
Tahun 1236, 11 April.
Benteng Ligard, Wilayah Perbatasan Kerajaan Natrehn.
Menjelang Sore Hari.
Di bawah sinar mentari yang telah tergelincir dari puncaknya, terlihat sebuah tenda besar berwarna merah yang berdiri kokoh di luar Tembok Benteng Ligard.
Namun, berbeda dengan suasana di luar tenda tersebut yang cerah karena sinar mentari, suasana mencekamlah yang mendiami tenda besar tersebut.
Dijaga oleh beberapa prajurit yang berafiliasi dengan Margrave Rueter di tiap sudutnya, semua orang, tidak termasuk Ares, gemetar ketakutan karena seorang wanita yang mengeluarkan nafsu membunuh yang luar biasa.
Ya, saat ini, Excel sedang menghunuskan pedangnya hingga menyentuh leher Azter karena dia keberatan dengan ganti rugi yang diajukan oleh Ares kepada pihak Natrehn.
Tentu saja, jika itu hanya keberatan, Excel tidak mungkin mengambil sikap seperti itu. Akar masalahnya adalah Azter yang menolaknya dengan keras sembari menggebrak meja yang menyebabkan Excel sangat kesal.
Ares pun hanya dapat menatap wanita yang saat ini menjadi tunangan tidak resminya dengan tatapan yang terlihat seperti orang kelelahan.
Ya, Ares sebenarnya bermaksud untuk memancing emosi musuh agar mereka tidak dapat berpikir dengan jernih. Namun, semua rencananya segera hancur berantakan akibat tingkah laku Excel.
Meskipun Ares merupakan seseorang yang memiliki hobi berperang, namun ia menginginkan kemenangan yang cantik disertai hasil yang luar biasa dalam setiap perundingan pasca perang. Dia tidak ingin menjatuhkan nama baiknya karena bersikap seperti orang barbar di atas meja perundingan.
Apa syarat yang diajukan oleh Ares?
Tentu saja, gencatan senjata selama dua tahun, kepemilikan hak atas Tanah Vietra secara keseluruhan, sebagian Wilayah Perbatasan Natrehn yang di dalamnya termasuk Benteng Ligard, bea masuk gratis bagi pedagang yang berasal dari Kerajaan Rowling, serta ganti rugi sebanyak 100 juta G.
Tidak ada satupun orang yang tidak ketakutan saat merasakan nafsu membunuh dari seseorang yang tiga poin statistiknya masing-masing telah melebihi dua digit.
"Y—Yang Mulia, sa—saya mohon untuk tetap tenang..." pinta Azter yang saat ini merasa di ujung tanduk.
"Hah?! Kamu meremehkan tunanganku, bukan?! Bahkan, dia berbaik hati untuk tidak mengambil satupun prajurit Natrehn sebagai tawanan perangnya!" ungkap Excel yang sangat kesal.
Darah pun menetes dari leher Azter. Seolah meminta bantuan karena merasa hidupnya akan berakhir sebentar lagi, ia menatap Ares dengan tatapan memohon.
Karena berada dalam pertemuan resmi, Ares mengusung keformalan yang seharusnya dia lakukan kepada seluruh keluarga kerajaan.
Segera, Ares pun menghela napas dan berkata, "Yang Mulia, bukankah Anda sangat lelah? Mengapa Anda tidak beristirahat terlebih dahulu? Anda dapat menggunakan beberapa botol untuk Anda mainkan."
Meskipun merasa kebingungan dengan perkataan Ares, Degladasi Natrehn tidak mengatakan apapun karena mereka berharap Excel dapat segera pergi dari tempat ini.
Seketika, Excel pun menjadi bersemangat. Lalu, ia bertanya, "Eh?! Benarkah?!"
"Saya tidak pernah berbohong dengan orang yang saya cintai dari lubuk hati saya yang terdalam," jawab Ares dengan tersenyum.
"Terima kasih, Ares!" timpal Excel lalu pergi dari tenda.
Nah... aku merasa dia seperti angin...
Tiba-tiba datang dan segera berlalu...
Yah, mari lupakan.
"Terima kasih saya haturkan dari lubuk hati saya yang terdalam, Margrave," ujar Azter dengan menunduk dalam.
Ares pun kembali melukiskan ekspresi acuh tak acuh di wajahnya dan berkata, "Tak masalah."
Dengan seragam militernya, Azter pun menyeka lehernya yang telah berlumuran darah. Karena sedikit khawatir, Selvan berkata, "Margrave, bolehkah kami menunda perundingan ini mengingat keadaan Komandan Utama kami?"
Seketika, Ares pun memastikan ada sesuatu hal yang aneh mengenai Selvan dimana seharusnya dia juga merasa rendah diri akibat kepala Jenderal Barlock yang telah dipenggal.
Sejak awal perundingan berlangsung, Ares menilai Selvan sangat tenang, sangat berbeda dengan Azter yang gelisah dan tidak dapat berpikir jernih.
Apakah kamu sejak tadi berpura-pura gelisah di depan Azter?
"Appraisal," ungkap Ares dengan sangat lirih yang menargetkan Selvan.
......................
...[Status]...
Nama : Selvan von Wentra
Umur : 60 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Gelar : Viscount, Kerajaan Natrehn
Afiliasi : Kerajaan Forbrenne, Konfederasi Lemane
Statistik
Keahlian Senjata : 34 (+0)
Kelincahan : 32 (+0)
Kepandaian : 50 (+0)
Tubuh : 36 (+0)
Kepemimpinan : 67 (+0)
Loyalitas : 55
Moral : 63
Pelatihan : 40
......................
Aku tidak mengira negara kecil seperti Forbrenne dapat membuat seorang bangsawan Kerajaan Natrehn untuk bersumpah setia kepada mereka.
Tetap saja, bagaimana cara Forbrenne membuat kakek ini bersumpah setia?
Ares sedikit terpana saat melihat status yang dimiliki oleh Selvan. Mengingat kembali dia sedang berada dalam pertemuan resmi, Ares mengepalkan tangannya dan mendekatkannya ke arah mulutnya.
"Ehm, maaf. Saya kekurangan waktu," jawab Ares acuh tak acuh dengan berdehem.
"Begitu," balas Selvan yang memiliki ekspresi sedih.
"Saya tetap tidak akan mengganti syarat yang telah saya ajukan," ungkap Ares dengan acuh tak acuh.
Karena telah diserang dengan nafsu membunuh yang luar biasa, Azter, yang telah menenangkan dirinya, memiliki sikap tenang setelah mendengar ucapan Ares.
"Kami sangat keberatan dengan syarat penyerahan yang Anda ajukan, Margrave. Selain masa gencatan senjata yang sangat singkat, kami memiliki perjanjian sebelumnya dengan Kerajaan Rowling dimana kami tidak menyentuh topik terkait dengan perdagangan apabila kami merundingkan peperangan perebutan Tanah Vietra," ungkap Selvan yang keberatan.
"Itu benar, sangat tidak masuk akal membebaskan bea masuk untuk para pedagang. Ingatlah bila Anda hanyalah seorang Margrave yang tidak memiliki kekuasaan untuk mengganti perjanjian kedua kerajaan yang diputuskan oleh dua raja terdahulu," sambung Azter dengan lihai mengejek.
Karena lelah dengan perilaku Excel sebelumnya dan tidak ingin memperpanjang perundingan lebih lama lagi, Ares berkata, "Jika begitu, apakah seorang mata-mata dari konfederasi berhak untuk membuat perjanjian dengan kami?"
"Hah?!" ungkap Selvan yang terkejut.
"Apa katamu?!" tanya Azter yang tidak percaya.
Seketika, Selvan pun menjadi sangat panik. Dia tidak pernah berpikir bahwa rencananya bersama konfederasi akan mengalami kebocoran yang dapat menyebabkan kehancuran mereka.
Hmm, haruskah aku mengadu domba tiga kerajaan konfederasi dengan Natrehn?
Setelah mendengar keterkejutan semua orang yang berada di dalam tenda, yang tidak terkecuali berasal dari para bawahannya, Ares pun memutuskan untuk berbohong untuk memperlancar rencananya ketika melihat kegelisahan yang nampak dari wajah Selvan.
"Ketika saya telah mengambil alih Benteng Veldaz, saya menemukan seorang agen konfederasi yang bertindak sebagai perwira di dalam Pasukan Utama Kerajaan Natrehn. Setelah melakukan berbagai hal kepadanya, dia mengungkap bahwa konfederasi memiliki beberapa bangsawan Kerajaan Natrehn yang berpihak kepada mereka," sambung Ares lalu tersenyum masam.
"Jangan bercanda! Kau pasti berbohong!" ungkap Selvan yang menjadi sangat panik setelah mendengar kata-kata Ares.
Mengetahui beberapa teknik pengumpulan informasi, Azter menjadi paham akibat kepanikan yang melanda orang tua di sampingnya hingga ia berdiri dari kursinya.
"Bukankah Anda harus membersihkan sampah di negara Anda terlebih dahulu? Anda tidak memiliki waktu, Anda tahu?" sambung Ares dengan tersenyum masam.
"Harap pikirkan kembali! Tidak mungkin Margrave mengetahui rahasia negara kami, Tuan Azter! Dia pasti berbohong!" teriak Selvan yang panik.
Mengabaikan Selvan yang menurutnya dapat diurus nanti, Azter berkata karena bingung, "Apa maksud Anda?"
"Hm? Saya hanya membawa 12.000 prajurit dan telah berperang dengan pasukan utama Anda," jawab Ares lugas dengan mempertahankan senyumnya.
Apa yang ada di dalam benak Raja Ectave III ketika mengetahui Ares hanya mengirim 12.000 prajuritnya ke medan perang?
Singkatnya, kekalahan.
Apalagi, dia tidak bergabung dengan pasukan Lavreigh dan segera berangkat menuju medan perang seperti orang gila bersama putrinya.
Karenanya, Ectave mengirim Tentara Reguler Kerajaan Rowling yang berjumlah lebih dari 100.000 prajurit untuk berperang dengan Natrehn segera setelah Ares bertempur.
Mengira pasukan utama Natrehn akan kelelahan setelah beberapa hari bertempur dengan Ares, mereka berpikir mereka pasti akan memiliki keunggulan yang luar biasa dibandingkan dengan musuh.
Tentu saja, tidak ada yang mengira Ares akan meraih kemenangan luar biasa karena kesalahan dari pihak musuh, apalagi mereka telah mengepung Benteng Ligard dan mendapatkan kepala Jenderal Barlock.
Azter pun segera merasa panik karena mendengar ucapan Ares. Dengan nada yang keras, ia berkata, "Tidak mungkin!"
"Jadi, apakah Anda benar-benar memiliki waktu? Apakah keadaan di utara benar-benar aman? Memiliki banyak musuh sangat merepotkan, bukan?" sambung Ares dengan tersenyum masam.
Jika Azter menolak syarat yang diberikan oleh Ares, Ares akan segera menarik pasukannya dan terpaksa bergabung dengan tentara reguler dan Lavreigh untuk ekspansi lebih lanjut.
Mengingat keadaan wilayah utara dimana Natrehn masih berperang dengan beberapa suku barbar, keluarga kerajaan serta para bangsawan Natrehn tidak dapat mengerahkan bala bantuan lebih dari 50.000 prajurit.
Apa yang ada di benak Azter apabila dia harus berperang dengan 35.000 prajurit melawan tentara Kerajaan Rowling yang mungkin saja berukuran empat kali lebih besar dari mereka?
Tentu saja, hanya ada satu hal di benak Azter saat ini.
"Tahan Viscount Wentra!" teriak Azter dengan sangat keras.
"Ya, Tuan!" jawab empat prajurit Natrehn yang berjaga di tenda lalu bergerak dengan sigap untuk menahan Selvan.
"Lepaskan aku!" teriak Selvan saat telah dijatuhkan di tanah.
Setelah melihat Selvan telah dibawa pergi, Azter dengan acuh tak acuh berkata, "Margarve, kami tetap tidak dapat melawan perjanjian sebelumnya yang telah diputuskan oleh kedua raja terdahulu."
"Begitukah? Yah, saya kira seperti itu," jawab Ares seolah menyerah.
Azter berpikir lebih baik memprioritaskan kebersihan Natrehn terlebih dahulu dan dapat melakukan serangan ke Vietra di masa mendatang.
Tentunya, itu dikarenakan Azter menanggap rencana militer yang bocor ke negara lain lebih berbahaya dan harus segera ditangani karena menyangkut pondasi vital negaranya.
"Kami... akan menerima semua syarat yang telah Anda sebutkan kecuali bea masuk pedagang," balas Azter seolah menyerah.
"Baik, siapkan perkamen," perintah Ares.
"Ya, Tuan," ujar Gnery dan menyerahkan perkamen yang telah disiapkan.
Setelah mengurus semua dokumen yang disiapkan, Azter bangkit dan berkata, "Kami akan mengosongkan benteng saat matahari terbit."
"Ya," jawab Ares.
"Permisi," ujar Azter lalu pergi meninggakan tenda.
Nah... aku cukup penasaran siapa pangeran yang akan memimpin tentara reguler kerajaan.
Apakah dia saat ini telah bertemu dengan Lavreigh?
Aku benar-benar tak sabar melihat bagaimana wajah yang dapat dia buat nantinya.
...----------------...