I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 27 : Dekrit Kerajaan? Ayo Berangkat!



Tahun 1236, 1 April.


Lapangan Latihan Kastil Rueter, Kota Ereth.


Pagi Hari.


KLAK!


KLAK!


Di bawah sinar matahari pagi, terlihat dua orang yang sedang berlatih dengan saling menghunuskan pedang kayu mereka.


Karena kalah dengan kecepatan yang dimiliki oleh Esther, Ares membuat Esther memakan umpan yang diberikan olehnya.


Ketika Esther telah memakan umpan yang menyebabkan ia hendak menebas punggung Ares dari belakang, Ares membungkuk dengan sangat rendah secara tiba-tiba yang menyebabkan Esther sangat terkejut.


"Eh?" ujar Esther saat terkejut.


Karena pedang kayu Esther yang telah menebas udara dimana Ares berada sebelumnya, itu menyebabkan Esther kehilangan ketenangannya.


Dengan sigap, Ares memutar tubuhnya dan mengarahkan pedang kayunya untuk menebas punggung Esther yang saat ini berada tanpa satupun penjagaan.


KLAK!


"Argh!" teriak Esther saat terkena pedang kayu.


BRUK!


Karena keseimbangan tubuhnya yang hilang, Esther pun terjatuh setelah terkena pedang kayu Ares.


"Nah, meskipun kamu telah menguasai pedang secara cepat dalam satu pekan terakhir, tetap saja kamu kurang dalam pengalaman nyata, Esther," ujar Ares dengan tersenyum lembut kepadanya.


"Uh... baik, Tuan," ujar Esther saat bangkit dari tanah.


"Tetap saja, mengapa para ksatria mengajarkan padamu ilmu pedang yang suci seperti itu?" tanya Ares keheranan.


Esther tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Ares. Dengan gugup, ia bertanya, "A—apa itu sebenarnya ilmu pedang yang suci, Tuan?"


"Hm? Yah, ilmu pedang yang tidak digunakan di medan perang," jawab Ares lugas.


"Apa yang sebenarnya Anda maksudkan, Tuan?" tanya Esther kembali karena tidak memahaminya.


Ares pun mempersiapkan tubuhnya, lalu ia berkata, "Aku akan menunjukkan ilmu pedang yang digunakan di medan perang."


"Ba—baik!" timpal Esther dengan sigap mempersiapkan posisinya.


Setelah menunggu hingga Esther siap, Ares berteriak, "Mulai!"


Ares pun segera berlari dengan cepat menuju Esther dengan pedang kayunya yang telah terhunus. Ia pun mengarahkan pedangnya untuk menebas Esther dari samping sembari mengambil pasir menggunakan tangan kirinya secara diam-diam.


KLAK!


Esther mempertahankan posisinya dengan memposisikan pedangnya secara vertikal untuk menangkis pedang Ares. Karena perhatiannya yang teralihkan, ia tidak menyadari bahwa Ares telah menggenggam pasir di tangan kirinya.


Setelah menarik pedangnya kembali, Ares melemparkan pasir ke arah mata Esther yang menyebabkan ia panik.


"Ugh!" teriak Esther saat matanya terkena pasir.


Ares pun dengan sigap melangkahkan kakinya dan menghunuskan pedang kayunya saat telah berada di belakang Esther.


"Eh?" ujar Esther saat merasakan pedang kayu yang mengenai kulit lehernya.


Ares pun menjauh dari Esther. Lalu, ia tersenyum dan berkata, "Nah, seperti itulah ilmu pedang yang digunakan di medan perang."


"Bu—bukankah itu sangat licik, Tuan?!" tanya Esther yang tidak puas.


"Hm? Orang mati tidak berbicara, kau tahu?" jawab Ares dengan tersenyum masam.


"Ku!" timpal Esther yang merasa kalah.


"Nah, lagipula, jika kau melawan orang jahat, mereka akan selalu menggunakan trik seperti ini, kau tahu? Jadi, biasakanlah," balas Ares heran.


"Baik... Tuan," timpal Esther yang masih sedikit tidak puas.


Beberapa hari telah berlalu semenjak Ares mengirimkan proposal pertunangan kepada Putri Excel dan Esther yang telah berlatih bersama para ksatria dan prajurit. Melebihi ekspektasi Ares yang ditujukan kepada Esther sebelumnya, ia telah menguasai ilmu pedang setara dengan seorang perwira hanya dalam waktu satu pekan tersebut.


Meskipun begitu, ia sedikit lambat dalam mempelajari beberapa ilmu persenjataan lainnya. Namun, itu hanyalah masalah waktu dikarenakan pergerakkannya yang sangat cepat dan didukung oleh kecerdasannya yang tinggi dalam mempelajari sesuatu.


Saat Esther mengetahui bahwa seseorang yang menjemputnya adalah penguasa wilayah dimana dia tinggal, seketika matanya membulat karena sangat terkejut dan bersujud memohon pengampunan karena sikapnya yang sangat tidak sopan kepada Ares sebelumnya.


Tentu saja, Ares tidak terlalu mempedulikan hal tersebut.


Karena penasaran dengan statistik yang dimiliki oleh Esther saat ini, Ares berkata, "Appraisal" dengan menargetkannya.


......................


...[Status]...


Nama : Esther


Umur : 13 Tahun


Jenis Kelamin : Perempuan


Gelar : Gundik Margrave Rueter


Afiliasi : Margrave Rueter, Kerajaan Rowling


Statistik


Keahlian Senjata : 45 (+0)


Kelincahan : 77 (+0)


Kepandaian : 78 (+0)


Tubuh : 38 (+0)


Kepemimpinan : 28 (+0)


Loyalitas : 95


Moral : 84


Pelatihan : 65


......................


Gila!


Cepat sekali!


Dan juga, apakah gelar tersebut adalah gelar yang diberikan oleh para bawahanku?!


Aku tidak pernah menganggapnya seperti itu, kalian tahu?!


Aku bukanlah seorang pedofil, sialan!


Sekali lagi, Ares hanya dapat terpana ketika melihat statistik Esther yang meningkat secara signifikan disamping dengan gelar baru yang dimiliki oleh Esther.


Merasa kalah dengan Esther, Ares pun berkata, "Appraisal" dengan menargetkan dirinya sendiri.


......................


...[Status]...


Umur : 17 Tahun


Jenis Kelamin : Laki-laki


Gelar : Margrave, Kerajaan Rowling


Afiliasi : Margrave Rueter, Kerajaan Rowling


Statistik


Keahlian Senjata : 50 (+0)


Kelincahan : 48 (+0)


Kepandaian : 47 (+70)


Tubuh : 50 (+0)


Kepemimpinan : 50 (+30)


Kewilayahan dan Militer


Jumlah Prajurit : 48.425


Moral : 85


Pelatihan : 55


Pasokan Makanan : 4.802.850


Jumlah Dana : 8.243.601.210 G


......................


Meskipun empat statistikku yang lain masih lebih tinggi darinya, mengapa aku tetap merasa kalah?!


Juga, aku tidak menyadari bahwa uangku telah berkurang secara drastis!


Aku merasa seperti baru saja dirampok...


Ares semakin meratapi dirinya yang menyedihkan setelah melihat uangnya yang semakin berkurang.


Seorang ksatria wanita pun tiba di lapangan latihan kastil. Setelah mendekati mereka berdua, ia berkata, "Permisi, Tuan. Kami memiliki seorang tamu yang membawa lambang Keluarga Kerajaan Rowling."


Setelah mendengarnya, Ares berbalik dan menemukan Milly yang telah mengenakan seragam ksatria dengan armor ringan.


Setelah melahirkan Wilma, Milly telah diangkat kembali menjadi seorang perwira dan diberikan kenaikan pangkat menjadi Mayor.


Dia juga telah diangkat menjadi selir Ares dan telah memisahkan diri dari Keluarga Vienna. Karenanya, meskipun ia perempuan, Wilma dapat menjadi pewaris House of Rueter apabila Ares tidak memiliki satupun anak dari istri sahnya.


Tetap saja, jika Wilma menjadi pemilik House of Rueter, ia diharuskan mewariskan kepemilikan rumah pada anak laki-lakinya dengan segera.


"Siapa itu?" tanya Ares penasaran.


"Beliau bukanlah seseorang yang termasuk dalam salah satu ordo ksatria kerajaan, Tuan," jawab Milly lugas.


Ares pun tersenyum setelah mendengar jawaban Milly. Terlalu merepotkan untuk berurusan dengan anggota dari salah satu ordo ksatria kerajaan karena mereka memiliki atasan langsung yang berasal dari keluarga kerajaan.


"Baik, aku akan membersihkan diriku lalu menemuinya," timpal Ares tersenyum.


Seolah memahami niat Ares, Milly hanya dapat terdiam dengan wajah memerah karena sangat malu. Esther pun hanya dapat dibuat kebingungan oleh interaksi mereka berdua.


"Esther, lanjutkan pelatihanmu bersama para perwira apabila kamu bosan berlatih dengan para prajurit biasa," ujar Ares dengan menatap Esther.


"Baik, Tuan," timpal Esther lalu menunduk.


Ares pergi bersama Milly meninggalkan Esther yang masih beristirahat di lapangan latihan kastil.


Setelah membersihkan dirinya bersama dengan Milly, Ares menuju ruang pertemuan yang diperuntukkan untuk menyambut tamu tersebut.


Pintu ruangan tersebut lalu dibuka oleh seorang pelayan. Di dalamnya, Ares melihat seorang ksatria yang mengenakan seragam dengan armor ringan yang telah duduk di sofa dengan keadaan yang gelisah.


Meskipun mereka membawa lambang kerajaan yang menyebabkan perkataannya sebanding dengan Keluarga Kerajaan Rowling, tetap saja itu hanya berlaku hingga ia mengatakan Dekrit Kerajaan tersebut.


Karenanya, apabila ia melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh bangsawan tersebut, ia dapat segera dieksekusi setelah membacakan Dekrit Kerajaan tersebut.


Setelah melihat Ares tiba, ksatria tersebut berdiri dan membungkuk dalam sembari berkata dengan gelisah, "M—mohon maafkan saya karena telah mengganggu waktu Anda, Margrave!"


Ya, karenamu, aku tidak dapat bermain dengan ketiga anakku yang sangat lucu.


Ares hanya tersenyum masam kepada ksatria tersebut. Di dalam hatinya, ia benar-benar mengutuk kedatangannya yang pasti akan membawa suatu malapetaka bagi Ares.


"Saya juga memohon maaf karena telah membuat Anda menunggu," timpal Ares dengan sopan.


"Ti—tidak apa-apa. S—saya tidak keberatan, Margrave," balas ksatria itu setelah menegakkan tubuhnya.


Ares mengulurkan tangannya untuk menunjuk sofa dengan lima jarinya, lalu ia tersenyum dan berkata, "Nah, silakan duduk terlebih dahulu."


"Ba—baik, Margrave. Permisi," balas ksatria tersebut yang gugup.


Ares pun duduk di sofa yang berada di depan ksatria tersebut yang hanya dipisahkan oleh sebuah meja kayu.


"Jadi, bolehkah saya mengetahui apa yang membawa Anda kemari, Ksatria Utusan?" tanya Ares seolah malas.


Ksatria tersebut mengeluarkan sebuah perkamen dari sakunya, ia pun berkata, "Apakah saya dapat menyampaikannya, Margrave?"


"Silakan," timpal Ares.


Ksatria tersebut lalu berdiri dari kursinya dan berpindah menuju sisi luar sofa diikuti Ares yang langsung berlutut tepat di depan sang ksatria.


Setelah melihat Ares telah berlutut, ksatria tersebut membuka gulungan perkamen dengan sikap tegas dan berkata dengan lantang, "Mengingat perbuatan heroik Anda yang telah membawa Kerajaan Rowling untuk berjaya di bagian barat daya benua, Aku, Ectave III, Raja Kerajaan Rowling saat ini, memerintahkan Margrave Rueter untuk merebut kembali wilayah utara kerajaan yang telah direbut oleh para barbarian! Kami menilai Anda mampu mengemban tugas ini karena rasa percaya dan sebagai bentuk kehormatan tertinggi yang telah diberikan oleh Keluarga Kerajaan Rowling!"


Saat itu, semua orang yang berada di dalam ruangan memiliki mata yang terbuka lebar karena terpana oleh isi dari dekrit tersebut.


Kalian, kalian hanya ingin aku mati, bukan?!


Apakah kalian hendak mengambil paksa wilayah yang telah aku kembangkan dengan susah payah?!


Sialan!


Sial!


Mati saja, kalian!


Meskipun beberapa hari lalu Ares telah mengetahui kabar wilayah utara yang telah direbut, ia tetap tidak menyangka para bangsawan ibukota akan bergerak cepat untuk menyingkirkan dirinya dengan alibi seperti ini.


Dengan sedikit penundaan, Ares menjawab, "Demi keagungan dan kejayaan Kerajaan Rowling, saya, Ares von Rueter, Margrave Rueter saat ini, mempersembahkan diri untuk memenuhi Dekrit Yang Mulia Raja Ectave III."


Saat mengatakannya, Ares hanya menatap ksatria tersebut dengan tatapan yang penuh kekesalan.


Lihat saja, sialan!


Aku akan merebut kembali wilayah utara kerajaan hanya dalam waktu satu bulan!


...----------------...


Catatan :


Gelar disini adalah gelar yang telah diberikan/pangkat ya, bukan seperti gelar yang berupa julukan.


Dan juga, satu like benar-benar sangat berarti bagiku untuk menulis novel ini.


...----------------...