
Tahun 1236, 4 Juni.
Kota Botson, Wilayah Baron Herney, Kerajaan Normadia.
Siang Hari.
Matahari telah naik hingga puncaknya. Di dalam suatu kamar terbaik yang berada di dalam penginapan termewah di Kota Botson, seorang gadis cantik yang terbaring di atas ranjang menggerak-gerakkan tangannya seolah mencari sesuatu di sampingnya.
Tersadar akan kehangatan di sampingnya yang menghilang, Excel pun dengan perlahan membuka matanya dan melihat di sampingnya tidak ada pria yang dicintainya.
Ia pun segera bangkit dengan wajah tidurnya dan menemukan kamar mandi yang ada di dalam kamar penginapan sedang digunakan.
Excel sekali lagi terheran-heran dengan fasilitas yang disediakan oleh penginapan mewah di kota ini.
Mengapa ada kamar yang dilengkapi dengan kamar mandi di suatu penginapan yang berada di kota terpencil?
Bahkan, hanya ada beberapa penginapan mewah yang memiliki kamar mandi dalam ruangan di ibukota.
Namun, segera Excel tersadar akan area pribadinya yang sangat sakit. Ketika dia membuka selimut yang membungkus tubuhnya, Excel melihat warna kekeruhan di atas kulitnya yang membuatnya seketika mengingat hal sangat memalukan yang telah dilakukannya tadi malam bersama tunangannya.
Wajahnya memerah, merasa sangat malu, Excel benar-benar mengingat bahwa dia seolah menjadi orang yang mengeluarkan segala isi hatinya saat dia mabuk.
Cklek.
Pintu kamar mandi pun terbuka dan Ares keluar darinya dengan hanya mengenakan celana pendek.
Dengan cepat, Excel pun segera menarik selimutnya kembali untuk menutupi tubuhnya dan berteriak dengan wajahnya yang merah karena malu, "A—Ares! Masuklah kembali!"
Melihat tunangannya yang telah terbangun, Ares hanya dapat dibuat terheran-heran dengan sikap Excel.
Hm?
"Bukankah aku telah memandikanmu?" tanya Ares dengan heran.
Excel pun segera menghunus pedang yang ada di sampingnya dan berteriak, "I—ini dan itu berbeda! Masuklah kembali atau kamu akan kutebas!"
Ares pun dengan panik menuruti perkataan tunangannya yang jika tidak, bisa saja salah satu bagian tubuhnya akan menghilang.
Mencari pakaian yang dapat dia segera gunakan, Excel memeriksa seluruh tempat di dalam ruangan yang menimbulkan suara sangat gaduh. Ia pun segera menemukan satu set seragam militer berwarna hitam dengan jahitan emas dan memakainya dengan acuh tak acuh.
Sekali lagi menghela napas, Ares berkata dari dalam kamar mandi, "Bagaimana kamu akan mengenakan pakaianmu? Apakah kamu dapat melakukannya sendiri?"
"Ak—aku bisa! Lihat, aku dapat menggunakan seragam militer sendirian meskipun ini sangat besar!" jawab Excel yang gelisah.
"Bukankah itu milikku?" tanya Ares kembali dengan mengerutkan keningnya.
Tersadar akan hal yang dilakukannya sangat menyedihkan, Excel berkata, "Kuh! T—tolong pakaikan pakaianku! Tapi, tutuplah matamu!"
"Apakah kamu tidak ingin membersihkan tubuhmu terlebih dahulu?" tanya Ares heran.
Excel pun mendekatkan hidungnya pada beberapa bagian tubuhnya. Saat menciumnya, dia menyadari bahwa tubuhnya yang sangat bau keringat.
"Muu!" jawab Excel yang tidak dapat mengelak.
Excel pun segera bangkit dan bergerak menuju kamar mandi.
BRAK!
"Jangan lihat!" teriak Excel sembari menutupi tubuhnya dengan seragam militer Ares setelah mendobrak pintunya.
Menuruti perkataannya, Ares segera menutup kedua matanya dan mulai memandikan Excel dengan meraba-raba benda di sekitarnya.
Saat ia mengintip—
"Jangan lihat!" teriak Excel yang malu.
Kuh!
Susah sekali!
Dan juga, bagaimana kamu dapat mengetahuinya?!
T—tapi, tembakanku benar-benar sangat banyak... bukan...
Selang beberapa lama, Ares pun segera keluar dari kamar mandi dan mengambil beberapa pakaian kualitas rendah lalu kembali ke kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya pada Excel dengan matanya yang masih tertutup.
Membelai rambutnya, Ares merasakan bahwa rambutnya tidak sebaik orang yang hidup pada dunianya sebelumnya karena terasa kusut.
Hmm, jika kupikirkan kembali, tidak ada hal seperti shampoo di dunia ini.
Setelah menyelesaikan urusannya, Ares kemudian membuka kedua matanya dan menemukan Excel yang sedang menatap tajam kepadanya yang membuat dia sedikit gelisah.
"Kamu tidak lihat, kan?!" ujar Excel dengan nada penuh dendam.
"Be—benar! Aku tidak berbohong!" balas Ares dengan sedikit keras.
Excel pun segera keluar dari kamar mandi dan duduk di atas ranjang. Melihat Ares yang juga telah keluar dari kamar mandi, Excel berkata dengan nada menyesal, "Maaf..."
"Uh, ya... tidak apa-apa," timpal Ares.
"Tapi, bukankah kamu terlalu sering membersihkan tubuhmu, Ares?" tanya Excel yang heran.
"Hm? Hanya tiga kali sehari—" jawab Ares.
"Mengapa kamu sangat sering mandi?!" sela Excel yang terkejut.
Mendengarnya, Excel benar-benar tidak dapat berkata apapun untuk membalas perkataan tunangannya yang sangat tidak normal. Bagi Excel, yang notabene seorang putri kerajaan yang dituntut untuk selalu bersih dan tampil cantik, mandi dua kali sehari menurutnya terlalu berlebihan meskipun itu selalu dilakukannya ketika tinggal di istana kerajaan.
Tentu saja, Excel memahami bahwa mandi sangatlah membutuhkan biaya besar dikarenakan air bersih yang cukup langka. Bahkan, bagi seorang rakyat jelata biasa, mereka mungkin hanya dapat mandi di pemandian umum atau di sungai sekitar 2 atau 3 hari sekali.
"Kamu tahu... jika itu adalah seorang bangsawan biasa, mereka mungkin hanya membersihkan tubuhnya satu kali setiap hari..." timpal Excel yang terpana.
Mendengar perkataan Excel, Ares segera tersadar akan perbuatannya yang sangat tidak normal. Selama beberapa bulan setelah dipindahkan di dunia ini, jika Ares tidak dalam suatu ekspedisi militer, dia akan mandi tiga hari sekali yang membuat pelayan di sekitarnya mengerutkan kening.
Berbeda dengan kebiasaannya di bumi dimana Ares hanya akan mandi dua kali sehari, di dunia ini, Ares lebih banyak mengeluarkan keringat dikarenakan transportasi yang hanya terdapat kuda maupun gerbong yang menyebabkan dia lebih sering berjalan kaki.
"Be—begitu..." timpal Ares dengan tergagap.
Excel pun segera memincingkan matanya saat menatap tunangannya, lalu dia berkata, "Berapa banyak uang yang kamu gunakan untuk memesan kamar ini per malam?"
"Seribu—" balas Ares sedikit gelisah.
"Hah?! 1.000 G?!" timpal Excel dengan nada kesal.
"...lima ratus... G..." sambung Ares dengan sedikit takut.
Meskipun Excel adalah seorang putri dan merupakan seorang keluarga kerajaan, dia tidaklah buta akan kebiasaan masyarakat seperti beberapa saudaranya yang lain, walaupun dia tidak mengetahui apapun mengenai strategi militer.
Excel pun segera membuka lebar matanya karena sangat terkejut. Dia benar-benar tidak mengira bahwa tunangannya akan membayar lebih dari 10 kali lipat harga kamar terbaik dari penginapan terbaik yang ada di Ibukota Lombart. Lalu, Excel pun berteriak, "Mengapa sangat mahal?!"
Hah?!
Kau bertanya tentang itu?!
Bukankah kau saat itu menyarankan agar membantai tentara musuh yang ada di dalam Benteng Ligard yang akan menyebabkan uangku berkurang drastis?!
Tentu saja, hal ini disebabkan Ares yang memesan kamar dengan pemakaian air sepuasnya yang menyebabkan harganya luar biasa membengkak.
"Yah, tidak apa-apa, bukan?" timpal Ares dengan mengerutkan keningnya.
Namun, ada satu hal yang baru saja disadari Ares.
Bukankah itu berarti rakyatku sangat bau?
Jika terdapat suatu wabah, bukankah penyebarannya akan sangat cepat mengingat mereka yang sangat kotor?
Tapi, apakah Mia dan yang lainnya mandi terlebih dahulu sebelum mereka tidur bersamaku?
Di dalam benaknya, Ares segera memutuskan untuk memerintahkan rakyatnya mandi satu kali dalam sehari agar dapat menghindari penyebaran penyakit yang sangat cepat dimana akan diimbangi dengan pembangunan banyak sumur-sumur di setiap kota dan desa. Dia juga akan memeriksa fungsi saluran pembuangan di setiap kota.
Tentu saja, hal ini juga akan menjadi kekuatannya untuk menarik wisatawan dan para pedagang yang datang.
Melihat tunangannya yang semakin memincingkan mata kepadanya karena kesal, Ares hanya dapat menundukkan ringan kepalanya dan berkata, "Maaf... aku tidak akan mengulanginya lagi."
Melihat Excel yang seketika merubah ekspresinya menjadi riang, Ares hanya dapat menghela napas dalam, "Hah..."
Merepotkan...
"Ngomong-ngomong, apakah kamu tidak membawa satupun riasan, Excel?" tanya Ares sedikit heran.
Excel pun mengalihkan pandangannya agar tidak menatap Ares dan berkata dengan wajahnya yang memerah, "Aku... tidak dapat menggunakannya... karena aku selalu dirias oleh para pelayan... Juga... aku sedikit tidak menyukai hal tersebut..."
Sudah kuduga...
Tapi, aku benar-benar bersyukur saat ini kamu tidak menggunakan riasan berbahan timbal seperti itu.
Ares pun mengingat satu hal yang setidaknya dapat membuat kulitnya selalu dalam keadaan cantik. Ia pun bertanya, "Apakah kamu tidak memiliki sesuatu seperti foundation?"
"Eh? Apa itu foundation?" tanya Excel kembali karena tidak mengerti.
Sekali lagi, Ares kembali tersadar apabila dia saat ini berada di era abad pertengahan. Dia pun kembali menarik napas dalam dan menghela napas sekali lagi, "Hah..."
Merepotkan...
Sepertinya, aku harus mencari sesuatu seperti lidah buaya dan minyak nabati untuk perusahaanku...
Seketika, Ares tersadar akan strategi yang tidak pernah dipikirkannya sebelumnya.
Tunggu sebentar.
Jika aku mengiklankan produk seperti shampoo dan foundation kepada para bangsawan serta pedagang kaya, bukankah aku dapat dengan bebas memasuki kediaman mereka?
Seketika, Ares tersenyum karena memikirkan hal yang dapat membuatnya memiliki denah kastil dan mansion para bangsawan meskipun itu hanya sebagian kecil darinya.
Tetap saja, apabila Ares menyerahkannya kepada Klan Cornwall yang sejak dulu telah melakukan berbagai pekerjaan kotor, mereka pasti dapat memprediksikan denah dan menemukan jalan rahasia di dalam kediaman tersebut, meskipun Ares menyadari bahwa hal tersebut tidak dapat dilakukan hanya dalam waktu yang sebentar.
Melihat tunangannya yang tersenyum tanpa sebab, Excel hanya dapat dibuat memerah karenanya.
Mengapa kamu tersenyum sendiri seperti itu?
A—apakah itu karena wajahku?
Ares pun segera menatap tunangannya dengan kuat, dia pun berkata dengan wajah yang terlihat sangat serius, "Excel, aku lebih menyukai dirimu mengenakan riasan yang tidak terlalu tebal."
Meskipun Ares sedikit lelah dengan sikap Excel, tentunya dia tidak ingin wanita yang akan menjadi istrinya terkena penyakit akibat efek timbal. Dia juga akan segera mengirimkan pesan burung setelah memasuki wilayah kerajaan kepada Renne untuk memerintahkan semua gundiknya agar melakukan hal yang sama serta memulai penelitian tentang pelembab dari minyak nabati.
Bagi Excel, yang sedikit tidak menyukai riasan yang menyebabkan dia hanya menggunakannya dengan tipis, tentu saja sangat membuat dirinya bahagia hingga wajahnya memerah kembali.
...----------------...