
Tahun 1236, 4 Juli.
Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.
Malam Hari.
Hening.
Tidak ada satupun anggota klan yang bergerak untuk menyerang Ares.
Mereka tahu, kekuatan senjata rahasia klan yang sangat besar. Tidak mungkin bagi mereka untuk mendekati target, yang kemungkinan besar mereka juga akan ikut terbunuh.
Mata terpejam, tangannya menarik tali busur dengan posisi yang siap untuk ditembakkan. Menunggu sejenak hingga mencapai titik fokus dan ketenangan dirinya.
Lean pun menarik dalam napasnya lalu perlahan mengeluarkannya, "Fuuhh..."
Mata kirinya seketika terbuka meninggalkan mata kanannya yang tetap tertutup. Membidik, Lean pun melepaskan tali busurnya yang menyebabkan sebuah anak panah melesat menuju target—yang mana Lean tidak mengeluarkan sedikitpun nafsu membunuh dan hawa keberadaan.
Berbeda dengan Ares yang tetap mengukir senyuman di wajahnya saat dirinya berada di dalam gerbong kereta kuda. Ia pun mundur dengan kecepatannya hingga punggungnya menabrak pintu di sisi lain.
BLAR!
Berselang kurang dari 2 detik, gerbong kereta seketika hancur. Namun, itu tidaklah meninggalkan satupun bekas pada tubuh Ares yang telah terjatuh ke sisi lain gerbong kereta.
Matanya masih saja meneteskan darah, Ares merapal "Appraisal," pada senjata yang saat ini berada dalam genggaman Lean.
......................
...[Item]...
Nama : Zarrex Bow
Kelas : Arcana
Efek :
Keahlian Senjata +24
Kelincahan +24
Tubuh –30
Efek Khusus :
Keahlian Senjata +25 (30 menit, cooldown 1 jam)
Kelincahan +20 (10 menit, cooldown 15 menit)
Critical Rate +15% (setiap serangan)
Attack Speed +30% (setiap serangan)
Real Damage
Cooldown Hit 120 secs
......................
Busur itu... tidak pernah berubah, bukan?
Senyuman masam terukir di atas wajahnya. Ares mengingat tembakan anak panah dari busur tersebut yang dialami karakternya di dalam permainan. Satu tembakan anak panah dari busur tersebut berefek langsung pada statistik yang dimilikinya, seolah tidak mempedulikan semua statistik tambahan dari senjata yang digunakannya.
Singkatnya, one hit kill pasti akan terjadi jika Ares terkena serangan secara langsung.
Karena senjata tersebut yang terlampau kuat, mayoritas para pemain meragukan busur tersebut hingga banyak dari mereka mengirimkan petisi agar developer melakukan nerf pada senjata tersebut. Pada akhirnya, developer game pun mengurangi efek dan menurunkan kelasnya yang menyebabkan hanya ada 5 senjata tingkat Phantasmal di dunia ini.
Bangkit dengan melompat, Ares segera diterjang oleh 5 pembunuh sekaligus. Namun, mudah bagi Ares—yang memiliki kelincahan melebihi 150 poin—untuk menghindar dan segera membuat mereka jatuh pingsan.
Meskipun Lean menggenggam kekuatan yang luar biasa, namun dia tetap tidak dapat menembak secara asal-asalan.
Seorang pembunuh bayaran professional selalu memiliki kode etik untuk membunuh tanpa meninggalkan jejak, yang mana efek dari tembakan anak panah tersebut dapat menghancurkan hingga dinding mansion yang dapat meninggalkan bukti berupa suara—meskipun anggota klan dapat dengan cepat menyamarkan bukti dampak kerusakan pada dinding—sehingga Klan Cornwall sangat jarang menggunakan busur tersebut dalam operasinya.
Apabila Ares dan Lean bertarung di dalam suatu medan perang, peluang kemenangan Ares akan turun drastis disaat Lean telah mengeluarkan busurnya. Ares tentu mengetahui jika Lean memiliki batasan tersebut, yang menyebabkan gerakannya selalu mendekati pagar-pagar mansion di sisi jalanan—yang terarah menuju tempat Lean berada karena dirinya merupakan penyerang jarak jauh.
Tetap saja, pihak Cornwall telah menyiapkan antisipasi jika Ares melakukan hal tersebut.
"Gale," perintah Lean.
"Roger," timpal Gale.
Melepas jubah hitamnya dan mengambil dua belati yang tersarungkan di balik tubuhnya, Gale segera melesat menuruni atap bangunan untuk mendekati Ares bersamaan dengan Lean yang bergerak menjauh.
Tap.
Tap.
Tap.
Efek dua belati yang sedang digenggamnya membuat kecepatan Gale meningkat pesat. Berlari menapaki pijakan-pijakan kecil yang ada di dinding bangunan. Segera berkumpul dengan 7 anggota klan lain yang berlari ke titik yang sama, Gale pun memberi perintah, "Formasi H."
Enam orang segera berpencar untuk menyerang Ares meninggalkan Gale hanya dengan satu orang pembunuh. Seolah tak ingin tertinggal, Empat anak panah segera melesat menuju Ares.
Melihat dirinya yang telah terkepung dari segala penjuru dengan 8 orang anggota klan—dimana masing-masing 2 pembunuh berada di depan, belakang, kedua sampingnya, beserta empat anak panah dari atas—terkecuali Lean dan 4 pemanah yang bersiaga di atas gedung, Ares hanya dapat tersenyum gembira.
Apakah kalian sangat ingin melindungi Sang Penembak Jitu?!
Baik, tidak masalah!
Mari bersenang-senang!
Tidak tahu ke mana harus pergi, Ares memutuskan untuk mengarahkan Rapiernya yang tersarungkan dan menerjang ke depan.
DUK!
Tusukan yang sangat kuat menuju ulu hatinya.
BRUK!
Tidak ada yang dapat menahan kekuatan seseorang dengan statistik luar biasa seperti Ares. Pembunuh itupun segera terpental mundur hingga menabrak dinding pagar mansion di pinggir jalan yang menyebabkan dirinya seketika jatuh pingsan.
Tentu saja, kemampuan Appraisal Ares selalu dalam keadaan aktif. Karenanya, dia merasakan sesuatu yang salah saat dirinya tanpa sengaja melihat status milik Gale.
Amarah.
Hawa panas mulai muncul menyelimuti hati Ares. Dia pun segera menendang kedua kakinya untuk menerjang dengan melompat yang menyebabkan Gale sangat terkejut disaat tangan kiri Ares telah menarik kerah pakaiannya.
Eh?
Sejak kapan?
Tidak dapat bereaksi, tubuh Gale sejenak mematung.
Seketika, kedua mata Ares menatap kosong. Dengan nada lirih namun penuh dendam, Ares berkata, "Untuk ukuran seorang pria... bukankah dadamu terlalu besar?"
"Eh?" timpal Gale yang bingung.
BAK!
"Argh!" teriak Gale.
BRAK!
Tubuh Gale pun melesat hingga menabrak dinding pagar mansion di pinggir jalan setelah Ares menebasnya dengan Rapier yang tersarungkan.
Apa yang akan terjadi kepadamu disaat kamu hanya memiliki statistik tubuh yang berkisar pada angka 100—karena pertambahan efek dua belati—sedangkan musuhmu memiliki statistik tubuh dan keahlian senjata yang hampir dua kali lipat darimu dengan efek Life Steal dan Critical yang sangat besar?
Tentu saja, kematian.
Namun, hal tersebut tidak terjadi mengingat Gale yang masih merupakan anggota Klan Cornwall yang menyebabkan Ares sedikit menahan kekuatannya. Tetap saja, hal tersebut membuat beberapa tulangnya patah.
Gale, yang sedari tadi sangat sibuk mempersiapkan serangan malam, tentu saja melupakan dirinya yang masih berpakaian selayaknya seorang wanita normal meskipun seragam pelayan wanita istana telah ditanggalkan olehnya—yang mana dadanya diperlihatkan secara lugas.
Perasaannya telah kacau, Ares sudah tidak memiliki motivasi untuk bersenang-senang yang menyebabkan dia membantai 7 orang yang tersisa hingga mereka pingsan.
Gerak cepat menaiki atap bangunan dimana empat pemanah berada, Ares menusukkan Rapiernya yang tersarung menuju ulu hati seorang pemanah dengan sekuat tenaga hingga tiga orang di belakangnya terdorong menjauh.
Jatuh dari atap bangunan. Ares merasa para pemanah tidak akan mengganggu dirinya lagi, ia pun segera berbalik dan berlari menuju tempat Lean berada.
WOOSSH!
Anak panah sekali lagi ditembakkan oleh Lean. Dalam dua detik, anak panah tersebut segera melesat ke tempat kepala Ares sebelumnya berada—yang hanya dihindarinya dengan memiringkan kepalanya.
Tentu, tidak ada suara yang akan timbul karena ditembakkan ke langit—dimana Ares berada di atas atap suatu bangunan—yang menyebabkan Lean dapat menembakkan anak panah dengan leluasa.
Hah?!
Bagaimana bisa?!
Lean, yang menembakkan anak panah dari jalanan di dekat gerbong kereta kuda yang telah hancur, hanya dapat tercengang. Dirinya tidak pernah sekalipun melihat seseorang menghindari anak panah yang melesat dari senjata rahasia klan sebelumnya.
Ares tidak membuang kesempatan. Berlari menuruni atap sembari melompat tinggi, Ares pun segera menghunuskan Rapier ke arah leher Lean dengan posisi yang akan menusuknya sesaat setelah Lean pulih dari keterkejutannya.
Empat detik.
Waktu yang dibutuhkan Ares menuruni gedung sembari melompat. Seolah tidak percaya dengan kejadian sebelumnya, meskipun lehernya akan tertusuk, Lean bertanya, "Bagaimana..."
"Maaf, perasaanku sedang kesal. Aku tidak akan menjawabnya," jawab Ares.
"Oh..." timpal Lean yang masih takjub.
Tatapannya segera melirik tiga ksatria pengawal di belakangnya. Ares pun menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan yang membuat hatinya sedikit tenang.
"Jadi, bagaimana menurutmu, Kepala?" tanya Ares acuh tak acuh.
"Eh?" ujar Lean yang terkejut.
Sang Kusir perlahan bangkit dengan menahan tubuhnya menggunakan kedua tangannya. Dengan tatapan seolah tidak percaya, dia bertanya, "Bagaimana Anda dapat menyadarinya, Margrave?"
"Yah... rahasia perusahaan," jawab Ares.
Melepas segala penyamarannya, Connor pun segera berlutut sembari berkata, "Kami, Klan Cornwall, bersumpah setia kepada Anda serta keturunan yang telah Anda tunjuk untuk dilayani dengan prasyarat sesuai dengan hal yang telah Anda katakan sebelumnya."
"Kontrak disetujui," timpal Ares.
Ares pun menarik kembali Rapiernya dan mengaitkannya di pinggul kanannya. Sembari melangkahkan kakinya untuk pergi, Ares memberi perintah, "Bersihkan tempat ini."
"Akan," timpal Connor dengan menundukkan dalam kepalanya disaat dia masih berlutut.
Melihat Ares yang telah pergi menjauh, Connor—Kepala Klan Cornwall—melihat Lean tetap memiliki ekspresi seolah tidak percaya saat memandangnya.
Lean—yang bahkan merupakan salah satu anggota terbaik klan—tidak menyadari penyamaran Connor yang membuatnya sangat tercengang.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Connor heran.
"Tidak... tidak ada, Kepala," jawab Lean.
"Begitukah? Tetap saja, aku tidak pernah menyangka bahwa Tuan memiliki kekuatan sebesar itu," timpal Connor.
Terdiam, Lean tidak mengerti bagaimana harus memberikan tanggapan mengenai kekuatan Ares. Namun, dirinya segera tersadar akan sesuatu hal yang sangat penting.
Melangkahkan kakinya secara perlahan—
"Hukuman akan diberikan kepadamu karena telah menggunakan senjata rahasia yang seharusnya hanya digunakan dalam keadaan terdesak," ujar Connor dengan acuh tak acuh.
Tertunduk lesu, Lean hanya dapat membalas, "Baik..."
Tatapan mata Connor teralihkan memandangi langit gelap yang diterangi oleh bulan serta puluhan bintang. Mengingat masa lalunya, Connor sangat menggantungkan harapannya kepada Tuan yang baru saja diakuinya.
Kurasa...
Era kekacauan akan segera tiba.
...----------------...