
Tahun 1236, 10 Mei.
Jalan Utama, Wilayah Duke Linius.
Sebelum Matahari Terbit.
"...seperti itu," ujar Ares dengan lugas.
CRASH!
"Argh!"
"A—apakah Natrehn benar-benar akan melakukan itu, Tuan?" tanya Gnery yang terlihat gemetaran.
JLEB!
"Ugh!"
"Hm? Itu benar, kau tahu? Bukankah aku telah menjelaskannya sebelumnya?" tanya Ares kembali karena keheranan.
"Aaarrgghh!"
"Ta—tapi... saya benar-benar tidak dapat membayangkan apabila Natrehn akan menyerang kami hanya dalam waktu kurang dari dua tahun apabila kami tidak bergerak," jawab Gnery dengan gemetaran.
"Hmm... tunggu sebentar," jawab Ares yang kebingungan bagaimana menjawab Gnery.
Ares pun mengarahkan pedangnya menuju leher orang yang telah dia tahan di tanah dengan kakinya.
JRASH!
Kepala bandit tersebut segera menggelinding di tanah dari tempat lehernya berada.
"Yah, singkatnya, karena pengaruhku yang semakin besar, mereka mengira politik kerajaan akan semakin kacau karena perebutan tahta yang semakin intens diantara 4 pewaris tahta sehingga tidak mungkin bersatu untuk melawan musuh asing seperti Natrehn," jawab Ares.
"Aaaaahhhh!"
Melirik kembali menuju sumber suara, Ares menemukan tunangannya yang saat ini berlumuran darah dengan banyak bandit yang tewas di sekitar tempatnya berdiri.
"Sudah selesai?" tanya Ares yang keheranan.
"Muu, jika kamu berkata seperti itu..." jawab Excel yang menatap Ares dengan tatapan seolah berharap.
Karena tidak mendapat respon positif dari tunangannya, Excel segera menebas leher seorang bandit yang saat ini tidak berbentuk seperti manusia lagi.
JRASH!
Seketika, bandit tersebut meregang nyawa dengan tatapan yang sangat lega karena telah terbebas dari penyiksaan Excel.
Excel pun segera menyarungkan kembali pedangnya dan berlari menuju Ares.
"Gnery, lagipula, mengapa kau terus saja mengikuti kami?" tanya Excel dengan sebal.
Gnery segera memberanikan dirinya untuk menjawab meskipun dia sangat ketakutan karena mereka bertiga yang baru saja bercakap-cakap dengan riang gembira sembari membantai 30 bandit yang menyerang mereka.
"I—itu... dikarenakan Anda yang merupakan seorang Putri, Yang Mulia. J—juga, saya tidak mungkin meninggalkan Tuan Ares tanpa satupun penjagaan," jawab Gnery dengan sangat ketakutan.
"Lagipula, kamu hanyalah beban dalam perjalanan ini, kau tahu? Bahkan, tunanganku yang selalu memasak selama perjalanan ini," ejek Excel dengan mendengus kesal.
Tidak dapat membantah perkataan Excel yang sangat tepat tersebut, Gnery hanya dapat terdiam karena sangat malu dan memiliki perasaan yang sangat rumit. Sebenarnya, jika itu hanya dua atau tiga bandit, Gnery bisa saja menghadapi mereka dengan mudah.
Namun, itu sangat berbeda apabila tiga melawan tiga puluh orang yang menyebabkan Ares bertarung sembari melindunginya meninggalkan Excel yang membantai ria para bandit tersebut.
"Nah, tuliskan pesan yang tadi telah kusampaikan padamu dan kembalilah menuju Kota Ereth lalu serahkan surat tersebut kepada Don," sela Ares karena melihat konflik diantara mereka berdua.
"Eh?! Apakah Anda benar-benar akan menyerang Natrehn dengan cara itu, Tuan?! Bukankah itu benar-benar sangat licik?!" tanya Gnery seolah tidak percaya.
"Hm? Itu benar. Jadi, kembalilah setelah matahari terbit, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi," balas Ares dengan mengusirnya.
"Guh," timpal Gnery seolah kalah.
"Juga, bersihkanlah semua mayat ini. Aku akan mandi seperti biasanya, pakaianku saat ini sangat kotor," ujar Excel sembari menarik tangan Ares.
"...ya," timpal Ares dengan lesu.
"Ayo!" teriak Excel dan pergi dengan menarik lengan tunangannya.
Melihat mereka berdua yang pergi menjauh dengan bergandengan tangan, Gnery hanya dapat berharap jika ia tidak mengalami penurunan pangkat lagi.
Dalam perjalanannya menuju sungai yang berada tak jauh dari jalan utama, Excel bertanya karena rasa penasarannya, "Rencana apa itu?"
"Hmm, hanya mengadu domba para pangeran agar mereka menggerakkan tentara reguler untuk menyerang Natrehn saat Natrehn menyerang konfederasi. Jika ibukota telah benar-benar kosong, kami akan mengkudeta Ectave sembari mengurangi kekuatan Natrehn, konfederasi, serta para pangeran," jawab Ares seolah malas.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan barbarian yang tinggal di utara Natrehn?" tanya Excel kembali.
Ares hanya tersenyum kepada Excel. Lalu, ia pun berkata, "Yah... rahasia," sembari tersenyum kembali.
"Muh! Pijat bahuku lagi!" teriak Excel yang sebal.
"Ya, ya, ayo buka bajumu," ujar Ares yang malas.
"Oke!" jawab Excel dengan riang.
Setelah mencapai sungai dan mengecek tidak ada orang di sekitar, Ares segera melakukan apapun permintaan gadis egois yang saat ini telah menjadi tunangannya.
Tentunya, karena merupakan tunangan serta calon istri sahnya, Ares tidak dapat menyentuh Excel yang membuatnya sangat lesu.
Bagi seorang bangsawan, berurusan dengan seorang wanita yang merupakan istri sah sangatlah rumit apabila dibandingkan dengan selir maupun gundik. Jika ia melakukan sesuatu yang salah terhadap tunangannya tersebut, itu dapat meretakkan hubungan kedua rumah bangsawan yang juga dapat menyebabkan nama baiknya jatuh.
Namun, setelah bergerak selama beberapa jam menuju Wilayah Rueter, Ares memerintahkan para prajuritnya untuk tetap bergerak menuju wilayahnya dan berpisah dengannya yang membuat para ksatrianya menjadi sangat panik.
Tentu saja, hal ini dilakukannya untuk mengelabui para bangsawan agar berpikir bahwa dia berada di wilayahnya sendiri.
Tidak dapat melawan nafsu membunuh dari tunangan Tuannya, para ksatria pun menurutinya dan segera meminta Gnery dan bawahannya untuk mengikuti Ares dan Excel setelah mereka pergi cukup jauh.
Bertentangan dengan harapan Gnery, kelompoknya dapat ditemukan dengan sangat cepat oleh Tuannya yang membuatnya hendak dibunuh oleh Excel. Namun, Ares segera menghentikannya dikarenakan Gnery yang merupakan salah satu bawahan elitnya.
Untuk menghilangkan kekesalan Excel, Ares membuat unit Gnery menjadi pesuruh mereka berdua selama perjalanannya beberapa hari terakhir sembari mengusir mereka satu persatu yang membuat Excel menerimanya meskipun ia cemberut.
Setelah memijat bahu Excel dimana ia tidak mengenakan satupun helai pakaian, Ares menunggunya di tepian sungai sembari melihatnya mandi.
Hanya satu hal yang terlintas di benak Ares saat mengamati tunangannya yang sedang membasuh tubuhnya.
Kecil.
Ya, bagi Ares, itu tidak dapat dibandingkan dengan milik Sena ataupun Mia.
Segera, ia mengalihkan pikirannya karena merasa sia-sia memikirkan hal tersebut.
Hmm, apakah aku harus bertemu dengan Duke Linius mengingat mereka yang juga merupakan rumah asal ibu Excel?
Tapi... aku sedang berada dalam penyamaran...
Yah, ayo tanya pendapat gadis telanjang ini mengenai apa yang harus kita lakukan setelah ini.
Setelah melihatnya menyelesaikan urusannya, Excel pun mendekati Ares sembari berkata, "Tolong!"
Mendengarnya, Ares hanya dapat dibuat menghela napas dalam. Ia pun segera membuka tas yang dibawanya dan mengambil pakaian yang telah dibelinya di ibukota.
Melilitkan kain yang digunakan sebagai pakaian dalam di tubuhnya dan mengenakannya baju, Ares hanya dapat mendesah karena tunangannya yang tidak dapat melakukan satupun hal dengan mandiri.
"Uh, ini sangat tidak nyaman seperti biasanya," ujar Excel dengan sedikit sebal.
"Tolong tahan untuk sementara, kami sedang menyamar agar terlihat seperti orang biasa. Juga, bukankah kamu sangat menginginkan berpetualang seperti ini, Excel?" timpal Ares.
"Itu benar," balas Excel cepat.
"Jadi, tolong tahanlah untuk sementara. Oh, benar. Bagaimana jika kami mengunjungi Duke Linius, Excel? Bukankah kamu harus mengunjungi rumah ibumu?" tanya Ares dengan kebingungan.
Excel pun segera mengerutkan keningnya dan memiliki tatapan sedih. Seketika, Ares menyadari bahwa ia telah menginjak ranjau darat.
"Maaf..." sesal Ares dengan menundukkan kepalanya.
Dengan menggelengkan kecil kepalanya, Excel berkata, "Um... tidak, tidak apa-apa."
Ares hanya dapat terdiam karena tidak mengerti harus berkata apa. Melihat tunangannya yang menyesal, Excel berkata, "Mungkin... aku harus sedikit menceritakan masa laluku."
"Jika kamu tidak ingin... kamu tidak perlu menceritakannya," timpal Ares dengan nada menyesal.
Excel merasa harus tetap menceritakannya agar Ares benar-benar mengenal jati dirinya yang sebenarnya.
Ia pun membalikkan tubuhnya ke arah matahari yang sedang terbit lalu berkata, "Ibuku... sebenarnya telah dibuang dari Keluarga Linius dengan menikahkannya pada ayahku, Keluarga Kerajaan Rowling, karena Duke saat itu yang tidak dapat membuang ibuku secara langsung dimana ia merupakan anak yang lahir dari istri sahnya. Itu juga dikarenakan ayahku mendapat dukungan besar dari Duke Linius saat ia naik tahta sehingga ia berhutang budi pada Duke."
"Dulu... sebenarnya aku memiliki seorang pelayan yang sangat dekat denganku karena ia juga bertugas untuk mengurus ibuku. Beberapa waktu berlalu, aku pun tumbuh hingga berusia lima tahun dimana ayahku tidak sedikitpun berinteraksi denganku meskipun kami hanya menjaga formalitas semata... bahkan, tidak ada satupun pelayan dan ksatria yang mendekati kami selain dari pelayan tersebut," sambung Excel dengan sedikit meneteskan air mata.
"Saat itu, aku bahkan belum menyadari bahwa ibuku tidak pernah menghadiri satupun acara kenegaraan bersama para royalti lainnya," sambung Excel.
"Sampai malam itu tiba, pelayan ibuku mengendap-endap ke kamar ibu dimana ibuku tidur bersamaku. Ia pun segera menusukkan belati disaat ibuku masih tertidur..." sambung Excel yang mulai meneteskan air mata lebih deras.
Meskipun Ares sedikit terkejut dikarenakan pengumuman resmi Keluarga Kerajaan Rowling yang mengatakan bahwa ibu Excel meninggal karena sakit, ia segera menepis pikirannya dengan mendekati Excel dan memeluk erat padanya.
"Karena aku terbangun pada saat itu, aku segera mengambil belati yang menusuk ibuku dan membunuhnya karena perasaanku yang dipenuhi oleh amarah. Saat itu, aku benar-benar takut... karena hatiku mulai berubah sedikit demi sedikit..." sambung Excel yang terisak.
"Saat diberitahu oleh seorang ksatria wanita yang diam-diam bersimpati denganku, ibuku dibunuh oleh Duke Linius dan ayahku sendiri... Jika kamu mengetahui apa penyebabnya... itu dikarenakan ibuku... memiliki warna mata yang berbeda seperti yang dimiliki Esther," sambung Excel dengan terisak.
Seketika, Ares menjadi terkejut kembali karena ia benar-benar tidak menyangka apabila ibu Excel memiliki kondisi seperti Esther.
"Maaf," sesal Ares dengan erat memeluknya.
"Melihatnya kembali, aku benar-benar ingin membuat Esther membalas dendam dikarenakan aku yang mengingat perlakuan yang diterima oleh ibuku. Juga... itu dikarenakan aku yang tidak dapat membunuh Duke serta ayahku dengan tanganku sendiri," balas Excel yang terisak.
"Saat itu... aku baru saja mengerti tentang julukan 'Anak yang Dikutuk oleh Iblis' yang disematkan kepada ibuku dari para pelayan istana ketika aku mendengar mereka berbicara di belakangku... karena aku yang ingin melupakan ibuku, aku mulai berlatih dengan keras agar aku tidak mendengar lagi kata-kata 'anak yang lahir dari seorang anak terkutuk' dari para pelayan dan pejabat yang berbicara di belakangku. Setelah aku membunuh beberapa orang tersebut, sudah tidak ada lagi yang memanggilku dengan nama seperti itu..." sambung Excel yang menangis.
"Ketika aku ingin menyingkapkan kebenarannya... aku benar-benar tidak dapat melakukannya karena kematian ibuku yang telah direncanakan sebelumnya sehingga terlihat sangat normal," sambung Excel.
"Meskipun... aku menyadari bahwa aku adalah seorang wanita yang keji dan kotor karena lahir dari seorang anak terkutuk... tetap saja... tolong... jangan pernah pergi dariku..." sambung Excel sembari menatap Ares dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku... sudah tidak memiliki siapapun lagi..." sambung Excel dengan meletakkan wajahnya di dada Ares sembari terisak.
"Ya... aku tidak pernah dan tidak akan pernah menganggapmu seperti itu," jawab Ares lugas dengan erat mendekap tubuhnya.
"Begitu... terima kasih," timpal Excel dengan nada yang terdapat kelegaan di dalamnya.
Tentu saja, rumor mengenai ibu Excel tidak pernah keluar dari istana dikarenakan telah terjadi regenerasi pelayan istana dan pembungkaman oleh Keluarga Kerajaan. Karenanya, ratu ketiga hanya dikenal sebagai seorang wanita bangsawan normal yang meninggal karena sakit.
Mendengar cerita Excel, Ares benar-benar ingin memukul kepala developer game ini sekali lagi. Ia benar-benar berpikir agar developer tidak membentuk karakter yang dipaksakan hanya untuk meraup keuntungan semata.
...----------------...
Catatan :
Besok up 4 chapter!
...----------------...