
Tahun 1236, 20 Februari.
Benteng Ulfreed, Wilayah Terbatas Margrave Rueter.
Siang Hari.
Sekali lagi, apakah dunia ini akan tertutupi warna darah karena perang yang akan berkecamuk?
Seorang pria tua yang memiliki tubuh kekar dengan rambut coklat pendeknya, meratapi sebuah wadah yang berada di tengah-tengah lapangan sebuah benteng bersama para prajurit lainnya dari jarak yang cukup jauh.
BOOM!
Meledaklah wadah tersebut tanpa meninggalkan sisa yang menyebabkan tanah di sekitarnya menghitam dengan radius sekitar 2 meter.
Seorang prajurit mendekati pria tua tersebut, ia memberikan penghormatan dengan menempelkan sisi dalam tangan kanannya di pelipis kanannya.
"Lapor! Uji coba yang kami lakukan menurut apa yang diperintahkan Tuan, telah sukses!" ujar seorang prajurit dengan nada bersemangat.
"Ya, kembalilah ke tempatmu," jawab Don tegas.
"Ya, Pak!" timpal prajurit itu lalu berbalik pergi.
Beberapa bulan telah berlalu semenjak Don, yang juga mendapat perintah dari Ares untuk memimpin pengembangan persenjataan militer disamping menjadi Kepala Staf Tentara Margrave Rueter, telah mendapatkan surat burung yang berasal dari Ares untuk melakukan beberapa uji coba persenjataan.
Sebagai seorang military nerd, Ares mengetahui beberapa persenjataan yang dapat dengan mudah dibuatnya.
Meskipun Ares tidak ingin mengembangkan persenjataan lebih jauh karena di dalam game hanya terdapat persenjataan yang belum berkembang, Ares mengakui akan kesulitan melancarkan serangan apabila ia hanya mengandalkan tentara dengan persenjataan yang sangat sederhana seperti pedang, tombak, dan panah.
Karenanya, ia menguji coba beberapa bom yang menurutnya mudah dibuat seperti bom molotov yang dapat dibuat dari minyak ataupun alkohol dan bom panci yang hanya memanfaatkan tekanan tinggi serta serpihan seperti paku dan mata anak panah.
Tentu saja, Ares menyebut mereka semua dengan sebutan bom molotov tipe api serta bom molotov tipe serpihan.
Apa yang akan terjadi jika ia menyebut bom tersebut dengan sebutan bom panci?
Singkatnya, ia akan menjadi bahan tertawaan bagi para prajuritnya dikarenakan nama tersebut yang terlalu menggelikan.
Ketika Don melihat kembali dampak yang diberikan oleh bom molotov tipe serpihan, Don menilai bahwa kedua tipe bom molotov tersebut sangat berbahaya apabila digunakan untuk menyabotase sebuah kota.
Ya, bagaimana jika seorang prajurit melemparkan bom molotov tipe api ke gudang yang menyimpan cadangan makanan untuk satu kota?
Apalagi, bom tersebut dapat dipersiapkan dengan cepat dan memberikan dampak api yang sangat besar.
Juga, bom molotov tipe serpihan akan sangat bermanfaat untuk melancarkan sebuah teror pada kota-kota yang negaranya akan menjadi musuh Ares nantinya.
Apa yang akan dipikirkan oleh para bangsawan tingkat tinggi apabila Ares memiliki senjata tersebut jika itu hanya untuk meneror mereka?
Pastinya, mereka akan berpikiran bahwa Ares memiliki persenjataan lebih dahsyat yang dapat digunakannya di medan perang.
Dengan melihat lapangan yang telah menghitam, Don berkata kepada seorang prajurit yang ada di belakangnya tanpa berbalik, "Bagaimana dengan ketapel batu tipe api yang diuji coba di luar benteng?"
"Ya, Pak! Ketapel batu tipe api memberikan dampak yang besar! Dipastikan kami dapat menghancurkan tembok kota besar hanya dengan 5 tembakan!" timpal prajurit dengan memberi hormat.
"Terima kasih atas laporanmu," balas Don dengan mengerutkan keningnya.
"Ya, Pak!" timpal prajurit itu tegas.
Beberapa hari yang lalu, Don telah bertemu dengan Canaria untuk melakukan koordinasi dan reorganisasi Tentara Margrave Rueter.
Canaria pun memutuskan untuk memberi tahu semua kebenaran dikarenakan sikap Don yang tidak memberikan celah kepadanya.
Tentu saja, Don mengetahui keadaan internal Kerajaan Rowling serta beberapa negara lainnya yang kebanyakan dari mereka menindas para rakyatnya. Karenanya, Don mendukung tujuan Ares yang disalahpahami oleh Canaria yang menyebutkan bahwa Ares berniat membebaskan penduduk yang sejak lama telah menderita.
Tetap saja, sebuah tindakan besar juga membutuhkan pengorbanan besar yang menyebabkan Don mengerutkan keningnya.
Aku berharap Tuan Muda dapat meminimalisir korban perang yang akan terjadi nanti.
Saat Don menatap lapangan dimana banyak prajurit yang sedang membersihkan puing-puing serpihan bom, seorang prajurit bergerak menuju ke arahnya yang membuat Don berbalik ke arahnya.
Prajurit tersebut langsung memberi hormat sembari berkata, "Lapor! Kami mendapat perintah dari Tuan Ares untuk menambahkan ketapel batu tipe api pada kapal induk apabila pengerjaan telah diselesaikan!"
Apakah Tuan Muda benar-benar bermaksud untuk menjaga Kota Hauzen dari angkatan laut negara lain?
Ataukah ia bermaksud mengebom kota yang berada di pesisir pantai nantinya?
Aku juga tidak mengerti maksud dan tujuan Tuan Muda membangun kapal yang sangat besar.
Don mengerutkan keningnya saat mendapatkan laporan dari prajurit tersebut, lalu dengan tegas ia berkata, "Perintah diterima. Tulis balasan kepada Tuan Muda bahwa direncanakan prototipe kapal induk akan selesai dalam waktu 6 bulan. Aku akan bergerak menuju pelabuhan wilayah terbatas esok hari."
"Ya, Pak!" timpal prajurit tersebut dengan memberi hormat.
Di dunia game ini, senjata tipe meriam telah ditemukan dan telah digunakan dalam skala penuh pada suatu peperangan. Namun, senjata meriam tersebut memiliki jangkauan yang sangat pendek dan beban yang sangat berat.
Karenanya, senjata meriam hanya dapat digunakan untuk pertempuran antar kapal perang sehingga dapat memilki efektivitas yang sangat baik.
Tentu saja, di dunia game ini, pelontar batu lebih memiliki andil dalam pertempuran pengepungan karena lebih mudah untuk dibawa dan memiliki jarak serangan yang sangat jauh.
Sebenarnya, Ares menginginkan untuk mengembangkan meriam agar memiliki jarak serangan yang lebih jauh, namun ia menghapus pemikiran tersebut karena ia tidak ingin terlalu mencampuri dunia game yang telah memiliki latar seperti itu.
Singkatnya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan akibatnya apabila ia mengembangkan senjata seperti itu. Juga, mengembangkan persenjataan yang melampaui zamannya akan menyebabkan banyak kematian yang sia-sia dan dapat menjadi pedang bermata dua bagi Ares nantinya.
Don pun pergi meninggalkan lapangan dan menuju gedung dengan 3 lantai yang berada di salah satu sudut benteng.
Ketika ia mencapai halaman gedung, Don melihat salah satu kadet prajurit dengan rambut pirang yang mengikat seekor kuda di balok kayu yang mengenakan seragam militer yang terlihat sangat kotor.
"Arthur, bersihkan dirimu sebelum memasuki barak," ujar Don heran.
Karena terkejut dengan suara yang berasal dari balik tubuhnya, Arthur pun dengan panik berbalik lalu memberi hormat sembari berkata, "Ya, Pak!"
Don memiliki sedikit ketertarikan dengan Arthur karena ia merasa bahwa Arthur memiliki sesuatu yang berbeda saat menemukannya hendak mati kelaparan di distrik kumuh Kota Ereth.
"Apakah kamu ingin bertemu dengan Tuan Muda?" tanya Don penasaran.
"Ti—tidak, Pak! Saya masihlah seorang kadet!" jawab Arthur dengan gelisah.
Karena perasaan yang aneh tersebut, Don merasa bahwa akan sia-sia meninggalkan dirinya di tempat seperti ini. Lalu, ia pun berkata seolah memaksanya, "Ikut saja denganku besok. Jika Tuan Muda mengenali bakatmu, ia bisa saja menunjukmu menjadi salah satu pengawalnya. Juga, melihatnya dari dekat mungkin akan mengubah perspektifmu yang sangat sempit itu."
Arthur merasa bahwa ia tidak dapat menolak lebih lanjut permintaan Jenderal Tertinggi Tentara Margrave Rueter, ia pun dengan gelisah berkata, "B—baik, Pak!"
Entah mengapa, Don memiliki perasaan yang lega. Ia pun berbalik dan memasuki gedung untuk menyelesaikan beberapa dokumen reorganisasi tentara yang masih belum diselesaikannya.
...----------------...