
Marvel dibuat bergedik ngeri melihat tatapan mata mamanya yang terlihat tidak main-main. Mama Belinda dan Papa Bagas pun keluar dari dalam ruangan Marvel setelah memeluk putra mereka barang sejenak.
"Mama tenang saja. Tidak sampai seminggu lagi aku akan membawa Windi datang ke rumah kita." Ucap Marvel penuh percaya diri. Walau belum mendapatkan jawaban dari Windi atas tawarannya untuk menikah, namun Marvel sudah memiliki keyakinan penuh jika Windi akan menerima tawarannya.
"Windi... bersiaplah menjadi istriku." Ucap Marvel penuh percaya diri.
*
Pukul dua siang Windi telah bersiap untuk pulang bekerja. Ia dan Alisa kini terlihat tengah mengambil tas sandang mereka di dalam ruangan khusus karyawan.
"Windi, bagaimana kalau kali ini aku mengantarkanmu untuk pulang. Lagi pula siang ini adikku tidak meninta di jemput di tempat kerjanya." Tawar Alisa.
Windi nampak diam dan berpikir.
"Ayolah, Windi. Lagi pula kita bisa melanjutkan cerita kita tadi yang sempat tertunda bukan?" Tanya Alisa.
Windi akhirnya mengiyakannya setelah berpikir jika ia sepertinya ingin melanjutkan pembicaraannya dan Alisa tadi yang sempat terpotong karena kehadiran rekan kerja mereka yang lainnya.
"Kalau begitu ayo kita pulang." Ajak Alisa yang diangguki Windi sebagai jawaban.
Dan saat ini Windi dan Alisa sudah berada di atas motor milik Alisa. Windi terlihat duduk di belakang sedangkan Alisa duduk di depan Windi mengendarai motor miliknya.
"Jadi pria itu tiba-tiba saja datang dan menawarkan sebuah pernikahan saat kau sedang duduk di taman?" Tanya Alisa sedikit keras agar Windi dapat mendengarkan ucapannya.
"Ya, begitulah." Jawab Windi juga sedikit keras.
"Lalu bagaimana dengan tanggapanmu? Apa kau mengiyakannya?" Tanya Alisa.
Windi menggelengkan kepalanya yang dapat dilihat Alisa lewat kaca spion motornya.
"Kenapa? Apa menurutmu dia bukan pria yang baik?" Tanya Alisa.
Windi sejenak terdiam. Jika saja Alisa mengetahui siapa pria yang ia maksud pastilah sahabatnya itu akan bersorak kegirangan dan memintanya untuk menerima tawaran itu.
"Aku memang ingin mewujudkan keinginan Ayah untuk menikah. Tapi aku juga tidak bisa asal memilih seorang pria yang bisa menjadi suamiku, Al. Lagi pula aku belum begitu mengenalinya begitu pun sebaliknya." Ucap Windi.
"Jika dia belum mengenalmu lalu mengapa dia begitu mudah mengajakmu untuk menikah?" Tanya Alisa bingung.
Windi mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Percakapan mereka pun terus berlanjut hingga akhirnya motor Alisa sampai di rumah sakit.
"Windi, untuk saat ini aku tidak bisa ikut masuk bersamamu. Tapi aku janji untuk besok aku akan melihat Om Amri ke dalam ruangannya." Ucap Alisa.
"Sudahlah, tak masalah. Kau bisa mengunjungi Ayah kapan pun kau bisa." Jawab Windi.
Alisa mengangguk lalu berpamitan pada Windi untuk pulang ke rumahnya. Setelah kepergian Alisa, Windi berjalan masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangan rawat ayahnya.
"Windi, kau sudah pulang, nak?" Wajah Ayah Amri terlihat begitu senang melihat kedatangan putrinya.
Windi tersenyum membalas senyuman ayahnya.
"Ayah... kenapa Ayah terlihat senang sekali?" Tanya Windi sambil meletakkan tasnya di atas meja.
"Tentu saja Ayah sangat senang, Nak. Karena tadi calon suamimu datang menjenguk Ayah ke sini." Jawab Ayah Amri.
"Apa? Calon suami?" Windi dibuat terkejut mendengar ucap yang keluar dari mulut Ayahnya.
"Ya. Calon suamimu yang bernama Marvel, Nak." Jawab Ayah Amri dengan tersenyum senang.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.