
Tahun 1236, 30 Juni.
Mansion Margrave Rueter, Ibukota Lombart.
Setelah Matahari Terbenam.
"Terima kasih atas undangannya, Margrave. Saya kira jamuan Anda mungkin adalah jamuan yang membuat lidah saya merasakan kelezatan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya," ujar seorang pria muda aristokrat.
"Tidak perlu terlalu menyanjung saya, Tuan Gio. Saya rasa jamuan saya tidak terasa selezat itu," timpal Ares dengan tersenyum masam.
"Baik, saya mohon undur diri terlebih dahulu, Margrave," balas Gio dengan menundukkan ringan kepalanya.
"Baik, hati-hati dalam perjalanan kembali," timpal Ares.
Sekali lagi menundukkan ringan kepalanya, Gio segera menaiki kereta kuda yang telah disiapkan tepat di belakangnya dan pergi meninggalkan mansion.
Setelah melakukan pertemuan dengan Ares dimana dia mengatakan secara implisit bahwa Ares akan membuat Excel menjadi seorang ratu, para bangsawan segera berniat untuk mendiskusikan masalah ini lebih lanjut dengan kepala keluarga rumah mereka.
Segera setelah mengadakan jamuan makan, Ares mengantarkan para bangsawan tersebut ke halaman mansion sembari melakukan ramah tamah kecil kepada mereka.
Tatapan mata Ares tertuju hingga kereta kuda bangsawan tamu tersebut meninggalkan pagar. Setelah keluar, Ares menghela napas dalam, "Hah..."
Lelah...
Kupikir, hal yang paling melelahkan dalam suatu acara pertemuan antar bangsawan adalah penyambutan dan keramah tamahan kepada mereka yang menghabiskan waktu sangat banyak...
Tapi...
Melirik ke belakangnya, seorang pelayan wanita telah bergerak untuk berdiri di belakang Ares tepat setelah kepergian Gio.
"Tuan, Tuan Warren dan Nyonya Ann telah kami persilakan menunggu di ruang yang Anda telah perintahkan," ujar pelayan tersebut.
"Terima kasih, aku akan pergi menemui mereka," timpal Ares.
"Baik, Tuan," timpal pelayan tersebut.
Kedua kakinya segera dilangkahkan menuju kamar tempat Warren dan Ann berada yang berada di lantai dua. Tak lama kemudian, Ares tiba di depan pintu kayu putih dan membiarkan pelayan tersebut masuk terlebih dahulu agar mereka dapat mempersiapkan diri.
Cklek.
Melihat kedua teman sekelasnya di Akademi segera bangkit untuk menyambutnya, Ares segera mengangkat tangannya untuk menahan mereka sembari berkata, "Tidak perlu, mari kita buat pertemuan yang tidak resmi. Aku sedikit merindukan masa-masa kami di Akademi dahulu."
Tersenyum, Warren dan Ann segera duduk kembali di sofa yang baru saja di dudukinya sembari berkata, "Terima kasih, Ares," disaat Ares bergerak untuk duduk di depan sofa yang ada di depan mereka.
Warren dan Ann kembali memasang wajah serius. Menarik napas kecil, Warren bertanya dengan menatap tajam pada Ares, "Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?"
Sejenak termenung dengan menunduk menatap kosong pada meja diantara mereka, Ares mengingat ingatan dan perasaan disaat dia menguburkan Lily dahulu yang diterimanya setelah bertransmigrasi.
Meskipun Ares berniat menjadikan alasan tersebut sebagai dalih untuk mengkudeta kerajaan, namun perasaan tersebut seolah nyata di dalam benaknya. Dia merasa alasan yang dimilikinya seolah terbagi, ingin menjadi nomor satu di dunia game ini sekali lagi atau membalas dendam kepada Zee.
Ares juga tidak mengerti kesadaran lain yang berada di tubuhnya seolah telah pergi meninggalkannya sejak saat itu.
"Aku... ingin membuat kerajaan ini menjadi lebih baik," jawab Ares dengan nada sedikit sedih.
Warren dan Ann segera tersadar akan jawaban yang secara implisit menyebutkan pembalasan dendam kepada Pangeran Kedua. Mereka mengetahui kedekatan Ares dengan Lily saat mereka masih menghadiri Akademi di ibukota dahulu.
"Apakah Li—" ujar Ann.
Segera menggenggam tangan istrinya untuk menghentikan perkataannya, Warren tidak ingin membuat temannya—yang telah melangkah untuk melupakan Lily—mengingat kembali kenangan tersebut.
Seolah menebak niat Ares yang melakukan pertunangan hanya untuk memanfaatkan Excel, Warren bertanya, "Apakah kamu... mengirim proposal pertunangan kepada Yang Mulia Putri hanya untuk alasan itu?"
"Tidak, aku benar-benar mencintai Excel," jawab Ares dengan menatap kuat pada mereka.
Jawaban cepat dan lugas.
Sedikit membuat mereka berdua terkejut dikarenakan perkataan Ares, entah perasaan bahagia atau rumit yang harus mereka rasakan saat teman baik mereka akan menikahi seseorang yang sebenarnya mereka berdua sedikit tidak sukai.
"Kami... sebenarnya menganggap baik tentang proposal yang kamu ajukan dalam pertemuan tadi. Namun, mengapa kamu tidak meminta bantuan secara langsung pada kami jika kamu benar-benar merencanakan hal itu?" tanya Ann.
"Aku sadar bahwa aku belum mendapatkan kepercayaan dari mereka. Aku hanya menunggu sikap mereka yang dimana mereka memutuskan untuk tetap netral seperti saat ini atau akan bergabung denganku nantinya," jawab Ares.
Warren dan Ann saling melirik dan menganggukkan kecil kepalanya. Mereka berdua telah membangun kepercayaan pribadi dengan Ares—meskipun tidak terlalu berhubungan dengan House of Rueter.
Bagi House of Francois—yang selalu mendapatkan perintah dari Duke Linius untuk melindungi perbatasan kerajaan dari serangan Kerajaan Gardom dan memata-matai konfederasi—merasa sangat dirugikan dikarenakan mereka yang tidak dapat mempertahankan kekuatan militernya serta hanya merasa dimanfaatkan.
House of Francois juga tidak mungkin menolak permintaan Duke Linius—yang mendapat dukungan langsung dari Tentara Reguler Kerajaan Rowling serta merupakan bangsawan dengan pengaruh terkuat di wilayah timur kerajaan—yang bisa saja semakin menjatuhkan rumah mereka.
"Jika kamu benar-benar dapat membuktikan kata-katamu dalam pertemuan beberapa saat lalu, kami, House of Francois, tidak keberatan untuk bergabung denganmu," timpal Warren dengan kuat.
Meskipun sedikit ragu dengan perkataan Warren—yang masih hanya merupakan ahli waris—namun sebuah senyuman segera nampak di wajah Ares.
"Apakah kamu benar-benar dapat memutuskan hal itu?" tanya Ares dengan tersenyum masam.
"Sebenarnya, kami telah mendapat kepercayaan dari ayah—tidak, Margarve Francois untuk memutuskan langkah politik kami di masa depan saat melakukan pertemuan denganmu," jawab Warren dengan tersenyum kecut.
"Yah, lihat saja. Lagipula, aku dapat mengangkat rumah kalian menjadi rumah yang berpangkat Archduke," timpal Ares.
"Hah?!" ujar Warren yang terkejut.
"Meskipun kamu menjadi seorang raja, tapi bukankah itu masih tetap mustahil bagimu, Ares?" ujar Ann yang menatap tidak percaya kepada Ares.
Menggelengkan kecil kepalanya, Ares berkata, "Tidak, aku tidak hanya akan mengkudeta kerajaan. Namun, aku juga akan membuat seluruh benua ini bersatu kembali."
Tidak bergeming.
Mereka tidak dapat mengatakan apapun terhadap pernyataan teman baiknya yang baru saja mereka dengar.
"Aku juga berpikir bahwa kalian tidak mungkin mempercayainya... tapi aku telah memikirkan rencana tersebut dengan sangat matang," sambung Ares.
Dengan nada yang sedikit melambung tidak percaya, Warren berkata, "Kami... akan menentukan langkah politik kami sesuai dengan keadaan di masa depan. Namun, kami tetap mendukungmu secara positif terhadap apa yang akan kamu lakukan terhadap perebutan tahta di masa depan."
"Aku benar-benar sangat menghargai dukungan kalian... kutu buku dan sekretaris," timpal Ares dengan senyum mengejek.
Teringat akan masa Akademinya yang sedikit suram, Warren segera menahan kekesalannya kepada Ares.
"Fufufu, sudah lama, bukan?" balas Ann dengan nada nostalgia.
Melihat jendela dimana hari yang mulai petang, Warren berkata, "Kami... hendak pamit terlebih dahulu. Terima kasih telah mengundang kami, Ares."
"Aku juga sedikit bersyukur telah melihat keadaanmu baik-baik saja," sambung Ann.
"Ya, aku benar-benar bersyukur atas perhatian kalian," timpal Ares.
Mereka pun segera bangkit dari sofa tempat mereka duduk dan beranjak pergi menuju pintu keluar.
Disaat melihat mereka yang hendak keluar dari ruangan, Ares teringat akan suatu hal yang sangat penting. Dengan membungkukkan tubuhnya, ia berkata, "Meskipun aku mengetahui kalian yang sedikit tidak menyukai Excel... namun aku benar-benar meminta kalian untuk tidak membencinya."
Berbalik dan menemukan Ares yang membungkuk dalam hingga seperti itu, Ann bertanya dengan sedikit terpana karena heran, "Mengapa... kamu membela dia hingga seperti ini, Ares?"
"Yah... aku akan memberi tahu kalian nanti," timpal Ares dengan mengangkat kembali kepalanya.
Melihat ekspresinya yang sedikit menahan malu tersebut, Warren dan Ann mengerti bahwa pria di depannya telah melanggar tabu diantara para bangsawan.
Sedikit kesal dengan suaminya yang belum dapat memberinya penerus rumah, Ann berkata dengan senyum mengejek sembari melirik Warren, "Begitu... kamu benar-benar sangat luar biasa bukan, Ares?"
Hanya senyum kecut yang terlukis di wajah Ares dikarenakan dia yang tidak ingin mencampuri urusan pribadi mereka berdua, disamping Warren yang memasang wajah jelek karena dirinya yang merasa diejek.
Segera mengantar Warren dan Ann ke halaman rumah sembari melakukan basa-basi kecil dengan mereka, Ares pun segera memasang ekspresi lega dikarenakan dia yang setidaknya telah mendapat satu dukungan satu rumah aristokrat yang kuat.
Nah... sekarang.
Melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk sekali lagi membersihkan tubuhnya, Ares pun melangkahkan kakinya untuk memasuki kamar pribadinya untuk beristirahat dengan mempersiapkan Rapier di pinggulnya.
Namun, dia merasakan sesuatu yang salah tepat setelah keluar dari kamar mandi mansionnya. Bahkan, Ares tidak melihat satupun ksatria penjaga mansionnya yang berjaga di luar saat Ares melihatnya melalui jendela yang menampilkan kegelapan malam.
Hmm, mengapa aku tidak melihat satupun seorang ksatria atau pelayan tepat setelah aku keluar dari kamar mandi?
Yah, tidak masalah!
Untuk saat ini, cobalah untuk membunuhku, Klan Cornwall!
Krieett.
Segera, mata Ares terbuka lebar dikarenakan melihat pemandangan menakutkan yang sangat tidak masuk akal setelah membuka pintu kamar tidurnya.
Berbalik untuk kabur karena sangat ketakutan, namun Ares segera menghentikan langkah kakinya.
"Kamu... tidak akan pergi ke mana pun kan, Sayang?" tanya seseorang dengan nada linglung karena mabuk.
Ya, pemandangan menakutkan yang ada di dalam kamar tersebut adalah keberadaan Excel yang memiliki wajah merah karena sangat mabuk.
Ba—bagaimana bisa?!
Bagaimana bisa dia ada disini?!
Juga, kau sedang mengandung!
Jangan minum alkohol!
BUAGH!
Dengan cepat, Excel menarik bahu Ares ke atas untuk melemparnya ke tempat tidur dengan Rapiernya yang telah jatuh ke lantai.
Hanya tatapan ketakutan yang sekali lagi terlukis di wajahnya saat Ares melihat tunangannya yang berjalan mendekatinya.
...----------------...