I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 124 : Firasat Buruk



Tahun 1237, 23 Maret.


Kota Ereth, Wilayah Margrave Rueter.


Pagi Hari.


Cahaya mentari pagi menerpa melalui jendela besar kamar pribadi Excel di dalam kastil yang menjulang megah di tengah kota.


Berbeda dengan suasana penuh ketenangan yang dihasilkan oleh lingkungan sekitarnya, bayi perempuan Excel yang sedang disusui olehnya berada dalam kegelisahan.


Tidak henti-hentinya menangis jika mulutnya terlepas dari dada Excel, gerakan tubuhnya yang selalu berubah-ubah seolah tidak menemukan posisi yang nyaman baginya, Excel hanya dapat menepuk-nepuk ringan pada punggung dan pantat anaknya sembari berharap agar dia cepat tertidur.


Tidak luput darinya, Excel juga sedikit merasakan hal-hal buruk yang akan terjadi di masa depan. Insting serta nalurinya memberitahunya akan hal tersebut, hatinya sejak tadi telah menjadi gundah, namun dia tidak mengerti secara pasti apa yang akan terjadi.


Tatapannya tertuju pada putranya yang sedang terlelap di atas ranjang, hati Excel sedikit diliputi ketenangan hingga membuatnya tersenyum kecil.


Akibat dari masa lalunya yang kelam, Excel benar-benar tidak menginginkan untuk memberi kepengasuhan anaknya kepada siapapun.


Walaupun dia tahu jika para pelayan yang merangkap sebagai ibu asuh—yang juga merupakan ksatria tingkat tinggi House of Rueter—serta para gundik suaminya yang lain dapat dipercaya, Excel benar-benar menginginkan untuk mengasuh dua bayinya tersebut dengan kekuatannya sendiri.


Meskipun begitu, tetap ada masa dimana dia diharuskan untuk memberikan kepengasuhan anaknya kepada para pelayan atau gundik suaminya. Sebagai seorang istri dari salah satu bangsawan besar Kerajaan Rowling, Excel sangat memahami tugas-tugas serta tanggung jawabnya yang sangat banyak.


Tidak hanya itu, hampir keseluruhan para keluarga aristokrat tentu menyerahkan kepengasuhan serta pendidikan anak-anaknya pada para ksatrianya yang juga berperan sebagai pelayan.


Apa yang sebenarnya kamu rasakan?


Beberapa kali putrinya bergerak seolah merasa tidak nyaman. Bukan karena gendongan Excel ataupun kain yang menyelimuti tubuh mungilnya, namun terhadap sesuatu hal lain yang tidak sekalipun pernah bertemu dengannya.


Tidak berbeda dengan putrinya, kegelisahan Excel semakin menguat. Perhatiannya pun teralihkan kepada seorang pelayan senior di sudut ruangan yang merupakan ksatria House of Rueter—yang mana telah mengabdi selama puluhan tahun terakhir.


"Kapan pasukan utama akan berangkat?" Sedikit ketidaknyamanan terasa pada pertanyaan yang dilontarkan Excel.


Pelayan senior tersebut menunduk ringan, "Dalam lima hari, kami akan mengerahkan pasukan dalam skala penuh menuju ibukota, Nyonya."


Kekhawatiran Excel terbukti benar. Kata-kata pelayan tersebut membuatnya tersadar akan bahaya yang dapat mengancam suaminya.


Tanpa penundaan, mimik wajah Excel seketika berubah menjadi panik, "Tolong panggil Renne, Milly, serta ksatria tingkat tinggi lain."


"Eh?" Pelayan wanita tersebut kebingungan dengan perubahan ekspresi Excel yang begitu tiba-tiba.


"Tolong!" timpal Excel tanpa penundaan dengan sedikit keras.


"Ba—baik, Nyonya." Pelayan tersebut menjawab dengan gelisah dan segera menundukkan kepalanya, "Mohon permisi."


Melihat pelayan tersebut meninggalkan ruangan, Excel segera memerintahkan semua pelayan yang berada di dalam kamarnya untuk meninggalkan ruangan.


Ada sedikit reaksi keberatan yang berasal dari para pelayan. Namun, Excel mengatakan jika hanya sementara hingga panggilan para ksatria telah berakhir yang membuat mereka terpaksa menuruti perintah Excel.


Beberapa saat berselang, pintu kamar Excel pun terketuk, "Nyonya, kami telah tiba."


Suara Canaria dari balik pintu merusak perhatiannya kepada putrinya yang telah terbaring tidur tepat di samping putranya, "Masuk."


Perlahan, pintu putih kembar kamar Excel terbuka tanpa menimbulkan sedikitpun suara engsel. Dengan keheningan langkah kaki, Renne, Canaria, serta Milly memasuki ruangan dan mendekati Excel yang terduduk di atas ranjangnya.


Tentu, hanya tiga orang yang memasuki kamar Excel untuk menjaga suasana di dalamnya.


Excel mengubah wajahnya menjadi tegas, "Tolong siapkan pasukan, aku akan memimpin Pasukan Utama House of Rueter menuju ibukota."


Keterkejutan segera terukir di atas wajah ketiganya. Dengan tetap menahan ketenangannya, Renne mengubah ekspresinya menjadi penuh keseriusan, "Mohon maafkan kami, Nyonya. Namun, dapatkah kami mengetahui alasan Anda melakukan hal itu?"


Excel sedikit tertunduk, dia tidak dapat menjelaskan kegelisahan yang dialaminya dengan baik. Meskipun begitu, dia tetap saja harus menjelaskan apa yang menjadi sebab kekhawatirannya, "Apakah kalian... mengetahui tentang Calvin von Holfart, Putra dari Duke Holfart?"


Canaria dan Renne sejenak saling melirik. Tidak hanya Milly, keduanya merasakan keanehan dengan kondisi Excel saat ini. Ketiganya hanya dapat berharap jika hal itu tidak sampai mempengaruhi kondisi dua bayinya.


"Kami mengetahuinya, Nyonya. Saat ini, Putra Duke sedang berada di Akademi untuk keperluan studinya." Canaria menjawab tanpa menunjukkan sedikitpun perasaannya.


"Bukannya aku tidak mempercayai kemampuan suamiku. Hanya saja... entah mengapa aku merasakan firasat buruk jika dia melawannya..." timpal Excel yang mengandung sedikit ketidakpercayaan diri dalam nadanya.


Ketiganya kebingungan. Tidak ada diantara mereka bertiga yang tidak berpikir jika Putra Duke hanyalah seorang anak kecil biasa yang bahkan belum menginjak usia kedewasaannya.


Namun, Excel mengetahui dengan pasti kemampuan bertarung milik suaminya. Ada rasa kekhawatiran besar di dalam hatinya yang mana dia memprediksikan jika Ares memiliki peluang yang lebih rendah untuk menang jika dia melawannya.


Berbeda dengan Pangeran Ketiga Nick, Putra Duke Holfart dikenal sebagai siswa yang cakap. Kemampuan menggunakan segala jenis senjata di atas rata-rata, kecerdasan dirinya yang bahkan dikatakan mampu untuk memimpin beberapa kota kecil sekaligus, hingga fisik serta gerakannya yang sangat cepat dan kuat membuat Calvin sangat dianggap tinggi oleh para aristokrat, meskipun dia belum menginjak usia 15 tahun.


"Demi keamanan diri serta kedua anak Anda, mohon untuk tetap berada di Kota Ereth, Nyonya. Dan juga, bukankah Anda lebih bai—" Canaria berkata dengan nada serius.


"Tidak. Aku akan tetap pergi." Tatapan Excel teralihkan menuju Milly yang berdiri tepat di belakang Renne dan Canaria, "Tolong jaga kedua anakku."


"Mohon angkat kepala Anda, Nyonya!" Milly menjawab dengan sedikit panik disaat melihat Excel sedikit merendahkan kepalanya.


Bagi Excel, dia menilai bila Milly adalah sosok yang tepat untuk menjaga kedua anaknya. Wilma yang telah berusia lebih dari satu tahun tidak terlalu membutuhkan perhatian yang lebih jika dibandingkan dengan para gundik suaminya yang lain.


Selain telah berpengalaman dalam mengurus Wilma, Milly juga merupakan ksatria dari Keluarga Rueter yang mana Excel dapat dengan perasaan aman menyerahkan penjagaan kedua anaknya yang bahkan belum memiliki nama tersebut kepadanya.


"Mohon tunggu, Nyonya. Sebaik—" Kata-kata Canaria sekali lagi tersela.


"Aku telah memikirkannya dengan matang. Tolong siapkan pasukan, aku akan berangkat besok tepat setelah matahari terbit," sela Excel dengan ekspresi kuat yang tidak menerima penolakan.


Ketiganya mengerti, tidak mungkin untuk menolak perintah Excel yang sangat keras kepala tersebut. Terlebih lagi, karena persiapan telah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, Pasukan Utama Margrave Rueter dapat segera digerakkan dari Wilayah Terbatas dengan beberapa ribu yang telah berada di Kota Ereth.


Renne menghela napas berat, ekspresinya benar-benar terlihat sangat lelah, "Nyonya, mohon untuk tidak memaksakan diri Anda. Harap untuk diingat bahwa Anda saat ini memiliki dua orang yang benar-benar menanti kepulangan Anda."


Penegasan agar Excel bertarung dalam batas akal sehat. Renne tentu telah mengetahui kebiasaan berperang Excel yang terlampau liar, hingga menyebabkannya dengan terpaksa mengancam istri Tuannya tersebut dengan kedua anaknya agar tidak lagi melakukannya.


"Ya," jawab Excel tegas.


Merasa tidak lagi memiliki harapan untuk mengubah pemikiran Excel, Renne sekali lagi menghela napas berat, "Baik, kami mohon untuk undur diri terlebih dahulu, Nyonya."


"Mohon nikmati waktu Anda, Nyonya." Diikuti oleh Canaria dan Milly, Renne sedikit membungkukkan tubuhnya dan berjalan untuk meninggalkan ruangan.


Hawa kehadiran ketiganya perlahan menghilang. Excel pun mengalihkan tatapannya menuju kedua anaknya yang saat ini sedang tertidur.


Tampak sebuah senyuman di atas wajahnya, Excel kembali mendekatkan wajahnya untuk sekali lagi mencium hangat wajah kedua anaknya.


"Maafkan ibu karena tidak dapat menjadi sosok ibu yang baik untuk kalian berdua..." Kata-kata penuh penyesalan samar terdengar di dalam ruangan yang tenang. Tanpa sadar, sebuah tetesan air mata tercipta dari salah satu sudut mata Excel.


Harapan besar agar keluarga kecilnya dapat terselamatkan. Meskipun harus melakukan sebuah pengorbanan besar, meskipun harus melangkah di tengah kegelapan dunia, Excel tidak akan pernah membiarkan seseorang yang ia cintai sekali lagi terenggut darinya.


...----------------...