I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Extra : Suamiku Benar-Benar Luar Biasa – Book I <End>



Tahun 1237, 28 Juni.


Ibukota Lombart, Kekaisaran Arestia.


Pagi Hari.


"Suamiku... benar-benar luar biasa."


Sekali lagi, kalimat tersebut terucap dari lisan Excel.


Memandang suaminya yang saat ini berdiri tidak jauh dari tempatnya berada, Excel hanya dapat melukiskan senyuman cerah, sangat mencerminkan kehidupannya yang telah berubah 180° menjadi penuh kebahagiaan.


"Penulisan laporan keuangan dilakukan dengan metode dua kolom. Karenanya, ketidakjelasan pada belanja negara, termasuk wilayah kalian sendiri, dapat dengan mudah kalian ketahui." Di depan para bangsawan—termasuk mantan Ratu Nevia, Duke Alein, Warren, Astrid, Kristin, dan banyak bangsawan lain—Ares sedang mengajarkan pengelolaan sebuah negara dengan berpedoman pada Wilayah Rueter yang kini menjadi sebuah acuan, membuat para bangsawan tercerahkan dengan kuliah yang Ares berikan.


Bukan tanpa alasan, Wilayah Rueter kini sangat maju dibandingkan dengan wilayah lain. Memiliki pengelolaan dan perencanaan pembangunan secara terstruktur dalam jangka pendek, jangka menengah, hingga jangka panjang, membuat Wilayah Rueter memiliki keuangan yang sangat baik.


Dengan poin statistik kecerdasan Excel yang hanya setara dengan birokrat tingkat rendah istana kerajaan, membuatnya sangat terkagum dengan segala kemampuan yang dimiliki oleh suaminya, yang mana penjelasannya dapat dengan mudah ia mengerti.


Terlebih lagi, ruangan kehakiman yang kini telah memiliki formasi tempat duduk yang mirip dengan ruang kuliah universitas yang berbentuk setengah lingkaran, membuat perhatian para bangsawan hanya dapat tertuju kepada Ares seorang.


Meskipun begitu, Excel sedikit memiliki perasaan iri dan cemburu kepada seseorang yang berdiri di dekat Ares sebagai asistennya, walau ia telah mengizinkan apabila Ares mengambil Lucy sebagai selirnya, membuat Excel sangat kebingungan dengan kata hatinya.


Kristin mengangkat tangan, meski tangan kanannya tidak berhenti mencatat.


"Ya, apa itu?" tanya Ares.


"Yang Mulia, seperti yang telah Anda sebutkan beberapa saat lalu, apa yang akan Anda lakukan bila bawahan Anda mengganti tenaga kerja dari kalangan sipil dengan seorang budak? Bukankah uang itu akan mengalir masuk ke dalam kantong mereka sendiri tanpa dapat kita ketahui?" tanya Kristin.


"Terlebih lagi... bukankah itu sangat sia-sia menggunakan tenaga yang berasal dari rakyat jelata dibandingkan dengan seorang budak yang notabene tidak membuat kita mengeluarkan upah untuk mereka?" sambung Kristin.


Ares tersenyum masam, ia meletakkan kapur yang digunakannya menulis dan memerintahkan Lucy untuk menghapus tulisan pada papan kayu yang menjadi media mengajarnya sekali lagi.


"Apa yang menyebabkan sebuah negara dapat dikatakan maju?" Ares bertanya setelah menghapus senyumannya.


"Infrastruktur," jawab Warren.


"Kurang tepat." Ares menggeleng ringan.


"Apakah pengetahuan?" Claire—adik perempuan Sieg sekaligus Putri Kerajaan Lethiel—yang duduk tepat di samping kakaknya menjawab.


"Jika secara fundamental, itu benar. Namun, jawaban yang aku inginkan adalah secara keseluruhan," jawab Ares.


Para bangsawan hanya dapat terdiam, sangat sulit untuk menemukan jawaban bila "pengetahuan" bukanlah jawaban yang dia inginkan.


Tidak kunjung mendapati jawaban, Ares tersenyum masam, "Hal pertama yang diperhatikan oleh seseorang adalah para penduduknya. Singkatnya, rakyat sipil."


Beberapa bangsawan segera tersadar, beberapa yang lain tetap menunjukkan kebingungan. Menatap mereka, Ares kembali mengambil kapur yang ia letakkan sebelumnya.


"Mengapa?" tanya Kristin yang masih saja kebingungan.


"Jika rakyat jelata secara mayoritas memiliki kehidupan yang dapat dikatakan baik... bukankah itu berarti negaranya dapat dikatakan kaya?" Kata-kata Ares membuat keseluruhan dari para bangsawan tersadar, menyisakan Alfr yang tetap kebingungan.


Mayoritas para bangsawan yang menjadi seorang tuan tanah lebih memilih untuk mempertahankan nilai pajak wilayahnya yang lebih dari 50% pendapatan para penduduk. Bahkan, beberapa diantara mereka mengambil hingga 80% hasil para petani dan pajak tinggi bagi para pedagang, seolah memeras penduduknya demi kestabilan wilayah di masa depan.


"Aku tidak menampik penggunaan para budak untuk tenaga kerja. Justru aku menyadari apabila budak merupakan salah satu golongan terbesar yang menyangga kehidupan suatu negara," sambung Ares.


"Tapi... jika kita memperkaya dan mencerdaskan para rakyat jelata... bukankah mereka akan melawan kita sebagai penguasa?" timpal Claire ragu.


"Tidak, tidak selalu seperti itu. Di samping kita telah memiliki sebuah konstitusi negara yang kuat, wibawa keluarga bangsawan juga harus dibangun. Aku memahami bila wilayah kalian memiliki aturan yang terserah pada kalian... bahkan aku tidak keberatan bila banyak dari kalian mengambil seorang istri dan putri dari sebuah keluarga rakyat jelata yang berada dalam wilayah kekuasaan kalian." Tepat setelah perkataan Ares usai, banyak dari para bangsawan melirik bangsawan lain yang melakukannya, membuat mereka yang melakukannya hanya terdiam, berpura-pura tidak melakukan hal tersebut.


"Namun, segala sesuatu selalu memiliki batas. Entah itu satu, dua, sepuluh, atau bahkan seratus tahun ke depan... ada kemungkinan para penduduk akan memberontak kepada kalian." Meskipun sulit, tidak ada yang menyangkal perkataan Ares.


Bukti telah berada tepat di pelupuk mata. Sebuah contoh dari kalangan bangsawan, tidak ada diantara mereka yang tidak mengetahui bagaimana Faksi Istana memperlakukan Ares dengan buruk hingga membuatnya mengkudeta Ectave.


"Bangun wibawa rumah kalian, buat agar para penduduk kalian tidak merelakan kehancuran rumah kalian. Karena seperti yang kalian tahu... kesetiaan hanya berasal dari dua hal, ketakutan dan rasa cinta," sambung Ares.


Sadar, mayoritas dari para bangsawan memahami bila penduduk mereka menjalani perintah hanya karena rasa takut. Mereka tentu berkeinginan memiliki sebuah kekuatan yang serupa dengan Ksatria Suci, yang rela mati demi agama dan negaranya—meskipun pada prakteknya hal tersebut hanyalah bualan semata.


Ares kini telah memulai propagandanya, memulai sebuah kebudayaan baru, budaya literasi. Ia menargetkan, dalam waktu lima hingga delapan tahun ke depan, 50% penduduknya dapat terbebas dari buta huruf.


Ares mengharapkan kesadaran diri dari para bangsawan bawahannya, menakut-nakuti secara halus bahwa kekuasaan mereka dapat berakhir kapan saja. Demi mengubah mentalitas para prajuritnya, demi mengubah anggapan para penduduknya, yang mana merupakan salah satu pilar yang menyokong tujuan Ares, dominasi dunia.


"Begitu... terima kasih, Yang Mulia." Kristin sedikit menunduk dan kembali mencatat.


Kepada Dia—bibi Ares—yang saat ini sedang menggendong Orcian di salah satu sudut ruangan, Ares menemukan putrinya telah kembali terbangun dalam keadaan linglung dan hendak menangis apabila tidak berada dalam pelukan Excel atau dirinya.


"Jika begitu, mari kita cukupkan untuk pertemuan hari ini." Kata-kata Ares membuat Excel dan Lucy—yang berdiri di belakangnya—tersenyum kecut.


"Ehh!"


"Ya—Yang Mulia! Kita baru saja mulai beberapa saat yang lalu!"


"Saya sangat menunggu kelas strategi militer yang Anda hendak berikan!"


"Kelas Ekonomi sama sekali belum dapat dikatakan selesai, Yang Mulia!"


"Yang Mulia! Wilayah saya akan bangkrut, berilah saya bantuan tunai!"


Melihat kepergian Ares, para bangsawan mengeluh, yang mana mereka segera menunjukkan tatapan tajam pada seseorang yang meminta bantuan tanpa sedikitpun merasa malu, membuatnya kembali terdiam dengan keringat deras.


Banyak mata teralihkan kepada Ares, yang kini telah menggendong kembali Orcian, membuat para bangsawan menyerah dan bangkit untuk meninggalkan ruangan.


"Kuh..."


"Sangat sedikit yang aku dapatkan hari ini."


"Aku berharap materi ini dapat kuselesaikan sebelum aku kembali ke wilayahku."


"Semoga kelas esok dimulai lebih pag—tidak, bukan itu maksudku." Sekali lagi mendapat tatapan tajam dari orang sekitar, bangsawan tersebut keluar dengan langkah cepat, ketakutan dengan para bangsawan di sekitarnya.


Excel melangkah mendekati Orcian dengan senyuman bahagia. Berbeda dengan Raze yang sering tertidur yang membuatnya dijaga oleh Mia dan para pelayan lain di ruang bayi bersama anak Ares yang lain, Orcian lebih sering terjaga dan akan berteriak serta menangis jika dia tidak dibersamai dengan salah satu orang tuanya.


Apakah aku... benar-benar dapat melakukannya?


Terbesit kembali ingatan disaat Ares menyepakati kontraknya dengan Eina. Memandang wajah lucu dan imut Orcian, Ares merasa tidak kuasa untuk memerintahkan Eina membunuh Orcian bila ia memberontak melawannya—termasuk perasaannya kepada anak-anaknya yang lain.


Tentu, Ares menyepakati hal tersebut dengan Biro Intelejen—atau Eina secara khusus—karena beban mahkotanya yang terlampau berat, membuatnya tidak mampu mengutarakan perasaannya sebagai seorang ayah.


Berwajah bingung, Orcian mengusap salah satu pipi Ares hingga menarik rambut yang berada di dekat telinganya, membuat Orcian tertawa lepas.


Kurasa... aku tidak akan pernah melakukannya, bahkan jika Eina menyarankan kepadaku hal demikian.


Jika saja itu terjadi... aku akan meninggalkan istana dan menunjuk salah satu dari mereka sebagai penggantiku...


Namun, aku harus mendidik mereka dengan baik, aku tidak ingin sebuah tahta kosong membutakan hati anak-anakku.


Ares memeluk lembut putrinya, membuat Excel dan Dia menatap keduanya dengan hangat.


Perlahan, Ares merasakan pakaiannya menghangat, membuatnya kembali menatap Orcian dengan membuka lebar kedua matanya. Orcian sekali lagi tertawa lepas, menganggap wajah Ares merupakan sebuah hiburan baginya.


Dengan segera, Ares berlari pergi, membawa Orcian yang telah mengompol hingga membasahi pakaian kebesarannya.


"Eh, Ya—Yang Muli—" Perkataan Dia tertahan oleh telapak tangan Excel yang menyentuh salah satu bahunya.


"Tidak apa-apa, biarkan saja. Aku hanya merasa dia sedang menikmati waktunya dengan caranya sendiri," timpal Excel lalu tersenyum kecut.


"Baik... jika Anda berkata seperti itu, Yang Mulia..." Dia menyerah, kedua bahunya turun lemas.


Memandang Ares yang lari terbirit-birit dengan menggendong Orcian, Excel sekali lagi hanya dapat bergumam, "Suamiku... benar-benar luar biasa."


"Saya... sangat setuju dengan Anda, Yang Mulia," timpal Dia.


...----------------...


Catatan :


Terima kasih banyak kepada kalian yang telah mensupportku hingga chapter ini!


Sampai jumpa lagi pada 10 November di Book 2!


...----------------...