I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 88 : Awal Pertempuran Tiga Arah



Tahun 1236, 11 Agustus.


Padang Bleverc, Wilayah Utara Benua Barat.


Pagi Hari.


Tepat satu hari telah berlalu semenjak kelompok Ares bertemu dengan pejuang Suku Barat. Segera setelah memasuki hutan kembali dan membuat titik sebagai basis markas, Ares memerintahkan Lean untuk memata-matai pergerakan Natrehn serta Marie yang memfokuskan diri kepada Suku Barat meninggalkan Arthur dan Gale sebagai pengawal pribadinya.


Melihat Alfr yang masih saja diliputi emosi, Ares memutuskan untuk menghajarnya sembari melatih dirinya agar tidak mudah terpancing dengan emosi balas dendamnya.


Memikirkannya kembali, bisa saja Ares meninggalkannya terkatung-katung di tengah hutan sendirian.


Namun, dia memutuskan untuk tidak melakukan hal tersebut agar mendapatkan sisi baik dari Kepala Suku Barat, Thorgils, jika bertemu dengannya kembali.


Melalui laporan Marie, mereka memutuskan untuk mengikuti pergerakan pejuang Suku Barat yang berkehendak melakukan pertempuran di sebuah padang rumput yang tidak jauh dari hutan tempat mereka mendirikan basis.


Karenanya, di bawah pepohonan rindang yang menutupi cerahnya sinar matahari, Ares berserta 4 orang lainnya—terkecuali Lean—sedang berjaga-jaga di salah satu sudut padang rumput yang berbatasan tepat dengan hutan sembari melihat pergerakan Suku Barat.


"Art, aku akan membuatmu menjadi salah satu jenderal jika kau dapat mencapai sebuah prestasi di medan perang ini." Meskipun mengatakan hal yang sangat penting, tatapan Ares tetap tertuju kepada pejuang Suku Barat yang membuatnya terlihat acuh tak acuh saat mengatakannya.


"Eh?!"


Serentak, suara keterkejutan muncul dari pita suara Arthur, Gale, dan Marie meninggalkan Alfr yang kebingungan.


Tidak ada diantara mereka yang menyangka bahwa mereka akan memasuki medan perang yang membuat mereka sangat panik.


"Tu—tunggu, Tu—Gnery!" Karena kepanikan, hampir saja Marie memanggil Ares dengan "Tuan" yang segera diingatkan oleh Gale.


"Apa itu?" tanya Ares heran.


"Apakah kamu tidak waras?! Kami hanya berlima, kamu tahu?!" protes Marie dengan panik.


"Hm? Tidak masalah, bukan?" timpal Ares yang keheranan.


Tatapan seolah melihat makhluk luar biasa segera terbentuk di wajah Marie dan Gale. Berbeda dengan Arthur—yang belum merasakan satupun medan perang—hanya dapat melihat Tuannya dengan penuh keraguan.


"Ta—tapi—"


Srrkk.


Srrkk.


Tepat setelah Arthur hendak memprotes, samar suara semak terdengar tidak jauh dari tempat mereka yang membuat mereka segera bersikap waspada.


Bertentangan dengan harapan mereka, Lean pun muncul dari balik semak-semak dan dengan cepat menghampiri Ares.


"Gnery, berita buruk." Lean berkata tanpa nada dan wajahnya tidak menunjukkan sedikitpun emosi.


Ares mengubah wajahnya menjadi serius. Dia tahu bahwa Lean tidak akan bermain-main jika berada dalam situasi yang mendesak.


"Laporkan," perintah Ares.


"Sebuah kelompok pejuang yang kemungkinan besar merupakan Suku Timur akan datang ke tempat ini," jawab Lean.


"Hah?!"


Keterkejutan sekali lagi menimpa semua orang karena situasi yang tidak pernah terprediksikan sebelumnya.


"Berapa?!" tanya Ares dengan sedikit keras.


"Sekitar 7.000 pejuang," jawab Lean.


Hah?!


Bukankah itu kekuatan penuh mereka?!


Keheningan melanda. Tidak ada yang dapat berkata-kata dengan Suku Selatan yang diperkirakan membawa pejuangnya secara keseluruhan.


"Dan juga..." Lean segera menghentikan kata-katanya. Dalam hatinya, dia benar-benar tidak memiliki keinginan untuk melaporkan hal ini kepada Tuannya.


"Katakan," perintah Ares tegas.


"Satu brigade Natrehn berukuran sekitar 5.000 prajurit bersenjata lengkap akan menyerang dari sisi selatan padang rumput... di bawah komando 'Merciless Angel' Zelhard von Ginnes."


Puk.


"Idiot! Barbarian hanya akan menjadi daging cincang jika mereka bertempur dengannya!" Ares berteriak kuat.


Sekali lagi, pikiran Ares berputar sangat cepat. Dia benar-benar sangat ingin setidaknya untuk menyelamatkan nyawanya di tengah situasi ini, meskipun harus membuang kesempatannya menyatukan para barbarian utara.


Apakah aku... harus meninggalkan tempat ini dan menyerah pada ambisiku?


Tidak.


Ingatlah jika aku pernah mengalahkannya.


Benar.


Tatapan kuat segera terlukis di wajah Ares. Pandangannya teralihkan menuju mereka semua.


"Lan, bersembunyilah dan gunakan hanya satu anak panah dari Zarrex Bow pada kesempatan dan waktu yang benar-benar tepat. Jika kau gagal membunuhnya, pergilah." Perintah serius beserta tatapan kuat Ares membuat Lean sedikit terintimidasi.


"Tapi, mengapa?" Lean kebingungan dengan perintah tersebut. Meskipun sedikit terintimidasi dengan Ares, namun tidak menyurutkan niatnya untuk bertanya mengenai perintah yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


"Zelhard memiliki sifat unik dimana dia tidak akan pernah terkena serangan dengan karakteristik yang serupa. Jadi, jika kau menunjukkan dengan jelas senjatamu dan gagal membunuhnya, kau tidak lagi dapat menggunakan Zarrex Bow untuk mengeliminasinya," timpal Ares kuat.


"Hah?!"


Perubahan terpancar pada ekspresi Lean saat mendengar perkataan yang sangat tidak masuk akal tersebut. Mengabaikan Lean yang menatapnya seolah tidak percaya, Ares menolehkan wajahnya untuk menatap Marie, Gale, serta Arthur kembali.


"Aku akan memberikan kalian beberapa kondisi. Satu, bunuhlah sebanyak mungkin orang dengan melewati celah-celah para barbarian dan prajurit Natrehn. Namun, lebih condonglah untuk membunuh unit elit Natrehn, aku tidak peduli berapapun jumlah korban yang kalian bunuh," perintah Ares dengan nada serius.


"Dua, kemenangan akan terjadi jika Zelhard terluka, aku tidak peduli apakah dia akan mati atau tidak. Tiga, kekalahan akan terjadi jika dua kepala suku tersebut terbunuh," sambung Ares.


"Aku akan memberikan masing-masing dari kalian uang sebanyak 20 juta G jika kalian dapat menyelesaikan misi ini," sambung Ares.


Sangat tidak masuk akal.


Hanya hal tersebut yang segera terlintas di benak para bawahan Ares. Mereka tahu, meskipun itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin terjadi, namun bergerak sembari berlindung di tengah medan perang tiga arah dengan sekitar 19.000 orang di dalamnya sangatlah mustahil.


Hal tersebut juga tidak menutup kemungkinan pihak Natrehn akan menggunakan senjata militer mereka.


Berbanding lurus dengan resiko, hadiah yang ditawarkan Ares sangatlah luar biasa—yang hampir setara dengan 200 Milyar Rupiah—dan akan diberikan kepada masing-masing dari mereka.


Glup.


Marie menelan ludahnya. Para anggota klan tentu menimbang-nimbang misi khusus yang diberikan kepada mereka.


Sebagai seseorang yang telah hidup di bawah kegelapan dunia, mereka telah kehilangan rasa takut akan kematian—yang tentunya kepanikan awal Gale dan Marie disebabkan oleh mereka yang tidak mendapat sedikitpun komisi sehingga mereka mempertanyakan keputusan Ares yang hanya membawa 5 orang bersamanya.


Singkatnya, mereka bukanlah seseorang yang memiliki akal sehat manusia normal.


"Misi diterima."


Singkat, padat, dan jelas.


Jawaban serentak diberikan oleh Marie, Gale, serta Lean dengan nada tegas yang membuat Ares melukiskan senyuman masam di atas wajahnya.


Arthur hanya dapat menatap ketiga orang tersebut dengan tatapan luar biasa, seolah menyaksikan manusia yang telah berada di luar nalar.


Bagi Arthur—yang hanya merasakan perihnya hidup akibat kemiskinan serta kehilangan anggota keluarga akibat kematian—tentu tidak memiliki tekad seperti mereka bertiga.


Tatapan Ares beralih kembali kepada Alfr. Menemukannya hanya diliputi oleh kebingungan, Ares pun menatapnya dengan intimidasi dan berkata, "Kau belum memiliki sedikitpun kesiapan untuk berperang, tinggalah di sini."


"Hah?! Kau meremehkanku?! Aku aka—" timpal Alfr yang segera terputus disaat dia melihat Ares mengangkat tangannya sebagai tanda untuk berhenti.


"Aku akan memberimu kesempatan tidak lama lagi di lain waktu, bersabarlah," ujar Ares.


Alfr menyadari kekuatannya yang masih lemah. Dengan berat hati meskipun ingin menolak, Alfr menyanggupinya dan dengan lemah berkata, "Baik..."


Berbalik kembali menuju padang rumput yang telah terlihat titik kecil seperti orang berbaris, mereka berlima segera memantapkan hatinya untuk mengacaukan medan perang yang akan datang.


Ada satu alasan di balik perintah Zelhard—yang bagi Val sangatlah naif—dimana ia menahan pasukannya selama tiga hari sebagai itikad baik untuk menghormati perjuangan Ragnar.


Di samping ia yang dapat mengistirahatkan sejenak pasukannya, Zelhard berniat untuk membantai banyak musuh sekaligus dengan mengumpulkan mereka di satu medan perang.


Baginya, akan sangat tidak efisien dan menghabiskan banyak waktu serta sumber daya jika dia bergerak hanya untuk menyerang satu per satu suku barbarian di utara. Karenanya, dia memiliki julukan "Merciless Angel."


...----------------...