I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 117 : Sieg's Guerilla, part 2



Tahun 1237, 2 Maret.


Wilayah Perbatasan Kerajaan Natrehn.


Malam Hari.


Sebuah jalan lebar yang berada di tengah-tengah hutan telah berada di dalam bidang pandangan, Sieg mengangkat tinggi tangan kirinya sebagai tanda bagi kelompoknya.


Unit Sieg membagi dirinya menjadi 4 kelompok kecil, yang mana Sieg dibersamai oleh Arthur dan 2 ksatria elit pengawal Keluarga Kerajaan Lethiel—meninggalkan tiga unit lainnya yang beranggotakan masing-masing 2 prajurit yang berpencar ke tiga arah lain.


Hingga akan keluar dari pepohonan, Sieg serta kelompoknya menarik tali kekang masing-masing kuda perangnya dan melompat turun.


Kupikir, 19 unit lain telah berada pada posisinya.


Tatapannya teralihkan pada Arthur serta dua prajurit elit lain. Saling menangguk, Sieg bersama Arthur dan salah seorang prajurit bergerak untuk bersembunyi di balik semak-semak meninggalkan salah satu ksatria untuk menjaga kuda mereka.


Walaupun wilayah dilaporkan telah berada dalam kendali, Sieg mengetahui jika seorang jenderal besar seperti Eina tetaplah tidak akan mengirimkan pasokan makanan serta persenjataan hanya menggunakan satu rute saja.


Mengerahkan pasukan elitnya dalam batas toleransi yang tidak akan mengganggu operasi militer utama, Sieg memimpin 200 prajurit kavaleri unit yang terbagi menjadi 20 unit yang mana setiap 4 unitnya akan menyerang kereta makanan yang melewati rute berbeda.


Empat puluh ksatria elit telah menunggu di sepanjang kedua sisi jalan besar yang berada di tengah-tengah hutan. Sembari mempersiapkan senjatanya, Arthur memanggil dengan ekspresi serius, "Yang Mulia."


"Ya, apa itu?" timpal Sieg.


"Jika penggunaan gagal, silakan mundur." Kata-kata Arthur membuat Sieg mengencangkan wajahnya, langkah kakinya juga sejenak terhenti.


"Ya." Sieg menjawab dengan nada tegas.


Menunggu di balik semak dan pepohonan, tanpa menimbulkan sedikitpun suara dan hawa membunuh, ketiganya melihat karavan Natrehn yang mengangkut pasokan makanan serta persenjataan dengan banyak lentera api yang meneranginya.


Terdiam, hanya melihat kereta yang melewati mereka telah melebihi 50 gerbong. Ada perasaan kagum dan penasaran dengan Ares yang dapat mengetahui hal ini, namun keanehan pun dirasakan oleh ketiganya.


Mengapa... banyak sekali?


Mengingat kembali Eina juga mengirimkan pasokan makanan dan persenjataan melalui empat rute lain, jika baru saja 5 hari setelah pasukan pendahulu melintasi perbatasan, akan aneh jika Eina mengirim pasokan makanan dan senjata hingga 60 gerbong dalam satu rute karavan.


Hingga gerbong keenam puluh yang merupakan gerbong terakhir akan melintasi mereka, Sieg mengalihkan tatapannya kepada Arthur dan ksatria elitnya.


Ketiganya saling mengangguk, sebuah tanda jika mereka akan melancarkan serangan dari gerbong terakhir—yang tentu akan segera disusul oleh kelompok lain.


Serempak, ketiganya mengambil sebuah bom molotov dari tas kecil mereka. Dengan cepat menghunus senjatanya, ketiganya segera menggesekkan bilah pedangnya untuk menimbulkan gesekan hingga tercipta titik api.


Gerbong berisi pasokan makanan hampir berada tepat di hadapan mereka, Sieg pun menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya yang terdampak hormon adrenalin.


"Sekarang." Bisikan perintah Sieg tanda dimulainya operasi.


BLAR!


BLAR!


Tepat setelah melemparkan bom, ketiganya melompat dengan pedang yang terhunus. Prajurit kusir serta dua penjaga di kedua sisi gerbong yang terkejut dengan serangan tiba-tiba hanya dapat mempersiapkan senjatanya dengan penuh kepanikan.


BLAR!


BLAR!


BLAR!


Bersamaan dengan aksi ketiganya, lemparan bom molotov yang terus berlanjut seketika membakar karavan pada barisan tengah dan depan. Pun tidak berbeda dengan beberapa kuda-kuda penarik gerbong yang melarikan diri hingga merusak beberapa gerbong.


JRASH!


Keadaan yang diliputi kepanikan yang membuat terlambat merespon, ketiga prajurit penjaga gerbong terakhir segera tertebas.


"Argh!"


"Ogh!"


JRASH!


Memenggal serta menusuk prajurit yang tertebas, membuat prajurit yang menjaga beberapa gerbong di depan mendatangi ketiganya.


Mereka bertiga mengerti, lingkungan yang dingin tidak mengizinkan kereta pasokan yang mereka serang akan terlalap habis. Tujuan operasi gerilya Sieg hanyalah untuk merusak gerbong dan barang.


"Oooohhhh!"


Teriakan beberapa prajurit terdengar semakin keras. Sieg pun melompat menuju tempat duduk kusir dan menarik tali kekang kuda dengan sangat kencang.


NGIIIKK!


Kedua kuda penarik gerbong seketika mengangkat kedua kaki depannya, Sieg memacu kedua kuda tersebut menuju para prajurit Natrehn yang mendekati mereka.


"Yang Mulia!" Arthur berteriak keras.


Bersamaan dengan gerak cepat ksatria elit, Arthur berlari bersisian dengan gerbong kereta kuda menerjang prajurit musuh yang datang mendekat.


BAK!


BAK!


JRASH!


JRASH!


JRASH!


Beberapa diantara mereka tertabrak hingga tewas, beberapa terkena tebasan Arthur serta prajurit elit, hingga gerbong yang dinaiki Sieg pun muncul kobaran api yang semakin menjalar cepat—meksipun itu hanya sementara.


BRAK!


Kedua kuda pun berbelok ke arah yang berbeda hingga menyebabkan gerbong yang dinaiki Sieg menabrak gerbong di depannya.


Berbeda dengan ksatria elit serta Arthur pun berlari menjauhi musuh yang datang mendekat, Sieg melompati gerbong di hadapannya yang belum terbakar dan sekali lagi mengeluarkan bom molotov yang tersimpan di dalam tas kecilnya.


BLAR!


BLAR!


BLAR!


Melompat sembari melempar bom molotov kepada ketiga gerbong yang berurutan, Sieg segera menghunuskan senjatanya untuk menebas beberapa prajurit yang berlari mendekat.


Kuda-kuda yang berlarian hingga menabrak para prajurit Natrehn, roti dan gandum pasokan makanan yang terlalap api, mayat-mayat yang berjatuhan, serta gerbong-gerbong karavan yang telah rusak parah, keadaan hutan menjadi semakin kacau.


Tanda telah diberikan oleh ksatria penjaga kuda kelompok Sieg yang mendekat dengan cepat. Sieg, Arthur, serta ksatria elit yang berada dalam kelompok mereka segera berkumpul menuju satu titik kosong.


"Aku tidak menyangka jika tikus pengerat akan menggigit salah satu jari kakiku."


Kata-kata yang terdengar secara tiba-tiba membuat ketiganya segera berpaling ke belakang.


JRASH!


"Argh!"


Sieg dan Arthur segera melompat mundur, menyisakan ksatria elit yang lehernya tertusuk oleh Longsword seorang wanita tua berseragam militer hijau gelap dengan jubah di punggungnya yang tersenyum menakutkan.


Intimidasi serta hawa membunuh yang besar terpancar dari diri Eina. Samar, Arthur dan Sieg memiliki tubuh yang gemetar ketakutan. Tidak ada yang pernah merasakan tekanan gelap yang begitu besar sebelumnya.


Meskipun Arthur telah merasakan serta menyaksikan dengan kedua mata kepalanya sendiri aura yang dimiliki Harek dan Zelhard, namun kegelepannya tidak sedikitpun dapat dibandingkan dengan pancaran aura Eina.


Menyaksikan ksatria elit pendamping yang seketika tewas, Sieg dan Arthur tidak dapat berbuat apapun, walau keduanya memiliki penyesalan yang begitu dalam terhadapnya.


Eina menarik kembali Longswordnya dari tubuh ksatria elit Lethiel tersebut dan segera mengayunkannya untuk membersihkan bercak darah pada bilahnya.


Tap.


Tap.


Tap.


Eina berjalan mendekat, membuat Sieg dan Arthur secara naluriah perlahan mundur. Keduanya mengerti jika mereka dapat seketika terbunuh jika mereka bertarung melawan Eina saat ini.


"Mengapa kau dapat mengetahui waktu dan rute pengiriman makanan?" Eina bertanya dengan nada penuh intimidasi.


Duk.


Sieg dan Arthur terpojok. Tidak menyangka bahwa sebuah pohon berada tepat di belakang mereka. Keringat keduanya deras mengalir, pun wajahnya seolah dipenuhi oleh kesulitan.


"Firasat..." Sieg menjawab seolah telah tersudut.


Ada keinginan untuk menyebutkan Ares sebagai alasan, Sieg pun segera menjauhkan hal tersebut dari pikirannya. Tidak mungkin baginya akan mengorbankan seseorang yang telah sangat membantunya.


Salah satu alis Eina terangkat, pun pandangannya juga terlihat kagum kepada pemuda berambut hitam yang berada di hadapannya, "Oh... apakah kau yang memerintahkan penarikan para penduduk Mana dari perbatasan?"


Tekanan yang begitu berat membuat Sieg hanya dapat mengangguk kecil, pun tidak berbeda dengan wajahnya yang bercucuran keringat.


"Hahahahaha!" Eina tertawa lepas.


Tampak kebingungan dari ekspresi Sieg dan Arthur yang mendengarnya. Meskipun gelisah, keduanya memiliki tangan yang menggenggam erat senjatanya, waspada jika Eina seketika menerjang, meskipun mereka berdua mengetahui jika mereka akan mengalami kekalahan telak.


Eina kembali mengubah wajahnya, dia tersenyum gelap, "Apakah kalian terhubung dengan 'Silver Mask'?"


Sejenak, Arthur menegang mendengar kata-kata tersebut. Berbeda dengan Sieg yang sebelumnya tidak pernah melihat topeng Ares, Arthur mengetahuinya karena sekilas pernah melirik isi tas milik Tuannya tersebut.


"Oh?" Eina mengetahui perilaku Arthur yang membuatnya seketika tersenyum masam, "Pergilah, aku akan melepaskan kalian."


Bersamaan dengan kata-katanya, Eina berbalik pergi.


Tentu, Eina bukan merupakan seseorang yang akan melepaskan musuh begitu saja. Mengetahui keduanya juga terhubung dengan Ares—yang merupakan "Silver Mask" bagi Eina—muncul keinginan kecil di dalam hatinya untuk bertaruh kepada mereka.


Bagi Eina, dia tidak mempermasalahkan kehidupan Sieg dan Arthur. Selama tujuannya menghancurkan Natrehn tercapai, selama tidak ada orang yang merusak rencananya, itu sudah cukup bagi Eina seorang.


Karenanya, dia memutuskan untuk memberikan mereka sebuah keputusasaan yang luar biasa serta kesempatan untuk hidup, dibandingkan dengan kematian instan yang dapat dia lakukan kapan saja.


Tercengang, sejenak membuat keduanya mematung. Tidak ada dari keduanya yang menyangka bila Eina akan melepaskan mereka begitu saja.


Sejenak menatap cahaya bulan yang muncul, Eina kembali menyarungkan pedangnya dan menuju perkemahan utama Natrehn dengan melangkahkan kakinya secara perlahan.


Apakah kalian dapat selamat dari kekacauan ini?


Juga... bagaimana kalian bertiga dapat menghadapi serbuan Ksatria Suci yang akan menyerang setelah "Kona" terakhir telah terbunuh?


Jika kalian dapat melakukannya, aku tidak keberatan untuk menyerahkan kepalaku...


Aku benar-benar menantikan permainan yang akan kau sajikan, Silver Mask.


...----------------...