I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Alternation : Maafkan Aku



Tahun 1236, 8 Agustus.


Laut Mediteran, Lepas Pantai Kerajaan Valmes.


Malam Hari.


Elsa Lenoir... kah?


Di atas sebuah buritan kapal penumpang yang berlayar menuju Kekaisaran Renacles, Loic sedang menatap sebuah lipatan perkamen kecil yang digenggam tangan kanannya sembari menahan tubuhnya di atas pembatas kapal dengan sikunya saat menghadap laut yang diterangi oleh cahaya bulan.


Pikirannya sedikit kacau dengan situasi yang dihadapinya beberapa saat lalu. Loic tidak menyangka bahwa tunangannya, Ellen, akan mempertanyakan keputusannya terkait perusahaan yang hendak memindahkan sebagian besar dananya ke negara lain.


Loic menyadari bahwa pihak kekaisaran berusaha untuk mengambil alih seluruh perusahaan besar secara perlahan semenjak beberapa tahun lalu, yang tentunya dengan menggunakan cara-cara bersih terlebih dahulu.


Terbesit kembali ingatan disaat dirinya menghadiri pertemuan pedagang serta makan malam bersama Margrave Rueter. Loic tidak pernah menyangka bahwa Ares akan membawa tunangannya—yang merupakan seorang putri kerajaan—dan mengenalkan kepadanya yang notabene hanyalah seorang warga sipil biasa dalam sebuah makan malam yang tidak formal.


Meskipun Loic dapat menyadari tujuan Ares mendekatkan keluarganya kepadanya, namun persangkaan tersebut segera hancur dikarenakan Loic melihat Ares yang benar-benar terlihat tulus kepada adiknya disaat dia melihat Elsa yang sepintas terlihat menyukainya.


Loic bukanlah seorang pria yang tidak peka terhadap perasaan orang lain, dia benar-benar memahami emosi pihak lain karena hal tersebut diajarkan secara pribadi oleh kakeknya sebagai bekal saat dirinya menjadi kepala perusahaan di masa depan.


Tap.


Tap.


Tap.


Seorang pejabat pria muda—yang menjadi ajudan pribadi Loic—menuruni tangga yang menuju ke buritan kapal dan segera mendekati Loic dengan langkah yang terburu-buru.


"Ada apa, Robert?" Loic bertanya tanpa berbalik dan masih saja menatap lipatan perkamen tersebut.


"Tuan Muda, mengapa Anda berada di luar? Bukankah saat ini sangatlah dingin?" tanya Robert bernada khawatir.


"Bukankah kamu sudah tahu? Yah, aku hanya diusir dari ruang kabin seperti biasa," jawab Loic acuh tak acuh.


Ekspresi mendung terlukis di wajah Robert. Tidak tahu bagaimana dirinya harus membalas, Robert hanya terdiam dan mengalihkan wajahnya untuk menatap laut gelap.


Zrrsshh!


Zrrsshh!


Suasana hening menyelimuti mereka berdua, hanya terdengar suara desiran ombak. Mereka berdua tahu, perilaku Ellen yang sangat merendahkan Loic adalah hal yang sering terjadi.


"Apakah hal yang aku lakukan... sudah tepat?" Loic memecah keheningan, dirinya merasa harus mengatakan keraguannya kepada ajudan yang sekaligus menjadi teman masa kecilnya tersebut.


"Saya... tidak tahu," timpal Robert.


Robert memahami bahwa dirinya merasa tidak berhak untuk sedikitpun meragukan keputusan atasannya tersebut. Meskipun dia memiliki kewajiban untuk memberikan saran kepada Loic dalam setiap langkah-langkahnya, namun jika hal tersebut telah diputuskan, dia hanya dapat menutup mulutnya.


"Kau tahu... melihat Margrave membuatku benar-benar ingin terbang ke luar sangkar," ujar Loic dengan nada sedikit berharap.


"Apa yang sebenarnya Anda lihat dari beliau?" tanya Robert.


"Meskipun aku tidak tahu bagaimana dia menjalani hidupnya selama ini, entah mengapa aku benar-benar merasa tertarik secara pribadi kepadanya. Aku memahami dampak yang akan terjadi akibat keputusanku, namun entah mengapa aku berkeinginan secara pribadi untuk bergabung dengannya. Saat itu, aku seperti... akan menyesal jika aku tidak memutuskan hal tersebut," jawab Loic.


Robert tidak dapat mengatakan apapun terhadap jawaban yang terlontar dari atasannya tersebut. Namun, dirinya menjadi teringat akan sesuatu yang kemungkinan besar terjadi setelah Loic kembali untuk menyelesaikan laporannya.


"Apakah Anda—" Kata-kata Robert terputus.


"Mengapa kali ini kita tidak melakukan percakapan seperti disaat kita masih kecil?" sela Loic.


"Tapi..." ujar Robert dengan sedikit keberatan.


"Tidak apa-apa. Entah mengapa, aku merasa sedikit lelah dengan formalitas sejak beberapa hari terakhir," timpal Loic.


"Baiklah jika kau berkata seperti itu..." Nada Robert masih mengandung sedikit keberatan. Anggapannya kepada Loic begitu tinggi yang membuatnya tidak ingin bersikap tidak sopan kepadanya mengingat hutang budinya kepada Loic begitu besar.


"Aku tidak keberatan. Hanya saja... apakah kamu tidak khawatir dengan keputusan kakekmu karena telah melakukan perjanjian dengan Margrave?" Robert berkata dengan khawatir.


"Bukan kakekku yang membuatku khawatir. Namun, tindakan ayah dan kakak perempuanku." Jawaban cepat diberikan oleh Loic sembari dirinya menolehkan wajahnya untuk menatap Robert dengan tajam.


Sedikit gelisah karena atasannya tidak pernah menatapnya dengan tatapan seperti itu, Robert pun dengan terbata berkata, "Me—mengapa?"


"Setelah beberapa hari terakhir aku merenung, aku memahami bahwa perilaku ayah, ibu, serta kakak perempuanku yang sedikit aneh," jawab Loic.


"Aneh?" tanya Robert.


"Kukira, mereka telah mendekati istana kekaisaran yang sangat bertentangan dengan aturan keluarga kami," jawab Loic dengan cepat.


"Eh?" Wajah Robert menjadi sangat terkejut karena sangat tidak mempercayainya.


Robert tentu tahu akan aturan Keluarga Coulent yang tidak mengizinkan para pemilik serta pewarisnya untuk berhubungan erat dengan rumah para bangsawan. Pendahulu Coulent menyadari bahwa bisnis serta keluarganya akan hancur jika keturunannya memasuki ranah politik.


Meskipun pasangannya merupakan seorang wanita yang berasal dari kalangan aristokrat, namun setiap Kepala Keluarga Coulent memiliki suara kuat untuk menahan keluarga serta pejabat perusahaannya yang mana melarang mereka mendekati istana dan kalangan aristokrat.


Meskipun Kaisar memiliki suara kuat yang dapat memerintahkan Firma Coulent dengan memberikan suatu dekrit, namun Kaisar tidak ingin memperburuk namanya dengan melakukan hal kotor seperti itu.


Tatapan Loic kembali terarah pada lautan. Ia pun berkata, "Selama beberapa hari terakhir... aku memikirkan alasan di balik kakekku yang mengirimku untuk memenuhi undangan Margrave. Tidak mungkin kakekku akan melepasku untuk menghadiri undangan yang bagi para pedagang begitu penting hanya dengan alasan mencari suatu pengalaman..."


"Aku berpikir jika ayahku memiliki tujuan tertentu dan berkeinginan untuk mendekati Perdana Menteri sehingga kakek memerintahkanku untuk menghadiri undangan Margrave sembari mengajak Putri Ellen untuk terbiasa dengan kehidupan seorang pedagang, meninggalkan ayahku untuk tetap berada di kekaisaran," sambung Loic.


"Tujuan?" tanya Robert dengan nada sedikit tidak percaya.


"Aku tidak tahu... aku hanya merasakan hal seperti itu," jawab Loic dengan nada menyesal.


"Begitu," jawab Robert.


Tatapan Loic kembali terarah menuju lipatan perkamen yang berada di tangannya. Melihatnya, Robert memutuskan untuk mengutarakan apa yang ada di dalam benaknya.


"Apakah Anda menyadari..." Kata-kata Robert terputus. Dia segera menutup mulutnya mengingat pertanyaan tersebut sangat tidak pantas untuk ditanyakan kepada Loic.


"Aku sadar jika adik tiri Margrave menyukaiku," ujar Loic.


"Eh?" Jawaban tidak terduga yang diberikan Loic sekali lagi membuat Robert terkejut.


"Tapi... aku merasa bahwa aku tidak pantas untuk menerima perasaannya," sambung Loic dengan nada menyesal.


"Mengapa? Mengingat bahwa hal tersebut juga dapat memperkuat hubungan Anda dengan Margrave, bukankah Anda sebenarnya dapat menerima seorang selir?" tanya Robert bingung.


"Tidak, aku tidak ingin membuat Elsa patah hati. Mengingat bahwa aku telah bertunangan dengan Putri Ellen, aku tidak ingin membuat adik tiri Margrave diperlakukan dengan buruk olehnya," jawab Loic dengan nada yang terdengar menyesal.


"Begitu... maafkan aku karena telah bertanya hal itu kepadamu," sesal Robert.


"Aku tidak keberatan," timpal Loic.


Menatap lautan dimana terdengar suara desir ombak yang juga berhembus angin, Loic hanya dapat menahan perasaannya yang juga tidak luput dari penyesalan.


Dia tahu bahwa dirinya dan Ellen hanya bertunangan untuk saling mendapat keuntungan dimana Firma Coulent akan mendapat manfaat berupa Kaisar yang tidak dapat menyentuh mereka secara langsung karena telah menuruti perintahnya serta rumah Ellen yang tetap memiliki hubungan kuat dengan perusahaan.


Karenanya, mereka hanya memiliki perasaan buruk terhadap satu sama lain.


Meskipun aku juga telah sedikit menyukaimu...


Namun, maafkan aku karena tidak dapat bersama denganmu.


Saat itu, Loic tidak mengetahui jika pelayarannya kembali ke kekaisaran akan benar-benar mengubah hidupnya dan nasib Firma Coulent di masa depan.


...----------------...