
Tahun 1237, 5 April.
Wilayah Perbatasan Utara Kerajaan Natrehn.
Siang Hari.
Di bawah langit cerah musim semi, Thorgils sekali lagi memandang penuh kekaguman terhadap bangunan fisik benteng yang dahulu digunakan Tentara Natrehn untuk melindungi perbatasan dari ancaman serangan para barbarian.
Bagian luar benteng tersusun rapi atas bebatuan hingga terlihat sangat indah, beberapa lukisan serta dinding interior benteng yang dicat hijau sangat memberikan perasaan nyaman, Thorgils seolah tidak pernah puas memandang segala sudut benteng walaupun dia telah mendiaminya sejak dua pekan terakhir.
"Paman!" Astrid sekali lagi berteriak akibat Thorgils yang tak kunjung memberinya perhatian.
Merasa sedikit terganggu, Thorgils mengalihkan wajahnya ke belakang dan menemukan Astrid yang mengenakan sebuah gaun biru tertutup yang beberapa hari lalu ia temukan di salah satu kamar tidur benteng.
"Mengapa kau mengenakannya?" Kening Thorgils memiliki kerutan kecil, pun salah satu alisnya terangkat karena menilai pakaian tersebut sangat tidak cocok dikenakan Astrid.
"Hah?! Aku mendengar dari Mary bila gaun ini sangat cocok bila aku mengenakannya! Setidaknya, pujilah aku!" Kata-kata Marie sangat beracun bagi Astrid, yang akan segera ia lakukan bila itu menyangkut masalah penampilannya.
Hal ini tidak lain dikarenakan perasaan terdalam Astrid yang menginginkan agar Ares sedikit memperhatikannya, hingga dia melakukan apapun yang benar-benar dapat memperbaiki penampilannya.
Beberapa pukulan ringan Ares entah mengapa sangat membuatnya merasakan kenikmatan, Astrid sangat menginginkan bila Ares juga dapat memberinya seorang keturunan, yang baginya akan menjadi sosok yang sangat kuat karena juga berasal dari benih orang kuat.
Mendengar salah satu nama bawahan Gnery—atau Ares yang berada dalam penyamaran—tersebut, Thorgils menghela napas berat.
Meskipun dia sangat menilai Ares sangat tinggi, Thorgils sangat tidak menginginkan bila ia diharuskan untuk berinteraksi dengan Mary—atau Marie yang berada dalam penyamaran—yang saat ini berperan sebagai penasehat gerakan invasi para pejuang barbarian.
Tentu, Marie pasti akan melaksanakan segala perintah yang telah diberikan oleh Tuannya dengan sempurna. Meskipun begitu, dia akan melakukan apapun yang dia inginkan, meskipun itu tidak akan mengganggu misinya.
"Ya, ya, kau sangat cantik seperti ibumu, jadi pergilah." Thorgils dengan acuh tak acuh berbalik kembali untuk menatap sudut eksterior suatu bangunan yang terpahat membentuk seekor singa kecil di hadapannya.
"Awas saja kau, Paman!" Astrid mendengus kesal, dia melangkah pergi dengan penuh kekesalan.
Beberapa saat memandang, suara langkah kaki perlahan mendekat. Secara naluriah, Thorgils memperhatikannya meskipun dia tetap menatap beberapa ornamen batu di hadapannya.
"Pak Tua, meskipun aku juga tertarik dengan hal itu, apakah kau tidak bosan selalu memperhatikannya?" Moldan sedikit kagum dengan antusiasme Thorgils, meskipun dia juga memiliki antusiasme tersendiri terhadap seni di luar kebudayaan para barbarian.
Thorgils berbalik, dia menemukan Moldan yang memanggul greatsword di atas salah satu bahunya, "Daripada itu, apakah kalian telah menguasai desa-desa di selatan?"
"Pasukanku hanya menyerang hingga desa di dekat sungai besar tak jauh dari benteng ini. Seperti yang Mary katakan, pasukan kita akan tamat bila menyerang hingga melewati sungai itu," jawab Moldan.
"Tawanan?" tanya Thorgils kembali.
Moldan mengangkat pedang dan menancapkannya di atas tanah, kedua matanya pun tertutup seolah ekspresinya menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui apapun terhadapnya, "Tidak ada, sama sekali."
"Hmm... aneh." Thorgils sedikit mengerutkan keningnya, dia membelai jenggotnya dengan ekspresi heran.
Lebih dari dua pekan telah berlalu semenjak para barbarian menginvasi benteng yang menjadi Basis Pertahanan Utara Kerajaan Natrehn terhadap serangan sporadis para barbarian di perbatasan.
Tiga hari setelahnya, Mary—atau Marie—memberikan sebuah instruksi dimana para barbarian dilarang untuk melakukan invasi hingga melewati sungai besar di selatan benteng.
Tentu, hal ini bukanlah tanpa alasan. Ares memerintahkan Marie untuk menahan gerakan para barbarian bila mereka telah menguasai perbatasan utara.
Hal tersebut disebabkan oleh tujuan Ares yang menghendaki penggabungan Wilayah Natrehn serta wilayah yang menjadi tempat tinggal banyak suku-suku barbarian di utara.
Akan menimbulkan sebuah konflik besar bila para barbarian melancarkan invasi yang dapat menjadi sebab timbulnya dendam diantara dua kelompok masyarakat.
Terlebih lagi, Ares memerintahkan para bawahan Marie—yang tidak diketahui oleh para pejuang barbarian—untuk memaksa para warga desa di perbatasan utara untuk mengungsi dengan mengancam mereka terkena imbas invasi barbarian sebagai keamanan ekstra agar hal yang sangat tidak diinginkannya tidak terjadi.
Pada awalnya, para kepala suku yang menjadi pemimpin pejuang sangat tidak setuju terhadapnya. Namun, akibat dari peringatan Marie yang mengatakan bahwa mereka tidak akan memenangkan perang tanpa senjata militer canggih, para kepala suku dengan terpaksa menutup mulutnya dan tidak lagi mengajukan keberatan.
Terlebih lagi, setelah mendapatkan banyak barang jarahan berupa pasokan gandum yang tersedia di banyak desa serta gudang makanan benteng, harta-harta yang berlimpah, dan banyak hewan ternak, para barbarian telah merasa sangat puas.
Tidak hanya itu, mereka telah mengambil alih tanah subur yang sangat luas setelah menguasai banyak desa-desa Natrehn di perbatasan yang semakin menambah kepuasan mereka.
"Aku juga merasa seperti itu, Pak Tua. Yah, tidak perlu terlalu dipikirkan," timpal Moldan seolah tidak peduli.
Thorgils kembali menatap Moldan dengan ekspresi curam, ada tanda tanya besar di dalam benaknya setelah berulang kali mendapatkan laporan yang sama.
"Apa?" Moldan sedikit heran dengan pria tua di depannya yang secara tiba-tiba mengubah ekspresinya.
"Apakah kau melihat gerakan musuh di seberang sungai itu?" Thorgils menatap Moldan dengan tajam, membuatnya tidak dapat menjawab secara asal-asalan.
Moldan mengencangkan ekspresinya, sedikit terintimidasi dengan tatapan tajam pria di hadapannya yang memiliki tinggi hingga melebihi dua meter tersebut, "Tidak."
"Lagipula, jika saja hal buruk itu terjadi, Mary memerintahkan agar kita berlindung di dalam benteng serta menembak mereka dengan batu-batu besar sekali lagi," sambung Moldan.
"Aku harap itu tidak akan pernah terjadi." Thorgils melemaskan ekspresinya, ia kembali menolehkan wajahnya untuk sekali lagi menatap ornamen di hadapannya.
Sejenak tersenyum, Moldan sedikit memiliki perasaan senang karena suku-suku barbarian dapat bersatu, meskipun itu dikarenakan adanya gangguan dari pihak eksternal.
Namun, ada kepercayaan kuat yang terukir di dalam hatinya setelah berbincang dengan Ares kala itu. Moldan sangat berharap jika Ares dapat menjadi pembimbing bagi para barbarian agar dapat memiliki kehidupan yang lebih baik.
"Aku pergi." Mengangkat kembali Greatswordnya yang tertancap di atas tanah, Moldan melangkah pergi.
"Tunggu." Kata-kata Thorgils sejenak menahan langkah Moldan, hingga dirinya kembali berbalik menghadap Thorgils.
"Katakan pada Alfr untuk menjadi perwakilan kita bersama dengan Astrid," ujar Thorgils.
"Kenapa?" Moldan sedikit memiringkan kepalanya, dia sedikit bingung mengenai saran penunjukkan perwakilan yang akan bertemu dengan Ares sekitar satu bulan ke depan.
"Aku hanya merasa dia tidak terlalu terikat dengan budaya kita, aku berpikir jika Alfr setidaknya dapat menjadi jembatan kita dalam menjalin hubungan dengan bangsa lain," jawab Thorgils.
"Begitu." Moldan sedikit mengangkat salah satu sudut mulutnya.
Pada dasarnya, Moldan memiliki penilaian yang sama terhadap Alfr, yang mana akan sangat membantu suku-suku barbarian jika mereka ingin membuka diri ke dunia luar.
Bagi Moldan, yang tidak berbeda dengan pendapat para pejuang lain, melihat ornamen indah di dalam benteng membuat mereka sangat membuka lebar kedua matanya.
Terlebih lagi, setelah merasakan kehebatan senjata militer canggih, Moldan tentu mengerti bila dunia luar telah meninggalkan mereka.
Bahkan, beberapa orang telah menangguhkan cara berpikir konservatif mereka dan benar-benar menginginkan untuk mempelajari teknologi dan seni dunia luar, khususnya para pejuang yang berasal dari Suku Selatan.
Kembali berbalik, Moldan pun melangkahkan kakinya menjauhi Thorgils dengan perasaan yang ringan.
Aku harap, kehidupan kami dapat menjadi lebih baik daripada saat ini.
Masa-masa dimana kelaparan, kedinginan, perebutan tanah subur, dan pengorbanan ritual tidak lagi terjadi... aku benar-benar sangat menginginkan bila itu menjadi sebuah kenyataan...
Jadi, tolong, tepatilah kata-katamu.
Karena kami akan berdiri di garda terdepan bila ada seseorang yang ingin mencelakaimu.
...----------------...