I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 48 : Tidak Ada Sihir di Dunia Ini!



Tahun 1236, 26 Mei.


Reruntuhan Ibukota Kekaisaran Suci Regulus, Kota Suci Elness, Kerajaan Valmes.


Dini Hari.


Setelah keluar dari pintu kecil dimana ruangan yang menyimpan kedua pedang tersebut, mereka berdua pun menuju tempat Lykan berada.


Namun, Excel sangat khawatir dengan pedang yang diambil Ares karena bilahnya yang hanya selebar setengah jari dengan ujung lancip dan memiliki berat yang sangat ringan. Bahkan, pedang tersebut terlihat memiliki beberapa karat pada pegangan dan sebagian bilahnya.


Karenanya, Excel memiliki kesan bahwa pedang tersebut sangat ringkih dan seolah dapat hancur kapan saja.


"Apakah pedang itu memiliki bilah yang benar-benar kuat? Karena aku melihatnya seperti sangat ringkih," ujar Excel yang khawatir.


"Nah... aku akan membuktikannya setelah ini. Jadi, pakai jubah yang telah kusiapkan," timpal Ares dengan mengambil dua jubah besar dari tas pelana Lykan dan menyerahkannya kepada Excel.


"Eh, mengapa?" tanya Excel yang heran.


"Nah, kamu sebentar lagi akan melihatnya," jawab Ares dengan tersenyum kecut.


Meski kebingungan, Excel memutuskan untuk mengenakan jubah karena Ares yang juga mengenakannya. Setelah Ares menutupi sebagian besar tubuh Lykan dengan beberapa jubah, mereka pun menungganginya bersama dan keluar dari reruntuhan istana.


TRANG!


Seketika, sebuah anak panah tertuju pada mereka berdua dari tempat yang agak tinggi yang menyebabkan Ares menarik rapiernya dan menangkis anak panah tersebut.


"Kan?" ujar Ares dengan tersenyum masam.


"Mengapa kamu dapat mengetahui ini?" tanya Excel yang keheranan.


"Yah... singkatnya, mereka adalah kelompok merepotkan yang bertujuan untuk membangkitkan Kekaisaran Suci Regulus kembali," jawab Ares.


"Aku baru mengetahui ada kelompok yang seperti itu," balas Excel yang mengerutkan keningnya.


"Jadi... jangan sampai wajahmu terlihat jika kamu tidak ingin diburu oleh mereka. Dan juga, tetaplah berada di atas Lykan," timpal Ares dengan hangat.


"Eh?! Aku juga!" balas Excel sebal karena keberatan.


Kuh!


Aku ingin segera mencoba senjata ini hingga batasnya!


"A—aku... ingin menunjukkan sisi kerenku padamu..." timpal Ares dengan mengalihkan wajahnya.


"Begitu... baik..." balas Excel yang memerah dengan mengalihkan wajahnya agar tidak terlihat.


Ketika Ares melihat delapan orang berjubah hitam yang di leher mereka mengalungkan lambang "Ankh" telah berkumpul dan dua orang lainnya di tempat yang sedikit lebih jauh dari mereka, ia pun mengangkat dua sudut mulutnya ke atas.


Setelah menghunuskan Rapier di tangan kanannya dan Verze Sword di tangan kirinya, Ares merapal, "Appraisal," dengan menargetkan dirinya sendiri.


......................


...[Status]...


Nama : Ares von Rueter


Umur : 17 Tahun


Jenis Kelamin : Laki-laki


Gelar : Margrave, Kerajaan Rowling


Afiliasi : Margrave Rueter, Kerajaan Rowling


Statistik


Keahlian Senjata : 58 (+58)


Kelincahan : 55 (+70)


Kepandaian : 57 (+70)


Tubuh : 57 (+59)


Kepemimpinan : 57 (+30)


Kewilayahan dan Militer


Jumlah Prajurit : 56.530


Moral : 85


Pelatihan : 78


Pasokan Makanan : 4.628.754


Jumlah Dana : 8.186.098.810 G


......................


"Appraisal," ujar Ares dengan lirih kepada salah satu orang berjubah yang terlihat kuat karena ingin membandingkan statistiknya.


......................


...[Status]...


Nama : Barlen von Legre


Umur : 42 Tahun


Jenis Kelamin : Laki-laki


Gelar : Count, Kekaisaran Suci Alven


Afiliasi : Eye of Truth


Statistik


Kelincahan : 72 (+6)


Kepandaian : 50 (+0)


Tubuh : 79 (+16)


Kepemimpinan : 65 (+0)


Loyalitas : 85


Moral : 82


Pelatihan : 86


......................


Ikan teri.


Setelah melihat status pria tersebut, Ares pun tersenyum dan berlari menuju Barlen dengan menghunuskan rapiernya ke depan dengan memanfaatkan poin kelincahannya yang telah melebihi dua digit.


KRAK!


"Argh!" teriak Barlen lalu jatuh tersungkur.


Seolah tiba-tiba muncul di samping mereka, pria berjubah lainnya menjadi panik dikarenakan Ares yang telah menusuk perut Barlen yang dilindungi armor dimana bagi mereka tidak dapat ditembus.


Tidak terkecuali Excel, yang sejak tadi ragu dengan pedang tersebut, membuka lebar kedua matanya dikarenakan menyaksikan pemandangan yang sangat mustahil tersebut. Melihatnya, Excel merasa bahwa Ares seolah mendapatkan kekuatan yang berasal dari pedang rongsokan yang digenggamnya.


Apakah pedang tersebut memiliki kemampuan yang lebih baik daripada pedangku yang biasanya kugunakan?!


L—lalu, apa yang akan terjadi apabila aku juga menggunakan pedang ini?!


Excel menjadi sangat bersemangat karena ingin mencoba pedang tersebut. Namun, ia segera mengurungkan niatnya kembali dikarenakan lebih condong pada keinginan untuk melihat tunangannya.


Setelah menarik Rapier yang tertancap di perut Barlen, Ares pun menariknya dan menggunakan berat tubuhnya untuk mendorong Rapier saat diarahkan ke orang berjubah lainnya.


KRAK!


JLEB!


Seketika, orang berjubah dan dua orang di belakangnya mati tertusuk dikarenakan efek piercing Rapier. Setelah dengan cepat menarik kembali Rapiernya, Ares segera menginjak bahu orang yang baru saja dibunuhnya sebagai pijakan dan melompat.


Orang-orang berjubah lain yang tidak dapat bereaksi dengan serangan Ares yang bagi mereka hampir tidak dapat dilihat, segera menarik pedang dan tombak pendek mereka untuk menyerang Ares yang saat ini tidak berpijak.


"Aaahhh!" teriak pria berjubah yang kesakitan.


Segera, Ares menusukkan Rapiernya menuju leher seorang pria berjubah dan mendorongnya dengan keras yang menyebabkan orang di belakangnya juga tertusuk.


TRANG!


Pada saat yang sama, Ares menghunuskan Verze Swordnya dengan memutarnya untuk menangkis serangan pedang yang menuju ke arahnya.


Sial!


Hanya dalam 6 detik, aku telah membantai 6 orang dengan statistik rata-rata yang berkisar pada angka 70!


Memikirkan hal tersebut membuat kedua sudut mulut Ares sedikit terangkat. Kemudian, Ares menuju ke belakang tubuh orang berjubah yang lain dan melemparkan Verze Sword. Ia pun menarik tudung orang berjubah untuk melindungi tubuhnya dari anak panah yang terbang ke arahnya.


JRAT!


"Argh!" teriak orang berjubah saat wajahnya terkena anak panah.


Langsung membuangnya, Ares dengan sigap menusukkan Rapiernya menuju orang terakhir yang tersisa.


KRAK!


"Ugh!" teriak orang berjubah terakhir karena tertusuk dengan armornya yang hancur.


Menarik kembali Rapiernya, Ares pun berlari menuju orang berjubah yang memegang busur dan menusuk lehernya. Namun, ia terheran-heran dengan orang berjubah yang memegang tongkat di sebelahnya.


"...dengar doaku! Dark Ritual, Veldeza!" teriak orang berjubah dengan tongkat yang terdengar seperti wanita tua.


Apa yang kamu ingin lakukan?


Ares hanya terdiam sejenak untuk melihat orang berjubah tersebut karena rasa penasarannya terhadap adanya sihir di dunia ini.


"Eh?" ujar orang berjubah tersebut yang kebingungan.


Bertentangan dengan harapannya, setelah menunggu selama 4 detik, tidak ada hal apapun yang terjadi. Orang berjubah tersebut seketika menjadi sangat panik dikarenakan mantra yang digunakannya telah sesuai dengan apa yang tertulis di buku serta ia yang telah melengkapi semua syaratnya.


JLEB!


"Ahhh!" teriak orang berjubah yang terdengar seperti suara seorang wanita tua lalu jatuh tersungkur.


Merasa dikecewakan, Ares pun menusuk perut orang berjubah itu dengan kesal.


BRUK!


"Aku tidak percaya ada orang bodoh sepertimu di dunia ini," ujar Ares yang terheran-heran saat melihat orang berjubah itu jatuh tersungkur.


Ares berbalik dan berlari menuju tempat Excel berada dan berteriak, "Ayo pergi dengan cepat! Mereka tidak akan ada habisnya!"


Mendengarnya, Excel memacu Lykan mendekati Ares dengan mengulurkan tangannya. Setelah menarik uluran tangan Ares dan menarik tangannya untuk membantunya menunggangi Lykan, Excel segera memacu kuda perangnya untuk pergi ke luar gerbang reruntuhan ibukota bersama Ares.


"Apa maksudmu dengan mereka yang tidak ada habisnya?" tanya Excel yang penasaran.


"Singkatnya, kami tidak tahu siapa mereka karena mereka menyembunyikan jati diri mereka yang sebenarnya," jawab Ares lugas.


"Begitu," jawab Excel.


Excel mengerti terhadap apa yang baru saja Ares lontarkan. Ia berpikir bahwa bisa saja orang yang berada di dekatnya merupakan anggota dari organisasi tersebut. Namun tetap saja, hatinya dilanda kebahagiaan saat matanya melirik pemuda yang duduk di belakangnya.


...----------------...