
"Nanti main bola, Boy." Ucap Ziko pada Boy.
"Ya, ya." Boy kembali bersorak dengan riang. Marvel dan Dio yang mendengarkannya pun ikut tersenyum mendengarnya.
Tanpa terasa mobil milik Marvel pun telah sampai di depan supermarket. Marvel segera membuka sabuk pengamannya dan membantu Zeline membuka sabuk pengaman yang tadi ia pasangkan.
"Jajan sini, Om?" Tanya Zeline.
"Emh, ya." Jawab Marvel seraya tersenyum. Setelahnya Marvel pun turun dari dalam mobil lalu segera memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Zeline. "Ayo kita turun, Princess." Ajak Marvel.
"Ayo!" Zeline merentangkan kedua tangannya bak anak kecil pada Marvel.
Marvel tersenyum melihatnya. Sampai saat ini ia masih saja menganggap Zeline seperti balita saat ia temui pertama kalinya. Marvel bahkan tak sungkan untuk menggendongnya walau saat ini ia sadar jika Zeline bukanlah anak kecil yang harus digendong lagi.
Di kursi belakang Dio dan Nany nampak menggendong Ziko dan Boy keluar dari dalam mobil.
"Apa kami juga ikut masuk?" Tanya Dio.
"Tentu saja. Apa kau ingin membuat mereka menangis karena tidak diajak masuk ke dalam?" Tanya Marvel.
"Tentu saja tidak." Jawab Dio cepat.
Marvel pun melangkah ke arah pintu masuk sambil memegang tangan Zeline.
"Ingat jangan berlari kemana-mana." Titah Dio saat Ziko dan Boy mulai meronta meminta diturunkan.
"Ya, Om." Jawab mereka bersamaan lalu berlari masuk ke dalam supermarket.
"Anak-anak itu..." Dio dibuat menggeleng melihat tingkah Boy dan Ziko.
Setelah masuk ke dalam supermarket, Marvel mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Windi. Namun sayang, apa yang dicarinya tak kunjung terlihat. Marvel menghela nafas saat teringat jika Windi sangat jarang masuk di shift pagi hari. Wanita itu pasti saat ini sedang berada di rumah sakit untuk menjaga ayahnya. Pikirnya.
"Jajan es krim boleh, Om?" Tanya Zeline saat pandangannya tertuju pada deretan freezer khusus es krim.
Wajah Zeline seketika cemberut mendengarnya. "Satu ja, Om." Pintanya dengan lirih. Wajahnya pun berubah sendu menatap pada Marvel.
Marvel tetap menggeleng seolah tidak terpancing dengan raut wajah sendu Zeline saat ini. Zeline pun hanya bisa mengerutkan bibirnya mendapat penolakan dari Marvel yang biasanya menuruti keinginannya.
"Ayo kita ke sana." Ajak Marvel sambil menunjuk rak khusu cemilan.
Zeline mengangguk saja dengan wajah tak bersemangat. Marvel mencoba tak meruntuhkan pertahanannya setelah melihat wajah sendu Zeline. Dan tibalah mereka di rak khsusu cemilan. Marvel membiarkan Zeline mengambil cemilan apa saja yang ia inginkan agar Zeline melupakan keinginannya untuk membeli es krim. Saat tengah asik memilih beberapa cemilan, Marvel dan Zeline dibuat terkejut saat mendengar suara tangisan Boy yang terdengar cukup keras.
"Adik Boy." Ucap Zeline dengan kedua mata yang membola sempurna.
Marvel segera melangkah ke arah sumber suara Boy diikuti Zeline di belakangnya. Saat sudah berada di tempat Boy berada, Marvel dibuat tertegun melihat keberadaan Windi di sana tengah menenangkan Boy yang sedang menangis.
"Oom..." rengek Boy saat melihat wajah Marvel. Windi pun turut menatap pada arah yang dilihat Boy.
Marvel berjalan mendekat pada Boy dan Windi. Ia memasang wajah datarnya seolah tidak terpengaruh dengan keberadaan Windi di sana.
"Adik ini tidak sengaja menabrak saya dan akhirnya menangis karena takut saya akan memarahinya." Ucap Windi sebelum Marvel angkat suara.
"Maap, Tante..." Ucap Boy dengan wajah takut.
Marvel tak memperdulikan ucapan Windi dan justru menatap wajah Windi intens.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.