunkan Boy dan membiarkan Boy berjalan ke arah Kevin. Setelah Boy duduk di pangkuan Kevin, Queen pun kembali melanjutkan ucapannya. "Aku bersalah, Kevin. Aku sangat merasa bersalah karena telah berpemikiran buruk padamu selama ini. Aku bersalah karena mudah menyimpulkan sesuatu tanpa mencari tahu kebenarannya lebih dulu. Dan aku sangat bersalah karena telah membuatmu dan Boy harus berjauhan dalam waktu yang cukup lama." Ucap Queen dengan tatapan penuh penyesalan.
Kevin menatap wajah cantik Queen tanpa berkedip sedikit pun. Ia bahkan tak memperdulikan tangan Boy yang kini tengah mengusap-usap rahangnya hingga membuatnya kegelian. Setelah mendengarkan ucapan dari Queen, Kevin sudah dapat menyimpulkan jika saat ini Queen sudah mengetahui semua kebenaran yang terjadi.
"Maafkan aku." Queen tertunduk. Sepuluh jemarinya nampak bertaut dengan perasaan yang begitu gugup karena Kevin tak kunjung menjawab ucapannya. Karena kegugupannya yang begitu kuat, Queen bahkan tak menyadari jika kini Kevin sudah duduk di sebelahnya. Ia memejamkan kedua kelopak matanya menunggu Kevin kembali bersuara.
"Queen..." Kevin memegang kedua pundak Queen hingga membuat Queen tersentak dan membuka kedua kelopak matanya.
"Ke-kevin..." Queen dibuat begitu terkejut melihat Kevin yang kini sudah berada di sebelahnya. Sedangkan Boy duduk sendiri di atas sofa yang tadi Kevin duduki.
"Ingatlah untuk tidak lagi menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi di antara kita. Semuanya telah terjadi dan kita hanya bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi. Jika ada yang harus disalahkan dalam hal ini orang itu adalah aku. Sebagai seorang pria aku tidak bisa tegas dengan diriku sendiri dan begitu pasrah dengan apa yang terjadi pada hidupku tanpa aku tahu jika diriku sendiri juga membutuhkan sebuah kebahagiaan."
"Tapi bagaimana dengan-" Ucapan Queen menggantung karena Kevin dengan cepat memotongnya.
"Perjanjian itu hanyalah caraku agar tidak berharap lebih dengan kebahagiaan yang aku miliki karena bisa bersamamu. Aku sadar jika aku tidak bisa terlalu lama bersamamu karena ada hal yang harus aku tepati demi kelangsungan hidup perusahaan. Dan setelah kepergiaanmu akhirnya aku sadar, jika harta yang aku miliki tidak ada artinya jika kau pergi dari hidupku. Semuanya boleh pergi dari hidupku namun tidak dengan dirimu." Ucap Kevin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku begitu hancur setelah kepergiaanmu, Queen... aku hancur karena aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan untuk bisa terus bersamamu. Aku tidak bisa begitu saja merelakan dirimu pergi dari hidupku, Queen. Aku tidak bisa jauh darimu, sungguh. Kau tahu, hati dan tubuhku sudah terikat kepadamu. Aku benar-benar membutuhkanmu sebagai sumber semangat dalam hidupku dan aku tidak bisa bahagia tanpa ada kau di sisiku, Queen."
"Kevin..." bibir Queen bergetar seolah sulit untuk berbicara setelah mendengarkan penjelasan Kevin yang terdengar tulus di telinganya.
"Maafkan aku karena telah menyia-nyiakan hidup bersamamu. Namun satu yang harus kau ingat jika tidak satu pun hari yang aku lewatkan dengan tidak memikirkanmu." Ucap Kevin.
Queen tak dapat menahan rasa haru yang menyeruak di dalam dadanya. Ia pun tanpa sungkan memeluk erat tubuh Kevin dan menumpahkan segala kesedihannya di dada bidang Kevin. Kevin pun tak menyia-nyiakan kesempatan dengan membalas pelukan Queen tak kalah erat dan tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Hua..." Boy pun turut menangis melihat kedua orang tuanya yang menangis. Tangisan balita itu pun terdengar semakin kencang saat Queen dan Kevin masih tetap berpelukan tanpa memperdulikan dirinya yang juga sedang menangis seorang diri.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.