I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Alternation : Tugas Akademi Militer Esther



Tahun 1236, 25 September.


Kota Ereth, Wilayah Margrave Rueter.


Beberapa Saat Setelah Matahari Terbit.


Langit cerah menyambut aktivitas pagi Esther yang saat ini memberi makan sebuah unggas yang ditugaskan oleh guru akademinya di salah satu sudut terpencil kastil.


Memandang unggas yang sangat berbeda dengan burung pada umumnya, ada sedikit perasaan rumit karena mayoritas rekan sekelasnya yang memelihara hewan-hewan buas seperti anjing militer, kuda perang, banteng, serta beberapa hewan liar lainnya.


Ptok.


Ptok.


Ptookk.


Suara aneh yang tidak pernah terdengar sebelumnya, kepala yang selalu bergerak miring yang sangat menunjukkan sebuah kebodohan, membuat Esther menghela napas berat.


Seekor hewan baru yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya, membuat Esther sedikit kesulitan dalam merawatnya hingga dia meminta bantuan beberapa tukang kebun dan pelayan yang bekerja di kastil selama satu pekan terakhir.


"Esther, dari mana kamu menemukan hewan itu?"


Perkataan yang terdengar dari seseorang yang tidak asing baginya membuat Esther tersadar dari lamunannya. Berbalik, dia menemukan Tuannya dengan Lia yang sedang tertidur dalam pelukannya.


Terburu-buru untuk bangkit sembari menunduk, Esther menutupi sebagian pakaiannya yang masih berada dalam keadaan kotor karena menurutnya sangat tidak pantas ditunjukkan kepada Ares, "Selamat pagi, Tuan. Mohon maafkan saya karena penampilan saya yang tidak sedap dipandang."


"Tidak perlu khawatir. Sebenarnya, aku tidak terlalu mempedulikan hal itu." Balasan cepat Ares membuat Esther memiliki kelegaan di dalam hatinya.


"Saya menemukannya dari seorang pedagang tua yang menjual unggas ini di pasar dekat tembok terluar," timpal Esther.


"Hmm." Ares melirik pada unggas yang saat ini berada di dalam kandang tersebut.


Aku benar-benar tidak menyangka bahwa di daerahku memiliki seekor ayam...


Meskipun aku beberapa kali telah memakan kalkun yang memiliki habitat di utara...


Tetap saja, ini adalah suatu peluang besar.


Sedikit berisik karena suara ayam yang terus berkokok, Ares memberikan Lia kepada seorang pelayan wanita di belakangnya dan memerintahkannya untuk memasuki kastil terlebih dahulu bersama beberapa pelayan lain.


Setelah melihat kepergian mereka, Ares pun tersenyum ramah penuh kelembutan, "Apa yang dikatakan pedagang itu kepadamu, Esther? Bolehkah aku mengetahuinya?"


"Pada saat itu, kelas saya ditugaskan untuk merawat seekor hewan liar demi ketahanan hidup di hutan antah berantah yang dapat terjadi pada kami di masa depan. Beberapa teman sekelas mencarinya di hutan terdekat dengan penjagaan seorang instruktur—" Kata-kata Esther pun terputus.


"Estheeer! Ayo berangkat!" Sosok gadis berambut merah yang memiliki dua ponytail, yang merupakan adik Ody sekaligus teman Esther, datang mendekat sembari melambaikan tinggi salah satu tangannya.


Ekspresi Anette seketika menegang, dia tidak pernah berpikir jika Tuan dari wilayah ini akan mengunjungi salah satu sudut terpencil dari Kastil Rueter yang baginya sangat luas.


Hingga beberapa langkah dari tempat Esther berada, Anette berdiri tegap sembari memberi hormat, "P—pagi yang cerah, Tuan!"


Tidak hanya menyela percakapan dengan Ares, sapaan yang sangat tidak sopan telah terlontar dari lidah Anette yang membuat Esther seketika menegang dan menjadi sangat panik, "A—Anette! Perbaiki kata-katamu!"


Interaksi keduanya yang begitu hangat seperti anak sekolah menengah membuat Ares sejenak merindukan masa lalunya, hingga membuatnya tanpa sadar mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Aku tidak keberatan, kamu... Anette Mars, bukan?" tanya Ares dengan hangat.


"I—itu benar, Tuan!" jawab Anette yang masih menegang.


"Hmm, hewan apa yang kamu rawat?" tanya Ares.


"Kadal, Tuan!" jawab Anette cepat.


Tidak normal.


Seketika, hanya dua kata tersebut yang terbesit di dalam benaknya disaat Ares sejenak terdiam memandangi gadis yang sangat aktif di hadapannya.


Menghela napas ringan, Ares sedikit heran dengan takdirnya yang selalu bertemu dengan banyak orang aneh selama beberapa bulan terakhir. Meskipun Ares mengetahui jika salah satu gundiknya, Ody, memiliki seorang adik perempuan, namun tentu dia belum pernah sekalipun bertemu dengannya.


Mengabaikan Anette yang mana Ares akan merasa kelelahan jika berbicara dengannya, tatapan wajahnya teralihkan kembali menuju Esther yang juga terlihat menegang.


"Santai saja. Lalu, apa yang tadi hendak kamu ucapkan, Esther?" tanya Ares dengan nada cerah untuk melembutkan suasana.


"Ah, mohon maafkan saya, Tuan..." Esther sejenak terdiam mengingat kembali pertemuannya dengan pedagang di pasar beberapa hari lalu.


"Karena Anette yang mengajak saya untuk mengunjungi pasar terlebih dahulu agar dapat merawat hewan yang berbeda dengan para siswa lain, kami pun bertemu dengan seorang pedagang tua yang menjual banyak hewan aneh yang beberapa diantaranya tidak kami ketahui sebelumnya..." sambung Esther.


"Disaat kami meminta seekor hewan buas, dia memberikan ayam ini kepada saya. Dia berujar bahwa hewan ini memiliki habitat di sekitar hutan yang tidak jauh dari sebuah desa di utara Kota Nevia," sambung Esther.


Ptok.


Ptok.


"Hmm..." Ares sejenak melirik kembali ayam jantan yang sangat berisik tersebut, "Kapan kalian pulang dari Akademi?"


"Sore hari, Tuan," jawab Esther.


"Begitu..." Ares mengubah wajahnya menjadi tegas, "Kadet Esther, Kadet Anette!"


"Y—Ya, Pak!" jawab Esther dan Anette yang sedikit terkejut dengan serempak sembari memberi hormat.


"Untuk hari ini, liburlah dan temui pedagang tua itu. Belilah semua hewan ini dan bawa ke kastil, aku akan memberi tahu beberapa ksatria agar memberikan izin ke Akademi serta membantu kalian," perintah Ares tegas.


"Ya, Tuan!" jawab Esther dan Anette serempak.


"Juga... jika dia mengetahui keberadaan jenis hewan ini di sekitar, aku akan memberdayakan desanya," sambung Ares.


"Baik, Tuan." Keduanya menjawab tegas.


Tetap saja, Esther dan Anette merasa tidak mengerti hingga keduanya melukiskan ekspresi sedikit keruh di atas wajah mereka.


"Ada apa?" tanya Ares.


"Um... bolehkah saya mengetahui tujuan Anda melakukan hal ini, Tuan?" tanya Esther.


Salah satu tangan Ares memegang dagunya sembari menatap pada ayam yang berada di balik punggung Esther tersebut, "Hmm, tujuan... ya..."


Terdiam, Esther serta Anette hanya dapat menunggu Tuannya melanjutkan perkataannya.


Pandangannya teralihkan kembali kepada Esther dan Anette, sebuah senyuman cerah pun terpancar dari wajah Ares, "Tentu saja, meningkatkan taraf hidup para penduduk di wilayahku."


Kebingungan samar nampak pada wajah Esther dan Anette, mereka tentu tidak mengerti karena tidak memiliki pengetahuan modern seperti yang dimiliki oleh Ares.


"Yah, aku akan kembali terlebih dahulu. Terima kasih karena telah menyanggupi perintah yang kuberikan secara tiba-tiba," ujar Ares.


Kegelisahan muncul, keduanya merasa sangat tidak nyaman dengan rasa syukur Tuannya karena mereka telah diharuskan untuk menjalankan perintah melalui ajaran Akademi yang telah diterimanya.


"Ti—tidak, Tuan. Ini sudah merupakan tugas kami!" ujar Anette.


"I—itu benar, Tuan!" sambung Esther.


Hmm, bukankah saat itu terdapat kata "Alter" pada statistik Esther?


Kurasa... aku akan menyelidikinya setelah perang usai.


Memandang kedua mata Esther yang memiliki perbedaan warna, mengingatkan kembali memori disaat Ares berperang melawan Barlock dahulu.


"Hati-hati di jalan." Tidak mengutarakan apa yang dipikirkannya sebelumnya, Ares memutuskan menyimpannya secara pribadi untuk sementara.


"Baik, Tuan," jawab Esther dan Anette serempak.


Hanya membalas dengan sebuah senyuman, Ares pun melangkah pergi menuju kastil untuk melanjutkan pekerjaannya yang telah menumpuk.


Industri pangan.


Hal tersebut telah menjadi rencana jangka panjang yang telah berada di dalam benak Ares dan sedang berada dalam kajian pribadinya.


Tidak mungkin memberitahu orang lain bahkan kepada Excel, istrinya sendiri. Ares memperkirakan mayoritas jawaban yang akan diterimanya disaat orang lain mendengar rencananya adalah "Tidak mungkin."


Ares tentu mengetahui jika Excel akan mendukungnya dengan tulus, namun dia juga mengerti bahwa istrinya akan merasa bahwa hal tersebut hanyalah angan-angan, meskipun tidak ditampakkan oleh Excel.


Langkah pertama yang akan dilaksanakan olehnya adalah domestikasi hewan liar yang menurut pengetahuannya adalah binatang ternak di dunia yang sebelumnya, seperti seekor ayam liar yang dipelihara oleh Excel.


Mempertimbangkan timeline game dimana perang dunia akan terjadi sekitar 11 hingga 12 tahun lagi, Ares sangat mengusahakan agar dia dapat menghidupi para penduduknya secara mandiri.


Memanfaatkan pengetahuan di dunia sebelumnya serta membuat beberapa lembaga penelitian dan kerjasama dari kaum bangsawan serta pedagang, Ares memiliki cita-cita untuk meneliti produk pertanian dan peternakan hingga komoditasnya meningkat pesat.


Meskipun tidak menggunakan mesin, meskipun masih mengandalkan teknologi berupa tangan manusia serta beberapa alat sederhana, Ares yakin jika dia dapat menyukseskan rencana tersebut sebelum perang dunia dimulai.


Karena baginya, perang membutuhkan pasokan makanan yang melimpah serta akan menjamin kehidupan para penduduk di masa sulit.


Roda-roda ekonomi akan berputar, mode-mode pakaian akan silih berganti dan berkembang, inovasi-inovasi peradaban serta pengetahuan teknologi mutakhir akan lahir dari negaranya.


Indikator tersebut akan membuat negaranya dapat dikenal sebagai negara maju, yang mana membuat orang-orang akan sedikit demi sedikit mengubah pandangan hidupnya ke arah negaranya.


Yang tentu saja, tidak berbeda dengan sejarah di bumi era modern, penjajahan dengan budaya.


...----------------...