I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 66 : Pertemuan Aristokrat? Lihatlah Kebanggaanku!



Tahun 1236, 1 Juli.


Istana Kerajaan Rowling, Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.


Matahari Terbenam.


Langkah kaki ringan dari satu pasangan yang masih berada dalam status pertunangan, sedikit membuat iri para bangsawan di sekitar. Tidak ada dari mereka yang mengira bahwa Putri Excel akan sangat cantik dan anggun.


Gerak tubuh dan langkah kaki yang sangat elegan, berjalan berdampingan dengan bergandengan tangan. Keserasian mereka memancarkan sebuah aura tersendiri yang bahkan membuat orang di sekitar mereka terpana, yang secara alami menghentikan langkah kaki dan menoleh untuk sejenak memandang pasangan tersebut.


Berbeda dengan audiensi biasa, seluruh pangeran dan putri akan masuk secara terpisah—bersama pasangannya—dengan keluarga kerajaan inti agar keagungan raja dapat lebih terlihat.


Menapaki lantai yang memiliki hiasan abstrak di dalam aula megah dengan banyak tiang-tiang batu berhias emas dengan panggung di bagian ujung aula, langkah Ares dan Excel tetap percaya diri dan anggun seolah merasa lebih baik dibandingkan dengan Sang Raja.


Meja-meja bundar yang berisi banyak makanan mewah dengan taplak putih, lentera-lentera berwarna yang memancarkan cahaya berwarna oranye, dan lukisan-lukisan mewah abstrak menghiasi aula pertemuan yang dihadiri oleh banyak bangsawan.


Tentu, tidak ada seorang bangsawanpun yang berani mendekati Ares—yang mana banyak bangsawan ingin menjilat dirinya—karena dia memiliki tameng yang bernama Excel, seorang royalti.


"Di mana kamu ingin berdiri?" tanya Ares lembut.


"Um... aku serahkan itu padamu," jawab Excel yang wajahnya sedikit merona.


"Baik," timpal Ares.


Membawa tunangannya ke sebuah sudut ruangan yang tak jauh dari panggung, mereka berdua segera didekati oleh Margrave Francois, istri pertamanya, Warren, serta Ann—yang telah memiliki kesepakatan rahasia.


Seorang pria yang berumur sekitar 50 tahun dengan rambut yang kekuningan bersama wanita paruh baya dengan rambut oranyenya yang tergerai panjang yang bersama-sama mengenakan pakaian elegan, tersenyum ramah saat berjalan mendekati Ares dan Excel.


"Selamat malam, Yang Mulia, Margrave," sambut Margrave Francois dengan menundukkan dalam kepalanya diikuti oleh ketiga orang di belakangnya.


Tersenyum anggun, Excel membalas, "Selamat malam, Margrave Francois."


"Selamat malam, Margrave, Nyonya, Tuan Warren, Nyonya Ann," balas Ares dengan menundukkan ringan kepalanya.


"Lama tidak berjumpa dengan Anda, Margrave Rueter. Saya kira semenjak hari kelulusan, bukan?" timpal Margrave Francois.


"Benar... mungkin hari tersebut adalah hari terakhir kami dapat saling bertemu," balas Ares.


Matanya melirik tunangan di sampingnya, Excel tahu nada tersebut mengandung kesedihan yang mendalam meskipun terdengar sangat normal yang bahkan Ares tersenyum cerah untuk menutupinya.


Kabar telah tersiar mengenai tewasnya pendahulu House of Rueter di medan perang. Excel tidak tahu bagaimana harus menimpalinya. Meskipun dia mengetahui rasa sakit kehilangan orang tua, dirinya tidak tahu bagaimana cara menghibur orang lain—yang sangat dirinya sesali karena selalu bersikap egois selama hidupnya sejak kecil.


Pun tidak berbeda dengan Margrave Francois, dirinya merasa telah menginjak ranjau darat. Meskipun rumah mereka berdua tidak berada dalam hubungan dekat, namun hubungannya secara pribadi dengan pendahulu House of Rueter termasuk dekat karena kedua anak mereka yang saling berhubungan baik.


Memasang ekspresi curam, menyesal salah berbicara, Margrave Francois berkata dengan nada yang sangat menyesal, "Mohon maaf, saya tidak bermaksud menyinggung hal tersebut."


"Tidak apa-apa, Margrave. Saya juga tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Jika tidak begitu, saya tidak akan meraih kemenangan melawan Natrehn beberapa bulan lalu," timpal Ares agar mengubah suasana.


"Begitukah?" timpal Margrave Francois dengan nada sedikit lega.


Hanya membalas dengan senyuman, Ares tentu mengetahui alasan dirinya dihampiri oleh Keluarga Francois tepat setelah memasuki aula pertemuan.


Sesuai apa yang telah diprediksikannya, Margrave Francois sedikit mengubah ekspresinya menjadi tajam, "Apakah kedua kaki Anda akan baik-baik saja, Margrave?"


Apakah kamu telalu khawatir?


Perkataan tersebut tentu dapat ditafsirkan sebagai "langkah politik" bagi Ares. Bertentangan dengan nadanya yang terdengar khawatir, pernyataan yang tersirat tersebut seakan mengancam Ares apabila dirinya mengambil langkah yang salah.


Langkah politik Ares—yang berniat untuk menyapu bersih ketiga pangeran dan para pendukungnya—dapat disebut sebagai pemberontakan karena sangat tidak dimungkinkan Excel akan naik tahta, yang mana juga sangat kecil kemungkinan terpilihnya Excel sebagai Putri Mahkota.


"Saya kira Anda harus melihatnya kembali setelah pertemuan tengah tahun ini berakhir, Margrave," timpal Ares.


Pembawaannya menenangkan, wajah Ares melukiskan senyuman seolah tidak ingin lawan bicaranya panik.


"Begitu, saya harap kami dapat menjalin beberapa kerjasama dengan Anda kembali di masa depan," balas Margrave Francois dengan menundukkan ringan kepalanya.


Tajam, dengan nada yang sedikit keras. Margrave Francois berniat untuk menyebarkan rumor kepada para bangsawan di sekitarnya bahwa dirinya tidak setuju dengan niat Ares dan memutuskan untuk berpisah.


Hal tersebut sangat berbeda dengan makna tersirat yang disampaikan kepada Ares. Kata-kata "kami akan melakukan beberapa koordinasi dengan Anda di masa depan" adalah apa yang tentunya dipahami oleh Ares.


Dipahami dengan baik, Ares tersenyum ramah, "Baik, harap nikmati waktu Anda, Margrave."


Melihat Keluarga Francois yang pergi dengan langkah kaki ringan, sedikit membuat Excel berkerut. Dia pun bergumam, "Apa... yang kamu katakan kepadanya, Sayang?"


"Dukungan untukmu yang pertama," balas Ares dengan nada yang sangat rendah.


"Begitu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Excel dengan sangat lirih.


"Nah... aku akan menjelaskannya nanti," jawab Ares.


Melihat tunangannya yang menatap lembut dengan ekspresi hangat, sekali lagi membuat hati Excel sangat panas karena kebahagiaan.


"Baik... aku akan menunggumu," timpal Excel.


Pangeran ketiga beserta tunangannya segera memasuki aula. Perawakannya gemuk, wajah bulat, rambut merah yang berjambul di depan, serta matanya yang tidak memberikan kesan apapun terlihat sangat tidak cocok dengan pakaian glamor putih dengan jubah dengan rajutan emas yang menghiasinya.


Sangat berbeda dengan tunangannya yang mengedepankan kecantikannya, yang mana dirinya sangat memperhatikan rambut pirangnya yang tergerai panjang, bertubuh langsing yang dibalut dengan gaun kuning dengan banyak hiasan emas di rajutannya. Meskipun tatapannya lembut, Ares menilai bahwa dirinya sangatlah munafik karena hanya ingin menikmati kekayaan yang dimiliki oleh tunangannya.


Para bangsawan faksinya—yang tentu saja terdiri dari para bangsawan lemah—segera berkerumun kepadanya dimana mereka hanya ingin menjilat kekayaannya, hal tersebut juga tidak berbeda dengan tunangannya yang berasal dari keluarga bangsawan berperingkat Earl.


Berbeda dengan Pangeran Pertama Lucas dan Pangeran Kedua Zee, Pangeran Ketiga diberikan akses keuangan yang lebih melimpah bila dibandingkan dengan ketiga saudaranya yang lain dari perbendaharaan kerajaan.


Selain menjadi anak yang paling disayangi oleh Ratu Pertama Milaine—yang juga merupakan ibu Lucas—Pangeran Ketiga seolah diminta agar menikmati hidupnya saja sehingga dirinya tidak merepotkan kakaknya, Pangeran Lucas, dalam perebutan tahta oleh Lucas dan faksi istana.


Memutuskan untuk menunggu dan melihat, Ares dan Excel berdiam diri hingga dua royalti lain tiba di aula dengan tidak memberikan salam di awal agar dirinya tidak dinilai bergerak untuk mendukung Pangeran Ketiga.


Sembari menyalami beberapa bangsawan yang datang ke arahnya, Ares dan Excel melihat bahwa dua pangeran lain memasuki aula.


Saatnya tiba.


Mari jalankan rencananya.


Menatap para royalti yang akan menjadi mangsanya, Ares berniat untuk membalaskan dendam jiwanya yang lain serta tunangannya yang sangat dicintainya.


...----------------...