I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Intermission : Akulah Sang Pedagang Besar!



Tahun 1236, 28 April.


Kantor Pusat Firma Coulent, Ibukota Kekaisaran Renacles, Argen.


Siang Hari.


Kekaisaran.


Apa yang ada di dalam benakmu jika kamu mendengar sebuah negara monarki yang disebut dengan kekaisaran?


Tentu saja, adanya negara bawahan dimana semua pemimpinnya tunduk patuh dengan pemimpin negara penguasanya yang disebut kaisar.


Kekaisaran Renacles, dikenal sebagai negara terbesar dan terkuat di dunia, berdiri kokoh di ujung timur benua bagian timur. Memiliki sumber daya alam dan manusia yang sangat melimpah, menjadikannya negara adikuasa karena memiliki kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang luar biasa.


Ibukota Kekaisaran Renacles, Argen, adalah tempat berkumpulnya semua orang yang berasal dari berbagai tempat di seluruh dunia yang menjadikannya sebagai kota terpadat dan tersibuk yang ada di dunia ini.


Hanya berjarak sekitar 50 kilometer di selatan Laut Traval yang di apit oleh tiga negara, menjadikannya pusat ekonomi yang bahkan aktivitasnya dapat mempengaruhi beberapa negara di sekitarnya.


Bagi penduduk yang tinggal di kota tersebut, mungkin saja hanya berkutat di dalam satu daerah karena wilayah kota yang terlampau luas. Tidak ada pembagian distrik di kota tersebut kecuali hanya untuk kalangan aristokrat yang berada di pusat kota, meskipun Argen sendiri memiliki lima tembok kota seolah terlihat memiliki distrik.


Tentu saja, itu disebabkan karena ekspansi kota selama seratus lima puluh tahun terakhir karena kebijakan kaisar yang mendorong perekonomian kekaisaran.


Karenanya, keamanan kota tidak dapat dikatakan bagus kecuali berada di kalangan atas dan distrik bangsawan yang berada di sekitar istana kekaisaran.


Berdiri megah di atas bukit yang berada di tengah-tengah kota, terdapat Istana Kekaisaran Renacles yang menjadi pusat pemerintahan dan tempat tinggal kaisar serta permaisurinya. Tentu saja, jalan-jalan telah diratakan yang membuat bepergian menuju istana dapat menggunakan kereta kuda.


Bagi penduduk ibukota, mereka menyebut kawasan bangsawan dan istana, yang berada di atas bukit, sebagai "Highland" dikarenakan tidak hanya tanahnya yang lebih tinggi, namun juga merupakan tempat tinggal bagi kelas sosial yang lebih tinggi.


Jika Ares melihat Ibukota Argen dan membandingkannya dengan dunianya yang sebelumnya, dia pasti akan berpendapat bahwa Argen akan terlihat seperti Kota Athena yang berada di Yunani.


Di salah satu sudut lingkungan kelas atas yang berada tidak jauh dari tembok yang memisahkan distrik bangsawan dan penduduk biasa, berdiri kokoh bangunan tiga lantai dengan beberapa bangunan lain di belakangnya yang terlihat memiliki warna coklat yang sama.


Firma Coulent, tidak ada penduduk yang tinggal di ibukota yang tidak mengenal nama perusahaan tersebut.


Dipimpin oleh Keluarga Coulent, yang bahkan memiliki pengaruh hingga tidak dapat kaisar sendiri abaikan, menjadikannya dapat bersaing dengan seorang bangsawan berpangkat Duke di kekaisaran karena Firma Coulent memiliki andil dalam memproduksi berbagai senjata, obat-obatan, garam, gula, serta beberapa bidang lainnya.


Meskipun Keluarga Coulent telah diminta oleh kaisar menjadi seorang bangsawan, namun mereka menolaknya dengan alasan tidak ingin memiliki tanggung jawab dengan negara.


Dikarenakan pengaruhnya yang terlalu kuat, pewaris laki-laki yang akan menjadi pemilik perusahaan tersebut di masa depan akan selalu menikahi seorang wanita yang berasal dari rumah bangsawan tingkat tinggi yang dimana mereka tidak ingin kehilangan dukungan perusahaan tersebut.


Tentu saja, semua wanita tersebut telah disumpah untuk meninggalkan keluarganya dan tidak boleh memiliki kepentingan keluarga asal yang akan dibenturkan dengan perusahaan.


Dan juga, Keluarga Coulent membesarkan setiap anak-anaknya dengan pendidikan seperti orang biasa meskipun mereka dilayani oleh seorang pelayan. Hal ini dilakukan agar mereka tidak melupakan bahwa mereka awalnya berasal dari orang biasa.


Terlihat seorang pemuda tampan berambut hitam pendek yang berjalan cepat menyusuri lorong dengan membawa sebuah gulungan perkamen di tangan kanannya diikuti oleh seorang pejabat yang bertindak sebagai asistennya dan seorang pelayan di belakangnya.


Sesampainya di sebuah pintu yang terlihat sederhana, pemuda itupun segera mengetuk pintu tersebut sembari berkata, "Kepala, saya memiliki beberapa surat penting untuk Anda."


"Masuk," timpal suara yang terdengar berasal dari seorang wanita tua dari dalam pintu.


Pemuda itupun segera menarik tuas pintu dan membukanya.


Di dalamnya, seorang pria tua yang memiliki rambut beruban dan berjenggot putih terlihat sedang memandangi jendela ditemani oleh seorang wanita tua yang terduduk di meja yang berada di belakang pria tua tersebut.


Ya, pria tua tersebut adalah Kepala Firma Coulent saat ini, Jensen Coulent. Sedangkan wanita tua tersebut adalah satu-satunya istri sah Jensen, Miranda Coulent.


Tiga orang yang memasuki ruangan pun segera menundukkan kepalanya. Setelah menegakkan tubuhnya, pemuda tersebut berkata, "Kepala, saya memiliki sebuah undangan untuk Anda."


"Apa itu, Loic?" tanya Miranda yang penasaran.


"Permisi," ujar Loic dengan menyerahkan gulungan perkamen tersebut kepada pelayan wanita di belakangnya.


Pelayan tersebut lalu bergerak mendekat dengan langkah kecil menuju meja Miranda dan menyerahkannya. Setelah menerimanya, Miranda berkata, "Aku buka ya."


"Ya," jawab Jensen di belakangnya.


Sedikit penasaran terhadap isi perkamen, Jensen pun berbalik dan mengarahkan wajahnya ke bahu istrinya tersebut untuk membaca isi perkamen bersamanya.


"Wilayah Otonomi Khusus yang tidak mengambil pajak..." ujar Jensen yang terkagum.


"Bagaimana menurutmu, sayang?" tanya Miranda yang sedikit heran.


"Hmm... dibandingkan dengan undangan ini, aku lebih tertarik untuk bertemu pengirimnya," jawab Jensen dengan sedikit menaikkan sudut bibirnya.


Ketika Loic melihat perilaku kedua kakek dan neneknya, ia hanya dapat dibuat gerah karenanya. Lahir dan dibesarkan sebagai orang biasa, membuatnya tidak dapat memperlakukan tunangannya yang berasal dari seorang bangsawan kekaisaran yang memiliki pangkat Marquis karena memiliki kebiasaan yang sangat berbeda.


Loic pun harus terus menerus diremehkan dan diejek oleh tunangannya meskipun itu hanya terjadi apabila hanya ada mereka berdua.


"Apakah kamu ingin pergi ke Lombart, Ibukota Kerajaan Rowling sebagai perwakilan Firma Coulent, Loic?" tanya Miranda dengan tersenyum hangat.


"Mengapa bukan ayah atau kakak? Saya hanyalah seorang anak yang tidak memiliki satupun pengalaman," tanya Loic kembali dengan rasa rendah diri.


"Anggap saja bahwa ini adalah langkah awalmu untuk mendapatkan hal itu, Loic. Aku juga tidak memiliki perasaan yang baik apabila aku memerintahkan mereka untuk memenuhi undangan ini mengingat jadwal pertemuan ayah dan kakak perempuanmu yang telah sangat padat hingga dua tahun ke depan," jawab Jensen dengan hangat.


"Aku juga setuju. Jika dilihat kembali, surat ini memiliki gaya tulisan yang terlihat seperti seorang anak sebayamu. Gunakan ini sebagai langkah awalmu mengingat lawanmu nanti hanyalah seorang bangsawan muda yang baru saja mewarisi rumahnya," sambung Miranda.


"Baik, terima kasih, Kepala," jawab Loic dengan menunduk.


"Mengapa kamu tidak pergi kesana bersama dengan tunanganmu?" tanya Miranda menyarankan.


"Ti—tidak..." jawab Loic sedikit gelisah.


"Hm? Ada apa? Yah, mungkin saja dia akan sedikit kesulitan menyesuaikan kebiasaannya seperti aku dahulu ketika masih muda," timpal Miranda yang bernostalgia.


"Baik..." timpal Loic seolah menyerah dengan takdirnya.


Saat itu, Loic tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan Ares akan sangat mengubah hidupnya dan strategi perdagangan Firma Coulent secara keseluruhan.


...----------------...