I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Alternation : Um... Mengapa Seorang Pelayan Merias Wajahku?



Tahun 1236, 7 Juli.


Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.


Siang Hari.


Di dalam suatu ruangan mansion yang mana menjadi Kediaman Margrave Rueter di Ibukota, seorang gadis berambut biru panjang yang mengenakan gaun mewah sedang duduk di depan cermin karena wajahnya yang baru saja dirias dan rambutnya sedang disisir.


Namun, ekspresi yang ditampakkan oleh gadis tersebut sangat curam karena dirinya merasa bahwa dia tidak seharusnya berada di tempat ini.


"Um... Tuan... mengapa wajah saya dirias? Bukankah seharusnya hal ini adalah apa yang sebaiknya dilakukan oleh Yang Mulia?" tanya Elsa dengan nada sangat gelisah.


Ares, bersama Excel yang berdiri di belakang pelayan dan memandanginya menyisir rambut Elsa, pun menjawab dengan nada cerah, "Hm? Tidak apa-apa, aku tidak keberatan."


"Ta—tapi..." timpal Elsa sangat gelisah.


Tidak mengacuhkan reaksi Elsa, Excel pun mengalihkan wajahnya kepada Ares dan bertanya, "Ke mana kamu akan mengirimnya, Sayang?"


"Eh?" ujar Elsa yang terkejut.


"Nah, mari nantikan," balas Ares dengan tersenyum.


Tak lama kemudian, pelayan tersebut pun menghentikan aktivitasnya dan berbalik menuju Ares dan Excel sembari menundukkan dalam kepalanya.


"Kami telah selesai, Yang Mulia, Tuan," ujar pelayan wanita tersebut.


"Baik, ayo pergi, Elsa," ajak Ares.


Elsa membalikkan tubuhnya dan bertanya dengan panik, "Eh?! Tu—Tuan, Ke mana kami akan pergi?!"


Tak mengacuhkannya, Ares menggerakkan kedua kakinya melangkah pergi bersama Excel menuju pintu keluar sembari berkata, "Ayo."


"Baik..." timpal Elsa.


Memberikan ucapan terima kasih serta salam kepada para pelayan yang ditugaskan untuk merias Excel, Elsa pun menunduk ringan lalu menyusul kakaknya.


Mengikuti Ares, mereka bertiga pun sampai di halaman dengan pintu gerbong kereta kuda yang telah terbuka. Bertanya-tanya, Elsa sangat tidak memahami apa yang akan terjadi kepadanya.


Tanpa sadar, mulutnya kembali mengucapkan, "Kakak..."


"Ya, apa itu?" tanya Ares saat hendak memasuki gerbong meninggalkan Excel yang telah masuk.


Tersadar akan panggilan yang tidak seharusnya diucapkannya, Elsa pun segera membungkuk dalam dan berkata, "Mohon maafkan saya."


"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Ares kembali dengan memiringkan kepalanya.


Mengadahkan kembali kepalanya, Elsa pun membuat ekspresi bingung dan berkata, "Eh?"


Bagi Ares, dia tidak terlalu mempedulikan panggilan yang ditujukan kepadanya—selama itu adalah hal yang benar karena dia merupakan seseorang yang telah hidup di era modern, selain dari dirinya yang hanyalah seorang mantan warga sipil biasa—meskipun Ares harus mengetahui tempat dan waktu agar tetap dapat memunculkan sosok yang berwibawa.


Berbeda dengan Ares, tentu saja Elsa—yang bukanlah seorang pewaris rumah meskipun dirinya bersaudara, seperti Albert—diharuskan memanggil saudaranya tersebut dengan meninggikan derajatnya karena saudaranya merupakan anak sah serta Kepala Keluarga dari House of Rueter.


"Aku hanya ingin kebahagiaan untuk adikku satu-satunya," jawab Ares sembari tersenyum hangat.


"Um... bolehkah saya mengetahui ke mana kami akan pergi?" tanya Elsa sedikit gelisah.


"Kencan," jawab Ares.


Nadanya lembut, benar-benar merasa seperti kakak yang sangat perhatian kepadanya saat Elsa melihat pria di hadapannya tersenyum.


Namun, Elsa menjadi sangat bingung kembali hingga berkata, "Eh?"


"Nah, ayo naik," ajak Ares sembari membalikkan tubuhnya untuk menaiki gerbong.


"Ti—tidak, saya tidak dapat berada di dalam satu gerbong dengan Yang—" timpal Elsa.


Ares kembali berbalik dan menarik tangan Elsa sembari berkata, "Sudahlah, naik saja."


Memasuki gerbong, Elsa pun duduk tepat di depan Ares dan Excel yang duduk berdekatan. Gerbong pun berjalan, Elsa menjadi sangat khawatir dan gelisah karena tidak mengetahui tujuan kakaknya membawanya, di samping dirinya yang berada di dalam satu gerbong dengan seorang anggota keluarga kerajaan.


"Aku benar-benar harus mengucapkan terima kasih kepadamu..." ujar Ares.


"Tidak apa-apa, aku juga turut senang dapat membantu adikmu," balas Excel.


"Um... Yang Mulia..." ujar Elsa.


"Apa itu?" tanya Excel.


"Mohon maafkan saya atas ketidaksopanan saya. Namun, apakah Anda... memiliki seorang pendamping?" tanya Elsa kembali dengan sedikit takut.


Sejenak teringat, Elsa bertanya tentang keadaan Excel—yang tentunya bagi seorang mempelai wanita membutuhkan seorang pendamping untuk mengantarkannya ke altar dimana dia akan melangsungkan pernikahan.


Ekspresi Ares seketika berubah curam. Dirinya tidak pernah menyangka bahwa Elsa akan bertanya topik yang telah dihindarinya selama ini agar tidak membuat tunangannya bersedih.


Namun, mereka berdua menjadi sangat terkejut dengan jawaban cepat yang sangat berterus terang dari Excel.


"Aku akan berjalan sendiri," jawab Excel.


"Eh?" timpal Elsa.


Berbeda dengan Ares yang ibunya telah meninggal setelah melahirkannya beserta ayahnya yang meninggal di medan perang bak pahlawan, memiliki anggota keluarga—yang sah—namun tidak dapat mendampinginnya menuju altar pernikahan akan membuat para bangsawan tamu undangan menggunjing Excel di belakang.


Tentu, tidak akan ada yang berusaha menyalahkan keluarga kerajaan karena mereka memiliki pengaruh kuat dengan dukungan banyak bangsawan, berbeda dengan Ares yang diketahui tidak memiliki seorangpun bangsawan yang mendukungnya.


Pandangan Excel teralihkan menuju jendela gerbong untuk melihat pemandangan kota, tangan kanannya pun menggenggam telapak tangan Ares dengan sedikit kuat sembari membalas dengan nada yang terdengar sedih, "Aku... hanya memiliki kakakmu, tidak ada lagi anggota keluargaku yang peduli denganku selain dari ibuku."


Rasa bersalah segera muncul di dalam hatinya, Elsa pun berkata dengan nada sedikit tinggi, "Saya akan menjadi pendamping Anda, Yang Mulia!"


Wajahnya seketika teralihkan menuju Elsa kembali, Excel memasang senyuman yang terlihat sedih lalu berkata, "Itu harus merupakan seorang anggota keluarga, kamu tahu?"


Berbeda dengan Elsa yang segera mengubah ekspresinya menjadi sedih kembali, Ares pun secara samar mengangkat salah satu sudut mulutnya. Dirinya benar-benar merasa lega jika Elsa berinisiatif membantu tunangannya tanpa pamrih setelah mendengar jawaban cepat tersebut.


Jika begitu, mari kejutkan Excel.


Tak berselang lama, gerbong mereka pun terhenti. Setelah pintu gerbong terbuka dan menampilkan bangunan restoran yang cukup besar di sisi lain, mereka bertiga pun turun.


Di belakang Ares dan Excel yang berjalan berdampingan memasuki restoran yang dipandu oleh seorang pelayan, Elsa melihat keadaan restoran yang terlampau sepi.


Apakah kakakku memesan seluruh restoran secara privat?


Bukankah aku akan terlihat seperti pengganggu jika bersama mereka?


Juga, bukankah seharusnya besok adalah hari pernikahan mereka?


Mengapa mereka membuang-buang waktu untuk hal seperti ini?


Keningnya berkerut, Elsa benar-benar tidak memahami perilaku kakaknya saat dirinya berjalan. Namun, Elsa menjadi sangat terkejut yang mana membuat hatinya memanas disaat dia mendapati seorang pemuda yang telah duduk di salah satu meja makan.


Bangkit dari kursinya, Loic menyambut dengan menundukkan dalam kepalanya sembari berkata, "Selamat siang, Yang Mulia, Margrave."


"Apakah dia adalah pria yang kamu katakan, Sayang?" tanya Excel yang mengubah ekspresinya menjadi tersenyum bahagia.


"Itu benar," jawab Ares sembari menatap hangat pada Excel.


Langkah kakinya perlahan mendekati Loic yang telah mengangkat kembali kepalanya, Ares berkata, "Apakah saya telah membuat Anda menunggu, Tuan Loic?"


"Tidak, saya baru saja tiba," jawab Loic.


"Terima kasih karena telah menerima undangan saya, Tuan Loic," timpal Ares.


"Saya juga merasa tidak melakukan hal apapun di ibukota untuk hari ini, Margrave," balas Loic.


"Ah, benar. Meskipun Anda telah mengenalnya, perkenalkan kembali, dia adalah adikku, Elsa Lenoir," balas Ares sembari memperkenalkan Elsa.


"Lama tidak berjumpa, Nona. Saya kira baru satu hari, mungkin?" timpal Loic dengan tersenyum.


Melihat Elsa yang memiliki wajah sangat memerah, Ares hanya dapat tersenyum hangat kepadanya.


Ayo Elsa, buat dia berbalik meninggalkan tunangannya dan berpihak kepadaku.


Aku akan mendukung penuh kisah cintamu.


...----------------...