
Tahun 1236, 17 Agustus.
Kota Ereth, Wilayah Margrave Rueter.
Pagi Hari.
"Membosankan," keluh Excel sembari menatap taman kastil yang dipenuhi oleh banyak bunga.
Para pelayan yang menjaga Excel di sekitar gazebo seketika menjadi sedikit gelisah setelah mendengar perkataan Excel, yang merupakan individu dengan kekuasaan tertinggi selama Ares tidak berada di dalam wilayahnya di samping dirinya yang merupakan mantan putri kerajaan.
Namun, bukan hal tersebut yang terbesit di dalam benak istri sah dari penguasa Wilayah Rueter tersebut. Excel benar-benar sangat merindukan kebersamaannya dengan suaminya.
Tatapannya beralih kembali pada perutnya yang telah membuncit. Membelai lembut padanya, Excel pun melukiskan senyuman lembut yang membuat pelayan di sekitarnya menjadi kebingungan.
Aku... tidak pernah menyangka bahwa diriku juga akan menjadi seorang ibu...
Mengingat masa lalunya bersama ibunya, Ratu Ketiga Kerajaan Rowling, sedikit membuat hati Excel bahagia—yang mana Excel telah mengabaikan masa lalu kelamnya bersama ibunya.
Para ksatria dan pelayan yang bekerja di dalam kastil, sedikit merasakan adanya perubahan karakter pada diri Excel. Seolah melembut dan sangat bersabar dalam menghadapi suatu masalah, meskipun beberapa kali beberapa emosi buruknya keluar yang merupakan hal wajar bagi seorang wanita yang sedang mengandung.
"Aku ingin pergi mengunjungi kota," ucap Excel dengan acuh tak acuh.
Terkejut, sejenak membuat para pelayan mematung. Mereka telah diberikan suatu perintah agar tidak membuat Excel melakukan aktivitas berat—yang bahkan Renne dengan halus menolaknya disaat Excel berniat untuk mengurus administrasi Wilayah Rueter.
"Nyo—Nyonya, Tuan Ares telah berpesan kepada kami untuk—" ungkap salah satu pelayan dengan panik.
"Tidak apa-apa, bukan? Meksipun aku merasakan Ares sangat mengkhawatirkanku, kupikir setidaknya dia akan menerima permintaanku selama itu masih dalam batas wajar. Lagipula, aku mengetahui bagaimana keadaan tubuhku sendiri," sela Excel dengan nada sedikit sebal lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Baik, Nyonya... Kami mohon untuk tidak memaksakan diri Anda," timpal pelayan senior bernada berat.
Excel bersama beberapa pelayan pun bergerak perlahan meninggalkan taman dan pergi menuju halaman kastil dengan bantuan para pelayan.
Beberapa perwira militer, pejabat, serta pelayan yang berpapasan dengannya, segera membungkuk sembari menatap tajam kepada para pelayan di belakangnya yang tidak dapat menahan keinginan Excel untuk keluar—yang membuat para pelayan tersebut berkeringat dingin.
Tepat disaat Excel hendak menaiki kereta kuda, Milly—yang menggendong Wilma—bersama Dia datang ke arahnya dan mendekati Excel dengan sedikit terburu-buru.
"Nyonya, ke mana Anda hendak bepergian?!" tanya Dia dengan sedikit panik.
Excel menahan salah satu kakinya yang telah menapak gerbong dan berbalik menuju ke sumber suara.
Hmm...
Meskipun aku sedikit cemburu dengannya, tapi...
"Milly, ikutlah denganku," ajak Excel.
"Eh?!" ujar Milly yang terkejut.
"Hanya makan siang di kota, ayo pergi," timpal Excel dengan acuh tak acuh dan hendak memasuki gerbong kereta kuda kembali.
"Mo—mohon tunggu, Nyonya!" timpal Dia dengan sedikit panik.
Menahan dirinya kembali, Excel berkata dengan heran, "Ada apa?"
Dia menyadari bahwa menghentikan keinginan istri keponakannya tersebut merupakan suatu hal yang sangat sia-sia mengingat pengalamannya menjadi pengawal Excel selama beberapa bulan terakhir.
Dengan berat hati, Dia menyetujuinya meskipun dengan beberapa syarat, "Jika Anda berniat melakukan hal itu, saya menyarankan Anda lebih baik menyamar dan menggunakan kereta kuda yang tidak memiliki lambang House of Rueter demi keamanan Anda selama berada di kota."
Berpikir bahwa saran Dia sangatlah logis, Excel pun menganggukkan ringan wajahnya.
"Aku tidak keberatan," timpal Excel.
Sedikit kelegaan muncul dalam hati Dia karena dapat meminimalisir upaya kriminal terhadap Excel.
Mereka pun menunggu penggantian kereta kuda menjadi gerbong yang terlihat biasa—yang tentu juga telah dilengkapi dengan suspensi—dan menaikinya.
Setelah memastikan Excel, Milly, dan Wilma menaiki gerbong dengan aman, Dia mengalihkan pandangannya kepada salah satu pelayan yang berafiliasi langsung dengan pasukan khusus.
Mengangguk ringan sebagai tanda diterimanya perintah, pelayan tersebut segera bergegas untuk melaksanakan operasi pengawalan Excel dengan menggunakan penyamaran.
Merasakan gerbong yang bergerak, pandangan Excel tetap tertuju kepada Wilma yang menurutnya sangat lucu.
Sembari bermain-main kecil dengan Wilma—yang juga membuat perasaan Milly menghangat, Excel berkata, "Bagaimana Ares dapat membuatmu menjadi selir? Bukankah kamu adalah sepupunya?"
"I—itu..." Milly sangat terkejut dengan pertanyaan yang terlontarkan kepadanya. Tidak yakin bagaimana harus menjawab, Milly hanya dapat terdiam dengan ekspresi berat.
"Tidak apa-apa, aku akan melindungimu jika Ares melakukan sesuatu yang membuatmu tersudut," timpal Excel.
Sejenak perkataannya terputus, Milly melanjutkan, "Saya telah diperkosa oleh Tuan Ares di masa lalu."
Keterkejutan hingga terdiam mematung. Excel segera mengalihkan tatapan seolah melihat hal di luar nalarnya kepada Milly dengan cepat.
"Hah?!" timpal Excel yang terkejut.
Sembari bermain dengan Wilma, Milly pun menceritakan semua kejadian yang menimpanya sejak dahulu hingga perubahan tiba-tiba pada Ares secara pribadi tepat sebelum berperang di perbatasan melawan Kerajaan Aldred.
"Aku... tidak pernah mengetahui jika suamiku adalah seorang bajingan," timpal Excel dengan nada seolah tidak percaya.
"I—itu tidak benar, Nyonya! Bahkan, saat ini, saya merasa sangat bahagia." Milly terburu-buru menyangkalnya. Dia tidak ingin membuat keretakan pada House of Rueter yang dapat menyebabkan kehancuran wilayah secara tidak langsung.
"Apakah para gundik lain juga diperlakukan dengan kejam seperti itu sebelumnya?" tanya Excel.
"I—itu..." Milly seketika merasakan bulu kuduknya berdiri. Meskipun Excel tidak sedikitpun mengeluarkan nafsu membunuhnya, namun instingnya mengatakan bahwa ia harus menjawabnya dengan jujur.
"Benar..." sambung Milly.
Excel menutup kedua matanya dan menghela napas dalam. Sementara mengabaikannya untuk nanti, Excel pun melanjutkannya dengan berbicara mengenai keadaan kehamilan Milly serta pengalamannya dalam melahirkan.
Beberapa saat berlalu, mereka telah tiba di distrik kelas atas Kota Ereth yang memiliki banyak penginapan mewah serta rumah makan kelas atas.
Hmm, aku benar-benar menginginkan makanan seperti seorang penjelajah seperti disaat aku mencari hadiah pernikahanku...
Excel membuka jendela kayu yang menghubungkannya dengan kusir secara langsung.
"Apakah ada yang dapat saya bantu, Nyonya?" tanya kusir yang juga merupakan anggota pasukan khusus tersebut.
"Pergilah ke distrik lain," jawab Excel dan segera menutup kembali jendela.
Tidak berbeda dengan reaksi Milly yang mendudukkan Wilma di atas pangkuannya, Sang Kusir memasang ekspresi gelisah di atas wajahnya.
Memutuskan untuk memenuhi keinginan Excel, Sang Kusir memberi tanda kepada anggota pasukan khusus yang menyamar di sekitarnya dan pergi menuju distrik kelas menengah.
Beberapa saat berlalu, gerbong telah memasuki distrik tujuan. Memiliki bangunan-bangunan yang tidak jauh berbeda dengan distrik kelas atas di dalamnya, membuat Excel—yang hanya bepergian menuju distrik kelas atas sebelumnya—sangat terkagum.
Tidak pernah menyangka bahwa suaminya telah membuat kota yang dapat dikatakan luar biasa, meskipun Excel tetap menganggap Ares sebagai seorang bajingan.
Ekspresi cerah dapat ditemukan pada sebagian besar penduduk. Di beberapa sudut kota dalam perjalanannya, Excel dapat melihat beberapa pertengkaran antar penduduk, yang entah mengapa segera terselesaikan dengan sendirinya.
Tentu saja, hal itu disebabkan oleh reaksi para ksatria yang segera membawa mereka ke barak karena menyuguhkan pemandangan yang sangat buruk bagi Excel—yang tentu tidak diketahui olenya.
Pandangan Excel tanpa sadar tertuju kepada salah satu bangunan berwarna abu-abu yang terlihat lusuh di salah satu sudut kota.
"Aku ingin menuju tempat itu," pinta Excel setelah membuka jendela.
Kusir yang mendengarnya pun menghela napas berat. Tidak pernah menyangka bahwa istri Tuannya tersebut akan mendatangi salah satu bar hanya untuk makan siang, kusir tersebut memberi tanda kepada prajurit pasukan khusus agar mengamankan tempat tersebut.
Gerbong telah berhenti, pintu pun terbuka dengan sendirinya.
Perlahan turun dari gerbong kereta diikuti dengan Milly yang menggendong Wilma yang telah tertidur, mereka pun memasuki bangunan tersebut.
"Hiiii!" ungkap bartender yang ketakutan disaat dia melihat Excel memasuki bar dan segera bersembunyi di balik meja sembari mengintip kecil ke arah pintu masuk.
Hm?
Ada bau alkohol.
Tapi... ini sedikit aneh.
Mengapa tidak ada satupun pelanggan di dalamnya.
Menatap pada keadaan ruangan yang beberapa kursinya telah hancur, Milly hanya dapat menghela napas berat.
"Nyonya... mari memesan menu terlebih dahulu," ajak Milly.
"Oke," timpal Excel lalu melangkah maju mendekati bartender.
Pria tua bartender tersebut tidak pernah menyangka, meskipun dia telah menghadapi para pemabuk dan berbagai orang kasar yang terlihat sangat mengintimidasi sebelumnya, dirinya benar-benar merasa sangat ketakutan terhadap seorang wanita hamil dan seorang wanita dengan seorang bayi pada gendongannya yang berjalan mendekatinya.
Jika aku berbuat kesalahan... kepalaku pasti akan terbang...
...----------------...