I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 137 : Situasi Perang Scandiva



Tahun 1237, 14 April.


Daerah Sekitar Ibukota Scandiva, Kerajaan Natrehn.


Malam Hari.


Tidak ada seorangpun jenderal yang akan memasuki medan perang disaat dia mengetahui bila pasukannya akan mengalami kekalahan.


Tidak hanya Eina, pernyataan tersebut juga sangat disetujui oleh Zelhard, seorang komandan yang hanya memiliki pasukan berkekuatan 5.000 prajurit elit.


Sangat timpang tindih dengan Lucas—yang membawahi 235.000 prajurit—serta Eina—yang menjadi komandan dari 330.000 prajurit yang ditarik mundur dari perbatasan serta 80.000 prajurit Keluarga Kerajaan. Meskipun begitu, Zelhard telah dikenal memiliki kemampuan yang dapat menghancurkan pasukan yang tiga hingga empat kali lebih besar daripada pasukan yang berada di bawahnya.


Namun, hal itu merupakan persoalan yang berbeda jika dia melawan seorang jenderal berpengalaman sekelas Eina von Fonca yang telah mengetahui banyak strategi licik diplomasi dan peperangan, sangat berbeda dengan kemampuan Zelhard yang hanya berfokus pada strategi militer dan para tentara saja.


Enam hari telah berlalu semenjak Eina dan Lucas saling melancarkan serangan. Lucas telah memperkirakan sebelumnya bila dia akan mengalami kekalahan telak jika melakukan pertempuran jangka panjang melawan Eina.


Tidak hanya faktor kuantitas yang memiliki perbedaan yang sangat besar, banyak faktor-faktor seperti musuh yang lebih menguasai medan, gerak pasukan musuh yang lebih canggih, dan seorang pemimpin yang sangat kharismatik.


Terlebih lagi, setelah mendengar kabar bila Ares melancarkan kudeta, Lucas secara bertahap menarik mundur pasukannya, meskipun dia terhalang oleh Natrehn yang semakin gencar melakukan serangan yang mengandalkan kecepatannya.


Di dalam tenda terbesar dengan hiasan ciamik di dalam perkemahan Tentara Kerajaan Rowling, Lucas terdiam merenung dengan sebuah peta medan perang yang menunjukkan persekitaran Daerah Ibukota Scandiva.


Kedua matanya tertutup, kedua tangannya saling bertaut, hanya keheningan yang dirasakan Lucas karena dia hanya dijaga oleh beberapa ksatria pengawal pribadinya di dalam tenda.


Srakk.


Tirai berat yang menjadi pintu tenda perlahan terbuka, suara langkah kaki yang terdengar mendekat membuat Lucas memberi perhatian kepadanya, meskipun dia tetap mempertahankan posisi awalnya.


"Lapor! Seluruh pasukan telah ditarik mundur! Kami juga tidak mendapati gerakan Pasukan Zelhard!" Ethan segera berlutut dengan menundukkan dalam kepalanya sembari berkata tegas.


Lagi?


Kening Lucas berkerut, kepalanya terasa sakit memperkirakan arah pergerakan Pasukan Zelhard sejak beberapa hari terakhir yang membuatnya merasakan ketidaknyamanan.


Tentu, Zelhard tidak membangun perkemahan tetap yang membuatnya dapat mempersiapkan diri dengan cepat dan bergerak kembali. Terlebih lagi, Zelhard membagi pasukannya menjadi unit-unit kecil beranggotakan 30 prajurit menyisakan satu unit besar dengan 500 prajurit tepat setelah membongkar perkemahan pasukannya, yang mana membuat Lucas dan bahkan Eina hampir tidak dapat memprediksikan gerakannya.


Tidak hanya itu, kebimbangan Lucas berasal dari prajurit Pasukan Zelhard yang hanya menyentuh para prajurit patrolinya, Zelhard hampir tidak pernah menyerang kekuatan utama Rowling disaat Lucas sedang berperang melawan Eina di medan tempur, hingga menyebabkannya ragu untuk menarik mundur seluruh pasukannya.


Terbesit di dalam benak Lucas bahwa Zelhard telah mempersiapkan beberapa jebakan di tempat yang menjadi rutenya untuk menarik mundur pasukan. Lucas mengerti jika pasukannya tidak dapat bertahan jika melakukan peperangan jangka panjang melawan Natrehn, yang menyebabkannya berpikir demikian.


Dengan wajah lelah, Lucas mengalihkan pandangannya menuju Ethan, "Bagaimana gerak Pasukan Duke Alein?"


"Ya, Yang Mulia! Kami mendapati kabar dari mata-mata bila Pangeran Kedua serta Duke Alein telah berada di perbatasan selatan Kerajaan Natrehn," timpal Ethan.


Sangat cepat...


Apa yang menyebabkannya begitu terburu-buru?


"Ya, kembalilah." Lucas dengan acuh tak acuh memandang peta di hadapannya kembali.


"Ya, Yang Mulia!" Ethan berkata tegas sembari sekali lagi menunduk dalam, "Permisi!"


Mengabaikan Ethan yang bergerak meninggalkan tenda, pikiran Lucas terasa sangat runyam. Dia sangat memahami besarnya kemungkinan bila keluarganya telah tiada, namun itu tidaklah terlalu menyakiti perasaannya. Tetap saja, hal itu dapat membuat pamor Keluarga Kerajaan Rowling jatuh ke tanah karena telah dikudeta sebelumnya.


Tidak merasakan kesedihan apapun disaat mendengar kudeta Ares, Lucas hanya memikirkan jika jalan baginya menuju tahta telah berkurang menjadi hanya sebuah batu besar bernama Ares.


Kukira, aku harus menarik mundur pasukan elit secara bertahap dan meninggalkan para wajib militer di garis depan.


Meskipun ini dapat menjatuhkan namaku karena tidak berhasil merebut Scandiva, kurasa aku harus memprioritaskan keamanan dalam negeri terlebih dahulu.


"Panggil para jenderal, aku akan melakukan Dewan Perang!" Kepada salah satu ksatria pengawal yang berjaga di sudut tenda, Lucas memerintahkan dengan penuh ketegasan.


"Ya, Yang Mulia!"


Tatapan kuat kembali tertuju pada garis perbatasan utara Kerajaan Rowling dan Kerajaan Natrehn, sebuah ketetapan muncul dalam benak Lucas untuk memanfaatkan para budak dan para penduduk lemah sebagai pengorbanan tahtanya.


Jauh di timur laut perkemahan Tentara Kerajaan Rowling, Kristin—yang dibersamai lima pengawal elitnya—mengendap-endap menyusuri kegelapan hutan dengan penuh kewaspadaan tinggi.


Tanpa menimbulkan sedikitpun suara dan hawa membunuh, Kristin mengangguk ringan pada para ksatrianya setelah membelakangi sebuah pohon besar.


Para ksatria saling mengangguk. Segera, keenamnya melompat keluar dan menancapkan belati—yang menjadi senjata kedua para ksatria—pada leher para prajurit patroli Kerajaan Natrehn.


"Ugh."


Hanya terdengar suara rintihan samar, Kelompok Kristin menyerang sembari menutup mulut para prajurit tersebut hingga meregang nyawa.


"Meskipun saya telah melakukannya beberapa kali... namun tetap saja saya merasakan perasaan bersalah yang begitu besar..." Kepala Rea tertunduk lemah, penyesalan kuat menyelimuti hatinya setelah melihat prajurit senegaranya yang ia bunuh jatuh terkapar.


"Kuatkan hatimu, mereka hanya menjalankan perintah... kita juga tidak berbeda dengan mereka." Kristin menyarungkan kembali belatinya di punggungnya secara horizontal, nadanya terdengar memiliki penyesalan yang terkandung di dalamnya.


Tanpa penundaan, keempat ksatria wanita lain menyamarkan jasad para prajurit pada lingkungan sekitar sembari mengambil peralatan serta persediaan makanan mereka.


Hanya dalam diam, Kristin bersama para ksatrianya menyelinap kembali memasuki kedalaman hutan, seolah telah memiliki koordinasi dan rasa kepercayaan yang tinggi pada setiap anggota kelompoknya.


Tidak berbeda dengan para perwira elit lain, Kristin beserta para ksatrianya mendapatkan tugas untuk mengeliminasi para prajurit pengintai dan patroli yang datang mendekat, yang telah mereka lakukan selama beberapa hari terakhir.


Sebagai seorang ksatria dan perwira militer, Kristin tahu bila kakeknya—satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa—harus mengarahkan para prajuritnya untuk keluar dari situasi buruk apabila hal tersebut terjadi pada mereka.


Namun, perasaannya sangat rumit. Kristin benar-benar tidak ingin menerima adanya kemungkinan tersebut.


Setelah mendengar kakeknya merencanakan bila ia akan melawan Eina dan Julius dengan pasukannya sendiri, Kristin hanya dapat menggigit bibir bawahnya untuk diam, memutuskan untuk membuat bangga kakeknya dengan menjalankan segala perintah yang diterimanya dengan baik.


Tangannya mengepal. Samar, setetes air mata sekali lagi jatuh dari salah satu sudut mata Kristin, pun dengan bibir bawahnya yang sekali lagi tergigit karena merasakan kesedihan yang benar-benar ia harus hadapi sebagai seorang anggota Keluarga Ginnes.


Para ksatria pengawal Kristin hanya dapat terdiam disaat melihat gelagat Kristin tersebut. Tidak mungkin mencampuri urusan privat masing-masing keluarga, meskipun keenamnya telah berusaha menenangkan Kristin di luar waktu mereka bertugas.


Dari atas dahan pohon yang tidak jauh dari tempat Kristin dan kelompoknya berada, Lean—yang menyembunyikan hawa keberadaannya dengan kemampuan seorang pembunuh—memandang mereka dengan sebuah tanda tanya besar di dalam kepalanya.


Apa yang terjadi dengan gadis itu?


Tuan tidak melakukan sesuatu yang aneh padanya saat merawatnya beberapa pekan lalu, bukan?


...----------------...