I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 121 : Barbarian Attack, part 2



Tahun 1237, 20 Maret.


Wilayah Perbatasan Utara Kerajaan Natrehn.


Pagi Hari.


"Oooooohhhhh!"


Puluhan ribu pejuang suku-suku Tanah Utara menerjang dengan senjata yang terhunus serta tameng besar dan tebal di tangannya yang lain, tidak hanya pejuang yang berlari, para pejuang yang memiliki tunggangan berteriak keras mengobarkan api perjuangan.


Tidak ada diantara mereka yang tidak mengetahui serangan yang diluncurkan oleh militer Natrehn beberapa bulan lalu, yang mana menjadi penyebab kematian dua kepala suku besar, Suku Timur dan Suku Selatan.


Tidak hanya hal tersebut, akibat dari kematian Harek, perubahan Suku Utara pun jelas terlihat. Semua orang pewaris kepala suku serempak bergairah untuk menyerang musuh, yang mana membuat hati mereka terasa penuh kelegaan karena sebelumnya diharuskan untuk membunuh teman mereka sendiri—yang bahkan telah mereka anggap sebagai saudara kandung.


Batu-batu terbakar di tengah medan sekitar benteng dilewati dengan koordinasi gerakan yang baik. Tidak lagi berebut, tidak lagi saling mendahului, para barbarian telah memahami jika mereka berada dalam satu batang tubuh, berada dalam satu identitas.


"Tembak!"


Ribuan anak panah ditembakkan, tombak-tombak pendek pun juga dilontarkan dari atas tembok benteng. Para prajurit Natrehn berada dalam keadaan terdesak karena perkembangan peperangan tidak lagi berada dalam kondisi yang sebelumnya mereka telah prediksi dengan cermat.


Para penunggang segera menarik tali kekang tungganggannya, pejuang yang berlari segera menyusun formasi pertahanan dengan menggabungkan semua tameng besar yang sedang dibawanya.


Tak membutuhkan waktu lama, semua para pejuang segera melindungi diri mereka di balik gabungan tameng tersebut.


Para pejuang yang menunggangi Cuombi Elephant tentu telah mempersiapkan perlindungan sejak awal. Memiliki atap di atas punggung gajahnya, penunggang tentu telah dipastikan terlindungi. Selain itu, kulit Cuombi Elephant yang sangat keras dan tebal serta memiliki banyak rambut panjang, tentu tidak akan merasakan efek apapun terhadap senjata berbasis proyektil dan hujan panah—walaupun beberapa diantaranya juga tidak akan luput dari luka.


Val menyadari posisi pasukannya yang tidak lagi diuntungkan. Tidak mungkin menggerakkan persenjataan berat dari tembok lain dengan cepat karena membutuhkan waktu yang sangat lama. Selain itu, ribuan anak panah seketika telah menghilang tanpa menyebabkan satu kerusakan besar pada musuh membuatnya semakin putus asa.


Melirik kepada perwira yang mempersiapkan busur di sampingnya, Val sadar akan perbedaan kekuatan yang begitu besar. Tidak hanya kualitas prajuritnya yang tidak dapat menandingi kekuatan mentah para barbarian, namun secara kuantitas pasukannya hanya berukuran 25.000 prajurit, lebih rendah dibandingkan dengan jumlah musuh.


Aku harus pergi.


Aku tidak boleh mati sebelum dendam ayahku terbalaskan.


"Tembak!"


Sekali lagi, hujan anak panah dan tombak pendek tercipta. Tidak hanya Val, para prajurit dan perwira yang menyaksikannya sangat berharap agar dapat membuat kerusakan yang signifikan terhadap musuh.


Namun, harapan mereka segera sirna. Meskipun beberapa pejuang terluka karena anak panah, meskipun beberapa White Deer seketika terjatuh akibat bagian tubuhnya yang terkena rentetan anak panah, namun serangan Natrehn tidak sedikitpun memberikan dampak nyata bagi serbuan para pejuang suku-suku barbarian.


Merasa tertekan, Val tanpa sadar melangkah mundur dengan tubuhnya yang sedikit gemetaran.


"Komandan..." Perwira di samping Val menoleh, tatapannya seketika menjadi putus asa disaat dia melihat Val yang tertekan.


"Ayo kabur," ujar Val.


"Hah—ap!" Kata-kata keras perwira tersebut seketika tertahan karena tangan Val yang menyumpal mulutnya.


"Natrehn sudah tamat." Kata-kata Val membuat kedua mata perwira tersebut terbuka lebar. Dengan perlahan, Val melepaskan tangannya yang menutupi mulut perwira tersebut.


"Apa... yang Anda maksud... Komandan?" tanya perwira tersebut dengan wajah takjub.


"Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan sebuah surat yang mengatakan jika Yang Mulia Pangeran Julius telah mengkudeta Yang Mulia Raja dan memintaku untuk bersumpah setia kepadanya. Berdasarkan pengalamanku mengenal Jenderal Zelhard disaat aku belajar darinya, dia tidak mungkin akan menerima perintah Yang Mulia Pangeran Julius karena memiliki kesetiaan besar terhadap Yang Mulia Raja," jawab Val.


"I—itu berarti..." ungkap Perwira tersebut dengan takjub.


"Ya, perbatasan dan wilayah utara Natrehn secara keseluruhan telah tamat. Tidak mungkin Jenderal Eina maupun Jenderal Zelhard akan mengirim bala bantuan kepada kita," timpal Val.


Hanya wajah putus asa yang dapat dibuat oleh perwira tersebut. Dia menyadari jika benteng ini telah berada dalam genggaman musuh, maka menguasai seluruh wilayah utara hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 pekan.


Namun, kejutan besar segera menimpa mereka. Tidak ada yang pernah mengira para pejuang barbarian akan memiliki persenjataan berat militer, yang bahkan lebih baik dari apa yang dimiliki oleh Natrehn.


"Aku akan melarikan diri dari tempat ini," ungkap Val dengan wajah serius.


"A—apa yang Anda—" timpal Perwira tersebut.


"Aku memiliki dendam yang harus aku balaskan, aku tidak peduli jika kau menganggapku sebagai seorang pengecut." Tanpa penundaan, Val pun segera melompat turun dan menuju kandang kuda untuk melarikan diri dari sisi lain benteng.


Perwira tersebut hanya dapat menyikapinya dengan penuh kebingungan. Perasaannya putus asa, keinginan untuk melarikan diri juga memenuhi hatinya. Namun, perasaan kehormatan serta kebanggaannya sebagai seorang bangsawan dan ksatria akan jatuh jima dirinya melarikan diri bersama Val.


BRUAK!


Tabrakan hebat terasa hingga menggetarkan tembok benteng. Para pejuang barbarian menggunakan batang kayu besar untuk mendobrak gerbang benteng.


Sedikit terintimidasi, perwira tersebut pun memutuskan untuk menghunuskan tinggi pedangnya dan melompat turun menuju halaman benteng untuk menghalau serangan musuh, "Angkat senjatamu! Matilah demi kehormatanmu menjaga perbatasan utara Kerajaan Natrehn!"


"Ooohhh!"


Ada perasaan kuat seperti kobaran api yang muncul di dalam benak. Mayoritas dari para prajurit seketika menghunuskan senjatanya dan bergabung dengan perwira tersebut.


BRUAK!


"Oooohhhh!"


Sekali lagi gerbang benteng pun terpukul. Tak kuasa menahan, gerbang pun terbuka dengan cukup kasar dan para barbarian segera masuk melaluinya.


Beberapa ribu pejuang barbarian yang lain memutari tembok benteng dipimpin oleh Astrid serta Askarr melalui dua sisi benteng yang berlainan.


Berada di posisi terdepan, Thorgils serta Moldan pun menerjang maju dan membantai musuh dengan barbar diikuti oleh para pejuang lain di belakang mereka.


JRASH!


BAK!


Para prajurit Natrehn hanya dapat menghadapi mereka dengan penuh kebingungan, serangan mereka juga terkesan serampangan. Meskipun masing-masing regu memiliki struktur kepemimpinan yang baik, tanpa kehadiran Val sebagai komandan utama, mereka bagai batang tubuh yang tidak memiliki sebuah kepala.


Beberapa prajurit melarikan diri, beberapa yang lain pun segera menuju gerbang benteng lain, Tentara Natrehn telah tercerai-berai.


Geram, tidak menyangka jika komandan yang seharusnya membawa nyawa prajurit untuk berkorban demi Kerajaan Natrehn akan melarikan diri begitu saja. Seorang perwira paruh baya—yang memiliki pembicaraan dengan Val sebelumnya—pun menerjang maju dengan pedangnya yang terhunus, "Heaaaaaaa!"


JRASH!


"Ukh!"


Perutnya merasakan panas yang luar biasa. Tatapannya tertuju pada perutnya yang telah berlumuran darah karena tertusuk oleh sebuah Greatsword.


Kekuatannya menghilang dari tubuhnya secara cepat. Pedang yang berada di tangannya pun telah terjatuh. Perlahan, tatapannya pun memudar disaat tubuhnya lemas terjatuh.


Val von Renus...


Dimanapun kau berada, aku pasti akan menyeretmu ke neraka.


Saat itu, tidak pernah ada yang menyangka bila serangan para pejuang barbarian akan menjadi penaklukkan benteng tercepat dalam sejarah, yang hanya membutuhkan waktu kurang dari satu hari.


...----------------...