
Tahun 1236, 22 September.
Istana Kerajaan Natrehn, Ibukota Scandiva.
Siang Hari.
Duk.
Duk.
Duk.
Tidak berbeda dengan langit yang tertutupi banyak awan gelap, di bawah naungan jendela besar yang menampilkan kegelapan langit, seorang pria tua berambut putih dengan jubah kebesarannya, sedang menghantamkan beberapa kali sisi telapak tangan bawahnya yang mengepal ke atas meja karena selembar perkamen yang baru saja dibacanya.
Sial.
Bagaimana Zelhard dapat dikalahkan semudah itu?
Aku tidak berpikir jika ada seorang barbarian yang dapat mengalahkan Zelhard meskipun dia bertarung melawan seorang kepala suku.
Raja Kerajaan Natrehn, Movic I, hanya dapat terdiam merenungi kejadian yang baginya sangat tidak masuk akal yang baru saja dikabarkan kepadanya.
Duk.
Duk.
Duk.
Meskipun saat membacanya Movic merasakan bahwa amarahnya memuncak, namun dia segera menahannya dan mendinginkan kepalanya setelah dia mendengar nama asing yang tertulis pada laporan tersebut.
Lagipula, siapa "The Destroyer" Gnery itu?
Mengapa seorang jenderal tidak terkenal sepertinya dapat melukai Zelhard?
Apakah dia adalah kartu truf yang disembunyikan oleh Margrave Rueter?
Lagipula, aku sangat tidak mempercayai laporan bahwa dia telah menghancurkan satu lemparan batu ketapel hingga hancur berkeping-keping.
Perhatiannya tertuju pada lembar perkamen yang berisikan rencana operasi militer yang telah disetujui oleh Majelis Militer Kerajaan Natrehn sebelumnya.
Mengambil lembar tersebut, Movic pun sekali lagi memeriksa rencana operasi serta anggaran militer yang kemungkinan besar akan terjadi perubahan secara signifikan jika dia memikirkan kekacauan di daerah utara kerajaan.
"Hah..." Movic menghela napas dalam sembari sejenak memejamkan kedua matanya disaat dia meletakkan kembali lembar perkamen tersebut.
Tok.
Tok.
"Ayah," panggil Julius dari luar ruangan.
Julius?
Apa yang dia inginkan?
"Masuklah," jawab Movic.
Pintu terbuka secara perlahan, Julius, Putra Mahkota Kerajaan Natrehn, memasuki ruangan dengan tangannya yang membawa sebuah gulungan perkamen yang cukup besar.
Setelah melakukan melihat Julius menunduk ringan sebagai formalitas, muncul kerutan kecil di atas kening Movic, "Apa itu?"
"Mohon maaf atas perilaku saya yang sedikit kurang sopan, Ayah. Namun, lembar ini berisikan peta terbaru Wilayah Natrehn secara keseluruhan, sebagian kecil Wilayah Rowling, serta Dataran Utara," jawab Julius.
"Jelaskan padaku," timpal Movic sembari bangkit untuk berpindah meja.
"Baik, terima kasih, Ayah," jawab Julius dengan menundukkan kepalanya dan berjalan mendekati Movic.
Menyingkirkan beberapa buku yang tersusun atas beberapa lembar perkamen, Julius pun merentangkan perkamen tersebut di atas meja dan mengeluarkan beberapa batu-batu kecil dengan warna yang berbeda-beda dari saku bajunya.
"Setelah mengetahui berita tidak mengenakkan yang datang dari tanah utara, saya mencoba menelaah kembali keputusan dewan militer yang telah disepakati sebelumnya." Julius menghentikan kata-katanya, dia tidak dapat memasuki bahasan pokok utama jika Movic tidak memberikan izin padanya.
"Saya... telah memikirkannya kembali dengan seksama. Meskipun dia tetaplah dianggap sebagai seorang jenderal yang luar biasa, saya merasa pamor yang dimiliki Zelhard telah jatuh..." Sekali lagi Julius menghentikan kata-katanya.
Hanya menutup rapat kedua bibirnya, Movic menyiratkan Julius untuk melanjutkan perkataannya.
"Karenanya, saya memiliki sebuah saran yang dapat ayah pertimbangkan dengan seksama," sambung Julius.
Movic menolehkan wajahnya ke arah Julius dengan ekspresi kebingungan, "Apa itu?"
Tersenyum, Julius mengambil salah satu batu kecil berwarna merah, "Saya kira ayah benar-benar mengetahui bagaimana kekuatan dari Margrave Zelhard von Ginnes... Meskipun pamornya mengalami penurunan, mengingat bahwa seorang bangsawan Rowling bergerak di dataran utara, saya berpikir jika Rowling memiliki suatu rencana dimana mereka juga akan bergerak setelah musim dingin berakhir."
Julius pun menempatkan batu merah tersebut di perbatasan Tanah Vietra, "Saya kira Jenderal Zelhard dapat melindungi wilayah perbatasan kerajaan dengan Rowling... sekaligus mengekspansi Tanah Vietra."
Menyilangkan kedua lengannya di atas dadanya, kening Movic pun berkerut, "Tidak mungkin orang-orang bodoh itu akan bergerak disaat mereka sedang memperebutkan tahta. Lagipula, aku telah memusatkan seluruh persiapan militer di wilayah timur Natrehn."
Tidak bergerak berarti terdapat sebagian Tentara Reguler Kerajaan Rowling yang ditempatkan di Tanah Vietra, Movic dan Julius sangat memahami hal ini.
"Namun... kami tidak dapat menyerahkan kepemimpinan operasi timur kepada Zelhard, Ayah," balas Julius.
Movic hanya dapat terdiam, dia benar-benar sependapat dengan perkataan putranya tersebut.
"Karenanya, saya kira ayah dapat menugaskan Jenderal Eina, Penjaga Ibukota, untuk menggantikan peran Zelhard di timur," sambung Julius sembari meletakkan batu kecil berwarna biru di perbatasan timur Natrehn.
Apakah aku harus mengerahkan Eina?
Movic termenung, pikirannya berputar cepat. Menimbang-nimbang perkataan putranya, dia sebenarnya setuju jika apa yang diucapkan Julius adalah solusi yang sangat efektif—meskipun harus mengorbankan keamanan ibukota untuk sementara.
Namun, mengingat kembali sebuah surat yang berasal dari Zelhard, ada kekhawatiran kecil di dalam benak Movic yang membuatnya tidak dapat menyangkal perkataan putranya.
Sejenak terdiam, Movic pun mengangkat suaranya, "Apa yang akan kamu lakukan terhadap perbatasan utara?"
Mengambil sebuah batu kecil berwarna hitam, Julius pun meletakkannya di perbatasan utara, "Saya berpikir untuk tetap membuat Val berada di utara sembari membangun pasukan. Saya tidak berpikir jika barbarian tidak akan membalas dendam."
"Hmm..." Movic mengamati peta dengan seksama.
Memandang tanda pergunungan di perbatasan selatan pada peta, Movic sebenarnya berpikir jika Zelhard adalah seseorang yang paling cocok untuk memimpin sebuah pasukan elit berukuran kecil.
Ratusan pengalaman sekaligus kekuatannya yang luar biasa, Movic berkeyakinan tinggi bahwa Zelhard memiliki kemampuan untuk memukul mundur pasukan besar hanya dengan sebuah pasukan elit kecil. Movic memahami jika dia dan majelis militer tidak mungkin menempatkan sebagian besar kekuatan militer Natrehn di perbatasan selatan.
Namun, sedikit kekhawatiran ada di dalam benaknya. Dia tidak yakin apa yang direncanakan putranya tersebut. Samar melirik putranya, Movic menemukan Julius hanya melukiskan sebuah ekspresi datar.
"Aku akan mempertimbangkannya." Movic memecah keheningan yang menyelimuti suasana di dalam ruangan.
"Terima kasih, Ayah," ujar Julius sembari menunduk ringan.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah musim dingin berakhir?" tanya Movic.
Terdiam, Julius sejenak berpikir untuk membuat suatu alasan agar tidak dicurigai ayahnya, "Mungkin, saya akan pergi ke barat untuk sementara."
Kata-kata Julius membuat Movic mengangkat alisnya karena sedikit keheranan.
"Saya berniat untuk meninjau kembali sungai-sungai yang berpotensi besar mengalami banjir. Saya kira penting untuk meneliti sebuah wilayah disaat kita menganggarkan penuh keuangan negara untuk keperluan militer," sambung Julius.
"Hmm..." timpal Movic.
Movic menyetujui hal tersebut di dalam benaknya. Di tahun-tahun berikutnya setelah alokasi anggaran tidak lagi terpusat pada militer, Natrehn dapat melakukan banyak pengembangan wilayah dari data-data yang telah dikumpulkan sebelumnya hingga membuat pendapatan pajak akan meningkat.
"Baiklah," ujar Movic.
"Jika begitu, saya mohon untuk undur diri, Ayah," timpal Julius sembari menunduk ringan.
"Ya," balas Movic.
"Permisi." Julius melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan.
Memandang kepergian putranya, Movic hanya dapat menghela napas dalam karena banyak rencana yang tidak sesuai dengan apa yang telah dia prediksikan sebelumnya.
...----------------...