Queenara

Queenara
Kita berbeda



Windi bukanlah orang awam yang tidak mengetahui maksud tulisan yang ia baca baru saja. Ia tahu jelas jabatan itu dan apa fungsinya di dalam perusahaan.


"Ayo silahkan masuk, Nona." Suara Jhoni membuyarkan lamunan Windi tentang apa jabatan Marvel.


"Agh, ya." Jawab Windi lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Baru saja selangkah kakinya menginjakkan lantai ruangan Marvel, Windi sudah dibuat tertegun melihat betapa mewahnya isi dalam ruangan Marvel. Apa yang ia lihat saat ini hampir persis dengan ruangan petinggi perusahaan yang sering ia lihat di berita bisnis.


"Nona?" Suara Jhoni kembali membuyarkan lamunan Windi.


Windi menoleh pada Jhoni yang kini tengah menatap wajahnya. "Apa ini ruangan Tuan Marvel?" Tanya Windi mencoba bersikap biasa saja.


Jhoni menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Tapi saat ini Tuan Marvel sedang tidak ada di dalam ruangannya karena Tuan Marvel sedang ada rapat dan akan selesai dalam waktu lima belas menit lagi." Jelas Jhoni.


"Oh..." Windi menganggukkan kepalanya.


"Ayo duduk di sana, Nona." Ucap Jhoni sambil menunjuk sofa yang ada di dalam ruangan.


Windi mengiyakannya lalu melangkah ke arah sofa. Dengan ragu ia menjatuhkan bokongnya di atas sofa.


"Ugh." Lagi-lagi Windi dibuat tertegun saat merasakan betapa lembutnya sofa di dalam ruangan Marvel saat didudukinya.


Jhoni tidak ikut duduk seperti yang Windi lakukan. Pria itu tetap memilih tegak di seolah enggan ingin duduk.


"Apa anda tidak ikut duduk, Tuan?" Tanya Windi.


Jhoni menggelengkan kepalanya. "Maaf, Nona. Tapi saya harus segera kembali ke ruangan rapat. Sebentar lagi akan ada OB yang mengantarkan minuman untuk, Nona." Ucap Jhoni.


"Rapat? Jadi maksudnya anda ingin meninggalkan saya sendiri di sini?" Tanya Windi.


Windi mengangguk saja. Lagi pula tak masalah jika ia harus disuruh menunggu dalam waktu lima belas menit untuk bertemu dengan Marvel. Setidaknya ia tidak akan menunggu dengan hasil yang sia-sia.


"Kalau begitu saya pamit dulu, Nona." Ucap Jhoni.


"Baik. Terima kasih telah mengantarkan saya sampai ke sini, Tuan." Jawab Windi.


Jhoni mengangguk lalu melangkah ke luar ruangan meninggalkan Windi seorang diri di dalam ruangan kerja Marvel.


"Apa benar dia seorang petinggi di perusahaan ini? Tapi mengapa seorang petinggi seperti dirinya mau menawarkan pernikahan padaku? Ini sungguh tidak masuk akal." Ucap Windi merasa tak habis pikir.


Sambil menunggu Marvel dan Jhoni kembali ke dalam ruangan, Windi memilih duduk diam sambil menatap ke setiap penjuru ruangan yang dapat ia jangkau dengan penglihatannya. Di tatapnya semua foto yang terpajang di dinding ruangan. Di sana ada foto Marvel bersama keluarganya dan tak lupa foto Marvel dengan ketiga sahabatnya.


"Ternyata dia seorang anak tunggal." Gumam Windi saat tak melihat seorang anak yang lain di foto keluarga Marvel selain Marvel. Melihat beberapa foto kebersamaan Marvel dengan keluarganya membuat Windi merasa rendah. Bagaimana tidak, di dalam foto itu terlihat jelas bagaimana kasta keluarga Marvel dan itu semua sangat berbanding terbalik dengan kondisi keluarganya.


Setelah cukup menatap foto keluarga Marvel, pandangan Windi pun beralih pada foto Marvel bersama seorang gadis kecil yang sangat dikenalinya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.