I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 100 : Nol Besar



Tahun 1236, 21 September.


Kota Ereth, Wilayah Margrave Rueter.


Siang Hari.


"Selamat datang di kastil kami, Yang Mulia Pangeran Sieg, Yang Mulia Putri Claire." Ares menyambut dengan sedikit menundukkan kepalanya diikuti Excel yang berdiri di sampingnya. Segera, Ares mengubah ekspresinya menjadi penuh penyesalan, "Mohon maaf apabila Anda berdua sangat merasa kurang dalam hal penyambutan ini."


"Tidak perlu, Margrave. Ini merupakan akibat tindakan kami yang sangat tidak sopan kepada Anda," jawab Sieg dengan sedikit gelisah.


Berada di depan pintu gerbang salah satu bangunan kastil, Ares beserta Excel melakukan sebuah penyambutan sebagai bentuk formalitas kepada Sieg dan Claire, yang merupakan pembesar dari salah satu kerajaan yang membentuk Konfederasi Lemane.


Pandangan Ares sejenak teralihkan kepada Excel sembari mengulurkan salah satu lengannya kepadanya, "Perkenalkan, dia adalah istriku, Excel von Rueter."


Sedikit berbeda dengan bangsawan eropa di dunia Ares sebelumnya, mayoritas negara-negara yang berada di benua barat, penamaan seseorang akan mengikuti dimana pribadi tersebut memasuki rumah lain. Jika seorang wanita telah menikah dan memasuki rumah suaminya, maka nama keluarga wanita tersebut akan berubah menjadi nama rumah suaminya.


"Merupakan sebuah kehormatan besar bagi saya karena dapat bertemu dengan Anda, Yang Mulia." Excel sedikit mengangkat gaun oranyenya sembari menunduk ringan dengan salah satu kakinya yang berlutut kecil.


Sieg dan Claire pun membalas dengan kesopanan yang serupa. Tatapannya sejenak melirik kepada langit yang telah tertutupi banyak awan gelap, Ares mempersilakan mereka berdua untuk memasuki kastil.


Disertai oleh beberapa ksatria yang bertindak sebagai pengawal, Sieg merasa sedikit tidak nyaman. Tentu, Ares dengan sengaja memperlakukannya seperti dirinya memperlakukan Lucas, yang juga merupakan seorang Pangeran.


Perlakuan yang tengah dilakukan oleh Ares seolah memiliki pesan berupa "Aku akan membantumu, jadi jangan meminta terlalu banyak."


Hingga mereka tiba di sebuah ruangan yang memiliki pintu besar berwarna putih, Ares berbalik kepada Sieg dan berkata, "Silakan, Yang Mulia."


"Terima kasih, Margrave." Sieg menolehkan wajahnya kepada beberapa pengawal di belakangnya, "Terima kasih, aku tidak membutuhkan suatu pengawalan."


Para pengawal tentu juga merasakannya, mengikuti bimbingan seorang pelayan yang diperintah oleh Ares untuk menunggu di ruangan lain.


Dengan dua ksatria pengawal yang berjaga di luar ruangan, mereka berempat memasuki pintu besar tersebut dan duduk di sebuah sofa kulit mewah yang sangat nyaman hingga membuat perasaan Sieg dan Claire semakin tidak terasa nyaman.


Setelah sejenak bercakap-cakap ringan sebagai pembuka, Ares mengubah ekspresinya menjadi penuh keseriusan, "Jadi... bolehkah saya mengetahui maksud kedatangan Anda ke kota kami, Yang Mulia Pangeran Sieg, Yang Mulia Putri Claire?"


Ares tentu telah mengetahui maksud tersirat berupa permintaan bantuan dari surat yang diterimanya sebelumnya. Untuk mengetahui kesungguhan mereka berdua, Ares memutuskan untuk sekali lagi bertanya kepada mereka.


Tidak berbeda dengan Claire, Sieg menunjukkan ekspresi yang terlihat penuh penyesalan, "Mohon maaf, meskipun saya mengetahui perilaku saya pribadi yang tidak begitu sopan kepada Anda... Sesuai dengan apa yang telah saya tuliskan sebelumnya, negara kami membutuhkan sebuah uluran tangan."


Tidak hanya Ares, bahkan Excel juga terlihat sedikit kagum dengan kata-kata Sieg yang sangat berterus terang tersebut.


"Melawan Natrehn?" Ares menghapus bentuk keformalannya dengan menunjukkan bahwa dirinya? memiliki posisi yang lebih unggul, "Tidak, lagipula aku tidak akan memiliki keuntungan apapun bahkan jika aku membantumu."


Claire tanpa sadar menjatuhkan setetes air mata, kedua tangan Sieg pun juga mengepal erat. Mereka sadar keruntuhan negaranya yang telah berada di pelupuk mata.


Idealisme berupa kata-kata kemanusiaan tidak mungkin keluar dari bibir Sieg dan Claire. Mereka tentu mengerti jika hal tersebut besar dapat membuat perasaan Ares dan Excel menjadi buruk.


Tidak terdapat seorangpun saksi di dalam ruangan, hanya satu hal yang terlintas di dalam benak keduanya.


Merendahkan diri hingga titik terendah.


Tidak hanya Claire, Sieg menjatuhkan tubuhnya di atas lantai dengan bersujud, "Tolong... Saya akan bersumpah setia kepada Anda dan menyerahkan Claire!"


"Cih." Excel mendecakkan lidahnya karena kesal, "Nilai apa yang sebenarnya dimiliki oleh seorang putri dari negara yang akan hancur?"


Ada sedikit kecemburuan di dalam hati Excel. Namun, dia mengerti jika dirinya tidak dapat mengedepankan emosinya pribadi dalam suatu pertemuan politik. Meskipun begitu, terdapat sebuah cubitan kuat di salah satu lengan Ares yang membuatnya samar memiliki ekspresi kesakitan.


Tetap saja, rasa muak pun muncul disaat Ares melihat dua orang pembesar sebuah negara dengan mudah merendahkan kepalanya hingga berada di atas tanah. Tidak lagi memiliki harga diri, hanya anggapan tersebut yang melekat erat di dalam benak Ares.


"Ta—tapi—" Sieg mengangkat kepalanya.


"Tolong jangan membuatku mengatakannya dua kali," timpal Ares.


Dengan berat, Sieg dan Claire menuruti perkataan Ares dengan sedikit gelisah.


"Nol besar," ungkap Ares seolah malas.


Sedikit bingung terhadap perkataan Ares, Sieg dan Claire saling melirik satu sama lain.


"Kehormatan, wibawa, teknik diplomasi... semuanya nol." Ares mendengus kesal sembari mengalihkan wajahnya kepada Sieg, "Apakah kau benar-benar akan membuang adikmu begitu saja?"


Sieg menunduk dengan perasaan bersalah. Dia benar-benar bingung bagaimana harus bertindak agar Kerajaan Lethiel tidak hancur.


Bertentangan dengan Sieg, Claire, yang merupakan seorang gadis yang baru saja menginjak usia 15 tahun, menatap Ares dengan penuh kekesalan, "Apa yang sebenarnya kau ketahui tentang kami?! Bahkan, kau tidak pernah merasakan pende—"


"Ibuku dibunuh tepat di depan mataku sendiri disaat aku berumur 5 tahun." Excel menyela kata-kata Claire dengan sedikit keras.


Claire memotong kata-katanya. Sedikit tertunduk dengan mata yang terlihat penuh kesedihan, dia benar-benar tidak mengetahui bagaimana harus membalas perkataan Excel.


"Hah..." Ares menghela napas berat sembari bangkit dari tempat duduknya.


Berjalan mendekati sebuah zirah yang memiliki pedang di pinggulnya di salah satu sudut ruangan, perilakunya hanya dapat membuat Sieg, Claire, bahkan Excel bingung.


SRAANG!


Bunyi gesekan pedang yang bilahnya memiliki dua mata dengan sarungnya terdengar. Ares menghunuskan pedang zirah hiasan tersebut dan berjalan mendekati tempat duduk Sieg.


SRAT!


Hempasan udara terasa tepat berada di samping lehernya. Sieg benar-benar memiliki rasa takut akan kematian hingga membuatnya menutup mata.


Tidak hanya Excel, bahkan Claire sangat terkejut hingga membuatnya seketika menutup mata disaat Ares menghunuskan pedangnya.


"Angkat kepalamu," perintah Ares.


"Hah?!" Sieg sedikit membuka matanya karena mendengar suara Ares.


Tak mengacuhkan reaksi Sieg, Ares dengan perlahan mengangkat bilah pedang yang berada di dekat leher Sieg hingga membuatnya dengan paksa mengadahkan wajahnya.


SRAT!


Menarik cepat bilah pedangnya, Ares segera menghunusnya tepat di samping punggung Sieg. Bilah pedang semakin mendekat, Sieg secara paksa harus menegakkan kembali punggungnya agar tidak terluka.


"Tegaplah, banyak orang yang lebih menderita dibandingkan dengan kalian. Seorang bangsawan tidak diperbolehkan dengan mudah mengoleskan keningnya di atas lantai. Kalian pasti mengerti tentang konsekuensi dari perbuatan kalian, bukan?" ujar Ares sembari menyarungkan kembali bilah pedangnya.


Mendengar kata-kata tersebut, Sieg dan Claire hanya dapat terdiam.


Ares tentu mengetahui jika mereka berdua berada dalam keadaan yang sangat tersudut hingga tidak memiliki masa depan selain kehancuran negaranya, namun dia benar-benar tidak menginginkan Sieg meminta bantuannya menggunakan cara yang baginya benar-benar bodoh.


Sebuah senyuman kecil terpancar dari wajah Excel, dia benar-benar merasakan suatu kebanggaan tersendiri setelah melihat tindakan suaminya tersebut.


...----------------...