
Tahun 1237, 25 Maret.
Ibukota Lombart, Kerajaan Rowling.
Malam Hari.
"Dua, isolasi seluruh aktivitas para anggota Dark Guild Laguna di ibukota."
Berbeda dengan Robert yang hanya memiliki sedikit informasi tentangnya, Connor tentu mengerti semua operasi ilegal dan kejam yang telah mereka lakukan. Di samping itu, menilai dari kekuatan yang dimiliki oleh Klan Cornwall, mereka dapat dengan mudah melakukan pembunuhan dengan bersih terhadap seluruh anggota Dark Guild Laguna yang berada di ibukota.
Connor juga menyadari bila mereka hanyalah seekor ikan teri jika tidak memiliki dukungan para bangsawan—yang pada hakikatnya rumah mereka akan hancur jika kudeta Ares telah berhasil dilakukan.
Tentu saja, mengisolasi berbeda dengan mengeliminasi.
"Apakah Anda berniat untuk memanfaatkan mereka?" Terbesit kembali di dalam benak Connor mengenai luasnya jaringan gelap yang dimiliki oleh Dark Guild Laguna.
Meskipun begitu, memiliki sebuah Dark Guild di bawah telapak tangan Ares dapat menjadi pedang bermata dua baginya.
"Tidak, Dark Guild Laguna memiliki dukungan kuat dari Kaisar Renacles. Aku benar-benar tidak ingin menyentuh batang hidungnya untuk saat ini karena aku belum memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan mereka." Ekspresi kuat terpancar dari wajah Ares.
Kelegaan besar muncul di dalam benak Robert serta Connor. Berbeda dengan Robert yang menghela napas lega karena dirinya yang tidak menginginkan Tuannya memasuki dunia bawah, Connor memahami kemungkinan besar bila Tuannya dapat diserang dari belakang jika Ares memanfaatkan jasa serta memberi dukungan pada mereka.
"Baik, kami akan membuang mereka dengan bersih." Connor menyanggupinya dengan nada tegas.
Samar mengangguk ringan seolah terpuaskan dengan jawaban yang telah bawahannya berikan—yang mana Connor berniat membuat mereka tidak sadarkan diri dan mengembalikan mereka ke Wilayah Kekaisaran Renacles—Ares perlahan mengangkat jari manisnya untuk memberikan kondisi ketiganya.
"Tiga, jaga perpustakaan istana dari noda darah." Berbeda dengan dua kondisi sebelumnya, Ares melukiskan ekspresi yang benar-benar kuat seolah tidak menerima penolakan.
Tidak hanya Connor serta Robert yang sejenak mematung, bahkan beberapa bawahan lain yang juga berada di dalam ruangan bereaksi sama dengan mereka berdua. Tidak ada yang tidak takjub setelah mendengar kondisi keberhasilan operasi yang baru saja diberikan oleh Tuan mereka tersebut.
"Untuk apa... Tuan?" Robert bertanya dengan nada takjub.
Meskipun hanya kemungkinan kecil, beberapa orang mungkin akan bersembunyi di dalam perpustakaan yang bisa saja menyebabkan beberapa literatur tersebut mengalami kerusakan parah.
Tentu, perpustakaan istana tidak seperti perpustakaan dunia modern dimana sebuah buku telah memiliki sampul tebal sebagai pelindungnya. Perpustakaan Istana Kerajaan hanya berisi beberapa lembaran perkamen tipis yang tertaut dengan seutas benang atau bahkan kulit hewan yang sangat rapuh, yang mana dapat hancur bahkan jika lembaran tersebut tidak sengaja tersentuh.
Bagi Ares, jika dia kehilangan bahkan hanya satu literatur dari Perpustakaan Istana Kerajaan, dia merasa akan membangun kembali negaranya dari angka nol.
Ribuan tahun Kerajaan Rowling telah berdiri tentu telah menghasilkan beberapa tulisan pemikiran serta sejarah kejadian penting yang telah dituliskan di dalam literatur. Ares sangat menyayangkan jika literatur tersebut hancur begitu saja karena kudetanya.
"Lakukan saja," jawab Ares acuh tak acuh.
"Baik..." Meskipun sedikit tidak puas karena tidak mendapatkan jawaban, Robert menyerah pada pertanyaannya dan memutuskan untuk tidak lagi membicarakannya.
"Segera lakukan persiapan!" perintah Ares tegas.
"Ya, Tuan!" Para bawahan Ares seketika membungkuk dan satu persatu meninggalkan ruangan.
Berbalik kembali untuk memandang kegelapan langit malam yang dihiasi oleh sinar bulan dan banyak bintang, Ares bergumam dengan wajah yang menunjukkan penyesalan besar, "Maafkan aku."
...*...
Keheningan suasana malam menyelimuti lingkungan asrama Akademi yang berada di salah satu sudut distrik tempat tinggal para aristokrat Ibukota Lombart.
Hembusan angin yang terasa menyejukkan, lampu-lampu minyak di beberapa sudut menerangi sekitar, seorang pemuda berambut merah pendek dengan fisik yang cukup atletis berjalan dengan ketenangan yang terpancar dari gerak langkahnya.
Salah satu tangannya menggenggam sarung pedang yang berada di pinggulnya. Calvin menuruti nasehat para guru yang mengatakan untuk membawa sebuah senjata jika keluar dari kamar asramanya.
Meskipun hampir setiap keluarga aristokrat masing-masing memiliki mansion di ibukota, namun sejak dahulu Akademi mewajibkan para murid-muridnya yang merupakan anak dari keluarga bangsawan untuk tinggal di asrama.
Disebabkan untuk mempelajari dan menilai masing-masing sifat yang dimiliki oleh keluarga bangsawan melalui teman mereka, pihak akademi bertujuan untuk membuat para siswa mengalami lingkungan para bangsawan di masa depan.
Tentu, hal ini berakibat fatal bagi para bangsawan tingkat rendah yang tentunya akan merasa rendah diri dalam menjalani harinya di Akademi, namun cara ini juga berperan penting agar para bangsawan mengetahui tempatnya dan meminimalisir pengkhianatan serta pemberontakan pada Keluarga Kerajaan Rowling di masa depan.
"Lama tidak berjumpa, Calvin. Atau... haruskah saat ini kupanggil Ketua Dewan Siswa?"
Langkah kaki Calvin seketika terhenti tepat disaat kata-kata itu menusuk telinganya. Sembari mengenggam pegangan pedang dengan kewaspadaan tinggi, Calvin berbalik dengan cepat dan menatap seorang pria yang bersadar di balik sebuah batang pohon besar.
Sejak kapan?!
Menatap seseorang yang sangat dikenalnya perlahan melangkah dan menampakkan siulet dirinya di bawah sinar bulan, Calvin segera menghunuskan pedangnya dengan kesigapan tinggi untuk menyerang.
Ares tersenyum kecut. Terbesit kembali ingatan di dalam pikirannya disaat Ares sebelumnya menghadiri Akademi. Meskipun sangat membenci House of Holfart, Ann dengan tersenyum paksa mengantarkan Calvin yang saat itu baru saja menghadiri Akademi untuk berkeliling bersamanya.
Ares tidak pernah mengira jika setelah itu Ann akan mengatakan banyak hal yang sebenarnya tidak ingin didengarnya.
"Kenapa kamu menghunuskan senjata pada seniormu?" tanya Ares sembari berjalan mendekat.
"Bukankah situasi ini terjadi karena ulahmu?! Dan juga, mengapa kau berada di ibukota?!" tanya Calvin dengan keras.
Ares hanya dapat terdiam tanpa menjawab. Tatapan kuat pun tertuju pada Calvin hingga membuatnya tanpa sadar melangkah mundur, "Apa kau ketakutan?"
"Hah?!" Menyadari langkah yang dilakukannya tanpa sadar sebelumnya, Calvin menyembunyikan perasaan malunya, "Aku akan menunjukkan kepadamu jika aku sangat berbeda dengan diriku dahulu!"
"Appraisal," ungkap Ares lirih dengan menargetkan Calvin dan dirinya sendiri.
......................
...[Status]...
Nama : Calvin von Holfart
Umur : 15 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Gelar : Pewaris Duke Holfart
Afiliasi : Duke Holfart, Kerajaan Rowling
Statistik
Keahlian Senjata : 75 (+0)
Kelincahan : 82 (+0)
Tubuh : 77 (+0)
Kepemimpinan : 65 (+0)
Loyalitas : 87
Moral : 74
Pelatihan : 95
......................
......................
...[Status]...
Nama : Ares von Rueter
Umur : 18 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Gelar : Margrave, Kerajaan Rowling
Afiliasi : Margrave Rueter, Kerajaan Rowling
Statistik
Keahlian Senjata : 86 (+50)
Kelincahan : 84 (+60)
Kepandaian : 76 (+70)
Tubuh : 88 (+50)
Kepemimpinan : 80 (+80)
Kewilayahan dan Militer
Jumlah Prajurit : 48.520
Moral : 80
Pelatihan : 90
Pasokan Makanan : 3.203.205
Jumlah Dana : 6.853.935.894 G (+8.500.855.020 G)
......................
Bukankah kau sangat luar biasa, Calvin?
Bahkan, untuk mendapatkan statistik ini, aku harus bertarung di beberapa medan perang serta membunuh Barlock dan Harek terlebih dahulu.
Jika aku membiarkanmu tumbuh berkembang selama beberapa tahun, tidak heran statistikmu akan setara dengan Excel nantinya.
Menutup dua layar transparan yang bersandingan di hadapannya, Ares segera menghunuskan Rapiernya yang telah dia genggam sebelumnya.
Keduanya sejenak saling memandang dengan senjata yang terhunus.
"Maaf, aku tidak dapat menjadi senior yang baik untukmu." Kata-kata penyesalan Ares seketika terdengar dari belakang tempat Calvin berpijak.
"Eh?" Kedua mata Calvin terbuka lebar, dia segera berbalik dengan pedang hendak menebas Ares yang berada di belakangnya.
CRASH!
"Argh!" ungkap Calvin kesakitan.
Perutnya terasa panas terbakar. Pandangannya pun perlahan tertuju pada perutnya yang telah tertusuk pedang yang sangat runcing dengan banyak darah yang telah mengalir membasahi pakaiannya.
Calvin meregang, salah satu tangannya pun menutup perutnya yang telah berlumuran darah karena Ares telah menarik kembali Rapiernya.
Tanpa sadar, pandangan Calvin perlahan kabur hingga membuatnya terhuyung hingga hendak jatuh berlutut. Pikiran Calvin tidak lagi dapat berpikir jernih, yang mana disebabkan beberapa organ tubuhnya yang telah rusak parah.
Namun, tubuhnya tertahan. Ares mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di atas tanah dengan gerakan lembut.
Dalam buram, Calvin melihat sosok yang memandangnya sedikit meneteskan air mata. Teringat kembali kenangan hangat bersama Ares, Ann, serta beberapa siswa lain dimana Calvin menjadi anggota magang Dewan Siswa beberapa tahun lalu.
Calvin tersenyum, ada sedikit keinginan untuk mengetahui alasan yang menyebabkan Ares harus membunuhnya, "Bolehkah aku mengetahui alasan... mengapa kamu harus membunuhku?"
"Agar tidak ada orang yang memiliki dendam kepadaku," jawab Ares.
"Begitu..." Calvin tersenyum lemah, sedikit harapan pun muncul disaat-saat terakhir hidupnya, "Tolong... setidaknya minimalkan korban diantara para murid Akademi."
"Aku berjanji," timpal Ares dengan nada tegas.
Mendengar jawaban tegas Ares, Calvin pun kembali tersenyum lemah. Merasakan kesadarannya perlahan memudar, Calvin berharap agar setidaknya tujuan Ares dapat tercapai, "Semoga berhasil, Senior."
"Idiot." Penyesalan berat memenuhi perasaan Ares hingga membuat kedua matanya meneteskan air mata lebih deras.
Berbeda dengan Excel yang sama sekali tidak memiliki kenangan indah di Akademi dan hanya menghabiskan waktu Akademinya dalam kesendirian, Ares—yang tergabung dengan Dewan Siswa—tentu memiliki beberapa kenangan yang tidak dapat ia lupakan, meskipun masa tersebut dilalui oleh orang lain.
Memandang langit berbintang, muncul sedikit kelegaan di dalam benak Ares karena setidaknya beban berat yang harus dia lalui telah terselesaikan.
Jika saja jiwaku tidak berpindah menuju karakter tutorial ini...
Mungkin, aku dapat melawanmu tanpa harus menanggung beban berat seperti ini, Idiot.
...----------------...