
Tahun 1237, 4 April.
Ibukota Lombart, Kerajaan Rowling.
Sore Hari.
Sinar mentari senja sekali lagi menyinari kehidupan para penduduk Ibukota Lombart. Berbeda dengan suasana lingkungan yang hangat, suasana berkabung menyelimuti kehidupan para penduduknya semenjak beberapa hari terakhir.
Banyak prajurit militer yang berpatroli di beberapa sudut ibukota, beberapa intelejen telah dikerahkan untuk mengontrol suasana ibukota, para penduduk ibukota hanya mengetahui jika petinggi negara sedang berada dalam kewaspadaan tinggi—yang bahkan mempengaruhi desa-desa serta kota yang berada di sekitar Ibukota Lombart.
Akibat banyak dari para bangsawan yang tidak berada di ibukota, Ares telah berhasil mengambil kendali Ibukota Lombart secara penuh karena merupakan bangsawan tingkat tinggi serta merupakan suami dari Sang Putri.
Hal itu hanyalah kedok semata bagi para penduduk. Banyak dari para bangsawan yang menjadi pejabat telah menyerah, persenjataan para ksatria mereka juga dilucuti meskipun hanya berlangsung untuk sementara.
Tentu, beberapa dari mereka melakukan sebuah perlawanan. Dengan tangan dingin, Ares mengeksekusi mereka yang memberontak kepadanya.
Meskipun dapat dipastikan para bangsawan akan mengirimkan sebagian tentaranya dari wilayah mereka, namun Ares telah mendapatkan kabar dari Warren jika dia telah bergerak untuk menumpas semua pasukan yang bergerak ke ibukota.
Dengan beberapa bangsawan di bawahnya, kekuatan militer House of Francois yang bergelar Margrave tidak dapat diremehkan. Lebih memiliki kualitas serta kuantitas dibandingkan dengan pasukan yang dimiliki House of Rueter, Margrave Francois diketahui merupakan salah satu bangsawan yang memiliki militer terkuat diantara para bangsawan besar Kerajaan Rowling.
Dengan kondisi Wilayah Duke Linius yang sedang diliputi oleh kekacauan, Margrave Francois dapat dengan nyaman menggerakkan pasukannya ke berbagai tempat dengan putranya sebagai pemimpinnya.
Seorang gadis berambut putih panjang yang mengenakan seragam militer yang selaras dengan penampilannya berkuda menyusuri jalanan ibukota yang ramai dengan sedikit cepat.
Para ksatria yang mengawalnya membuka jalan dengan paksa hingga para penduduk dengan panik menyingkir.
Perubahan suasana ibukota yang sangat mencolok begitu terasa bagi Excel. Meskipun dia dapat memprediksi hingga titik tertentu, Excel tidak pernah mengira bila kematian Sang Raja serta beberapa bangsawan besar akan sangat berpengaruh pada kehidupan ibukota.
Excel semakin memacu Lykan, kuda perang hitamnya lebih cepat. Perasaannya yang memburuk terhadap suaminya semakin terasa dalam beberapa hari terakhir, yang menyebabkan Excel beserta beberapa ksatria pengawalnya bergerak meninggalkan pasukan menuju ibukota terlebih dahulu dengan lebih cepat.
Suasana berubah menjadi hening setelah memasuki distrik yang menjadi tempat tinggal para bangsawan, hampir tidak terdapat satupun aktivitas di dalamnya. Hanya beberapa menteri kerajaan yang telah menyerah kepada Ares dapat dengan aman tinggal di ibukota untuk sementara.
Menepati janjinya pada Calvin, Ares mempersilakan para siswa yang merupakan penerus bangsawan Faksi Lucas dan Zee untuk meninggalkan ibukota serta secara penuh melindungi para guru Akademi karena hutang masa lalunya.
Meskipun begitu, Excel sangat kagum dengan suaminya yang tetap membuat para penduduk menjalani harinya seperti kehidupan sehari-hari mereka, seolah kejadian beberapa hari lalu hanya merupakan sebuah kebohongan belaka.
Tapak Lykan terdengar sangat keras karena suasana distrik yang terlampau sepi. Excel menarik tali kekang Lykan dan melesat menuju istana yang telah menjadi tempat tinggalnya dahulu.
Para prajurit penjaga yang melihat sebuah kuda perang hitam mendekat bersama beberapa ksatria dengan lambang House of Rueter pada baju besinya seketika menyingkir sembari memberi hormat.
"Selamat datang, Nyonya!" teriak Para Prajurit Penjaga serentak.
Pintu istana kerajaan perlahan terbuka untuk menyambut mantan Putri Kerajaan Rowling. Menarik kembali tali kekang Lykan, Excel segera menuju salah satu ksatria penjaga dengan ekspresi keruh.
"Dimana Ares?" tanya Excel.
Prajurit penjaga tersebut sejenak memperlihatkan wajah keruh. Sedikit menunduk, prajurit tersebut pun memberanikan dirinya, "Dimohon untuk mengikuti saya, Nyonya."
Mendapatkan respon positif dari Excel, prajurit penjaga tersebut membimbingnya beserta beberapa ksatria pengawal menuju sebuah lahan luas yang berada di salah satu sudut terpencil kastil.
Pemandangannya sangat rimbun, pohon-pohon serta rumput-rumput yang terawat sangat membuat indah semua mata yang memandangnya, Excel tidak mengira bahwa ia sekali lagi akan mengunjungi tempat ini, dimana terakhir kalinya tepat setelah upacara pernikahannya berlangsung bersama dengan suaminya.
Namun, sejenak kekeruhan terlukis pada mimik wajahnya. Excel melihat seorang wanita berambut pirang sedang menatap bingung pada suaminya yang terduduk dengan kepala yang tertunduk tepat di samping sebuah gundukan tanah yang terlihat sangat rapi.
Perlahan, Excel bergerak mendekati Lucy, teman seangkatan Akademinya serta merupakan tunangan Pangeran Kedua Kerajaan Rowling.
"Apa yang kamu lakukan di tempat ini?" Kata-kata Excel membuat Lucy dengan cepat berbalik.
"Mohon maaf... Yang Mulia." Lucy menundukkan dalam kepalanya, rasa bersalah berat menyelimuti hatinya karena tidak dapat sekalipun membuat Ares terhibur.
Rasa kecemburuan muncul, Excel tentu mengerti bagaimana suaminya memperlakukan Lucy karena hutang budinya mengirimkan beberapa informasi internal Faksi Zee. Baginya, tidak ada seorang wanita yang tidak akan luluh jika diperlakukan dengan baik oleh seorang pria disaat dirinya dirundung banyak masalah.
Meskipun begitu, Excel tetap tersenyum, dirinya merasa tetap harus bersyukur atas bantuan yang telah diberikan olehnya, "Terima kasih karena telah menjaganya."
Sedikit terkejut atas respon yang diberikan, Lucy kembali mengadahkan kepalanya dengan sedikit terburu-buru, "Ti—tidak perlu, Yang Mulia!"
Kembali tersenyum, Excel perlahan mendekat menuju sebuah makam dimana Ares terduduk di sampingnya. Kedua tangannya terentangkan, Excel segera berlutut untuk memeluk suaminya dari belakang serta membenamkan wajahnya di punggungnya.
Sesaat dirinya berlutut, Excel melihat sebuah nama yang terukir di atas batu nisan yang sangat mewah. Dengan pahatan berwarna keemasan di atas nisan berwarna kehitaman, nama Katherine von Linius terukir padanya hingga membuat Excel sedikit merasa rumit.
"Apakah yang aku lakukan... adalah hal yang benar?" Pertanyaan Ares membuat Excel mengencangkan pelukannya.
Tidak mengetahui apa yang telah terjadi sebelumnya, namun Excel mengerti jika malam itu sangat membebani hati suaminya. Hanya dapat menutup rapat kedua bibirnya, naluri memberitahunya jika suaminya tidaklah membutuhkan sebuah jawaban.
"Meskipun aku menganggap jika ini merupakan tindakan realistis... namun aku sadar bila diriku hanyalah seorang penakut..." ujar Ares.
Terbesit kembali ingatan disaat Ares membunuh anak Katherine yang masih berusia kurang dari dua tahun, hal itu benar-benar membuat Ares bertanya-tanya mengenai kebenaran dari apa yang telah ia perbuat.
Hening.
Hanya hembusan ringan angin yang keduanya rasakan dalam diam. Keduanya mengerti jika mengatakan sesuatu lebih lanjut hanya akan menuju pembicaraan yang benar-benar tidak diinginkan Ares.
Hingga beberapa saat berlalu, dimana suasana oranye menandakan matahari hampir terbenam, Excel membuka kedua bibirnya, "Apakah ayah... mengatakan sesuatu kepadamu, Sayang?"
Sejenak, tubuhnya menegang. Menyadari bila Excel belum mengetahui jika dia bukanlah merupakan putri kandung dari Sang Raja, Ares memutuskan untuk tetap menutup rapat kedua bibirnya pada kenyataan yang sebenarnya.
Sedikit menggigit bibirnya, Ares dengan terpaksa melakukan sebuah kebohongan demi ketenangan hati istri yang sangat dicintainya, "...tidak."
"Begitu..." Sedikit penyesalan terkandung di dalam jawaban. Excel sedikit menyayangkan kematian ayahnya hingga membuat hatinya sedikit sakit.
Meskipun begitu, Excel tidaklah munafik. Perasaannya dipenuhi kebahagiaan besar karena telah membalaskan dendam ibunya. Jika Ectave telah dipastikan terbunuh, maka Duke Linius juga tidak berbeda karena Excel mengetahui jika Ares menetapkan sebuah syarat untuk membunuh Duke Linius terlebih dahulu sebelum melancarkan kudeta.
Excel menarik ringan pakaian Ares, memohon untuknya berdiri, "Mari pergi..."
"Ya..." Ares menyanggupinya. Perlahan bangkit, dia merasakan telapak tangannya menghangat karena digenggam oleh dua telapak tangan Excel, yang membuatnya menyadari bila masih terdapat seseorang yang mendukungnya dari balik punggungnya.
Ares telah menyadari bila bahaya besar dapat mengancam diri serta keluarga kecilnya, namun dia selalu menganggap dunia ini tidak jauh berbeda dengan permainan. Hingga membuat Ares kembali sadar bila kehidupan dunia ini tidak dapat disandingkan hanya dengan game semata setelah merasakan beban mental yang sangat kuat semenjak dirinya membunuh Katherine dan putranya.
Memandang wajah istrinya yang tersenyum cerah, sekali lagi Ares menggoreskan sebuah ketetapan kuat di dalam lubuk hatinya.
Aku... pasti akan melindungi senyuman yang terlukis di atas wajahmu.
...----------------...
Catatan :
Setelah ini, ada satu chapter yang tidak lolos review (kalian tahu apa lah ya). Jika tidak membacanya, tidak begitu masalah karena tidak berpengaruh terhadap main story line. Chapter itu hanya berisi pemulihan mental Ares, jadi yang ingin membacanya, kalian bisa membuka Grup Chat novel ini. Izin masuk GC sudah kumatikan.
Jangan khawatir, bagi kalian yang diam-diam menghanyutkan, aku menuliskan linknya di deskripsi grup.
...----------------...