I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 132 : Sekutu



Tahun 1237, 6 April.


Ibukota Lombart, Kerajaan Rowling.


Siang Hari.


"Ares, aku akan menghaja—tidak, lupakan." Mendapat tatapan tajam dari Excel yang berada tepat di samping suaminya, Warren dengan panik menutup rapat kedua bibirnya.


"Apa yang ingin kau katakan?" Sejenak menghentikan pena bulunya, Ares mengalihkan wajahnya kepada Warren dengan bingung, yang saat ini duduk berhadapan di atas meja besar yang sama.


"Tidak..." timpal Warren dengan gugup.


Melihat Warren yang sedikit gugup, perhatian Ares teralihkan kepada Excel, yang segera melukiskan sebuah senyuman di atas wajahnya.


"Hah..." Ares menghela napas dalam sembari mengalihkan wajahnya untuk menatap Warren kembali, "Bagaimana kabar Ann? Apakah dia baik-baik saja?"


"Y—yah..." Warren kesulitan menjawab.


"Hm?" Salah satu alis Ares terangkat, sedikit bingung dengan reaksi Warren yang menampilkan wajah sulit, "Katakan saja."


Terbesit ingatan pada beberapa malam itu, Warren berhasil membuat Ann mengandung tepat setelah lima malam berturut-turut melakukan hubungan di atas ranjang, yang membuat Warren merasa sedikit kompleks karena melakukannya setelah mendapat teguran dari Ares.


Tentu saja, Warren tidaklah mengetahui kebenarannya. Dia telah sangat lama tidak melakukannya, yang membuat benihnya telah matang serta didukung oleh Ann yang berada pada masa suburnya.


"Ya... saat ini... dia sedang mengandung..." Ekspresi kompleks terukir di atas wajah Warren.


"Hmm, begitu. Yah, selamat. Aku juga turut bersyukur karenanya." Ares memutuskan untuk tidak menggodanya dan kembali menggerakkan pena bulunya, akan sangat menjatuhkan harga diri Warren sebagai seorang pria bila dia mengejeknya.


"Pria lemah." Excel tersenyum mengejek, "Suamiku dapat segera membuatku mengandung dua anak tepat setelah satu kali melaku—aduh! Sayang!" Sebal, Excel mengalihkan wajahnya dengan ekspresi tidak puas kepada suaminya yang baru saja menyiku punggungnya dengan sedikit keras.


Sekali lagi menghela napas, Ares meletakkan pena bulunya dan mencubit hidung istrinya dengan tatapan lelah.


"Heppp! Heppp! Heppp!" Excel memukul-mukul lengan suaminya yang mencubit hidungnya dengan sangat erat menggunakan kedua tangannya.


"Jangan katakan itu." Ares mengalihkan pandangannya kembali menuju Warren, yang menatapnya hingga diam mematung, "Apa?"


"Ti—tidak..." Rasa kekalahan yang begitu besar menyelimuti hati Warren, dia benar-benar sangat terkejut disaat teman baiknya dapat menghasilkan sepasang anak kembar, yang mana sangat mustahil dilakukan oleh dirinya sendiri.


Meskipun Warren sangat memiliki kepercayaan diri bila dia merupakan jenderal yang mampu menggerakkan pasukan lebih baik dibandingkan dengan Ares dan memiliki ilmu pedang murni yang juga lebih baik darinya, namun kepercayaan diri tersebut segera hancur tepat setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Excel, hingga dia merasa sangat rendah diri.


"Yah, jangan terlalu dipikirkan." Ares membalas Warren sembari melepaskan cubitannya.


"Muuuhh!" Excel menggelembungkan kedua pipinya, sangat sebal dengan perlakuan yang baru saja dilakukan suaminya.


Beberapa saat berlalu semenjak Warren dan para tentara elitnya yang hanya berjumlah kurang dari 1.000 prajurit tiba di ibukota.


Prakiraan Ares sedikit meleset karena Warren tiba lebih awal dari yang telah direncanakan sebelumnya, membuatnya memiliki waktu ekstra untuk melakukan persiapan, meskipun harus menunggu sebagian Pasukan Gabungan Faksi Oposisi yang berjumlah sekitar 40.000 prajurit—dari 150.000 prajurit secara keseluruhan yang digerakkan menuju berbagai wilayah di Kerajaan Rowling—untuk tiba di ibukota tidak lama lagi.


Acuh tak acuh, Ares meletakkan pena bulunya dan menyerahkan lembaran perkamen yang baru saja ditulisnya kepada seorang pelayan wanita di dekatnya, yang segera disampaikan kepada Warren.


Warren membacanya dengan seksama, melihat poin-poin perjanjian yang diajukan oleh Ares agar tidak menimbulkan kerugian pada pihaknya.


Perjanjian persekutuan, perjanjian yang sekali lagi dibuat oleh House of Rueter bersama dengan Faksi Oposisi yang dipimpin oleh Margrave Francois dengan Warren sebagai perwakilannya, yang digunakan untuk memperbarui beberapa perjanjian sebelumnya yang secara garis besar hanyalah merupakan perjanjian anti agresi.


Tentu, hal tersebut juga berisikan perjanjian pasca perang, yang mana Ares menuntut agar seluruh rumah bangsawan yang berada dalam Faksi Oposisi harus bersumpah setia kepadanya dengan timbal balik berupa posisi tinggi dalam pemerintahan setelah Ares memproklamasikan negaranya.


Tidak hanya itu, perjanjian ini juga berisi mengenai pembagian wilayah, rampasan perang, serta hak-hak yang akan diterima oleh setiap rumah bangsawan yang tergabung dalam faksi.


"Bagaimana?" tanya Ares sembari tersenyum masam.


"Di luar ekspektasi, aku bahkan tidak berpikir kau akan menawarkan ini kepada kami." Warren mengambil segel faksi serta rumahnya, tanda bahwa ia sedikitpun tidak memiliki keberatan terhadapnya.


Di atas tanda tangannya, dua segel terukir. Warren mengembalikan lembaran tersebut dengan cara yang sama seperti yang Ares lakukan sebelumnya.


Sesaat Ares menandatangani lembaran tersebut, Excel sedikit mengintip dengan memasukkan kepalanya ke dalam lengan bagian dalam suaminya, hingga membuat Warren menjadi sangat gatal terhadap pemandangan di hadapannya.


"Sayang," panggil Excel.


"Ya, apa itu?" tanya Ares.


"Kurasa, kau harus mengubah pertemuan para aristokrat menjadi setiap 4 tahun mengingat wilayah yang akan kita dapatkan sangat luas nantinya," timpal Excel.


"Seperti yang dikatakan. Bagaimana pendapatmu, Warren?" balas Ares dengan menatap kembali pada Warren.


"Kau... baik-baik saja dengan itu? Bukankah itu akan sangat berdampak pada kesetiaan para bangsawan kepada keluarga kalian nantinya?" Warren mengerutkan kening, tidak hanya kepada Ares yang dapat dengan mudah menerima usulan Excel, namun juga terhadap Ares yang tidak sedikitpun terlihat memiliki wibawa.


"Tidak masalah, aku sangat mempercayai keputusan istriku." Tanpa penundaan, jawaban Ares sekali lagi membuat Warren tersenyum kecut.


"Yah... aku tidak keberatan mengingat akan ada banyak bangsawan baru dengan wilayah kecil nantinya," timpal Warren.


Bagi para bangsawan kecil, bepergian ke tempat jauh akan sangat menguras harta mereka. Terlebih lagi, mereka memiliki beban pajak pada negara yang harus dibayarkan setiap tahunnya.


Akan sangat memudahkan bagi mereka jika saja kewajiban mereka untuk "melapor" ke ibukota menjadi setiap 4 tahun sekali.


Ares mengganti rentang waktu pertemuan wajib para bangsawan menjadi 4 tahun dengan mencoret apa yang sebelumnya telah disepakati. Segera, dia menyerahkan lembaran tersebut pada seorang birokrat di dekatnya, "Salin kesepakatan ini."


"Baik, Tuan." Birokrat tersebut menundukkan dalam kepalanya.


Tentu, pembuatan salinan sebuah perjanjian harus dihadiri oleh birokrat dari dua pihak yang melakukan perjanjian, yang mana mereka akan kembali menuliskannya dengan lebih indah dan akan dibubuhi segel oleh seseorang yang mendapat kepercayaan bangsawan untuk membawa segel rumahnya.


"Ayo mencari udara segar." Ares bangkit dengan menggendong Excel di punggungnya.


"Maaf, aku tidak akan mengikuti kalian." Warren benar-benar merasa tersiksa jika dia diharuskan untuk melihat kemesraan pasangan di hadapannya setiap waktu, yang membuatnya menolak tawaran Ares.


"Sayang, jangan mengajaknya. Dia hanyalah seorang pria lemah," bisik Excel dengan nada keras.


Kedutan terlihat pada salah satu kelopak mata Warren, "Aku pergi, aku akan mengunjungi Kepala Akademi." Sangat muak, ia pun bangkit dan segera menuju pintu di sudut ruangan.


Muncul keinginan untuk menggoda, meskipun sebelumnya Ares tidak ingin sekalipun menginjak-injak harga diri Warren. Namun, melihat tingkah lakunya yang sangat mirip dengan seorang anak kecil, dia menjadi tidak dapat sedikitpun menahan keinginan terpendamnya.


"Oh, benar. Tolong sampaikan salamku padanya. Sampai jumpa lagi nanti malam, Pria Lemah!" ujar Ares dengan melambaikan ringan tangannya yang tidak menahan tubuh Excel.


"Jangan lupa jika kau memiliki makan malam dengan kami, Pria Lemah!" Excel melambai dengan teriakan keras.


BRAK!


"Sial!" Menutup pintu dengan keras, Warren berteriak penuh kekesalan.


Memandang interaksi ketiga orang di hadapannya, para ksatria House of Rueter serta House of Francois hanya dapat melukiskan ekspresi rumit di atas wajah mereka.


...----------------...


jangan lupa likenyaa!