I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 32 : Jadilah Pengawalku!



Tahun 1236, 6 April.


Bagian Barat Kaki Pegunungan Brenne, Wilayah Count Dupent.


Pagi Hari.


Saat ini, satu-satunya pemain yang pernah memenangkan game Regulus World Kingdom Battle Royale, memiliki hati yang sangat berguncang meskipun ia terlihat sangat tenang.


Tentu saja, itu karena dia melihat sesuatu hal yang sangat tidak masuk akal yang menggantung di pinggul Excel.


......................


...[Item]...


Nama : Lumient Sword


Kelas : Ancient


Efek :



Keahlian Senjata +18


Kelincahan +17


Tubuh +15



Efek Khusus :



Keahlian Senjata +12 (30 menit, cooldown 6 jam)


Critical Rate +10% (Berlaku pada serangan kombo ketiga)



......................


Me—mengapa dia memiliki senjata kelas Ancient?!


Dari mana dia mendapatkannya?!


Bukankah seharusnya pedang yang kau miliki adalah kelas Legendary saat aku bertarung melawanmu dulu?!


Juga, criticalnya terlalu menakutkan, gila!


Saat Ares telah melirik Esther yang hendak mencapai tempatnya berada, dengan lirih ia merapal, "Appraisal" kepada Esther dan Excel untuk membandingkan status milik mereka berdua.


......................


...[Status]...


Nama : Esther


Umur : 13 Tahun


Jenis Kelamin : Perempuan


Gelar : Gundik Margrave Rueter


Afiliasi : Margrave Rueter, Kerajaan Rowling


Statistik


Keahlian Senjata : 45 (+0)


Kelincahan : 77 (+0)


Kepandaian : 79 (+0)


Tubuh : 39 (+0)


Kepemimpinan : 30 (+0)


Loyalitas : 96


Moral : 78


Pelatihan : 65


......................


......................


...[Status]...


Nama : Excel von Linius Rowling


Umur : 16 Tahun


Jenis Kelamin : Perempuan


Gelar : Putri Pertama, Kerajaan Rowling


Afiliasi : Keluarga Kerajaan Rowling


Statistik


Keahlian Senjata : 89 (+19)


Kelincahan : 92 (+17)


Kepandaian : 28 (+0)


Tubuh : 88 (+15)


Kepemimpinan : 18 (+0)


Loyalitas : 20


Moral : 79


Pelatihan : 67


......................


Gila...


Aku tidak menyangka tiga poin status yang dimiliki oleh Excel dengan pedang tersebut telah melebihi 100 poin.


Juga, bukankah mereka berdua dapat saling melengkapi jika hanya melihat dari status mereka?


Esther pun tiba di dekat Ares dan Excel berada. Setelah mengamati Esther selama beberapa saat, Excel mengubah ekspresinya seolah tersenyum gembira.


Jika aku tidak salah, bukankah kau adalah anak yang dikutuk oleh iblis yang kudengar dari rumor?


Warna kedua matamu terlihat sangat kontras.


Namun, mengapa kau bersama dengan tunanganku?


Hmm, menarik.


Aku akan mengetesmu.


TRANG!


Tanpa penundaan, Excel segera menghunuskan pedangnya dan mengarahkannya kepada Esther. Tetap saja, ia mengurangi kekuatan dan kecepatannya karena menganggap Esther berada di bawahnya.


Mata Ares dan para prajurit di sekitar mereka pun membulat ketika dia melihat kedua pedang mereka saling bersentuhan.


Excel pun menarik kembali pedangnya lalu berputar dan mengarahkan pedangnya secara horizontal ke arah Esther dengan kecepatannya yang sedikit ditingkatkan.


TRANG!


Seolah telah memprediksikannya, Esther menangkis pedang yang ditujukan kepadanya dan melompat mundur.


A—apa yang wanita ini akan lakukan kepadaku?!


Mengapa aku sangat ketakutan dan gelisah ketika melawannya?!


Juga, serangannya terasa semakin berat!


Aku tidak tahu apakah aku dapat menahan serangannya yang ketiga!


Esther hanya dapat memegang pedangnya dengan gemetaran ketika ia menatap Excel.


Excel pun menurunkan pedangnya dengan mempertahankan ekspresinya yang terlihat bersenang-senang. Lalu, ia berkata, "Kamu... jadilah pengawalku."


"Hah?!" ujar Ares yang terkejut.


"Um... maafkan saya... Yang Mulia," jawab Esther yang gemetaran.


Bagi Esther, Ares adalah satu-satunya orang yang ia percayai dan memiliki hutang budi kepadanya. Esther juga telah bersumpah untuk selalu berada di samping Ares saat ia mengambil uluran tangannya.


Meskipun ia sangat gelisah dan ketakutan, ia benar-benar tidak dapat meninggalkan orang yang telah menyelamatkan hidupnya dahulu.


Excel mengubah ekspresinya menjadi kesal. Dengan cepat, ia melangkah menuju tempat Esther berada dan menghunuskan pedang di leher Esther dari balik tubuhnya.


"Eh?!" ujar Esther yang merasakan bilah pedang yang telah menyentuh lehernya.


"Serangga seperti dirimu menolak perintahku?" tanya Excel ketus.


Karena situasi yang tidak dapat diprediksi, Ares dan para prajurit yang lain hanya kebingungan dan panik karena tidak tahu harus melakukan apa.


Tidak apa-apa, Esther!


Turuti segala keinginannya!


Ares hanya dapat menatap mereka berdua dengan kepanikan di dalam hatinya.


Merasa darah telah menetes dari kulit lehernya, Esther telah memantapkan hatinya untuk mengakhiri hidupnya.


Meskipun hanya sebentar... saya benar-benar bahagia dapat tinggal bersama Anda, Tuan...


"Saya telah bersumpah setia hanya kepada Ares von Rueter, Yang Mulia," jawab Esther dengan meneteskan air mata.


Setelah mendengarnya, Excel menyarungkan kembali pedangnya dan tertawa dengan terbahak-bahak, "Ahahahaha!"


Ares dan para prajurit lainnya hanya dibuat bingung oleh reaksi Excel. Setelah meredakan tawanya, Excel bergerak untuk mendekati Ares dan meraih tangannya sembari berkata dengan bersemangat, "Aku mau dia!"


"A—apa maksud Anda, Yang Mulia?" tanya Ares dengan sedikit gugup.


"Um, benar! Jadikan dia sebagai bawahanku setelah kita menikah, Ares!" jawab Excel dengan nada riang.


Setelah mendengar hal tersebut, Esther dan para prajurit hanya dapat dibuat terkejut. Karena sifatnya yang belum resmi, Ares hanya mengatakan niatnya untuk menikahi Excel kepada para pembantu dekatnya.


Tentu saja, Esther, Gnery, serta para prajurit tidak mengetahui bahwa Tuannya akan menikahi orang yang sangat menakutkan seperti itu.


Meskipun sebelumnya mereka telah mendengar Excel yang mengatakan tentang proposal kepada Ares, mereka tidak menyangka bahwa itu merupakan sebuah proposal pertunangan.


"I—itu..." timpal Ares yang bingung.


Seakan tidak menerimanya, Esther berteriak, "Mo—mohon tunggu! Yang Mulia!" dan berlari mendekati Excel.


Setelah Esther mendekati mereka dengan ekspresi yang terlihat tidak puas, Excel bergerak ke belakang tubuhnya lalu memeluk Esther dari belakang dengan mendekatkan wajahnya ke telinga Esther.


"Apakah kamu benar-benar telah dikutuk oleh Iblis?" bisik Excel seolah tidak peduli dengan protes Esther sebelumnya.


"Saya... tidak tahu... Yang Mulia..." jawab Esther lirih.


Ares hanya kebingungan dengan tingkah laku Excel dan memutuskan untuk hanya mengamati mereka.


"Bukankah kamu telah mengalami penderitaan yang begitu berat selama ini?" tanya Excel dengan berbisik.


Esther hanya terdiam karena tidak dapat membalas perkataan Excel. Baginya, ia tidak ingin membicarakan masa kelamnya karena itu akan membangkitkan ingatan buruknya kembali.


Tentunya, Esther sangat bersyukur karena Tuannya tidak pernah bertanya tentang masa lalunya, meskipun ia telah berniat memberi tahu Ares suatu saat nanti.


Entah mengapa, setelah mendengar pertanyaan dari Excel, hatinya menjadi keruh oleh sesuatu.


"Kamu mengikuti Ares karena ingin mencari kekuatan, bukan?" tanya Excel dengan berbisik.


Aku... tidak tahu...


"Mengapa kamu tidak hidup untuk dirimu sendiri?" sambung Excel dengan berbisik.


Apakah aku... benar-benar dapat melakukan itu?


Bukankah itu terlalu menyenangkan?


Kupikir, itu hanya mimpi bagiku...


"Mengapa kamu tidak menggunakannya untuk membalas dendam yang telah berakar di dalam hatimu?" sambung Excel dengan berbisik.


Aku... aku...


Apakah... aku benar-benar berniat untuk menyelamatkan orang-orang yang bernasib sepertiku?


Jika memikirkannya kembali... bukankah itu hanya untuk memenuhi kepuasan pribadiku semata?


Apa yang akan kamu pikirkan mengenai seorang gadis berumur 13 tahun yang orang tuanya telah tiada dan mengalami kekerasan dalam bentuk fisik dan mental oleh orang-orang di sekitarnya?


Apalagi, Esther sedang berada dalam masa yang labil dan lebih condong untuk mementingkan dirinya sendiri karena dirinya yang telah mengalami masa-masa yang kelam.


Setelah menyaksikan reaksi Esther yang semakin gelisah, Excel pun tersenyum dan berbisik, "Mereka tidak akan pernah tahu rasanya tersakiti jika kamu tidak menyakiti mereka, kau tahu?"


"Baik... Yang Mulia," timpal Esther dengan nada penuh dendam.


"Bagus. Juga, kamu tidak akan berpisah dengannya, kau tahu? Bukankah kau mengetahui bila aku akan menikah dengannya?" balas Excel dengan nada bahagia.


"Terima kasih... Yang Mulia," timpal Esther.


Setelah melepaskan pelukannya, Excel pun berjalan mendekati Ares.


"Apa... yang Anda katakan kepadanya, Yang Mulia?" tanya Ares dengan gelisah.


"Bukankah tunanganku saat ini membutuhkan suatu bantuan?" tanya Excel kembali dengan tersenyum cerah.


"Yah... itu benar," jawab Ares yang mengakuinya.


Excel pun memeluk lengan Ares dan berkata dengan nada riang, "Jadi, apakah kamu memiliki suatu kejutan untukku?"


Ares tersenyum dan menjawab, "Tentu saja, Yang Mulia."


Namun, saat Ares mengalihkan pandangannya menuju Esther kembali, ia melihat bahwa sorot matanya sangat gelap, sangat berbeda dengan sorot mata yang dilihat Ares sebelumnya.


Saat itu, Ares tidak menyadari bahwa ia telah menanam bibit bencana hanya karena telah mempertemukan kedua wanita tersebut.


...----------------...


Catatan :


Aku melakukan kesalahan sebelumnya. Aku telah mengganti kelas Verze Sword milik Ares menjadi Mythic karena itu dapat meningkatkan poin statistik dalam rentang 6-10.


Juga, ayo berperang di episode selanjutnya!


...----------------...