I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 115 : Sieg Report



Tahun 1237, 23 Januari.


Istana Kerajaan Lethiel, Ibukota Vice, Konfederasi Lemane.


Sore Hari.


Cahaya matahari senja yang masuk melalui kaca jendela besar, tidak membuat para birokrat yang memiliki aktivitas padat di dalam sebuah ruangan yang berada di istana kerajaan meredupkan pencahayaan lentera—yang sedari malam kemarin terus menyala.


Beberapa pejabat berlarian, pekerjaan mereka terlampau padat. Mereka mengerti jika hal ini disebabkan oleh sosok pangeran yang saat ini sedang menahan kepalanya di atas meja dengan tangan kanannya.


Tidak hanya distribusi pasokan makanan—yang sebelumnya telah berhasil dikirimkan Ares—menjadi beban pikiran Sieg, namun mengurus ribuan armor, pedang, tombak, puluhan ribu anak panah, serta ribuan ransum makanan membuat kepala Sieg sangat sakit.


Di samping beban pikirannya, hati Sieg merasa gundah. Dia merasa tidak mampu untuk menepati janjinya kepada Ares, yang mana dirinya harus memiliki istri yang sedang mengandung anaknya.


Rasa malu serta penyesalan yang begitu dalam menyelimutinya. Tidak hanya hal tersebut, Sieg merasakan ketidaknyamanan di dalam hatinya karena salah satu bawahan Ares, Arthur, juga ikut membantu birokrasi Kerajaan Lethiel—karena Arthur yang merasa kasihan dengan beban pekerjaan Sieg yang sangat berat.


Sieg merasa berat untuk mencari seorang istri karena tidak seorangpun dari wanita yang sebelumnya telah dilamarnya, ingin menikahi seorang pangeran dari negara yang dapat dipastikan akan hancur—bahkan termasuk anak perempuan dari beberapa birokrat di hadapannya.


Tentu, Sieg tidak dapat serampangan dalam memberikan sebuah proposal pernikahan. Meskipun hanyalah seorang pangeran dari kerajaan kecil, Sieg tetaplah diharuskan untuk memiliki pasangan dari kasta sosial yang tinggi.


Menghela napas dalam, Sieg sangat lega karena telah menyelesaikan pekerjaan terakhirnya dan segera menempatkan pena bulunya di dalam kotak kecil di atas mejanya.


"Bagaimana pekerjaan kalian?" Pandangan Sieg perlahan teralihkan kepada satu-persatu pejabat yang sedang bekerja.


Beberapa pejabat menghentikan pekerjaannya, beberapa lagi tetap tidak mengacuhkan Sieg dan meneruskan pekerjaannya—yang merupakan perintah dari Sieg untuk melakukannya.


"Kami akan selesai sebentar lagi, Yang Mulia."


"Mohon maaf, Yang Mulia. Kami belum dapat segera menyelesaikannya."


Beberapa jawaban cerah serta mendung terdengar. Ada sedikit penyesalan yang tampak pada ekspresi Sieg, "Maaf, aku akan pergi untuk sementara."


Mendengar tanggapan positif dari para birokrat, Sieg pun bangkit dari kursinya dengan ekspresi cerah sembari berkata, "Terima kasih," dan berjalan ke luar ruangan.


Menapaki lorong istana, Sieg menuju sebuah balkon yang tidak jauh dari ruang kantornya.


Tarikan napas dalam, ada perasaan puas setelah menghirup udara segar musim dingin yang tidak dia rasakan sejak beberapa waktu berlalu.


Tatapan Sieg tertuju pada pemandangan di luar. Lapisan salju tebal menyelimuti taman serta halaman istana kerajaan. Meskipun terasa hangat oleh senjanya sinar mentari, ketebalan salju tidak dapat dicairkan sekaligus—yang mana dapat menjadi lebih tebal karena seringnya terjadi badai salju di malam hari.


"Sieg."


Suara panggilan seorang pria tua yang sangat dikenalnya berdenging di gendang telinga Sieg. Perlahan berbalik, Sieg segera membungkuk ringan, "Bagaimana kabar Ayah?"


Raja Kerajaan Lethiel, Alfons III, mendekati Sieg dan berdiri di sampingnya—yang mana Sieg segera mengikutinya. Tidak menatap anaknya, Alfons memberikan perhatian penuh pada hamparan salju putih yang menutupi sebagian besar sudut istana.


"Aku... baik-baik saja." Alfons berkata dengan lelah, namun senyuman masam nampak di atas wajahnya, "Kau tahu... aku bahkan belum tidur sejak kemarin pagi."


"Maaf..." sesal Sieg.


"Tidak perlu meminta maaf. Karenamu, setidaknya penduduk Lethiel tidak akan mati kelaparan di musim dingin," timpal Alfons.


Ada rasa kebanggaan tersendiri di dalam kata-katanya. Alfons sangat mensyukuri jika Sieg tidak menjadi seseorang yang lemah seperti dirinya.


"Terima kasih, Ayah..." Kata-kata Sieg terdengar penuh syukur.


Sejenak, keduanya berada dalam keheningan.


Hanya mendengar suara terpaan angin yang lemah, keduanya memandang matahari yang beberapa waktu ke depan akan tenggelam.


Namun, argumen Sieg mematahkan semua tindak keberatan Alfons. Wilayah yang begitu maju, hutang serta bantuan yang begitu besar, Alfons hanya dapat menutup rapat kedua bibirnya, meskipun dia sangat keberatan.


Kata-kata Sieg yang meninggalkan Claire untuk mempelajari perkembangan Wilayah Rueter seketika membuat Alfons tidak bergeming. Saat itu, mau tidak mau Alfons menerima keputusan Sieg dan hanya dapat memasrahkan dirinya.


Sekali lagi dibuat sangat terkejut, Alfons tidak menyangka apabila putranya akan menggadaikan Wilayah Lethiel secara keseluruhan. Tentu saja, Sieg dapat memutuskan hal tersebut karena Ares berjanji akan mengembangkan Wilayah Lethiel dengan syarat keluarga kerajaan bersumpah setia kepadanya.


Meskipun rasa kesal menyelimuti perasaannya, Alfons tahu jika hal tersebut yang hanya dapat menyelamatkan kerajaannya dari kehancuran yang menurutnya pasti terjadi.


"Sieg." Panggilan Alfons memecah keheningan diantara keduanya.


"Apakah ada sesuatu, Ayah?" tanya Sieg.


"Meskipun aku telah mengetahui isi dari perjanjian Lethiel dengan Margrave. Tapi... apa yang membuatnya sangat mempercayaimu? Apakah ada perjanjian yang kalian berdua telah sepakati secara rahasia?" tanya Alfons kembali.


Sieg hanya terdiam, tidak sedikitpun bergeming.


Tatapan tajam Alfons yang terarah padanya sedikit membuat Sieg gelisah. Tidak lagi dapat membendung tekanan ayahnya, Sieg memutuskan untuk memberitahunya, "Margrave... hanya meminta saya untuk mencari seorang wanita dan memiliki anak."


Samar terkikik, Alfons segera menahan mulutnya yang hendak tertawa. Ada keinginan untuk melepaskan tawanya hingga terdengar keras, namun Alfons tidak melakukannya demi tidak menyakiti Sieg yang berkorban demi Lethiel.


Beberapa saat diliputi oleh rasa sebal, Sieg menunggu ayahnya hingga menghentikan tawanya.


Menarik napas dalam, Alfons merasa kelegaan bercampur di dalam kesegaran udara yang dia hirup sebelumnya. Namun, terbesit suatu hal yang menjadi tujuan putranya meninggalkan Claire.


"Apakah kamu hendak menikahkan Claire dengan Margrave?" tanya Alfons.


"...benar... Meskipun Margrave telah menolaknya." Sieg sedikit berat saat menjawabnya.


"Begitu," timpal Alfons.


Sekali lagi berada dalam keheningan. Sieg dan Alfons mendengar kicauan burung yang baru saja hinggap di atas tembok istana.


Perasaan aman, ketentraman menyelimuti keduanya—yang mana akan kunjung berakhir.


Keduanya tentu mengetahui implikasi jika Claire menikah dengan Ares. Terdapat anggapan kuat di dalam benak keduanya jika tujuan Ares akan menjadi sebuah kenyataan.


Jika Claire menjadi istri kedua dari pemimpin sebuah negara kuat, tentu pengaruh dan kekuatan politik House of Lethiel akan meningkat tajam.


Tidak hanya hal tersebut, jika anak Sieg dan Claire yang bersepupu menikah, House of Lethiel serta House of Rueter akan memiliki hubungan kuat di masa depan.


"Hei, Sieg." Sekali lagi Alfons memanggil, namun nadanya terdengar sangat cerah—meskipun Sieg hanya menunggu ayahnya berbicara kembali dalam diam.


"Aku... akan melepaskan mahkotaku tepat setelah perang berakhir," sambung Alfons.


Tanpa penundaan, tatapan Sieg berpaling kepada Alfons yang tetap berdiri memandangi suasana halaman istana, "Ap—apa yang Ayah katakan?!"


"Aku merasa... sudah tidak dapat memimpin Lethiel dengan baik," timpal Alfons.


"Itu tidak benar!" Protes Sieg yang terdengar keras tanpa penundaan membuat sudut bibir Alfons sedikit terangkat.


Pandangan Alfons tertuju kepada putranya, dia menatap penuh keseriusan pada kedua mata Sieg secara langsung, "Sieg, terbanglah. Gapailah impianmu, buatlah Lethiel semakin berkembang. Ayah tidak ingin membuatmu hanya berada di dalam sangkar."


Keputusan bulat telah terukir, Sieg sangat mengetahui kepribadian ayahnya yang sangat keras jika dirinya telah memutuskan sesuatu. Meskipun begitu, rasa tidak percaya diri Sieg seketika pupus tepat setelah mendengar kata-kata Alfons yang baginya sangat memenangkan.


"Ayah akan menjagamu dari balik punggungmu."


...----------------...