
"Akhirnya aku kembali lagi ke kota ini." Gumam Queen. Mereka pun terus berjalan menuju sopir pribadi Mirza yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Apa kita langsung ke rumah sakit saja?" Tanya Mirza.
Queen mengangguk. "Ya, aku ingin melihat keadaan Mama, Kak." Jawab Queen.
"Baiklah, kalau begitu ayo masuk." Ajak Mirza.
Queen mengangguk lalu masuk ke dalam mobil dan diikuti Mirza setelahnya.
"Queen, Kakak harap kau tidak terkejut saat melihat keadaan Tante Lita nanti." Ucap Mirza saat mobil mulai berjalan meninggalkan bandara.
"Apa maksud Kakak?" Tanya Queen.
"Kau akan mendapatkan jawabannya saat sudah berada di rumah sakit nanti." Ucap Mirza.
"Kak Mirza..." Queen menatap Mirza penuh harap agar Mirza menjawab pertanyaannya.
"Maaf, tapi tidak untuk sekarang, Queen." Balas Mirza.
Queen menghela nafasnya lalu mengangguk mengiyakan. Di sepanjang jalan menuju rumah sakit mereka lewati dengan keheningan karena Mirza dan Queen memilih diam satu sama lain. Sedangkan Boy kini sudah nampak tertidur pulas di pangkuan Queen.
Dua puluh menit berlalu, mobil pun telah sampai di pelantaran rumah sakit. Mirza turun lebih dulu lalu mengambil Boy dari pangkuan Queen dan Queen pun turun dari dalam mobil.
"Ayo masuk." Ajak Mirza pada Queen.
Queen mengangguk dan mengikuti langkah Mirza masuk ke dalam rumah sakit.
"Di ruangan mana Mama dirawat?" Tanya Queen.
"Ruangan mawar." Jawab Mirza.
Queen semakin mempercepat langkahnya menuju ruangan yang dimaksud oleh Mirza. Pun dengan Mirza yang turur berjalan kencang mengikuti langkah Queen. Saat sudah berada di lorong ruangan mawar, Queen menghentikan langkahnya dan menatap pada Mirza.
"Di sana." Tunjuk Mirza pada salah satu kamar yang berada di sudut ruangan.
"Terimakasih." Ucap Queen lalu kembali berjalan menuju ruangan yang Mirza tunjuk. Saat sudah berada di depan ruangan, Queen tak langsung masuk dan lebih memilih menatap ke dalam ruangan dari kaca kecil di pintu ruangan.
"Masuklah,Tante Lita pasti sangat menunggu kedatanganmu." Ucap Mirza yang paham jika saat ini Queen tengah meragu.
"Queen..." Papa Adam seketika bangkit dari duduknya. Suara Papa Adam yang terdengar sedikit keras membuat Mama Lita yang baru saja tertidur kembali membuka kedua kelopak matanya.
"Qu-queen..." Tak berbeda jauh dengan Papa Adam, Mama Lita pun turut terkejut melihat kehadiran Queen di depan mereka.
Papa Adam pun segera melangkah ke arah Queen yang masih diam mematung di ambang pintu sambil menatap Mama Lita dengan tatapan berkaca-kaca.
"Queenara... anak Papa..." Papa Adam tanpa enggan langsung memeluk erat tubuh Queen.
"Pa-papah..." tubuh Queen tersentak dengan pergerakan Papa Adam.
"Queen...kau kembali, Nak?" Suara Papa Adam terdengar bergetar. Pun dengan kedua matanya yang sudah nampak mengembun oleh air mata.
"Papah..." Queen membalas pelukan Papa Adam dengan erat. Queen dapat merasakan jika saat ini Papa Adam sangat lemah tidak seperti yang ia lihat dulu.
"Maafkan Papa, nak...maafkan Papa..." Papa Adam tanpa enggan meneteskan air matanya. Ia benar-benar merasa bersalah karena sikapnya yang terlalu keras pada Queen membuatnya dan Mama Lita harus kehilangan Queen selama dua tahun lamanya.
"Papah jangan menangis..." suara Queen turut terdengar bergetar.
"Ini semua salah Papa, nak... maafkan Papa... maaf, karena Papa terlalu bersikap keras padamu selama ini." Ucap Papa Adam.
Queen melerai pelukannya dan menatap wajah Papa Adam yang sudah basah oleh air mata. "Papah jangan seperti ini... Papa tidak bersalah, Queen-lah yang bersalah hingga akhirnya membuat Mama dan Papa begitu kecewa." Ucap Queen.
Papa Adam menatap sendu wajah Queen.
"Pa—" Ucapan Papa Adam terhenti saat mendengar suara bayi yang terdengar memanggil Mommynya.
"Mommy..." rengek Boy yang baru terjaga dalam gendongan Mirza.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.