I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 53 : Bertemu Cucuku, Mengapa Tidak Bisa?!



Tahun 1236, 4 Juni.


Kota Ereth, Wilayah Margrave Rueter.


Menjelang Sore Hari.


"Maafkan kami," sesal Albert dan Dia serempak dengan menundukkan ringan kepalanya.


"Tidak, tidak apa-apa. Saya juga memahami akan bahaya yang mungkin saja terjadi apabila penduduk biasa seperti kami memasuki distrik khusus seperti ini," ucap pria paruh baya tersebut dengan mengangkat ringan tangannya agar dua ksatria di depannya mengangkat kembali kepalanya.


Setelah mengangkat kembali kepalanya, Dia bertanya, "Bolehkah aku mengetahui perkamen yang kalian bawa itu?"


Sedikit penasaran akan perkamen yang dibawa oleh pasangan di depannya yang karenanya mereka berdua diloloskan oleh para penjaga, Dia memutuskan untuk mengutarakan hal yang menurutnya sangat penting.


"Um... ini adalah identitas yang diberikan oleh Tuan kepada kami," jawab wanita di samping pria paruh baya tersebut sembari menyerahkannya.


Setelah menerimanya, Dia membuka perkamen tersebut dan menemukan bahwa di dalamnya terdapat segel House of Rueter yang menunjukkan segala identitas wanita tersebut yang membuatnya sedikit terkejut.


"Maaf atas ketidaksopanan saya," timpal Dia dengan nada menyesal lalu mengembalikannya.


"Um... saya tidak terlalu keberatan," balas wanita tersebut.


"Sebagai permintaan maaf, kami akan mengantarkan Anda berdua dengan kereta kuda," timpal Dia dengan wajah yang tidak menerima penolakan.


Sebagai seorang rakyat jelata yang tidak memiliki pengaruh apapun, berhadapan dengan seorang ksatria sangatlah membuat mereka gelisah. Disaat mencoba menolak—


"Mari saya antar," ujar Albert sembari melangkahkan kakinya untuk berjalan menuju gerbang kembali.


Menyerah, kedua orang tersebut memutuskan untuk menerima kebaikan kedua ksatria tersebut dan mengikutinya.


Setelah memerintahkan seorang ksatria untuk menjadi kusir dan menaiki gerbong, Albert bertanya, "Bolehkah saya mengetahui mansion yang ditinggali oleh putri Anda..."


"Maaf karena belum memperkenalkan diri kami, nama saya adalah Verde, sedangkan wanita disamping saya adalah istri saya, Mina. Kami menjalankan penginapan di salah satu distrik kelas bawah yang bernama 'Brown Forest," ujar Verde dengan menundukkan dalam kepalanya diikuti oleh Mina.


"Nama saya adalah Albert Vienna, Letnan Kolonel Tentara Margrave Rueter," timpal Albert.


"Sedangkan saya adalah Dia Vienna, Kolonel Tentara Margrave Rueter," timpal Dia.


Mengetahui di depannya bukanlah ksatria biasa, Verde dan Mina sekali lagi dibuat panik, namun Albert menenangkan mereka dengan mengangkat tangannya sembari berkata, "Tidak, kami tidak keberatan."


"Menjawab pertanyaan Tuan, putri kami saat ini tinggal di mansion yang berada di dekat kastil," jawab Verde dengan sedikit gugup.


Albert dan Dia segera berpikir jika putri mereka menjadi selir salah satu pejabat atau ksatria tingkat tinggi.


Tak lama kemudian, mereka segera mencapai mansion yang ditunjukkan oleh Verde. Namun, Albert dan Dia melihat adanya seseorang yang sangat dikenalnya di gerbang mansion.


Setelah mereka turun, mereka segera menghampiri Canaria dan Albert berkata dengan heran, "Ibu, mengapa kamu disini?"


Berbalik dan menemukan anak semata wayangnya, Canaria hanya dibuat mendesah dan berkata, "Apakah aneh jika aku ingin bertemu cucuku sendiri?"


"Eh? Ngomong-ngomong, siapa suami Milly?" tanya Albert yang sedikit terkejut.


"Hm? Apakah aku tidak menuliskannya dalam surat yang kukirimkan kepadamu? Itu adalah Tuan Muda, kau tahu?" jawab Canaria yang keheranan.


Tercengang atas fakta yang baru saja diterimanya, Albert dan Dia hanya dapat terdiam karena sangat terkejut. Mereka juga tidak mengira bahwa keponakannya telah mengambil putri Verde sebagai gundik.


Melihat dua orang di belakang anaknya, Canaria pun menyambut, "Sudah lama tidak melihat Anda berdua, Tuan Verde, Nyonya Mina."


"Tidak perlu terlalu formal kepada kami, Nyonya," jawab Mina yang sedikit gelisah.


"Baik, mari masuk," timpal Canaria yang dengan acuh tak acuh memasuki mansion.


Mereka pun segera melihat Milly yang sedang duduk di dalam gazebo yang berada di halaman mansion bersama dua wanita yang masing-masing menggendong seorang bayi.


"Kami akan memasuki mansion terlebih dahulu," ujar Canaria dengan acuh tak acuh membimbing Verde dan Mina ke kamar Sena.


Eh?


Mengapa anak dari keponakanku sangat banyak?!


Menyadari bahwa usia Ares yang sebaya dengan putrinya, Albert tidak menyangka bahwa keponakannnya telah memiliki tiga anak dan akan segera bertambah.


"Ibu?" panggil Milly setelah melihat kedua orang tuanya.


Piring keramik putih?


Setelah berada di dekat Milly, Dia segera mengarahkan kedua tangannya untuk mengambil cucunya namun segera ditepis oleh tangan putrinya.


"Eh?" ujar Dia yang sedih.


"Bersihkan dirimu terlebih dahulu, Bu," timpal Milly dengan nada sebal.


Melihat sikap Milly yang begitu kasar kepada orang tuanya, Amalia dan Ody hanya dapat terdiam dengan mengerutkan keningnya dikarenakan kedudukan sosial mereka yang sangat berbeda.


"Eh, ta—tapi—" protes Dia dengan nada yang terdengar sedih.


"Lagipula, bukankah kalian seharusnya memberikan laporan terlebih dahulu kepada para pejabat? Juga, jangan memegang Wilma apabila kalian baru saja bepergian, bayi sangatlah rentan terhadap penyakit," sela Milly dengan nada sebal.


Mendengar kata-kata yang sangat mirip dengan apa yang dikatakan Ares, Amalia dan Ody hanya dapat tersenyum masam saat mendengarnya. Mereka juga berpikir apabila Milly sering dibuat sebal dengan kedua orang tuanya yang membuatnya bersikap seperti itu.


Tidak dapat membalas perkataannya yang sangat masuk akal, Dia pun berkata dengan nada lesu, "Baik..." sembari menyeret suaminya pergi ke luar gerbang mansion.


Menaiki kembali kereta kudanya, mereka segera menuju ke kastil dimana menjadi tempat tinggal Tuan mereka sekaligus kantor pejabat wilayah dan perwira tingkat tinggi.


Setelah tiba di depan pintu masuk kastil yang sangat besar dan turun dari kereta kuda, mereka segera menemukan Gnery, yang entah mengapa sedang memotong tanaman di dekatnya dengan mengenakan baju seragam tukang kebun.


"Kapten Gnery, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Dia yang keheranan.


Gnery pun segera berbalik dan menemukan mantan atasannya bersama dengan suaminya. Dengan nada lesu, "Saya... sedang menjalankan hukuman..."


"Dan juga... pangkat saya saat ini adalah sersan... Anda tidak perlu berkata sopan kepada saya dikarenakan saya saat ini hanyalah seorang tukang kebun biasa..." sambung Gnery lesu.


"Mengapa?" tanya Albert yang keheranan.


"Saya... diperintahkan untuk kembali ke Kota Ereth oleh Tuan Ares," jawab Gnery yang lesu.


Setelah kembali menuju Kota Ereth dan melaporkan pesan yang diberikan Ares kepada Don di kastil, satu pekan setelahnya, Gnery pun diberikan hukuman dengan penurunan pangkat luar biasa dikarenakan kegagalannya menjaga Tuan beserta tunangannya.


Melihatnya sebagai tulang punggung satu-satunya di dalam keluarga, istri Gnery tetap mendapatkan gaji penuh. Tetap saja, Gnery tidak diizinkan untuk menemui keluarganya dan bekerja tanpa henti selama sebulan penuh di kastil sebagai seorang tukang kebun.


Don tidak memberikan hukuman seperti pemberhentian dikarenakan nama baiknya yang akan menjadi jelek dan ia yang kemungkinan besar tidak akan dapat menemukan satupun pekerjaan yang dapat memberikan beban bagi keluarganya.


Meskipun begitu, mengingat kekuatan Excel, Don, Renne, serta para ksatria tingkat tingginya tidak begitu mencemaskan keadaan Ares walaupun mereka tetap mengirimkan regu pencarian untuk menemukan mereka.


Gnery pun segera berbalik pergi dengan langkah kakinya yang sangat lesu untuk menggunting tanaman lainnya.


"Aku... cukup kasihan kepadanya..." ujar Dia dengan tatapan rumit.


"Aku juga..." timpal Albert rumit.


Disambut oleh seorang pelayan yang berjaga di pintu, mereka berdua pun segera dibimbing menuju kantor kepala urusan wilayah dimana Renne menempatinya.


Tok.


Tok.


Pelayan tersebut pun mengetuk pintu dan berkata, "Letnan Jenderal, Letnan Kolonel Albert dan Kolonel Dia telah kembali dari tugas."


"Masuk," timpal Renne dari dalam ruangan.


Setelah membuka pintu untuk mereka berdua, pelayan tersebut pun menundukkan kepalanya dan berkata, "Silakan."


"Terima kasih," ujar Albert dan memasuki pintunya diikuti oleh Dia.


Renne pun segera menghentikan aktivitasnya dan berkata, "Elsa, Ivy, kami perlu pembicaraan secara pribadi."


"Baik," ujar Elsa dan Ivy serempak.


Elsa dan Ivy pun segera menghentikan pekerjaannya dan bangkit. Sebelum meninggalkan ruangan, Elsa dan Ivy pun menundukkan kepalanya sebagai bentuk kesopanan kepada Albert dan Dia.


Setelah melihat mereka berdua meninggalkan ruangan, Albert dan Dia pun memberi hormat dan Albert berkata dengan nada tegas, "Lapor, kami telah menyelesaikan pengamatan beberapa negara di wilayah timur!"


Sudah saatnya menjalankan rencananya.


Renne hanya memikirkan apakah dia dapat memenuhi tujuan Tuannya saat menatap kedua orang di hadapannya.


...----------------...