I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 73 : Meningkatkan Kesan Sebelum Bertransaksi Itu Penting, Kau Tahu?



Tahun 1236, 5 Juli.


Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.


Pagi Hari.


Mentari telah naik cukup tinggi menandakan aktivitas ibukota yang telah menjadi sibuk kembali, pun tidak berbeda dengan seorang pemuda berambut hitam dengan seorang pejabat firma pria dan seorang pelayan wanita di belakangnya yang hendak keluar dari salah satu penginapan terbaik di ibukota.


"Apakah kalian mengetahui keberadaan Putri?" tanya Loic.


"Mohon maaf, Tuan Muda. Namun, Putri Ellen sedang mengunjungi beberapa tempat tertentu di Ibukota Lombart," timpal pejabat pria di sampingnya dengan sedikit membungkuk meminta maaf.


Keningnya berkerut, Loic merasa bahwa dirinya tidak dapat mengharapkan apapun dari tunangannya yang merupakan seorang putri yang berasal dari keluarga bangsawan kekaisaran berpangkat Marquis tersebut.


Matanya terpejam. Loic berusaha untuk mengalihkan perasaannya yang sedikit jengkel—karena dirinya akan menghadiri sebuah pertemuan penting—dengan menghirup napas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.


Dengan sedikit penundaan, Loic berkata dengan nada seolah menyerah, "Jika begitu, tolong siapkan kereta kuda."


Ekspresi dua orang tersebut menjadi sulit yang membuat Loic sedikit merasakan sesuatu yang aneh. Mengingat dua orang tersebut juga merupakan teman masa kecilnya, Loic tahu bahwa mereka tidak akan membuat ekspresi seperti itu jika tidak terjadi sesuatu yang sangat tidak biasa.


"Sebenarnya... Margrave sendiri telah mengirimkan sebuah gerbong kereta kuda untuk menjemput Anda secara pribadi..." timpal pelayan wanita.


Terkejut, rasa heran pun muncul di dalam benak Loic.


Mengapa Margrave melakukan hal ini?


Meskipun aku mengetahui pengaruh kami yang cukup besar di timur, tetap saja kekuatan kami sangatlah lemah di belahan barat dunia.


Loic menjadi semakin tertarik dengan sosok Ares yang menurutnya sangat berbeda dengan bangsawan pada umumnya, ia pun bermaksud untuk bertanya kepada dua orang di depannya mengenai perlakuan yang harus diambilnya.


"Apa pendapat kalian?" tanya Loic.


"Saya kira... tidak apa-apa untuk menerima itikad baik Margrave, Tuan Muda," jawab Pelayan Wanita tersebut.


"Saya juga," sambung Pejabat Pria.


"Begitu," timpal Loic.


Mereka bertiga pun keluar dari penginapan dan segera disambut oleh sebuah gerbong kereta kuda dengan pintu terbuka dengan seorang ksatria yang mengenakan armor ringan di dekatnya.


"Mohon maaf, apakah Anda adalah perwakilan dari Firma Coulent, Tuan Loic Coulent?" tanya ksatria tersebut dengan membungkuk ringan.


Sangat sopan.


Perlakuan yang sangat tidak biasa kepada Loic, yang hanyalah seorang rakyat jelata biasa, yang tidak memiliki sedikitpun kekuatan di kota ini.


Loic tentu menyadari, meskipun dia berada di kekaisaran, dirinya tidak akan menerima perlakuan sebaik ini dari seorang ksatria dan bangsawan mengingat dirinya yang tidak memiliki kekuatan nyata di dalam firma—yang mana perlakuan mereka akan sangat berbeda kepada kakek dan ayah Loic yang merupakan petinggi firma.


"Ya... saya sendiri," jawab Loic.


"Baik, silakan masuk, Tuan," timpal ksatria tersebut.


"Terima kasih," balas Loic dengan menundukkan ringan kepalanya.


Naik dan memasuki gerbong dengan pejabat pria yang juga merupakan teman masa kecilnya, pintu pun segera ditutup oleh ksatria tersebut.


"Anda tidak perlu mengirimkan kelompok pengawal, Nona. Kami akan bertanggung jawab penuh atas keselamatan Tuan dan pria yang bersamanya," ujar Sang Ksatria.


Terkejut, tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya, membuat pelayan wanita tersebut sejenak kebingungan dan berkata, "Baik... mohon untuk menjaga Tuan Muda."


Ksatria tersebut pun tersenyum, ia membalas, "Baik, saya akan pergi terlebih dahulu," sembari menunduk ringan dan menaiki tempat kusir.


Tubuh Loic sedikit terdampak mundur yang menandakan kereta bergerak. Namun, bukan hal tersebut yang menjadi titik perhatian utama bagi Loic dan pejabat pria tersebut.


"Tuan Muda," panggil Sang Pejabat Pria dengan kekaguman tinggi hingga membuka lebar matanya.


"Aku tahu," timpal Loic dengan nada sangat kagum.


Tidak merasakan sedikitpun getaran dari gerbong kereta kuda yang mereka naiki, sangat membuat mereka berdua tercengang. Meskipun kereta kuda biasa melewati jalanan ibukota yang rata dan terawat, tetap saja akan terjadi sebuah guncangan kecil walaupun kereta kuda tersebut bergerak dengan kecepatan rendah.


Sembari merasakan kekaguman tinggi disaat mereka berdua meratapi pemandangan kota, kereta kuda yang mereka naiki pun tiba di kediaman Margrave Rueter yang berada di dalam Distrik Bangsawan Ibukota Lombart.


Segera, mereka melihat banyak gerbong kereta kuda—yang memiliki lambang House of Rueter—terparkir di salah satu sudut halaman mansion.


Gerbong terhenti dan pintu seketika terbuka. Loic beserta pejabat tersebut pun turun dari gerbong dan segera disambut oleh beberapa pelayan.


Dengan menunduk ringan sembari memasang wajah yang cerah, salah seorang pelayan berkata, "Selamat datang di Kediaman House of Rueter, Perwakilan Firma Coulent. Saya akan memandu Anda menuju ruangan yang akan digunakan sebagai tempat pertemuan nanti."


Kagum.


Merasa sangat dihargai.


Loic seketika menaikkan kesan yang dimilikinya kepada seseorang yang bernama Ares von Rueter. Pun tidak berbeda dengan para pedagang lainnya, tidak ada yang tidak dapat lepas dari keterkejutan terhadap perlakuan yang diberikan Ares kepada mereka.


Mereka pun tahu, meskipun para pedagang tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar, tetap saja tidak ada diantara mereka yang mampu mengalahkan pengaruh seorang bangsawan berperingkat tinggi seperti Marquis dan Duke di negeri mereka sendiri.


Berjalan bersama dengan teman masa kecilnya menyusuri lorong mansion dengan bimbingan seorang pelayan wanita, mereka pun sampai di depan pintu kembar berwarna putih.


Pelayan tersebut pun mendorong pintu sembari menundukkan ringan kepalanya dengan berkata, "Silakan, Tuan. Namun, mohon maaf, untuk pembantu Anda disilakan untuk menempati ruang khusus yang telah kami sediakan."


"T—tapi..." timpal Pejabat Pria tersebut keberatan.


"Kami bertanggung jawab penuh atas keselamatan Anda berdua hingga Anda kembali ke penginapan, Tuan," timpal Pelayan tersebut.


"Tidak apa-apa. Kupikir juga akan sedikit tidak nyaman apabila terdapat banyak orang di dalam ruangan," balas Loic sembari menoleh kepada pejabat pria di belakangnya.


"Baik... mohon jaga diri Anda, Tuan Muda," balas Pejabat Pria tersebut.


"Ya, aku pergi," timpal Loic.


Setelah memasuki ruangan yang sangat besar meninggalkan Pejabat Pria tersebut yang menuju ruangan lain dengan bimbingan pelayan, Loic melihat seorang pria tua—yang sangat dikenalnya karena menjadi rival bisnis perusahaannya—serta beberapa wajah yang asing baginya sedang duduk di kursi dengan meja persegi panjang yang di depannya terdapat sebuah kue beserta teh yang tercium keharumannya.


Semua orang di dalam ruangan menolehkan wajahnya kepada Loic yang baru saja memasuki ruangan.


Pria tua dengan rambut penuh uban tersebut segera bangkit dari kursinya dan menyambut sembari berjalan mendekati Loic, "Sudah lama tidak bertemu, Tuan Muda Loic," sembari tersenyum tanpa sedikitpun memperlihatkan kelicikannya.


Tentu, para perwakilan pedagang lain tidak mengacuhkan Loic dan hanya melihat interaksi antara keduanya.


"Senang melihat Anda berada dalam keadaan baik, Tuan Gene," timpal Loic dengan tersenyum sembari berjalan mendekat.


Mereka pun bersalaman dengan tatapan hangat. Tentu saja, dua perusahaan besar yang telah menjadi rival selama puluhan tahun terakhir, bersaing secara sehat.


Akan menjatuhkan nama baik serta kepercayaan para pelanggan apabila salah satu perusahaan dikatakan melakukan sebuah kecurangan dan sabotase kepada pihak lain—meskipun kedua perusahaan tersebut juga bermain kotor kepada perusahaan dan para pedagang lain.


"Ah, silakan, belum ada yang menempati kursi di samping saya. Akan sangat tidak nyaman apabila Anda duduk di dekat seseorang yang belum Anda kenal, bukan?" timpal Gene.


"Terima kasih, saya akan menerima tawaran baik Anda, Tuan Gene," balas Loic.


Mereka pun duduk secara berdekatan di tempat Gene sebelumnya duduk.


Beberapa orang pun memasuki ruangan. Sejenak, terlihat keterkejutan Gene yang ditampakkannya di atas wajahnya disaat dia melihat seorang pria paruh baya sedikit gemuk dengan rambut biru klimis pendek memasuki ruangan.


"Apakah Anda mengenalnya, Tuan Gene?" tanya Loic penasaran.


"Beliau... merupakan salah satu pedagang terbesar di timur sekaligus merupakan seorang bangsawan tingkat tinggi dari Kerajaan Holenstadt yang saat ini juga menjabat sebagai Menteri Keuangan, Edward el Honzermus," jawab Gene.


Sedikit terkejut, Loic tidak pernah menyangka bahwa Ares dapat mengundang sosok luar biasa sepertinya.


Namun, Loic sekali lagi menjadi lebih terkejut disaat dirinya mendapati pemuda berambut biru yang memasuki ruangan bersama dua wanita di belakangnya dari pintu yang berbeda dengan pintu yang dimasuki Loic sebelumnya.


"Mohon maaf karena telah membuat Anda sekalian menunggu. Perkenalkan, saya adalah Ares von Rueter, Margrave Rueter saat ini serta seseorang yang berkirim undangan kepada Anda sekalian," timpal Ares dengan tersenyum.


Loic tidak pernah menyangka, bahwa Ares—yang juga merupakan seorang pemuda yang sebaya dengannya—memiliki pengaruh hingga dapat memanggil orang-orang berperingkat tinggi—yang bagi dirinya sangat mustahil, bahkan bagi kakeknya sekalipun.


Memantapkan hatinya untuk lebih mengetahui seseorang yang sangat berkesan bagi dirinya, Loic memutuskan untuk benar-benar serius menanggapi tujuan dari undangan yang diberikan Ares—yang juga tidak berbeda dengan kesan para pedagang lainnya.


Sangat berbeda dengan para pedagang tersebut, Ares benar-benar melihat semua orang di depannya sebagai mangsa.


Nah, sekarang...


Ayo rampok uang mereka.


Wajahnya tersenyum cerah, sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya.


Ares menyadari bahwa dirinya tidak dapat membelanjakan uangnya secara royal untuk berperang.


Mengingat bahwa keadaan politik, sosial, dan ekonomi yang akan kacau segera setelah kerajaan dikudeta olehnya, tentunya diperlukan sebuah dana yang berlimpah untuk menstabilkannya kembali—selain dari proyek penelitian persenjataan militernya yang terus berjalan yang tentunya juga membutuhkan dana besar.


Maka dari itu, Ares berniat untuk menggunakan uang para pedagang di depannya sebagai dana perang yang akan digunakannya untuk mengkudeta kerajaan—sebagai niat keduanya setelah membuat mereka berakar kuat di dalam zona perdagangan bebas wilayahnya, Kota Hauzen.


...----------------...