I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 85 : Ak—Aku Bebas!



Tahun 1236, 8 Agustus.


Padang Blervec, Wilayah Utara Benua Barat.


Pagi Hari.


"Mmmgghhhh!"


"Mmmgghhhh!"


Sangat kesal dengan Gale yang tidak berhenti memberontak sejak tadi, Ares—yang saat ini memanggul batang kayu yang telah dimodifikasi seperti tangga dengan Gale yang terikat di atasnya—berteriak, "Diamlah, Sialan! Kita akan sampai setelah melewati dua desa di depan!"


Mata Gale seketika terbuka lebar. Dirinya tidak pernah mengira bahwa Tuannya akan membuatnya menjadi tumbal untuk mendekati Sang Kepala Suku.


Perasannya semakin kacau, air mata pun menetes. Gale pun menjadi lebih memberontak dan berteriak, "Mmgghhh!" meskipun mulutnya telah disumpal dengan sebuah lembar perkamen.


"Jika kau masih saja merepotkanku, aku akan meremas kedua biji yang kau miliki, Gale," ungkap Marie dengan sangat kesal.


Tidak mengacuhkan peringatan Marie, Gale menjadi semakin memberontak yang membuat empat orang yang memanggulnya lebih kesulitan.


Namun, indera penciuman Ares segera merasakan sesuatu yang aneh disaat dirinya hendak menurunkan Gale untuk memukul kepalanya agar dia pingsan.


Mengapa aku merasakan bau busuk?


Apa yang sebenarnya telah terjadi?


Tatapan Ares melirik Lean yang memanggul Gale tepat di sampingnya. Melihatnya yang menganggukkan kecil kepalanya, Ares dan Lean pun seketika melepaskan kayu yang dipanggulnya dan segera mendekati sumber bau.


BRUK!


"Mrrgghh!" teriak Gale kesakitan.


Tiba-tiba ditinggalkan oleh dua orang yang memanggul kepalanya, Gale segera merosot jatuh dengan kepalanya terlebih dahulu. Bersamaan dengan mereka, Marie pun juga bergegas mengikuti Ares yang membuat kaki kanannya juga terlempar ke tanah.


Meskipun Arthur sangat panik karena seketika ditinggalkan oleh tiga orang yang membuatnya harus menyeimbangkan Gale, tentu dia tidak dapat menahan Gale karena kejadian yang terjadi begitu tiba-tiba.


Arthur pun meletakkan tiang kayu yang telah dipanggulnya dan mencoba untuk membebaskan Gale yang saat ini sedang memberontak.


Namun, Arthur segera tersadar akan pesan Dia yang tidak membolehkan dirinya meninggalkan Ares sendirian hanya dengan anggota Klan Cornwall.


Tatapannya segera terlihat menyesal. Mendekati Gale yang memberontak sembari berteriak, Arthur pun berkata, "Maaf," sembari menempelkan kedua telapak tangannya dan bergegas mengikuti Ares.


"Mmrrgghh!"


"Mmrrgghh!"


Melihat semua anggota kelompoknya meninggalkannya terbaring di atas padang rumput sendirian, membuat Gale sekali lagi meraung-raung untuk memanggil mereka kembali—karena dia sangat khawatir jika hewan buas datang mendekatinya.


Tentu saja, jika itu hanyalah ikatan biasa, Gale dapat melarikan diri dengan mudah. Namun, ikatan tali yang melilit tubuhnya dibuat oleh Marie yang membuatnya sangat sulit untuk melepaskan diri darinya.


Berjalan mendekati sumber bau, Ares dan Lean menemukan puluhan mayat dengan banyak burung bangkai di dekatnya serta genangan darah yang telah mengering.


Siapa... yang melakukan ini?


Lagipula, jika kalian akan melakukan pembantaian, kuburlah kembali mayat musuh kalian!


Jangan meninggalkannya seperti ini!


Tatapan Ares tertuju kepada salah satu mayat yang sedang dimangsa oleh burung bangkai. Berjalan perlahan mendekatinya sembari menahan hidungnya karena bau busuk, Ares pun memeriksa mayat tersebut saat dirinya telah berjarak 3 meter darinya.


Meskipun tubuhnya telah hancur karena terkaman binatang buas dan burung bangkai, namun Ares tetap dapat melihat ciri khas yang masih tersisa dari mayat tersebut.


Barbarian...


Apakah mereka mati karena melindungi suku mereka?


Berbalik menuju Lean—yang juga memeriksa mayat di tempat yang tak jauh darinya—Ares juga melihat Marie yang sedang bermain-main dengan burung bangkai serta Arthur yang terdiam di tempat yang tak jauh darinya.


Hm?


Oh, benar.


Apakah kalian meninggalkan Gale?


"Arthur, kembalilah dan bawa Gale!" perintah Ares.


"Ta—tapi—" balas Arthur sedikit gelisah.


"Baik, Tuan!" jawab Arthur lalu bergegas pergi.


Menatap kembali dua orang di belakangnya, Ares berkata, "Ayo pergi."


"Ke mana, Tuan?" tanya Marie dengan berteriak.


"Desa terdekat!" jawab Ares keras.


Meninggalkan para mayat tersebut apa adanya, mereka bertiga bergerak untuk menuju salah satu desa terdekat dari tempat tersebut menurut ingatan yang dimiliki oleh Ares.


Kejutan pun kembali menimpa mereka bertiga. Sekali lagi indera penciuman dipenuhi bau busuk, mereka melihat mayat-mayat suku barbarian yang telah berada dalam kondisi rusak.


Tubuh yang terlihat penuh memar serta bekas luka tusukan, wajah-wajah para mayat yang menampilkan penderitaan serta kehampaan, dan semua wanita berada dalam keadaan telanjang bulat seolah tewas akibat pemerkosaan.


Pun tidak berbeda dengan kondisi desa yang memiliki banyak rumah—yang keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu—telah hangus terbakar, atap-atap jerami yang telah rusak, serta beberapa rumah diantaranya bahkan telah runtuh.


Hanya satu hal yang segera muncul di dalam benak mereka bertiga setelah melihat pemandangan mengerikan tersebut.


"Korban keganasan para tentara," ungkap Marie.


"Apakah hal ini karena ulah Natrehn? Bukankah militer mereka sejak dulu selalu hanya beroperasi di perbatasan?" ujar Lean dengan mengerutkan keningnya.


"Aku tidak tahu, tapi... aku tidak pernah mengira tentara mereka dapat menikmati pemerkosaan terhadap orang udik. Aku cukup penasaran dengan bau badan mereka," ujar Marie.


Berbeda dengan Marie dan Lean yang memiliki perasaan kompleks meskipun mereka menunjukkan sikap pasif—yang dikarenakan kode etik para assassin yang tidak diperkenankan menyentuh apa yang tidak perlu disentuh, perasaan gembira muncul di dalam benak Ares yang kedua sudut mulutnya terangkat.


Jika seperti ini, aku dapat memanfaatkan penyerangan Natrehn agar barbarian dapat bersatu.


Tapi... aku cukup merindukan keberadaan kamera sebagai alat untuk mengumpulkan barang bukti.


"Ayo pergi dari tempat ini," ajak Ares.


Namun, langkah Ares segera terhenti. Ares secara tidak sengaja melihat suatu permata antik yang terlihat seperti Hexagram berwarna biru muda yang berada di dekat tangan seorang gadis korban pemerkosaan.


Mendekatinya, Ares pun mengambil permata tersebut dan mengamatinya dengan seksama.


Apa ini?


Meskipun aku tidak pernah melihatnya, namun entah mengapa aku merasa permata ini menarikku kepada sesuatu.


"Ada apa, Tuan?" tanya Lean saat melihat Ares tidak beranjak pergi bersama.


"Tidak ada," balas Ares.


Memasukkan permata tersebut ke dalam sakunya, mereka pergi meninggalkan desa dan bertemu kembali dengan Arthur serta Gale yang masih berada dalam kondisi terikat kuat dengan mulutnya yang tetap tersumpal.


"Mmmgghhh!"


"Mmmgghhh!"


Hmm, mari ubah rencana.


Jika keadaan menjadi seperti ini, kukira aku tidak perlu membuat Gale diperkosa.


Yah, mari pikirkan kembali setelah aku bertemu dengan Kepala Suku Barat nanti.


"Marie, bebaskan dia," ujar Ares acuh tak acuh.


"Eh? Mengapa, Tuan?" tanya Marie dengan memiringkan kepalanya.


"Yah, tidak apa-apa. Aku memiliki rencana lain," jawab Ares acuh tak acuh.


Ekspresi Marie menunjukkan ketidakpuasan. Ia pun berkata, "Mengapa Anda tidak menjalankan rencana tersebut sembari membiarkan Gale tetap diperkosa?"


Mendengar hal yang sangat tidak masuk akal dari rekannya tersebut, sekali lagi Gale menjadi panik hingga membuka lebar kedua matanya sembari berteriak, "Mmmrgghhh!"


Menghela napas dalam, Ares pun berkata, "Aku tidak menyukai suasana berisik."


Meskipun tetap menunjukkan ketidakpuasan, Marie tetap harus mematuhi perintah Ares karena kontrak mereka. Sembari mendecakkan lidahnya, ia pun berkata, "Cih, baiklah."


Lega karena telah terbebas dari ikatan yang telah membuat kulitnya sangat kesakitan, Gale pun memutuskan untuk tidak pernah mempertanyakan perkataan dan akan selalu menuruti perintah Tuannya tersebut tanpa banyak bertanya.


...----------------...