I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 135 : Menuju Medan Perang Terakhir



Tahun 1237, 8 April.


Ibukota Lombart, Kerajaan Rowling.


Pagi Hari.


"Kalahkan Natrehn!"


"Balaskan dendam Sang Raja!"


"Kejayaan untuk Kerajaan Rowling!"


Sorak sorai mengantarkan kepergian mantan Putri Kerajaan Rowling, Excel von Linius Rowling, beserta suaminya yang melambai dari atas tunggangan kuda perang mereka yang berjalan berdampingan.


Tepat di belakang mereka, sosok pemuda berambut pirang memandang pasangan di depannya dengan penuh kekesalan.


Warren sangat muak dengan perilaku Ares yang sangat lekat dan begitu memanjakan istrinya jika dia berada di hadapan mereka, seolah Ares dan Excel mengolok-olok hubungan rumah tangga Warren yang diketahui sangat didominasi oleh istrinya, Ann.


Terlebih lagi, mengingat Ann yang mengancam suaminya untuk segera memberinya anak kedua setelah melahirkan, sangat membuat Warren ketakutan hingga membuat bulu kuduknya berdiri.


Tetap saja, Warren tidak dapat melupakan kejadian tersebut walaupun dia benar-benar ingin untuk melupakannya.


Muak, Warren mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan melukiskan wajah datar. Tidak mungkin Warren akan menunjukkan wajah buruk ketika berada di hadapan para penduduk ibukota yang sangat bergairah mendukung kepergian diri serta pasukannya ke utara.


Tepat satu hari telah berlalu semenjak 40.000 Tentara Gabungan Faksi Oposisi yang dipimpin oleh Ksatria yang menjadi tangan kanan ayah Warren, Margarve Francois, memasuki Ibukota Lombart.


Meninggalkan 10.000 prajurit yang berasal dari gabungan pasukan House of Rueter serta Faksi Oposisi di bawah pimpinan Robert West untuk menjaga keamanan ibukota, Ares dan Warren melancarkan operasi militer dengan kedok pembalasan terhadap sabotase yang Natrehn telah lakukan sebelumnya dengan membawa 75.000 prajurit sebagai kekuatan tempur mereka.


Gerbang besar ibukota telah terlewati, tanda bagi Ares, Excel, serta Warren untuk kembali memasuki gerbong kereta mereka karena parade telah selesai.


Kenapa kalian saling berpegangan tangan?!


Kalian sedang berkuda, tahu!


Itu berbahaya!


Dan juga, bukankah kau telah berubah menjadi seorang budak cinta, Ares?!


Salah satu kelopak matanya berkedut, Warren benar-benar ingin berteriak. Namun, dia segera menyadari bila hal tersebut merupakan sebuah tindakan sia-sia yang menyebabkan Warren kembali menutup rapat kedua bibirnya dan menghela napas berat.


"Ares," panggil Warren.


"Apa?" Dengan tetap mempertahankan tangan kanannya yang menggenggam tangan kiri istrinya di atas kuda, Ares tetap tidak berpaling pada Warren yang berkuda di belakangnya.


"Apakah kau benar-benar yakin dengan ini?" Kata-kata Warren membuat Ares berpaling.


"Apa maksudmu?" tanya Ares kembali.


"Mengenai Ratu Nieve yang ada bersama kita. Untuk apa kau membawanya? Lagipula, apakah kau tidak sedikitpun khawatir meninggalkan Ratu Milaine di ibukota?" timpal Warren.


Ares sejenak termenung, hingga membuat Excel menatapnya dengan sedikit khawatir. Dengan cepat, Excel mengalihkan tatapannya kepada Warren dengan tajam, hingga membuat Warren merasa terintimidasi walau dia tetap berusaha untuk tetap tenang tidak memperlihatkannya.


"Untuk Ratu Milaine, aku tidak memiliki sedikitpun kekhawatiran padanya karena aku telah memiliki rencana cadangan bila dia melakukan suatu hal yang aneh. Namun untuk Ratu Nieve... aku sedikit tidak yakin," jawab Ares.


"Tidak yakin?" Salah satu alis Warren terangkat, sangat bingung dengan ucapan Ares karena hanya Ares yang mengetahui hubungan terlarang yang diinginkan oleh Ratu Nieve serta Duke Alein.


"Tidak apa-apa. Aku telah merencanakannya dengan matang, jangan khawatir." Ares mengalihkan pandangannya ke depan, berharap agar Warren dan Excel tidak mengetahui kegelisahannya.


Hanya Duke Alein dan para ksatrianya yang mengerti keinginan dari Tuannya tersebut, hingga Ares merasa khawatir terhadap hal apa yang akan dilakukan para bangsawan faksi Zee bila Duke Alein menukarkan Ratu Nieve dengan Sang Pangeran.


Mereka tentu akan merasa dikhianati, bahkan Ares tidak ingin memikirkan segala kemungkinan yang dapat dilakukan oleh para bangsawan tersebut.


Tentu saja, banyak faktor yang akan mendukung upaya Ares. Pasukannya yang berjumlah lebih banyak serta memiliki persenjataan yang lebih lengkap, prajurit yang lebih elit, keadaan moral tentara yang lebih tinggi, Ares hanya berharap rencananya dapat berhasil membujuk atau setidaknya berpikir lebih menguntungkan bila mereka mematuhinya.


Kening Warren sekali lagi berkerut, ia sangat tidak puas dengan jawaban yang diberikan kepadanya. Meskipun begitu, menilik kembali beberapa waktu terakhir dimana Ares dapat menjalankan rencananya dengan sukses, Warren memutuskan untuk diam menutup rapat kedua bibirnya.


Mendengarnya, Ares pun tersenyum, terasa penuh ketenangan, "Jangan khawatir... kita pasti akan baik-baik saja."


"Jika keadaan memburuk... berjanjilah padaku... Berjanjilah bila kau akan segera melarikan diri bersamaku..." Meskipun nada Excel terdengar semakin lirih, Ares dengan jelas dapat mendengarnya.


"Aku... tidak ingin sekali lagi merasakan rasa sakit karena kehilangan..." sambung Excel lirih.


"Ya... aku berjanji." Ares melukiskan senyuman, wajahnya terasa sangat menimbulkan kesan ketenangan.


Berat...


Aku tidak mengerti mengapa aku bisa bersama dengan mereka.


Melihat interaksi keduanya, Warren hanya dapat melukiskan ekspresi rumit. Baginya, bahkan jika dia kembali dengan banyak memar serta luka lebam pada sekujur tubuhnya, Ann hanya akan mengatakan, "Jangan menjadi seorang pria yang menyedihkan."


Hal ini tidak lepas dari perilaku mereka di Akademi dahulu. Telah saling mengenal serta bertunangan sejak lama, tidak ada lagi rasa canggung diantara keduanya, bahkan membuat kedua orang tua Warren lebih mendukung keputusan Ann dibandingkan dengan dirinya hingga membuat Warren sangat sakit kepala.


Sekali lagi menghela napas berat, Warren memutuskan untuk mengabaikan keduanya.


Gnery yang berkuda tepat di belakang Warren pun bergerak maju, berniat untuk mengingatkan Tuan dan istrinya serta Warren untuk memasuki gerbong mereka kembali.


Namun, dia segera menahan gerakannya setelah melihat ekspresi rumit yang terukir di atas wajah Warren saat bersisian dengannya.


"Ada apa, Tuan Warren?" Gnery dengan lirih mengatakannya, khawatir bila terjadi sesuatu dengan sekutu Tuannya tersebut.


"Tidak ada, jangan khawatirkan hal itu. Apakah saatnya memasuki gerbong kereta?" tanya Warren sembari mengalihkan wajahnya untuk menatap Gnery.


"Benar, Tuan," timpal Gnery.


Perhatian Warren kembali teralihkan menuju pasangan di hadapannya, sedikit memiliki kerutan pada keningnya karena sangat muak, "Ares, Nona Excel, sudah saatnya!"


"Eh? Ada apa?" Setelah menoleh ke belakang, Excel memiringkan kepalanya karena bingung.


"Untuk mempercepat gerakan pasukan, kita harus kembali memasuki gerbong, Sayang. Lagipula, tidak perlu terburu-buru untuk melakukannya," ujar Ares.


Wajah Gnery seketika menjadi jelek. Tanggung jawabnya sebagai komandan utama seluruh pasukan akan dipertanyakan.


"Namun—" timpal Gnery.


"Ah, benar! Mengapa tidak gunakan gerbong itu untuk para prajurit yang sakit?" Kata-kata Excel yang terasa sangat tidak pada tempatnya untuk seorang bangsawan membuat beberapa ksatria yang berkuda di belakangnya membuka lebar kedua matanya.


"Hah?!" Tidak hanya Warren, beberapa bangsawan tingkat rendah lain dibuat sangat terkejut. Tentu, mereka tidak akan dapat memasuki gerbong selama mantan putri kerajaan beserta suaminya terlebih dahulu melakukannya.


Berbeda dengan reaksi para bangsawan, para ksatria memiliki mata yang berbinar. Akan sangat meningkatkan moral pasukan serta nama baik para bangsawan jika Ares melakukan hal tersebut.


"Hmm, baiklah." Ares menyetujui, terdapat keinginan untuk menikmati hembusan udara sejuk pagi hari sebanyak yang dia dapat lakukan.


"Eh, tu—tunggu!" Warren menyela, dia merasa tidak mampu bila menuruti keinginan dua idiot di hadapannya.


"Apa?" Ares menoleh dengan ekspresi penuh keheranan, "Jika kalian ingin memasuki gerbong, masuk saja. Tidak perlu mempedulikan kami."


Salah satu kelopak mata Warren sekali lagi berkedut, ia benar-benar ingin melampiaskan kekesalannya dengan berteriak keras, meskipun dia menahannya dengan menghela napas berat.


Para bangsawan tentu tidak dapat menjawab. Telah dipersilakan masuk, tidak lagi dapat mengutarakan sebuah nasehat untuk kepentingan dirinya, mereka tahu bila hal tersebut dapat meningkatkan moral pasukan sangat tinggi.


Terlebih lagi, mereka akan melawan saudara sebangsanya sendiri hingga membuat para bangsawan menutup rapat kedua bibirnya dengan kekesalan.


Saat itu, bahkan Ares tidak menyangka, bila para prajurit akan bertempur dengan semangat juang yang sangat tinggi karena perhatian para bangsawan pada prajurit yang notabene secara mayoritas hanyalah seorang rakyat jelata biasa.


...----------------...


jangan lupa likenya!